
Semak belukar menyambut pemandangan pertama kali yang di lihat oleh Bu Leha dan Hans, dengan terbengong mereka menatap kumpulan belukar yang sudah setinggi tubuh orang dewasa itu dengan mulut menganga.
"M- Mbak? Ini ... ini apa maksudnya?" tanya Bu Leha memberanikan diri untuk bertanya.
Bu Ambar tersenyum sinis. "Hukuman untuk kalian."
Mata Bu Leha seketika melotot. "Tapi apa yang harus kami lakukan dengan rumput sebanyak itu, Mbak?"
"Ya bersihkanlah, masa di makan. Emang kalian mau? Hmmm ... tapi kalo kalian mau makan itu rumput bagus juga sih," sahut Bu Ambar terkekeh.
"Tapi, Mbak ...."
Bu leha menggantung ucapannya dan memindai lahan belakang Bu Ambar yang penuh rumput itu luasnya tak main main, hampir satu hektar karna merangkap kebun juga dulunya saat ayahnya Zaki masih hidup, dan semenjak beliau meninggal lahan itu jadi terbengkalai karna Bu Ambar tak pandai bercocok tanam.
"Sudah, nggak usah banyak omong lagi. Sekarang saya keluarkan kalian tapi kalian harus membersihkan seluruh lahan ini sampai bersih!" bentak Bu Ambar dengan wajah marah.
Bu Leha langsung ciut nyali dan hanya bisa mengangguk angguk saja, pasrah akan nasibnya.
"I- iya, Mbak iya kami kerjakan," cicitnya.
Bu Ambar tersenyum miring. "Bagus, sekarang keluarlah dan mulailah bekerja."
Cklangg
Bu Ambar membuka gembok yang terpasang di pintu besi kurungan itu, dan membukanya agar Bu Leha dan Hans bisa keluar.
"Nah, silahkan mulai." Bu Ambar mengayunkan tangannya menunjuk ke kumpulan semak belukar yang berjubel hingga menutupi pemandangan akan luasnya bagian kebun itu.
Bu Leha berkasak kusuk di tempatnya sambil celingukan seperti mencari sesuatu, tapi Bu Ambar hanya tersenyum saja melihatnya.
"Maaf, Mbak. Alat untuk motong rumputnya mana ya?" tanya Bu Leha hati hati karna tak melihat satu pun alat yang bisa di gunakan untuk memotong rumput, masa iya pake senter.
"Yang suruh pake alat siapa? Ya kalian cabutin lah rumputnya satu satu sampe habis, dan jangan lupa ya. Jangan berhenti kalau belum selesai semuanya!" sentak Bu Ambar lalu meninggalkan mereka yang terpana mendengar perintahnya.
"Apes," gumam Hans sembari mendengus pelan.
****
__ADS_1
Di rumah sakit.
"Gimana kondisi anak saya, dok?" tanya Zaki pada seorang dokter pria yang baru saja memeriksa anaknya.
Dokter itu menghela nafas panjang lalu tersenyum menatap Zaki dan Dara yang berdiri berdampingan.
"Alhamdulillah, tidak ada pendarahan di kepalanya. Hanya gegar otak ringan yang insyaallah bisa sembuh dengan obat dan istirahat yang cukup, lalu usahakan agar kepala pasien tidak mendapat benturan apapun selama masa pemulihan, di usahakan sekali ya karna bisa fatal jika sampai terbentur lagi," jelas dokter itu membuat Zaki dan Dara setidaknya bisa ikut menghela nafas lega.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Zaki sembari mengikuti langkah dokter itu yang pamit undur diri untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Dara memeluk tubuh putrinya dan menghujaninya dengan ciuman, begitu pula Fatur yang tampak sumringah setelah mendengar penjelasan dokter. Wajah ceria ibunya sudah membuatnya mengerti kalau tak ada yang perlu terlalu di khawatirkan.
"Jadi Farah sudah boleh pulang, Ma?" tanya Fatur sembari mengusap air yang keluar dari sudut matanya.
"Nanti kita tanya dokter lagi ya, kapan Farah boleh pulangnya." Dara menjawab.
Fatur mengangguk senang dan mengecup tangan saudari kembarnya dengan lembut.
"Setelah ini Fatur nggak akan biarin orang jahat itu deketin Farah lagi, Fatur janji. Kalau Fatur liat orang itu lagi bakalan Fatur tembak," ujar Fatur sambil memperagakan gaya menembak orang seperti yang dia lihat di film kartun kesukaannya yang pemeran utamanya nggak gede gede padahal kartunnya udah tua.
"Iya, belain Farah kayak kemarin ya, Kak." Farah tertawa kecil karena tubuhnya sudah terasa lebih segar walau terkadang pusing dan mual itu masih terasa walau samar.
Fatur mengangguk mantab. "Iya, nanti kalo ketemu lagi biar Fatur gantian pukul om itu sampe pingsan kayak Farah kemarin."
Kali ini tampak kilat kemarahan di mata bening Fatur, Dara tahu itu adalah tekad kuat dari dalam dirinya untuk melindungi sang adik, dan Dara tak ingin mencegahnya sudah sepatutnya yang salah mendapat hukuman.
Ceklek
Zaki masuk kembali dengan melihat ponsel di tangannya, senyumnya tampak terkembang seperti baru saja mendapat kabar baik.
"Ada apa, Mas?" tanya Dara sambil berjalan mendekati suaminya dan duduk di sebelahnya.
Zakki tersenyum dan menunjukkan layar ponselnya pada Dara.
"Ya Allah, itu bude kamu sama anaknya itu, Mas? Jadi yang di bilang bunda mau kasih pelajaran dulu sama mereka itu ini?" ujar Dara sembari menutup mulutnya menahan tawa.
Bagaimana tidak, di foto yang baru saja di kirim Bu Ambar ke ponsel Zaki tampak di sana Bu Leha dan Hans tengah berjongkok sembari mencabuti rumput di kebun belakang rumah Zaki, kebetulan rumah yang berada di bagian paling belakang perumahan itu membuat bagian belakangnya penuh sesak dengan kebun termasuk kebun karet tetangga.
__ADS_1
"Iya, pinter juga bunda ngasih hukuman. Secara nggak langsung itu bakalan bikin bude sama si Hans jera walau tanpa kekerasan." Zaki terkekeh bangga dengan hasil pemikiran bundanya yang out of the box itu.
"Tapi itu kapan selesainya, Mas? Kalau di cabutin satu satu begitu?" kekeh Dara pula, tak bisa membayangkan waktu yang di butuhkan untuk membersihkan satu hektar tanah penuh rumput jika rumputnya di cabut satu persatu.
"Ya nggak tahu, mungkin bunda minta bude sama Hans ngitung batang rumputnya kali, haha. Biar sekalian belajar berhitung," kekeh Zaki terdengar begitu puas.
"Ya Allah, bunda ada ada caranya bikin orang kapok." Dara menepuk jidatnya pelan.
Zaki menepuk paha istrinya pelan, lalu mengelus perut Dara yang mulai tampak membuncit sebelum akhirnya menjatuhkan sebuah kecupan sayang di sana.
"Adek, mau makan sesuatu nggak? Papa mau keluar sebentar ini, sekalian mau ke kantor polisi," tanya Zaki lembut.
Dara tersenyum senang dan mulai membayangkan makanan apa yang hendak dia makan.
"Eh tapi Mas sama bunda beneran mau lanjutin kasus ini ke kantor polisi?" tanya Dara lebih dulu.
Zaki mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Iya, sayang. Setidaknya bude dan Hans perlu di beri efek jera, ini bukan yang pertama kalinya mereka mengganggu kita bahkan kali ini lebih parah, Mas nggak bisa bayangkan kalau kemarin si kembar jadi di culik, sudahlah kamu nggak usah cemas paling mereka nanti hanya akan di kurung beberapa bulan untuk efek jera."
"Baiklah, Mas kalau itu keputusan kamu dan yang terbaik menurut kamu, aku ikut saja. Oh ya, nanti pulangnya beliin bakso sama gorengan ya, Mas. Tiba tiba jadi pengen makan itu," kekeh Dara.
"Anak anak mau makan apa?" Zaki menatap si kembar yang tengah anteng menonton ponsel di atas ranjang berdua.
Sontak dua pasang mata bening yang punya warna sama itu menoleh berbarengan.
"Boba!" seru mereka kompak.
Zaki mengacungkan jempolnya dan berlalu keluar ruangan.
Sementara itu.
"Ma, udah berapa banyak rumput yang Mama cabut?" tanya Hans sambil berdiri dan meregangkan otot pinggangnya yang tegang.
"Dua ratus dua puluh empat, kamu berapa?" balas Bu Leha yang wajahnya berkilat karna keringat.
Hans melihat segenggam rumput di tangannya sambil berpikir.
"Baru tiga puluh tujuh kayaknya."
__ADS_1