TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 37. FIRASAT


__ADS_3

 Zaki berdecih. "Tck, maaf saya lagi sibuk kalo Tante telpon cuma buat curhat."


"Eh tunggu, Zaki. Tante mau kasih tau kamu sesuatu yang penting, ini tentang Indi!" serobot Juleha dengan suara cemprengnya.


 Zaki tertegun dan dengan segera rasa penasaran melingkupi hatinya.


"Apa? Indi? kok Tante tiba-tiba bawa-bawa Indi sih? jangan macem-macem ya, Tan!" ancam Zaki tak suka.


 Dia sudah cukup malu dengan tingkah laku tantenya yang sok menjadi rentenir tapi dengan modal selalu meminjam padanya, gayanya sok mewah padahal semua adalah hasil kreditan yang jika jatuh tempo dan tak mempunyai uang maka lagi-lagi tentu saja Juleha akan bermanis mulut pada Zaki agar meminjaminya uang.


"Haish, kamu itu belum apa-apa udah nuduh sembarangan," tukas Juleha.


"Ada apa sama dia?" ketus Zaki.


 Zaki tetap penasaran walau tau ujungnya nanti pastilah info yang di sampaikan tantenyaa itu pastilah bukan hal yang terlalu penting.


"Tempo hari Tante nggak sengaja liat dia jalan sama kakak iparnya itu, siapa namanya? Yang suaminya Dara itu loh," sahut Juleha berapi-api.


 Zaki menggeleng pelan. "Mas Fatan?"


"Nah, iya. Mereka jalan berdua tau ... tapi gelagatnya mesra banget nggak kayak adik sama ipar. Duh, kamu yakin mau nikah sama perempuan kayak gini, Zak?" cecar Juleha.


 Degh


 Jantung Zaki berdenyut, namun dia segera menepis semua pikiran buruk yang menyambangi otaknya.


"Ah, Tante jangan asal bicara. Nanti kalo nggak bener jatuhnya fitnah loh Tan," ketus Zaki lagi.


"Kalo nggak percaya ya udah, kamu juga nanti yang rugi," seloroh Juleha.


"Tante punya buktinya? Foto atau video gitu?" imbuh Zaki pula.


 Juleha diam sejenak, kemudian kembali bicara dengan nada terkekeh pelan.


"Ya ... nggak ada sih."


 Zaki kembali mendengus kesal. "Ya udahlah, Tan. Buang-buang waktu aja sih dari tadi ah!"


Tut


Tut


Tut


 Zaki mematikan sambungan teleponnya begitu saja, dia sudah tak peduli lagi apa yang akan di sampaikan tantenya itu, karna bagi ya semua itu tidaklah terlalu penting.


"Hah, ada-ada aja sih manusia satu itu. Kok ada ya makhluk kayak gitu di muka bumi ini? Nambahin beban dunia aja," celetuk Zaki kesal.


 Zaki membanting ponselnya ke kasur dan kembali sibuk dengan laptopnya dan pekerjaannya.

__ADS_1


Tring


Tring


Tring


 Lagi ponsel Zaki berbunyi, awalnya Zaki mengabaikannya karna mengira itu mungkin Juleha yang kembali menghubunginya karena curhatnya belum selesai.


 Tapi tak hanya sekali, ponsel itu berdering berulang kali entah sampai pada dering ke berapa Zaki akhirnya mengangkatnya walau dengan raut wajah kesal.


"Apa lagi?" sentaknya.


"Halo? Zaki? Zak, tolong Mas!"


Degh


 Suara panik dan kesakitan terdengar di sebrang sana, dengan segera Zaki langsung bersiap dan menuju tempat yang di sampaikan penelponnya tadi.


****


 Beberapa saat sebelumnya.


 Indi dan Dara baru saja pulang dari butik, tampak dari beberapa paper bag yang mereka bawa juga makanan ringan dan cemilan untuk oleh-oleh si kembar.


"Mbak ... Makasih ya udah peduli banget sama aku." Indi memeluk Dara dengan erat.


 Dara tercekik dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Indi. "Iya iya, tapi ini lepasin dulu. Mbak kecekek indiii!"


"Aduh, maaf Mbak. Nggak sengaja," kekeh Indi membantu Dara memperbaiki khimarnya yang kusut karna ulahnya.


"Mama!" seru si kembar menyambut kepulangan Dara sembari menghambur masuk dalam pelukannya.


"Hei, Sayang." Dara merentangkan tangan dan membawa si kembar dalam pelukannya.


"Duh, mesranya sama Mama. Tante nggak di peluk nih?" ucap Indi berpura-pura cemberut.


 Farah melepas pelukan dari Dara dan berlari ke pelukan Indi, namun Fatur tetap diam di tempatnya sambil menatap Indi dengan tatapan entah.


 Dara yang bingung menatap Elis yang membuntuti si kembar sambil bertanya tanpa suara. Namun Elis hanya menggeleng pelan sambil tersenyum miris.


"Mama sama Tante dari mana?" tanya Farah dengan polosnya.


"Mama sama Tante dari beli baju buat kita," sahut Indi ceria, dia bahkan tak sadar kalau Fatur sejak tadi tak mengindahkan keberadaannya.


 Farah tampak antusias saat Indi membuka paper bag dan menunjukkan baju yang mereka beli untuk acara lamarannya Minggu depan.


"Fatur kenapa, Sayang?" bisik Dara yang semakin penasaran dengan gelagat tak biasa anak lelakinya itu, padahal biasanya dia akan paling cerewet jika menyangkut pakaian yang akan dia pakai.


 Tapi kali ini dia tampak tak tertarik dan cenderung diam, sambil sesekali menatap Indi dengan tatapan sinis walI Indi sama sekali tak menyadarinya.

__ADS_1


"Fatur mau ke kamar aja, Mama." Fatur turun dari pangkuan Dara dan dengan cepat berlari menuju kamarnya.


 Dara menatap Elis dengan raut wajah khawatir. "Lis, coba tolong kamu tanyain ya."


 Elis mengangguk cepat dengan wajah tak kalah cemas, secepat kilat Elis berlari menuju ke kamar si kembar dan menemani Fatur yang tampak kesal.


"Kenapa, Mbak?" tanya Indi yang sejak tadi tak memperhatikan.


 Dara menoleh dan menarik nafas pelan. "Nggak tau, kayaknya si Fatur ngambek deh."


 Indi mengangguk sambil tetap sibuk melihat-lihat pakaian yang di beli Dara untuk keluarganya.


"Biasa itu, Mbak. Mungkin dia kangen papanya, udah berapa hari ini belum pulang kan? emang Mas Fatan bilang pulang kapan, Mbak? nanti dia nggak bisa hadir lagi di acara lamaranku," tanya Indi serius.


 Dara mendesah pelan. "Mbak nggak tau, Dek. Udah beberapa hari ini Mas Fatan susah banget di hubungi, bahkan seringnya nomornya nggak aktif. Padahal kan anak-anak pasti kangen banget sama dia, alasannya sinyal di sana susah tapi biasanya dia bakal selalu usahain ada kabar, tapi ini ...."


"Yah, mungkin memang kenyataannya begitu, Mbak. Mbak sabar aja ya, kan Mas Fatan juga kerja buat Mbak sama si kembar kan?" ucap Indi penuh pengertian.


 Padahal sebenarnya dialah yang lebih tau kenapa Fatan bersikap demikian pada Dara beberapa hari terakhir ini.


"Yah, semoga saja Mas Fatan di sana baik-baik saja. Belakangan ini Mbak sering ngerasa perasaan Mbak nggak enak, semoga aja bukan pertanda buruk." Dara mengusap peluh di keningnya yang tiba-tiba mengucur keluar.


 Indi mengangguk tanpa suara.


Tring


 Ponsel Indi berbunyi pelan, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


 Indi lekas melihatnya dan membulatkan matanya membaca pesan tersebut.


"Kenapa, Dek?" tanya Dara penasaran.


 Indi gelagapan dan lekas berdiri sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Ah, nggak. Mbak, Indi pergi dulu ya. Tiba-tiba ada yang harus di urus di kampus." tanpa menunggu jawaban Dara, Indi gegas keluar rumah dan meraih helm dan kunci motor yang sebelumnya di letakkan Dara di atas nakas.


Blam


 Pintu utama tertutup di susul dengan suara motor yang menderu semakin jauh.


"Ya, Allah semoga tidak ada apa-apa yang sedang terjadi, semoga tidak ada hal buruk yang sedang menyambangi keluarga kami," doa Dara tulus.


 Farah mendekati Dara dan masuk ke dalam pelukannya.


"Mama jangan sedih, aku sama Fatur bakalan selalu ada buat Mama. Walau nanti Papa nggak lagi sama kita."


Degh


 Mata Dara melotot mendengar ucapan bernada ringan dari putri kecilnya itu.

__ADS_1


"Apa maksudnya, Sayang?"


__ADS_2