
"Siapa yang tidur di belakang kamu, Mas?" tanya Dara spontan.
Fatan mengernyit dan serta merta langsung berbalik untuk melihat ke arah belakangnya.
"Nggak ada siapa-siapa tuh, Sayang. Kamu jangan nakutin Mas deh! Mas cuma sama anak-anak sama Elis nih di rumah. Indi tadi pamit jalan sama Zaki sampe jam segini belum pulang," ucap Fatan dengan wajah tampak pias.
Dara menghembuskan nafas lega karena ternyata yang di sangkanya orang tadi ternyata adalah guling yang tertutup selimut sebagian, tampak lebih jelas saat tadi Fatan menggeser tubuhnya.
Tapi Dara kembali terkejut saat Fatan mengatakan kalau adiknya tak kunjung pulang sedangkan jam sudah hampir menunjukkan pukul satu dini hari.
"Apa kamu bilang, Mas? Indi belum pulang? Ini udah jam satu loh Mas! Tadi dia pamitnya kemana? Kok bisa sih?" seru Dara panik, karena takut mengganggu tidur bapaknya akhirnya Dara memilih keluar dari kamar rawat dan melanjutkan obrolan di kursi tunggu.
"Kamu dimana, Sayang? Kok gelap?" ucap Fatan yang turut berpindah posisi menjadi berbaring telungkup di atas kasur.
"Di luar, kalo ngobrol di kamar bapak takutnya bapak malah kebangun. Oh iya, tadi kamu belum jawab pertanyaan aku, Mas. Indi sama Zaki pamitnya kemana? Kenapa sampe jam segini belum pulang? Kamu udah telpon Zaki, tanyain mereka dimana sekarang Mas!" cecar Dara tak sabar.
"Udah tadi Mas coba telpon Indi tapi nggak di angkat-angkat, pas Mas telpon Zaki hapenya malah ada di rumah. Jadi ya udah Mas tungguin aja, lagi pula kenapa kamu khawatir banget sih, Sayang? Toh mereka juga udah sama-sama dewasa pasti taulah batasannya." Fatan memutar-mutar bola matanya saat bicara dan tidak fokus pada Dara.
"Ya tapi kalau jam segini belum pulang itu namanya nggak wajar, Mas! Kamu ini gimana sih?" omel Dara.
Tampak di layar ponsel Dara Fatan justru terkekeh menanggapi Omelan istrinya.
"Iya, iya. Nanti Mas coba telpon dan cari mereka lagi, sekarang Mas mau puas-puasin dulu liat muka kamu, Sayangku. Duh baru pisah berapa jam aja udah kangen banget nih," ujar Fatan manja.
Tapi bukannya tersipu mata Dara justru membeliak lebar saat melihat dengan seksama ke layar ponselnya yang tampak remang karena di tempatnya Fatan sudah mematikan lampu kamar dan hanya menghidupkan lampu tidur.
"Itu apa di belakang kamu, Mas?" seru Dara ngeri saat melihat sesuatu kehitaman tampak berjalan pelan di belakang Fatan.
Wajah Dara pias karena takut sesuatu yang di luar nalar mulai ada di rumahnya yang sebelumnya akan tentram. Namun tidak dengan Fatan wajahnya justru tampak panik dan dengan segera membalik posisi badannya menjadi telentang, sampai yang bisa di lihat Dara hanya wajahnya dan bagian dari bantal putih mereka.
"Ah, eh, nggak ada apa-apa kok Sayang. Kamu kok jadi ngeliat yang aneh-aneh begitu sih? Kamu ngantuk jangan-jangan. Ya udah tidur gih, biar besok bisa cepet pulang. Mas juga mau coba nelpon Indi lagi ini," tukas Fatan.
__ADS_1
Terdengar suara gemerisik saat Fatan tampak menggerakkan tubuhnya di atas kasur, tapi lagi dan lagi bukan itu yang menjadi fokus Dara. Suasana dini hari yang hening membuatnya mendengar suara berbisik menyertai suara gemerisik dari gerakan Fatan. Walau hanya melalui ponsel tapi insting seorang istri dalam dirinya bergerak walau Dara masih menolak percaya.
"Siapa yang bisik-bisik, Mas? Apa ada orang lain di situ?" selidik Dara penasaran.
Lagi dan lagi wajah Fatan tampak panik, tapi dengan cepat dia mengatur ekspresinya menjadi biasa saja.
"Ah, nggak Sayang. Nggak ada siapa-siapa cuma Mas sendiri di sini, itu suara Mas ngidupin TV abisnya sepi banget nggak ada kamu di sini, Sayang. Cepet pulang ya," tandasnya sambil memiringkan tubuh dan tersenyum begitu manis.
"Iya, insyaallah setelah bapak sembuh aku bakal langsung pulang kok. Titip anak-anak ya, baik-baik di sana. Jangan galak-galak sama Elis," pesan Dara lembut.
Masih dengan sugesti yang di pegangnya untuk tetap mempercayai suaminya jiwa dan raga, Dara mengusir semua kecurigaan dalam dirinya dan memilih percaya apapun perkataan Fatan padanya. Satu alasannya, demi keharmonisan rumah tangga mereka dan keyakinannya kalau orang dia kenal tak mungkin berkhianat.
"Mas?" panggil Dara dengan dahi berkerut.
"Ya?"
Dara mengerahkan telunjuknya ke layar. "Itu noda merah apa di kasur?"
"E ... i- ini, ini ...."
****
Di kediaman Fatan Dara sebelumnya.
"Pak! Anak-anak udah bangun!" teriak Elis dari ambang pintu kamar si kembar.
Fatan dan Indi yang tengah duduk berdua menikmati seblak di meja makan gegas menuju kamar anak-anak.
"Alhamdulillah!" seru Fatan sambil meraih Fatur dan Farah yang masih tampak lemas itu ke dalam pelukannya.
"Haus, Pa," lirih Farah sayu.
__ADS_1
"Farah haus ya, Nak. Fatur juga?" tanya Fatan sambil menatap ke dua buah hatinya bergantian.
Fatur dan Farah mengangguk lemah, dan tanpa di perintah gegas Elis berlari ke dapur mengambilkan dua gelas air untuk si kembar.
"Hih, sok perhatian!" dengus Indi yang ternyata masih saja asik dengan seblaknya, tak tampak sama sekali raut cemas atau khawatir akan kondisi para keponakannya yang disebabkan oleh keegoisannya itu.
Elis mengacuhkan sindiran Indi, baginya saat ini yang terpenting adalah keadaan si kembar.
"Ini, Pak!" ujar Elis sambil menyerahkan segelas air pada Fatan, sedang dia sendiri mulai membantu Fatur meminum airnya dan Fatan membantu Farah yang tampak begitu lemas.
"Apa nggak sebaiknya kita panggil dokter, Pak?" gumam Elis setelah Fatur menghabiskan segelas penuh air dan langsung lemas memeluk Elis.
Fatan menatap Elis dengan bingung. "Kalau panggil dokter langganan keluarga saya takutnya nanti malah Dara tau, sedang kita sekarang lagi mencegah supaya Dara di sana nggak tau."
Elis tampak ikut bingung, namun kondisi si kembar yang sangat lemas juga sangat membuatnya cemas.
Sebagai orang yang cukup dekat dengan si kembar selama di PAUD, tentu saja secara tidak langsung Elis sudah menganggap si kembar seperti keponakannya sendiri yang dia sayangi sepenuh hati.
"Kamu sayang banget ya sama si kembar? Soalnya baru kali ini istri saya bisa percaya sama orang buat bantu dia urus si kembar. Biasanya kalau bukan urusan mendadak dia pasti selalu pilih bawa si kembar kemanapun ketimbang nitipin mereka sama orang lain," ucap Fatan tiba-tiba sembari mengelus lembut punggung Farah yang terkulai lemas di pelukannya.
Elis menunduk menatap Fatur di pelukannya, saat bersamaan Fatur juga rupanya tengah menatap Elis.
Sambil menyunggingkan senyum, Elis menjawab. "Karena cuma mereka yang dengan tulus mau berteman dengan saya dan tidak sekalipun pernah menghina penampilan saya dengan gigi tonggos ini. Bahkan saat semua teman-teman sebaya saya menjauh, cuma mereka yang masih mau kenal sama saya. Maka dari itu, saya sayang sekali sama mereka Pak."
"Terima kasih ya, sudah begitu tulus sayang sama si kembar. Pantes Dara percaya sama kamu, karna kalo di lihat-lihat kamu ini betul-betul sayang sama si kembar tanpa syarat. Saya harap ke depannya kamu jangan lagi malu sama penampilan kamu," tukas Fatan.
"Memangnya kenapa, Pak? Gigi saya kan memang menakutkan, begitu kata teman-teman saya. Jadi wajar sih rasanya kalau saya malu," lirih Elis rendah diri.
Fatan menepuk pundak Elis pelan. "Sebab kalau kamu berubah, bisa jadi kamu jadi lebih cantik dari mereka yang ngehujat kamu."
Elis tersenyum malu, tapi ada sepasang mata yang justru tampak menahan amarah melihat mereka.
__ADS_1
"Mas Fatan!" teriaknya menggelegar sampai membuat si kembar terlonjak kaget.