TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 65. PENOLAKAN.


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore, si kembar sudah di mandikan dan di dandani oleh Elis. Terlihat tampan dan cantik seperti biasanya.


"Fatur, lihat. Rambut Farah sudah panjang," ujar Farah mengibaskan rambutnya di depan cermin.


 Rambut hitam, lurus dan lebar itu berkibar menguarkan aroma wangi buah dari sampo yang mereka kenakan sebelumnya.


"Wah, iya kamu mau potong lagi rambutnya ya?" tanya Fatur memegang rambut Farah yang halus.


 Farah menggeleng. "Nggak, buat apa? Biarin aja panjang, lagi pula yang biasanya motong rambut Farah sudah nggak peduli lagi kok."


 Fatan yang tak sengaja lewat di depan kamar si kembar dan mendengar percakapan dua anaknya langsung berhenti dengan mata yang memanas.


"Iya ya, Farah. Tapikan nanti kita punya gantinya, minta potongin aja sama Papa baru kita," celetuk Fatur polos.


 Farah mengangguk riang dan membayangkan kebersamaannya kemarin dengan Halim. Dia di belikan banyak jajanan dan es krim oleh Halim hanya agar dia mau turun dari gendongannya, namun karena itu pula lah Farah bisa membuat Halim berjanji untuk menghabiskan waktu dengannya sore ini di sebuah mall yang tak jauh dari rumah mereka.


 Fatan yang masih mematung di tempatnya menahan segerombolan air mata yang mendesak untuk keluar, hatinya sakit sangat sakit. Bagaimana mungkin dia masih ada tapi dia anaknya malah ingin menggantikan dia dengan orang lain yang bahkan dia tidak tahu siapa.


"Pak Fatan kenapa?" tanya Elis yang baru saja kembali dari dapur usai meletakkan pakaian kotor si kembar ke laundry room. Di tangannya tampak dua kotak susu kemasan dengan gambar Doraemon kesukaan si kembar.


  Fatan buru-buru menghapus air matanya yang tadi tak sengaja menetes dan tersenyum.


"Ah, nggak. Cuma tadi denger si kembar lagi bercanda di dalam, katanya mereka mau punya Papa baru ya?" Fatan tertawa sumbang.


 Elis mendesah berat. "Hah, nggak usaha di dengerin, Pak. Mungkin si kembar cuma lagi berimajinasi aja, mungkin saja mereka sebenarnya kangen Bapak tapi malu mau ngungkapin iya kan?"


 Elis terpaksa menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya tentang dia orang pria berbeda yang di inginkan di kembarnya tuk jadi pengganti Fatan.


"Ah, apa iya?" gumam Fatan sambil melihat si kembar yang asik mematut diri di depan cermin dari sela pintu kamar yang terbuka sedikit.

__ADS_1


 Sedikit senyum muncul di bibir Fatan, seolah kata-kata Elis memberi semangat baru di hatinya. Dia sadar selama ini waktunya sangat kurang untuk si kembar, terlebih semenjak Fatur mulai mengetahui hubungannya dan Indi membuat si kembar menjaga jarak darinya.


 Elis menyodorkan dua kotak susu yang di bawanya. "Ini, coba Bapak yang kasih, siapa tahu bisa bikin kalian deket lagi?"


 Fatan menerimanya dan menimbang sebentar kira-kira apa yang akan dia katakan pada si kembar. Setelah menemukan kata yang pas, Fatan langsung menghambur masuk dengan gaya seperti jika dia baru saja pulang dari dinas luar kota.


"Anak-anak, Papa punya sesuatu buat kalian."


 Fatan menyodorkan kedua buah kotak susu itu dengan wajah yang di buat sesenang mungkin, sebagai mana wajah orang yang tengah menahan rindu. Fatan mengira reaksi si kembar akan sama seperti dulu, berlari dan menghambur ke dalam pelukannya. Betapa Fatan rindu masa-masa itu, masa yang sempat dia sia-siakan.


"Papa ngapain?" tanya Fatur yang seketika langsung meruntuhkan kepercayaan diri Fatan yang susah payah di bangunnya.


  Jangankan menghambur dan memeluknya, si kembar justru hanya diam dan meliriknya sekilas saja. Kemudian kembali sibuk dengan ocehannya lagi, tak di pedulikannya susu di tangan Fatan yang sudah terulur di udara siap di ambil mereka.


"Pak? Bapak nggak papa?" tanya Elis menyentuh pundak Fatan yang tampak sedikit bergetar.


 Fatan tak berbalik, hanya kepalanya saja yang menggeleng.


 Sekilas, Elis bisa melihat kabut duka dan kesedihan di mata Fatan yang sudah basah.


"Sayangnya nasi sudah berubah menjadi penghuni septikteng, Pak. Nggak ada lagi yang bisa di selamatkan dari apa yang sudah terjadi. Hanya bisa berharap semoga di beri jalan terbaik," gumam Elis pelan.


*


"Mbak, Elis nggak bisa ikut nemenin ke mall ya." Elis membantu si kembar masuk ke mobil setelah Dara menjemput mereka tak lama setelah si kembar menghabiskan susunya.


"Loh kenapa? Ikut aja dong, Lis." Dara mengerutkan keningnya.


"Elis mau bantu Mbak Laila bikin pesenan kue, Mbak. Lumayan buat tambahan tabungan biar kami bisa punya rumah sendiri nanti," kekeh Elis sambil menutup gigi tonggosnya dengan sebelah tangan.

__ADS_1


 Dara mengangguk paham. "Ooh, ya udah kalo gitu. Mbak pergi dulu ya," pamit Dara sambil menunduk pada Elis.


 "Dadah Mbak El! Besok kita main lagi ya," celetuk Fatur dan Farah yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil baru Dara yang di belinya secara cash itu.


 Elis melambaikan tangan membalas lambaian kedua bocah lucu itu, semakin mobil menjauh meninggalkan tempat, semakin jauh pula jarak pandang mereka. Elis mulai melangkah meninggalkan rumah Dara dan menuju rumahnya sendiri.


Brugh


 Seseorang menabrak Elis, tubuhnya yang berbau alkohol membuat Elis segera mendongak untuk memastikan siapa yang sudah di tolongnya.


"Loh? Dia kan anaknya Bu Juleha? Lintah darat dari lautan itu?" gumam Elis ketika melihat Hans yang berjalan sempoyongan dengan meracau tak jelas.


 Elis mengibaskan bajunya yang tadi kotor terkena debu saat jatuh, hatinya kesal sekali karena Hans menabraknya sampai terjerembab namun dia malah langsung nyelonong pergi begitu saja tanpa minta maaf.


"Huh, untung mabuk kalo sadar udah ku tampol palanya pake batu bata!" geram Elis sambil menunjukkan tinjunya ke arah Hans yang bahkan tidak sadar apa yang sudah terjadi.


 Dia terus saja meracau sepanjang jalan sambil melihat kiri dan kanan mencari rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Elis di depan pintu masuk rumah dan melepas sandal yang dia kenakan.


 Memperbaiki tas tangannya yang hanya berisi ponsel jadul dan beberapa kebutuhan pribadi, Elis masuk ke dalam rumah dan mengernyit saat bau gosong menyapa indra penciumannya.


"Loh, bau apaan ini? Kok nggak enak banget ya? Kayak bau keteknya naga yang nggak mandi tiga tahun ini mah," seloroh Elis sambil berjingkat masuk untuk mencari sumber bau gosong itu.


"Mbak Laila?" panggil Elis mencari keberadaan kakaknya.


 Semakin ke dalam bau gosong semakin terasa menyengat, bahkan ada sedikit kepulan asap yang asalnya dari dapur.


 Lekas Elis berlari ke dapur dan terkejut bukan main saat mendapati Laila sudah terkapar tak berdaya di lantai dapur dengan oven panggangan mengepulkan asap dari dalamnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Mbak Laila kenapa?"


__ADS_2