TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 161. POLOSNYA ISTRIKU 2.


__ADS_3

"Ahahahhahahahhahah!" Bu Hana tertawa lepas melihat kepolosan menantunya, dia bahkan sampai memegangi perut dan sebelah tangannya menepuk nepuk Halim yang saat ini sudah membuka matanya.


"Loh, kok malah ketawa sih, Bu?" tanya Laila yang masih belum paham apa yang salah.


 Halim mendengkus, lalu bangkit dari pembaringan dengan wajah merah. Di letakkannya stetoskop di kasur dan memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Ahahahahah."


.


Bu Hana masih tertawa sedang Laila mulai menatap mereka bingung.


"Ini ada apa sih, Bu? Kok Mas Halim bisa bangun? Emangnya udah sembuh ya? Hebat juga ya dokter itu, sakit aja bisa nyembuhin diri sendiri," celoteh Laila semakin menunjukkan sisi polosnya yang menggemaskan.


 "Ya ampun, Laila ... Laila. Kamu itu kok polos banget sih, nak? Sampe sakit perut ibu ini gara gara ketawa," kekeh Bu Hana masih berusaha meredakan tawanya.


 Laila mengerutkan keningnya lalu ikut duduk di dekat Halim, namun Halim malah beringsut menjauh sepertinya dia masih ngambek karna bibirnya masih manyun sampe ke Monas.


"Laila salah apa sih, Bu? Kan tadi Mas Halim sakit, kan dia dokter wajar dong kalo di nyembuhin dirinya sendiri. Kok sekarang malah di ketawain sih?" tanya Laila tak paham.


"Ada apa sih?" tanya Elis ikut nimbrung dengan sudah berpakaian lengkap hendak menjemput si kembar untuk sekolah.


"Ini loh, Mbakmu polosnya kebangetan," kekeh Bu Hana menjawab.


"He? Maksudnya gimana sih, Bu?" tanya Elis yang juga memanggil Bu Hana dengan sebutan ibu karna permintaan dari Bu Hana sendiri.


 Bu Hana menarik nafas dalam untuk meredakan tawa yang masih bercokol di dadanya, setelah itu dia mulai bercerita pada Elis yang masih setia menunggu sambil menyisir rambut sepunggungnya yang tampak basah.


"Jadi tadi Masmu ini mau pura pura sakit biar Mbakmu khawatir, karna dia sebel semalam Laila nggak pulang, eh pas Laila ke sini karna denger teriakan ibu minta panggilan ambulan dia malah ngasih stetoskopnya Halim ke tangannya, katanya karna Halim dokter di suruh obatin dirinya sendiri," jelas Bu Hana yang sontak saja membuat Elis tertawa ngakak.


"Hahaha, ya Allah Mbak. Kamu itu polos tapi mbok ya jangan kebangetan tho Mbak, bidan aja nggak bisa melahirkan sendiri loh," tawa Elis membahana membuat Laila malu mendengarnya.


 Laila menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab instan dan tersenyum kikuk.


"Ya, namanya juga reflek tadi Bu. Jadi ya nggak kepikiran kalo dokter sakit butuh dokter lain buat nanganin. Kirain bisa sembuhin diri sendiri," ujarnya membela diri.


"Lagian kamu suami sakit bukannya cemas, khawatir malah ngasih stetoskop," protes Halim pula.

__ADS_1


 Laila beringsut mendekat dan memeluk lengan Halim.


"Ya maaf, Mas. Abisnya aku bingung harus apa," bujuk Laila dan suara selembut sutra.


 Bu Hana mencebik.


"Ah, hawa hawa pengantin baru. Panas panas, yuk kita keluar, Lis. Kita ke rumah ibu dulu sarapan ," ajak Bu Hana sambil menggamit tangan Elis untuk keluar dari kamar itu.


"Iya nih, Bu. Pengantin baru nempel mulu nggak sadar apa di sini ada yang jomblo," sahut Elis pula sambil membuntuti langkah Bu Hana.


 Laila hanya terkekeh mendengar omelan dua perempuan yang berarti di hidupnya itu, setelah Bu Hana dan Elis tak terlihat lagi di pintu Laila bangkit dari posisi bersandar di lengan Halim dan menatap suaminya dengan penuh cinta.


"Maafin adek ya, Mas."


Cupppp


 Sekilas kecupan ringan di pipi Halim membuatnya tegang, tubuh Halim yang sebelumnya lemas karna kaget dengan suara balon meletus langsung tegak berdiri dengan tegangan tinggi, eh apaan sih author halu.


 Halim menoleh pada Laila dengan jakun yang tampak naik turun menelan ludah dengan susah payah.


Halim berkata dengan suara serak, tubuhnya mendadak memanas hanya karna mendapatkan serangan sekilas dari Laila tadi, dasar me sum.


 Laila bangkit berdiri menjauhi suaminya yang tubuhnya terasa hangat karna hasratnya sendiri.


"Ehehehhe, ini juga alasan adek nggak pulang semalam, Mas. Soalnya ... soalnya."


"Soalnya apa, dek? Ayolah jangan lama lama kamu bikin Mas tersiksa tahu," ucap halim memelas.


 Halim beringsut mendekat ke arah Laila, tapi laila terus saja mundur sampai Halim berhasil menangkap tangannya.


"Adek lagi ada tamu, Mas," ucap Laila akhirnya.


 Seketika Halim lemas, tangannya yang tengah menggamit tangan sang istri langsung jatuh lemas di pangkuannya. Dengan wajah memendam kekecewaan Halim bangkit dan memilih memeluk sang istri dengan sangat erat.


"M- Mas, maaf."


 Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh Laila, sejujurnya dia sangat takut jika sang suami akan marah padanya terlebih di saat yang tidak tepat seperti sekarang.

__ADS_1


 "Tidak apa, kamu nggak salah."


 Halim berbisik, suaranya tak lagi terdengar berat dan serak seperti tadi. Hebatnya Halim yang bisa mengontrol dirinya sendiri hingga tak menjadikan hal seperti demikian sesuatu untuk bertengkar dengan istrinya.


 "Mau jalan jalan hari ini? Kebetulan jatah cuti Mas masih satu Minggu lagi," celetuk Halim sembari melepas pelukannya.


 Laila terperangah, jika di film film biasa dia melihat para pria akan marah pada istrinya jika tidak mendapat nafkah batin walau alasan sang istri karna sedang datang tamu bulanan. Berbeda dengan Halim, hal itu tidak berlaku untuknya bahkan dengan santainya dia malah mengajak sang istri untuk jalan jalan.


 Duh, dimana ya nyari laki modelan begini?


"Hei, kok melamun." Halim menyentuh dagu Laila yang menggantung lancip bak sarang tawon dan mengecup bibirnya sekilas.


 Laila kembali terperanjat, dia langsung menunduk sambil memegangi bibirnya yang baru saja di nodai sang suami.


"Mas apaan sih, ini masih pagi banget loh." Laila melayangkan protes walau kini pipinya tampak bersemu merah.


Tak habis akal, Halim kembali meraih dagu sang istri dan perlahan mengangkatnya ke atas hingga tatapan mereka bertemu.


"Mas mencintai kamu," ujarnya lirih, namun penuh ketulusan yang dapat di rasakan oleh Laila sendiri.


"Laila juga, Mas."


 Setelahnya Laila kembali membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami, menikmati aroma musk dari parfum yang selalu di kenakan Halim.


****


Di tempat lain.


"Wah, Bu ini semua Mbak Laila yang masak?" tanya Elis sembari mengikuti Bu Hana duduk di kursi makan.


 Bu Hana mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, dari subuh dia udah masak. Katanya bingung mau ngapain karna lagi nggak sholat, ya udah dia masak sebanyak ini."


 Mata Elis berbinar menatap makanan yang sangat lama tak dia makan itu, semenjak orang tua mereka meninggal memang Elis dan Laila hidup dalam keterbatasan dan kekurangan yang terkadang mengharuskan mereka berpuasa karna tak punya apapun untuk di makan. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, jika nyatanya setelah semua kesakitan yang mereka alami itu kini hidup mereka menjadi lebih baik dan di kelilingi orang orang baik pula.


"Eh, kok kamu nangis, Lis? Ada yang salah ya? Kenapa? Coba cerita sama ibu, anggap saja ibu ini sebagai ibu kamu sendiri," tukas Bu Hana sambil menghapus air mata di pipi Elis.


 Elis menggeleng lemah. "Nggak, Bu. Tapi ... seandainya saja Mbak Laila tahu kalau ...."

__ADS_1


__ADS_2