
Demi mendengar kata-kata ibunya Indi langsung bangkit dari tempat tidur dengan perasaan tak karuan.
"Gimana ceritanya bisa hamil? emangnya Indi ngapain? ini pasti gara-gara semalem harus tidur di luar gara-gara Mbak Dara nggak bukain pintu," dalih Indi sambil masuk kembali ke kamar mandi yang terdapat di depan pintu kamarnya.
Bu Maryam tampak terdiam, sejenak menimbang kalau apa yang di katakan Indi ada benarnya juga.
Terdengar suara gemericik air saat Bu Maryam melintasi kamar mandi ingin menuju dapur, hari sudah beranjak siang dan perutnya mulai berdemo minta di beri makan.
"Loh, kosong?" ucap Bu Maryam saat membuka tudung saji namun tak nampak apapun di sana, bahkan bayangannya pun tak ada.
Suasana rumah tampak sepi, bahkan pintu kamar Dara tertutup rapat.
Tok
Tok
Tok
"Dara! kamu di dalam?" panggil Bu Maryam.
Namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam, jadi dengan santainya Bu Maryam malah membuka pintu kamar Dara yang tak terkunci itu.
"Astaghfirullah, anak ini." Bu Maryam melotot saat melihat Dara yang tengah bergelung di dalam selimutnya dengan AC yang menyala dengan temperatur sangat dingin.
"Dara, bangun! Ini udah siang, kamu nggak masak?" seru Bu Maryam sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Dara hingga tersingkap.
Namun Dara masih tak bergeming, bahkan untuk sekedar memperbaiki selimutnya.
"Dara capek, Bu. Kalo kalian mau makan suruh Indi aja yang masak, toh dia sebentar lagi jadi istri kan? bukannya sudah waktunya belajar masak dan mengurus rumah?" sahut Dara tanpa membalikkan tubuh menatap ibunya.
Mata Bu Maryam semakin melebar, sama sekali tidak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut Dara yang biasanya selalu menurut itu.
"Kamu itu ya, bener-bener! udahlah semalem Indi kamu kunciin di luar sampe dia sakit, terus sekarang malah seenaknya nyuruh dia yang masak dan ngurus rumah? terus gunanya kamu di rumah ini apa?"
Dara mendesah dan kemudian bangkit untuk menjelaskan lagi pada sang ibu, apa yang sebenarnya sudah sangat jelas di depan mata.
__ADS_1
"Maksud ibu apa? gunanya aku? ibu lupa kalau ini rumah aku? aku pemiliknya, aku nyonya di rumah ini. Jadi ... apapun yang mau aku lakukan semua terserah aku. Karna nggak akan ada yang bisa membuat aku keluar dari rumah ini," tegas Dara.
Bu Maryam kaget bukan main dengan jawaban tegas Dara, memang ini bukan pertama kalinya dia dan Dara berselisih paham akan sesuatu. Tapi jawaban Dara kali ini benar-benar menohok.
"Ya terus masa Ibu yang masak?" ketus Bu Maryam bersedekap dada.
Dara memijit pangkal hidungnya pelan. "Kalau nggak mau masak kan bisa delivery? Gampang kan? ya udah, sekarang mendingan ibu keluar, karna Dara mau tidur, mau istirahat, Dara capek, Bu. Maaf."
Dara kembali menarik selimutnya dan memakainya seperti sedia kala.
Bu Maryam yang kesal akhirnya hanya bisa menghentakkan kakinya ke lantai untuk menumpahkan kekesalannya, lalu berlalu keluar dari kamar Dara sambil membanting pintunya.
Brakk
"Dasar nggak mau rugi!" amuk Bu Maryam sambil menatap sinis pintu kamar Dara seakan dialah yang bersalah.
"Hei, kamu mau kemana, Nak?" panggil Bu Maryam saat melihat Indi keluar rumah dengan tergopoh-gopoh.
"Indi!" seru Bu Maryam lagi sambil terus mengejar Indi yang kini sudah berada di teras.
"Mau kemana kamu? katanya sakit?" cecar Bu Maryam cemas, karna wajah Indi kini benar-benar tampak pucat walau sudah di tutupi oleh make up tebal.
Indi gegas menaiki motor milik Dara dan berlalu meninggalkan ibunya yang masih termangu di teras seorang diri.
"Dasar anak muda jaman sekarang, mau menikah bukannya di pingit malah keluyuran. Ah, nggak taulah. Mending masak mie aja dulu aku," tukas Bu Maryam sambil melangkah kembali masuk ke dalam rumah yang sepi itu.
****
Indi berhenti di depan sebuah ruko yang berada tak jauh dari kantor Fatan, dia harus membuktikan kecurigaannya dan dia tak mau menanggung semuanya ini sendiri.
"Mas, aku udah di depan ruko kosong di deretan kantor kamu! Aku nggak mau tau, pokoknya kamu keluar sekarang juga dan temui aku di sini," titah Indi melalui sambungan telepon pada Fatan.
(....)
"Nggak bisa, Mas. Kalau aku ke sana yang ada nanti aku ke pergok sama Mas Zaki! Mau bilang apa aku sama dia? kan kamu tau aku udah lama nggak ke cafe buat kerja."
__ADS_1
(....)
"Ya justru karna aku calon istrinya itu maka aku harus menghindar dulu dari dia sampai masalah ini selesai, Mas! udah nggak usah banyak omong lagi, pokoknya cepetan kesini aku tunggu!"
Indi mematikan sambungan teleponnya dan duduk di atas motor dengan raut wajah bingung.
"Duh, kalo sampe bener gimana nasib aku ke depannya?" gumam Indi sambil merebahkan kepalanya di atas lengan.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Fatan datang juga menemuinya walau harus sampai berkeringat karna berlari di sepanjang jalan.
"Ada apa sih?" sentak Fatan setelah sampai di dekat Indi.
Wajah Indi memerah, dengan kesal dia mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan yang sebelumnya dia gunakan di toilet umum sebelum sampai di tempat itu.
Mata Fatan membelalak lebar. "Ini ... ini bohong kan? Ini bukan punya kamu kan? jangan main-main, Indi. Ini nggak lucu sumpah."
Indi menarik kerah kemeja Fatan dengan mata memerah.
"Apa kamu bilang, Mas? main-main? untuk hal seserius ini?"
"Ya terus kita harus gimana? kamu lupa kalo kamu itu mau nikah? ya salah kamu sendiri malah ngajak begitu!" sentak Fatan tak suka sambil menarik kerah bajunya dari cengkraman Indi.
"Ouh jadi aku yang salah? bukannya kamu yang sok sokan nggak mau pake pengaman waktu terakhir kali hah? kenapa jadi aku?"
Fatan menyugar rambutnya kasar, tidak menyangka sama sekali kalau akan ada hal seperti ini.
"Begini aja, sekarang kita tenang dulu sambil cari solusinya sama-sama ... gimana? ketimbang kita kayak gini, marah marah nggak jelas, yang ada bukannya dapet solusi tapi malah makin runyam masalahnya," cetus Fatan.
Indi berpikir sejenak kemudian mengangguk pasrah.
"Ya udah, kalo gitu aku ke kampus dulu. Kabarin aku kalo Mas udah dapet solusinya, aku juga bakal coba cari cara gimana supaya ini nggak berkembang."
Fatan mengangguk dan membiarkan Indi berlalu dengan motornya, meninggalkan dia dengan masalah baru dan berat dalam hidupnya.
Waktu berlalu sangat lambat bagi Fatan, sejak tadi tak hentinya jarinya bermain di atas layar ponsel dan keyboard laptopnya. Namun bukan untuk bekerja, melainkan mencari solusi akan masalah yang dia dan Indi buat sendiri.
__ADS_1
Sampai tanpa sengaja dia menemukan sebuah artikel yang di rasa dapat membantunya, walau harus keluar biaya lumayan besar.
"Halo, In. Kayaknya Mas udah Nemu caranya yang cocok, tapi untuk itu ... kamu harus di USG dulu buat tau usia kandungan kamu."