
Sementara itu
"Dasar orang orang nggak tahu di untung, masih mending kita mau kesana dan berbaik hati menguruskan rumah itu nanti. Malah di usir dengan tidak hormat begini, menyebalkan." Bu Sukri masih saja nggerundel sejak pergi dari rumah yang di sewa Indi tadi.
Padahal niatnya datang ke sana adalah ingin merasakan tinggal di kota dan menikmati uang yang dia dapatkan dari hasil menjual salah satu tanah warisan Fatan yang sebagian uangnya sudah dia belikan mobil yang kini tengah mereka kendarai itu.
Terlebih niatnya yang ingin mempunyai pembantu gratisan jika bisa tinggal bersama Indi yang dia tahu kabur ke kota kini kandas sudah, bodohnya Bu Sukri tidak tahu kalau keluarga Indi yang lain juga ada di kota yang mau membelanya, dia pikir sejak dulu Indi dan Bu Maryam adalah sebatang kara. Eh tapi karna dua jadinya dua batang kara harusnya ya, hehe.
"Iya kan, bu? Sudah bagus aku masih mau berbaik hati membawa Mas Fatan ke rumah itu menemui Mbak Indi, bukannya di sambut baik baik malah di usir. Kurang aj ar," umpat intan pula ,tak mau kalah mengatai Indi dan Dara yang sudah membelanya.
Fatan hanya diam, tak ada gunanya dia berbicara juga saat ini. Setiap berada bersama Intan dan ibunya Fatan malah merasa seperti menjadi supir pribadi yang tak boleh ikut campur masalah majikannya.
"Tahu begitu kita gak usah ke sana, padahal kan niat kita baik mau tinggal bersama secara rukun, malah mereka yang ngajak perang," imbuh Bu sukri lagi, masih belum puas mengumpat.
Wajahnya yang berhias bedak setebal aspal itu di kipas kipasnya karna merasa gerah.
"Heghhhh, Fatan kamu gedein kek AC mobilnya panas banget tahu ni," titah Bu Sukri lagi.
Intan mengangguk setuju dengan pendapat ibunya, bahkan dia menggeser sendiri AC di hadapannya agar lebih kuat mengarah padanya. Padahal pakaian yang dia kenakan cukup terbuka, masa iya bisa kepanasan. Kalau kepanasan dalam artian lain mungkin saja.
Fatan menekan tombol AC hingga maksimal dan kembali mengemudi dengan santai.
"Heh, Fatan! Kamu bikin kami mati kedinginan hah?" bentak Bu Sukri saat angin AC yang mengarah padanya terlalu kencang.
"Biar dinginnya meresap sampai ke jiwa, Bu. Biar nggak ngatain orang aja sukanya," celetuk Fatan cuek sembari mengarahkan mobil entah kemana karna dua nyonya yang di bawanya belum mengarahkan pada satu tempat pun.
__ADS_1
Mata Bu Sukri melotot mendengar jawaban Fatan, sedangkan intan malah tampak mengulum senyum.
"Dasar mantu kurang aj ar, bisa bisanya kamu ngatain saya ya."
Fatan hanya diam tak menjawab, memilih tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Kecilin AC nya, Fatan?" Bentak Bu Sukri lagi karna merasa tak di tanggapi oleh Fatan.
"Iya, iya." Tangan Fatan bergerak menekan lagi tombol AC, mengecilkannya hingga ke suhu yang lumayan normal.
"Ini kita mau kemana? Dari tadi muter muter aja nggak ada tujuan," tanya Fatan tanpa menoleh sedikit pun.
Bu Sukri yang duduk di belakang sendiri dengan santainya menaikkan kakinya ke kursi kosong di sebelahnya. Lalu menghidupkan benda pipih di tangannya untuk melihat lihat.
Tua tua begitu ternyata Bu Sukri termasuk ibu ibu yang melek teknologi, dia tidak kudet memainkan benda canggih yang baru di belinya kemarin itu, dengan uang hasil jual tanah tentunya. Bisa di bayangkan berapa luas tanah itu dan berapa banyak uang yang di terima Bu Sukri sebagai bayarannya.
"Kita ke hotel X ini aja, Deket dari sini juga lumayan ada kolam renangnya bisa buat santai sejenak." Bu sukri menjawab sambil menunjuk ke arah depan, dimana hotel tersebut berada.
"Ya sudah, tunjukin jalannya," ucap Fatan bernada datar.
Walau sebenarnya Fatan lebih setuju mereka pulang saja ke kampung ketimbang menghabiskan uang tak jelas begini, tidak tahu saja dia kalau semua itu di bayar menggunakan uang yang merupakan hak nya.
"Yes, akhirnya bisa ngerasain tidur di hotel. Duh kasurnya pasti empuk banget ya, Mas. Mantab ini buat ehem ehem," kekeh Intan sembari menepuk pelan lengan Fatan dengan gayanya yang manja dan centil.
Tak ada rasa malu atau sungkan sama sekali dia mengatakan hal pribadi seperti itu di depan ibunya, namun anehnya Bu Sukri malah tampak tak terganggu sama sekali dengan hal itu.
__ADS_1
Setelah beberapa kali belokan, akhirnya mobil pun sampai di parkiran hotel yang lumayan besar dan lega itu. Mereka semua turun , lalu bersama melangkah ke lobi.
"Fatan nggak punya uang buat bayarnya, Bu. Kalau ibu ada yang silahkan, tapi jangan tanya sama Fatan, sebab Fatan sudah jujur," gumam Fatan sebelum mereka menginjakkan kaki di lantai teras hotel yang tampak licin itu.
Bu Sukri berdecak. "Sudah kamu ikut saja, nggak akan ada yang minta uang kamu. Saya juga tahu kok kalau kamu itu ke re. Kalian tenang saja, semua ini ibu yang bayar, anggap saja sebagai hadiah pernikahan kalian."
Bu sukri berbalik setelah mengatakan itu, tak ada rasa malu sedikit pun di hatinya walau uang yang dia akui miliknya itu sejatinya adalah milik Fatan.
"Yeyyy, makasih banyak ya ibuku sayang." Intan bersorak girang sembari mengalungkan tangannya di lengan sang ibu dan melangkah masuk ke dalam lobi hotel.
Setelah melakukan reservasi dan petugas hotel memberikan dua buah kunci berbentuk kartu ke tangannya, Bu sukri langsung memerintahkan Fatan membawa barang barang mereka ke kamar.
"Kamu ambil tas tas kita di mobil ya, terus bawa ke kamar nomor 242 dan 243. Jangan lama lama," titah Bu Sukri sembari menggandeng tangan Intan untuk menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana kamar mereka berada.
Fatan mendengus, ini bukan lah pertama kalinya sejak dia resmi menjadi suamimu intan dia di perlakukan bagai babu oleh Bu Sukri dan Intan. Bahkan tak jarang Fatan harus menahan diri saat ke dua wanita itu membeli sesuatu dan tidak membelikan apapun untuknya sedang barang barangnya dialah yang harus membawakan. Sungguh miris sekali.
Fatan menggendong tas tas itu di pundaknya, dengan susah payah dia berusaha mencapai lift yang barusan di naiki ibu mertua dan istri keduanya itu.
"Mas, maaf. Tapi ... lift ini khusus pelanggan, kalau pembantu atau supir lewat di sebelah sana," tegur salah seorang petugas hotel sembari menunjuk ke pintu kayu yang berada di sebelah kanan meja resepsionis.
Fatan mendengus berat, menahan beban berat yang kini bertengger di pundak dan ke dua tangannya. Rasanya nafasnya hampir putus karna mengangkat semua beban berat tersebut.
"Hah, sebenarnya ibu dan anak itu bawa apa sih? Berat sekali tasnya, jangan jangan mereka bawa batu lagi," keluh Fatan sambil melangkah menuju ke pintu kayu yang tadi di tunjukkan sang petugas hotel.
Ceklek
__ADS_1
Fatan membukanya, dan matanya langsung membulat sempurna melihat tangga manual yang menjulang tinggi ke atas dengan nomor lantai di dinding atasnya.
"Apes banget sih nasibku." Fatan merosot ke bawah terkulai di antara tumpukan tas yang beratnya menyamai segoni beras itu.