TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 121. TAK BISA TENANG.


__ADS_3

 Bu Ambar tampak berjalan tergesa menuju ke rumah menantunya yang hanya berbeda blok saja dengan rumah yang dia dan Zaki sebelumnya tempati.


 Namun saat di jalan tiba-tiba beliau di kejutkan oleh Bu Leha yang ikut ikutan berlari kecil di sampingnya. Tubuh tambunnya itu seolah bisa membuat gempa tektonik kapan saja.


"Mbak Ambar mau kemana? Buru buru amat?" tanyanya sok akrab.


 Ya walaupun mereka bersaudara, Bu Ambar sedikit tidak suka dengan Bu Leha ini karna sombongnya yang selangit tapi hobinya ngutang, padahal kerjaannya katanya rentenir tapi suka morotin Zaki buat modalnya. Itu juga alasan Bu Ambar sering mewanti wanti Zaki supaya tidak mempekerjakan Hans, anak Bu Leha di perusahaannya. --bisa habis di korupsi nanti --


"Mbak, saya tanya loh." Bu Leha yang merasa kesal karna di cuekin langsung menarik tangan Bu Ambar agar berhenti.


 Bu Ambar mendengus kesal, lalu melempar tatapan tajam pada sepupunya itu.


"Apaan sih? Ngapain kamu ngikutin saya?" sentak Bu Ambar sinis sambil menarik tangannya dari cekalan tangan Bu Leha.


 Bukannya merasa bersalah, Bu Leha malah cengengesan sambil menunjukkan deretan giginya yang hampir serupa kapak itu.


"Ya kan dari tadi saya nanya, Mbak. Mbak Ambar aja yang nyuekin saya," sanggah Bu Leha membela diri.


 Bu Ambar melengos lalu berjalan cepat kembali meninggalkan Bu Leha.


"Bisa habis waktuku kalau ngeladenin dia, nggak tahu apa orang lagi buru buru." Bu Ambar bergumam ketus sambil terus mempercepat langkah kakinya agar tak tersusul oleh Bu Leha.


"Mbak! Mbak Ambar, tunggu Mbak!" seru Bu Leha yang masih kekeh mengejar walau tahu kalau bobot tubuhnya itu tidak mengizinkan dia untuk berlari cepat.


 Jadilah akhirnya Bu Ambar berbelok dan tikungan dan suara Bu Leha tak lagi terdengar, mungkin dia sudah menyerah dan kembali ke rumahnya sambil mengomel.


 Bu Ambar menarik nafas lega, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Dara yang pagarnya sudah mulai kelihatan dari tempatnya berdiri saat ini.


"Assalamu'alaikum, " ucap Bu Ambar sambil membuka pintu rumah Dara, kebetulan kunci pagar dan pintu utama sudah di buka oleh Elis, karna sebelum berkunjung Bu Ambar selalu menghubungi lebih dulu.


"Wa'alaikumsalam, eh Bu besan." Pak Jatmika menyambut Bu Ambar hangat, karna kebetulan beliau belum pulang dan masih menikmati kopi di ruang tamu rumah Dara sambil bermain ponsel.


 Bu Ambar menyambut uluran tangan Pak Jatmika dengan tersenyum manis.

__ADS_1


"Daranya mana, Pak?" tanyanya sopan.


 Pak Jatmika menunjuk ke arah pintu kamar Dara yang memang terlihat dari ruang tamu.


"Ada di kamarnya, tadi katanya mau istirahat. Tapi kalau ibu mau ketemu silahkan, Dara juga pasti nggak akan keberatan."


" Baik, kalau begitu saya masuk dulu ya, Pak. Nggak sabar mau lihat kondisi Dara." Bu Ambar berpamitan lalu segera berjalan menuju ke kamar Dara.


"Wah, ada ibunya Pak Zaki. Mau di buatin minuman, Bu?" tanya Elis yang kebetulan baru saja mengambilkan makanan untuk si kembar yang kini tengah bersantai di ruang tv, tempat favorit mereka.


 Bu Ambar menoleh sekilas lalu tersenyum kecil.


"Nggak usah, Lis. Saya sudah minum tadi di rumah, saya mau jenguk Dara aja," sahut Bu Ambar.


 Elis mengangguk kemudian berlalu menuju ke tempat si kembar, sedangkan Bu Ambar melanjutkan niatnya mengetuk pintu kamar Dara.


Tok


Tok


Tok


 Ceklek


 Tak butuh waktu lama, akhirnya pintu kamar pun terbuka. Zaki muncul dari sana dengan wajah yang sumringah.


"Senyum mulu calon Papa." Bu Ambar berbisik lirih karna tak ingin si kembar mendengar ucapannya yang mungkin saja bisa menyinggung mereka .


 Zaki tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bunda mau jenguk Dara?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


 Bu Ambar mengangguk dengan bersemangat.

__ADS_1


 "Ya udah, ayo masuk. Dara masih belum kuat berdiri, Bun. Masih lemas katanya," ucap Zaki memberi tahu agar bundanya tak salah paham mengapa Pak Jatmika mereka biarkan sendiri di depan.


"Ah iya, wajarlah itu begitu namanya ibu hamil bawaannya pasti beda beda. Yang penting itu janinnya sehat, mau ibunya tiduran seharian juga," ucap Bu Ambar penuh pengertian sambil melangkah mengikuti Zaki menuju ke dalam kamar.


"Sayang, ada bunda." Zaki menggoyang sedikit lengan Dara yang berbaring miring. Lalu tampak pergerakan dari Dara yang sejak tadi terlihat memejamkan mata, mungkin mencoba mengurangi rasa mual yang terus menderanya.


"Eh, bunda." Dara yang baru membuka mata langsung mencoba bangkit, namun karna tubuhnya yang lemas Dara tampak agak kesulitan.


"Tiduran aja, Nak. Bunda nggak papa kok, kamu pasti lagi butuh butuhnya istirahat," cegah Bu Ambar sambil menahan pergerakan Dara yang ingin duduk.


 Dara mengalah dan kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.


"Gimana perasaan kamu, Nak?" tanya Bu Ambar lembut sambil menatap mata Dara.


 Dara mencoba tersenyum walau rasa mulutnya begitu pahit saat ini.


"Alhamdulillah, baik baik aja, Bun. Cuma pengen rebahan aja, biar mualnya nggak begitu terasa," sahut Dara dengan suara yang pelan sekali.


"Nanti setelah kamu enakan, jangan lupa pergi USG ya. Kalian juga perlu memastikan secara langsung kondisi calon anak kalian," saran Bu Ambar sambil tersenyum lebar.


 Dara dan Zaki kompak mengangguk, kebahagiaan yang membuncah kini tampak tergambar jelas di wajah keduanya.


"Nanti kalau Dara repot sama mabuk di awal kehamilan, si kembar bawa ke rumah bunda aja, Zak. Biar Dara bisa istirahat yang tenang, biar nggak stress juga." Bu Ambar kembali memberi nasihat.


 Zaki mengangguk patuh, tapi Dara tampak tidak enak.


"Nggak usah, Bun. Nanti malah merepotkan, biar si kembar di rumah aja toh ada Elis yang bantu jaga kan?" tolak Dara halus.


 Bu Ambar menggeleng sambil memegang tangan menantunya yang terasa agak dingin itu.


"Nggak merepotkan sama sekali, malah bunda seneng di rumah ada temannya. Udah kamu pokoknya fokus istirahat saja, supaya calon bayi kalian bisa sehat. Dan ingat, jangan pernah menahan ngidam, apapun yang kamu mau beli, makan jangan di pantang pantang ya, sayang." Bu Ambar kembali menegaskan pada Dara, maksud baiknya rupanya tersampaikan pula dengan baik dan dengan senang hati Dara bertekad akan memenuhinya.


 Saat tengah asik mengobrol, dari luar tiba tiba terdengar suara yang cukup ribut dan mengganggu. Bukan hanya dari nadanya yang kelewat keras tapi juga kata katanya yang terdengar kurang pantas di ucapkan.

__ADS_1


"Dasar bajing*n! Apa maksud kamu ngerusak tanaman hias saya hah? Kamu tahu nggak ini harganya berapa? Bahkan harga bunga ini lebih mahal dari harga dirimu kamu tahu? Dasar manusia nggak ada otak!"


"Siapa itu?" ucap Bu Ambar dengan wajah gusar.


__ADS_2