TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 192. MENGHUJAM.


__ADS_3

"Ya ampun, Fatan! Lama banget sih? Bawa tas gitu aja. Apa jangan jangan kamu main dulu ya di bawah sana?" sergah Bu Sukri saat Fatan baru saja tiba di lantai sepuluh dimana kamar mereka berada.


 Dengan tetesan keringat yang membulir bak biji jagung, serta nafas yang tersengal-sengal saking lelahnya. Belum lagi beban berat luar biasa yang harus dia bawa di pundak dan ke dua lengannya. Bahkan untuk menjawab saja dia sudah tak mampu.


 Fatan menjatuhkan tas tas itu ke lantai lalu ngeloyor masuk begitu saja ke kamar yang terdapat intan tengah berdiri di depan pintunya.


"Heh! Dasar mantu nggak guna, bisa bisanya ibu mertuanya lagi ngomong dia tinggal begitu saja. Saya sumpahin kualat kamu nanti, Fatan."


 Masih terdengar suara Bu Sukri yang mengomel di luar sana, tapi Fatan yang sudah benar-benar tak kuat lagi tak mau ambil pusing dan memilih merebahkan tubuhnya yang terasa remuk redam itu ke atas kasur yang ternyata memang empuk sekali.


"Bu, sudah lah ngapain sih ibu marahin Mas Fatan terus? Sudah bagus Mas Fatan mau bawain tas kita ke sini, emangnya tadi ibu mau bawa tasnya sendiri?" sahut Intan mencoba membela suaminya.


 Bu Sukri mencebik. "Terus ini siapa yang mau bawain masuk ke dalam kamar ibu?"


 "Ya bawa sendiri lah, Bu. Cuma bawa masuk doang kok masa nggak bisa, biasanya juga kalau di kampung narim gerobak padi aja ibu kuat kok, kenapa tiba tiba di sini jadi letoy?" sungut intan sambil menarik tali tasnya dengan bersungut-sungut.


Sreettttt


 Brughhh


"Awwww, kok berat sekali sih?" rintih intan yang baru saja terjatuh di depan pintu kamarnya karna tak kuat menganggap tasnya.


"Nah kan, apa ibu bilang? Tasnya itu berat, kita nggak akan kuat. Sudah sana, panggil lagi si Fatan biar dia masukin sekalian tas tas ini ke dalam kamar. Bisa encok pinggang ibu kalau maksa bawa masuk sendiri," titah Bu Sukri lagi, setengah memaksa karna tak ingin membuang tenaga membawanya sendiri.


 Sudah cukup tadi dia mengangkat sendiri tas tas itu ke bagasi saat akan pergi dari rumah Indi, tak akan di biariannya terulang ke dua kali. Enak saja, pikirnya tak ikhlas.


 Akhirnya dengan terpaksa Intan melangkah masuk ke dalam kamarnya, untuk kembali membangunkan Fatan dan memintanya mengangkat tas tas itu masuk ke dalam kamar. Karna tangan intan yang langsing itu tak akan kuat mengangkatnya.


"Grrroooookkkkkk, grrroooookkkkkk."


 Intan terhenyak kaget saat masuk ke dalam dirinya langsung di sambut dengan suara ngorok yang sangat kuat, takut ada orang lain di kamar itu Intan sigap mengambil remote AC yang ada di atas nakas dan mengangkatnya tinggi.


 Karna seingat Intan, Fatan tidaklah ngorok saat tidur dengannya semalam. Jadi Intan yakin kalau suara itu bukanlah suara Fatan.

__ADS_1


"Grrroooookkkkkk."


 Suara itu muncul lagi, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Intan memutar kepalanya memindai sekitar mencari cari arah suara ngorok itu datang.


"Grrroooookkkkkk.".


 Intan menoleh, suaranya berasal dari bawah selimut di ranjang berukuran queen di kamar hotel tersebut.


 Intan mengendap mendekati kasur, lalu menyingkapnya dengan cepat.


Pletakk


Pletak


Pletakk


 Intan memukulkan remote AC yang ada di tangannya ke tubuh si pemilik suara yang dia yakin ada di balik selimut.


 Dan anehnya si intan ini kok bisa tidak sadar kalau sebenarnya itu adalah suaminya sendiri. Beginilah kalau belum waktunya tapi sudah maksa jadi istri, labil sekali.


"Ahhh, eh loh, Mas Fatan?" gumam intan sembari melempar remote AC yang tadi di gunakannya untuk memukul kepala Fatan.


"Kamu ngapain mukulin saya?" bentak Fatan lagi, sembari mengusap kepalanya yang terasa berdenyut sakit akibat pukulan intan tadi.


 Intan tampak salah tingkah, dia diam seperti seorang anak yang sedang di marahi ayahnya. Karna memang jiwanya yang masih terlalu muda membuat dia tidak siap sebenarnya berada di dalam hubungan pernikahan. Hanya saja doktrin yang selalu di ajarkan Bu Sukri membuatnya seperti sekarang ini.


 Saat di tengah kekalutan karna takut yang meraja hatinya, suara Bu sukri yang memecah keheningan membuat intan bisa sedikit menarik nafas lega karna kini fokus Fatan terbagi ke sana.


"Fatan! Intan! Kita harus segera pulang! Bapak kalian mengamuk!"


****


Di tempat lain.

__ADS_1


"Kamu yakin mau jualan kue, In? Emangnya kamu bisa buatnya?" tanya Bu Maryam saat Indi mengutarakan niatnya untuk berjualan kue kue basah dan menu sarapan di depan rumah setiap paginya. Kebetulan di perumahan itu belum ada yang menjual demikian, jika ingin pun harus keluar kompleks lebih dahulu dan mencari penjualnya di pinggir jalan besar.


"Insyaallah bisa ,Bu. Dulu akan Indi pernah kerja di kafenya Mas Zaki, pernah juga bantu bantu bikin kue dan makanan lain. Kalau nanti Indi ada yang lupa, kan bisa tanya sama ibu. Ibu bisa kan? Bikin nasi uduk sama lontong atau bubur ayam gitu, Bu?" Indi melimpali sembari meminum teh yang mulai hangat.


 Bu Maryam mendesah pelan. "Dulu bisa, tapi kayaknya sekarang ibu banyak yang lupa resepnya, In."


 Seketika wajah Indi tampak murung, padahal hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Sembari menjaga sang buah hati dan tak harus meninggalkan rumah.


" Jadi gimana ya, Bu? Padahal cuma itu satu satunya jalan keluar yang terpikirkan sama Indi, Bu."


 Bu Maryam tampak berpikir sejenak, lalu wajahnya tampak berbinar saat menemukan sebuah ide.


"Gimana kalau kamu minta ajarin saja mbakmu saja? Dara kan pinter bikin kue kue dan nasi uduk kayak yang kamu bilang tadi," cetus Bu Sukri penuh semangat.


  Seketika Indi menegakkan punggungnya dengan mata berbinar.


"Ah, iya ibu benar. Tapi ... kira kira ngerepotin nggak ya, Bu? Kan sekarang Mbak Dara juga lagi hamil, apa kuat ya dia ngajarin Indi?" tanya Indi tiba tiba kehilangan semangat.


 Terlebih saat dia ingat peringatan Bu Ambar agar tak lagi merepotkan Dara untuk urusan apapun.


"Coba kamu tanya saja dulu, semoga Dara berkenan membantu kita." Bu Maryam memberi saran.


"Ya sudah, kalau begitu Indi coba telepon Mbak Dara dulu ya, Bu." Indi beranjak untuk mengambil ponselnya di kamar.


 Ponsel yang hampir tak pernah dia isi paket data atau pulsa lagi semenjak tinggal di desa karna susah sinyal. Tapi sejak datang ke kota lagi minggu lalu Indi sempat mengisi paket datanya walau hanya kuota yang paling murah.


 Beberapa kali panggilan di lakukan Indi, tapi tak kunjung di angkat. Hingga panggilan ke sekian, Indi berusaha akhirnya panggilan itu di jawab.


"Assalamu'alaikum, Mbak Dara ... Indi bisa minta tolong ...."


"Mau minta tolong apa lagi kamu sama menantu saya? Kan sudah saya bilang jangan pernah merepotkan dia lagi, sekarang Dara tidak di rumah, dia sedang pergi ke klinik bersama Zaki. Pasti kamu iri kan dengan kehidupan Dara dan Zaki yang sekarang? Mereka bahkan sangat bahagia. Bandingkan dengan kehidupan kamu yang semakin hari semakin blangsak itu.".


 Indi tertegun, saat suara ketus Bu Ambar merayap masuk ke gendang telinganya dan menusuk jantungnya dengan keras.

__ADS_1


Kata kata yang tajam, membuat air matanya spontan menetes tanpa di perintah.


__ADS_2