TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 72. KEJUTAN.


__ADS_3

 Sementara itu, kondisi Dara setelah kepergian Fatan dan Indi serta Bu Maryam.


 Dara masih berbaring di tempat tidurnya, bergulingan ke sana kemari mencari posisi nyaman agar matanya bisa terpejam. Hari sudah siang, dia ingin beristirahat sejenak dari semua hal melelahkan di dunia, namun agaknya matanya sama sekali tak mengizinkan.


Tring


Tring


Tring


 Sebuah panggilan masih ke ponselnya, tampak nama Vania tertera di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara pelan.


"Wa'alaikumsalam, Mbak. Mbak kok pelan banget suaranya, Mbak sakit?" cerocos gadis manis kepercayaan Dara itu.


 Senyum Dara tertarik, suara cempreng Vania rupanya mampu sedikit menghibur hatinya yang entah mengapa terasa gundah itu.


"Nggak kok, Nia. Cuma ngantuk aja, ada apa?"


"Ada bapak-bapak datang ke butik, katanya dia mau ajak kerja sama butik kita."


Degh


 Dara sontak bangkit dari posisi berbaringnya, tampak binar semangat memancar di matanya.


"Ah yang bener kamu? Siapa?"


"Nggak tahu, bapaknya nggak mau nyebutin nama. Katanya kalau Mbak Dara setuju di pinta datang aja besok ke kantornya. Tadi beliau ada ninggalin kartu nama," sahut Vania.


 Dara tersenyum dengan hati berdebar seperti akan di lamar mantan, eh.


"Oke oke, coba kamu fotoin kartu namanya ya."


"Siap, Mbak."


 Sambungan telepon terputus, tak lama sebuah pesan di aplikasi hijau milik Dara berdenting.


 Dara membuka pesan berupa foto dari Vania tersebut, matanya membulat lebar melihat nama dan alamat yang tertera di atas kartu nama yang di maksud Vania.


Tidak menunggu lama, Dara langsung menelpon nomor wa yang tersedia di dalam kartu nama itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," sapa Dara lembut.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana Nak? Kamu suka kejutan Bapak?"


 Tangis Dara tak bisa di bendung, suara Pak Jatmika yang tadi pulang dengan membawa mobilnya terdengar santer di telinga. Padahal tadi Pak Jatmika menolak mampir ke rumahnya katanya karena ingin menebus obat dulu ke rumah sakit.


****


 Ke esokan hatinya, Dara mengajak si kembar untuk bertandang ke kantor sang kakek yang alamatnya dia dapat dari foto kartu nama yang dikirimkan Vania. Si kembar yang memang sangat merindukan kakek kandungnya yang sejak lahir tak bisa mereka lihat itu berjingkrak riang di dalam taksi online yang di pesan Dara.


"Yeyyy, berarti Fatur sama Farah masih punya Opa ya, Mama? Tapi bukannya Kakek sudah meninggal?" tanya si cerewet Fatur.


 Dara tersenyum. "Iya, Fatur sama Farah masih punya Opa. Nanti baik baik ya sama Opa, jangan nakal dan nggak boleh bikin Opa marah. Oke anak pintar?"


"Oke, Mama." Si kembar menyahut serempak.


 Mereka sengaja tidak mengajak Elis turut serta karna katanya Laila tengah sakit dan dia harus merawatnya. Dara juga tidak keberatan karena dia tidak lgi sibuk setelah perceraian. Sekarang dia hanya perlu fokus mengurus anak-anak dan mengurus butiknya agar bisa maju dan menjadi ladang rejeki untuknya dan kedua anaknya.


 Sesampainya di tempat yang di tuju, Dara segera mengajak si kembar turun dan menelpon Pak Jatmika terlebih dahulu sambil memandangi gedung tinggi yang menjulang gagah di hadapannya.


"Pak, Dara sudah sampai di titik lokasinya. Gedungnya bener yang ini?" tanya Dara seolah kini bapaknya bisa melihat telunjuknya yang mengarah pada gedung bertingkat itu.


"Tuan Miko siapa, Pak? Dara nggak kenal kok malah di suruh bilang begitu," sungut Dara tak mengerti.


 Terdengar kekehan Pak Jatmika di sebrang sana.


"Sudah, kamu turuti saja. Ya udah Bapak tunggu ya. Bapak sudah nggak sabar mau main sama cucu-cucu Bapak."


Tut


 Panggilan langsung di akhiri begitu saja oleh Pak Jatmika, akhirnya mau tak mau Dara menuruti perintahnya karena si kembar juga sudah nampak ke panasan berdiri terlalu lama di sana.


 Dara menggendeng tangan si kembar di kiri dan kanannya, mebawanya masuk ke gedung tinggi pencakar langit itu.


"Permisi," ucap Dara di depan meja indah bertuliskan resepsionis.


"Selamat pagi, ada yang bisa di bantu ibu?" sahut seorang wanita bersanggul yang ada di balik meja dengan senyum ramah.


"Saya sudah ada janji dengan Tuan Miko," ucap Dara menuruti perkataan bapaknya.


 Resepsionis itu tampak mengangguk dan mengarahkan Dara tentang rute yang harus dia tuju untuk mencapai ruangan dimana Tuan Miko berada.

__ADS_1


 Dara berterima kasih dan kembali menarik tangan si kembar menuju lift khusus yang katanya hanya untuk tamu VIP sepertinya.


"VIP gimana sih maksudnya? Kan aku baru pertama kali ke sini, bawa anak dua lagi. Kayaknya itu resepsionis perlu di ganti," gerutu Dara yang masih belum paham situasinya itu.


"Mama, di sini rumah Opa ya? Besar sekali ya, Mama?" celetuk Farah sambil berkaca pada dinding kaca lift yang tengah mereka naiki.


"Iya, rumah Opa besar sekali sampai ke langit," imbuh Fatur pula sambil turut melihat pantulan wajahnya pada dinding lift.


 Dara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua bocah gemasnya itu.


"Bukan, ini bukan rumah Opa. Tapi ... bisa jadi ini tempat kerja Opa," sahut Dara sekenanya, karna dia pun belum mengetahui apa yang di lakukan Bapaknya di gedung sebesar itu.


 Padahal dulunya saat sebelum sang ibu meninggal karena sakit, Pak Jatmika hanya seorang petani sukses yang mempunyai banyak lahan dan kebun kelapa sawit terbesar di kampungnya. Sampai suatu tragedi membuat mereka terpaksa harus berpisah dan Pak Jatmika bagai di telan bumi setelah menitipkannya dengan almarhum Pak Bagyo.


Ting


 Lift berhenti tepat di lantai khusus Presdir seperti yang tadi di katakan resepsionis. Jadi dari sini Dara menyimpulkan kalau orang yang di panggil Tuan Miko itu adalah pemilik gedung pencakar langit itu, dan bisa jadi Pak Jatmika bekerja untuknya.


"Nyonya Dara?" tanya seorang pria tampan berjas hitam yang tampak seperti seorang bodyguard dengan walkie talkie di telinganya.


 Dara yang kikuk hanya bisa mengangguk dan pria itu lantas mengarahkannya ke sebuah ruangan dengan tulisan Presdir di depan pintunya.


"Silahkan, Nyonya. Tuan kami menunggu di dalam," ucap bodyguard tadi.


"Apa ... ini ruangan Tuan Miko?" tanya Dara bingung.


 Bodyguard itu mengangguk.


"Apa ... Bapak saya juga ada di dalam?"


 Kali ini kening mulus sang bodyguard berkerut. "Siapa yang anda maksud Nyonya?"


 Belum sempat Dara menjelaskan maksudnya pintu ruangan itu terbuka dari dalam. Seorang pria yang terasa familiar di mata Dara keluar dengan senyum manis di wajahnya.


"Selamat datang, Nyonya Dara. Anda dan anak-anak sudah di tunggu oleh atasan kami."


"Om ganteng!" seru Fatur sambil naik kegendongan pria yang dia harapkan akan menjadi pengganti Fatan tersebut.


 Dara menutup mulutnya heran, antara bingung dan takjub.


"Ini ada apa sebenarnya?" batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2