
"Adududuh, Mbak. Sakit tau!" protes Indi sambil beranjak bangun dari posisi tidurnya.
Tangannya tampak memegangi betisnya yang terbalut perban, sambil menyingkirkan khimar lebar Dara dari sana.
"Bajumu itu loh, kan Mbak udah bilang jangan pake kayak gitu apalagi kalo ada Mas Fatan! Kamu bandel banget sih, Dek. Apalagi sampe ketiduran begitu, tau nggak pahamu itu kemana-mana pas Mbak masuk tadi. Kalo sampe diliat Mas Fatan gimana coba?" tegas Dara frustasi.
Di dalam hatinya Dara sudah takut sekali kalau suaminya sempat melihat Indi saat tertidur tadi, tanpa tau kalau yang di khawatirkannya sudah terjadi.
"Iya, iya maaf." Indi bangkit dan membawa laptop yang masih menyala itu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Dara mengikuti pergerakan Indi dengan ekor matanya, sekelumit sesal muncul di hatinya. Karena selama ini mereka berdua termasuk sangat jarang bertengkar.
"Apa aku terlalu kasar sama Indi ya? Tapi aku kan cuma khawatir," keluh Dara menunduk lemas.
Diambilnya khimar yang tadi dipakainya melempar Indi dan berjalan pelan menuju kamar anak-anaknya. Setelah memastikan si kembar sudah terlelap barulah Dara beralih menuju kamarnya sendiri.
Ceklek
Tampak di dalam kamar Fatan tengah berdiri bertelanjang dada sambil menghadap ke arah jendela, tidak menyadari kalau istrinya sudah berada di dalam kamar.
Dara cepat-cepat menutup kembali pintu karena khawatir tubuh suaminya terlihat mata yang tidak di inginkan.
"Mas? Kamu lagi apa?" tanya Dara sambil mendekat.
Fatan tampak tersentak kaget, namun lekas tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
"Eh, kamu udah pulang Sayang. Mas nggak lagi ngapa-ngapain, cuma rasanya gerah makanya Mas buka baju. Kamu kok tumben pulangnya maleman?" jawab Fatan sambil bergegas mengambil kaosnya di atas kasur dan kembali memakainya.
Dara mengernyitkan keningnya dan menahan pergerakan tangan Fatan yang tengah memasang bajunya.
"Katanya gerah? Kenapa dipake lagi bajunya?"
Fatan tersenyum kecil walau dadanya kini bergemuruh, selama ini dia tak pernah sekalipun berbohong pada istrinya. Jadi dia tidak tau caranya.
"Udah nggak kok, Sayang. Kan udah ada kamu di sini, bawaannya sejuk aja kalo di dekat bidadariku ini," goda Fatan sambil membawa tubuh ramping Dara ke pangkuannya.
Dara memeluk Fatan dengan tiba-tiba membenamkan wajahnya di ceruk leher Fatan yang selalu membuatnya tenang. Keresahan yang sejak beberapa hari lalu di simpannya benar-benar membuatnya sesak.
'Aku nggak boleh curigaan kayak gini, aku kenal suami dan adikku. Nggak, nggak ini pasti cuma ketakutan ku aja,' batin Dara sambil memejamkan matanya di pelukan Fatan.
Setelah beberapa saat saling memeluk Dara melerai pelukannya dan menatap mata Fatan dalam.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk selalu setia sama aku, Mas." Dara menyodorkan kelingkingnya.
Fatan terkekeh namun tak urung menggamit juga kelingking Dara dengan kelingkingnya sendiri.
"Ya pasti dong, Sayang. Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba kamu bilang begitu? Ada yang ganggu pikiran kamu ya?" tebak Fatan seolah tau isi hati istrinya.
Dara membawa telapak tangan Fatan ke pipinya dan mengusapkannya dengan pelan di sana.
Dara menggeleng pelan sembari bertanya lirih. "Nggak apa-apa kok, Mas. Cuma mau kamu janji aja. Oh iya, Mas dari tadi di kamar ini selama aku pergi?"
Fatan tampak terkesiap dan berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang pas.
"Ahh emmm, i ... iya sayang. Mas dari tadi di kamar ini aja kok nggak kemana-mana," jawab Fatan gugup.
Keringat dingin mulai membasahi keningnya padahal udara di sekita sudah cukup sejuk karena dara sudah menghidupkan AC di kamarnya.
"Baiklah, Mas. Aku percaya kok sama kamu," tukas Dara tersenyum.
Tak ingin terlalu larut dalam spekulasi yang belum tentu benar, akhirnya Dara menyerah dan lebih mempercayai kata hatinya untuk percaya sepenuh hati pada suaminya. Seperti yang selama ini selalu di tanamkan Dara dalam rumah tangganya agar selalu harmonis.
Sungguh malang, karena tanpa Dara sadari kalau benteng Fatan perlahan mulai goyah karena bayang-bayang Indi selalu mengejarnya.
****
Tapi kesejukan pagi itu nyatanya tak mampu menyejukkan hati Dara yang tengah bertelepon dengan ibunya di teras belakang. Tampak wajahnya kusut seperti baru saja mendapat kabar tak mengenakkan.
"Kamu ada masalah ya sama Indi, Nduk?" tanya Bu Maryam via telepon.
Penghuni rumah yang lain belum terbangun, jadi Dara lebih leluasa untuk menjawab tanpa khawatir ada yang menguping.
"Nggak ada kok, Bu. Kok tiba-tiba nanya gitu?" heran Dara.
"Tadi malem adikmu telpon ibu, katanya mau minta ngekos aja. Dia nggak enak ganggu kamu katanya," desah Bu Maryam terdengar kecewa.
"Nggak kok, Bu. Semalem Dara cuma ngasih tau Indi supaya di rumah nggak pake baju pendek," tukas Dara menjelaskan.
"Iya Ibu tau, tapi kan bisa di kasih taunya baik-baik. Semalem Indi bilang kamu sampe ngelempar dia terus kena kakinya yang luka. Kasian loh Dar, lain kali jangan kasar gitu ah. Lagi pula kalo pake baju pendek di dalem rumah kan nggak papa, wajar."
Dara menghela nafas berat, beginilah ibunya selalu saja lebih berat ke Indi ketimbang dirinya sebagai anak sulung.
Terkadang Dara iri, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Karna sadar kalau dia hanyalah anak angkat ibu dan ayahnya.
__ADS_1
"Ya udah, Bu. Nanti Dara ngomong lagi sama Indi baik-baik ya," ucap Dara mengalah.
"Iya, kasih taunya pelan-pelan aja ya. Kamu kan tau adikmu itu dari dulu gimana. Ibu titip Indi ya, tolong jaga dia baik-baik," tukas Bu Maryam sambil mematikan sambungan telepon.
Dara mendesah sembari memijit pengikat hidungnya pelan.
'Masih terlalu pagi untuk stress,' batin Dara menghibur diri.
Untuk melupakan kejadian barusan Dara memilih menyibukkan diri dengan membuat sarapan untuk keluarganya. Setelah semua siap tampak Fatan keluar dari kamar sambil menguap.
"Assalamu'alaikum imamku," sapa Dara lembut.
Fatan tersenyum senang, muka bantalnya sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya di mata Dara.
"Wa'alaikumsalam makmum surgaku," jawab Fatan sarat akan cinta.
Setelah saling melempar senyum dan tatapak cinta, Fatan bergegas masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk yang tersampir di gantungan.
Dara menggeleng pelan dengan senyuman tak lepas dari bibirnya.
"Mama," seru si kembar berbarengan, mereka berlari pelan sambil bergandengan tangan menuju meja makan.
"Assalamu'alaikum anak-anak Mama," sahut Dara sambil merentangkan tangannya menyambut kedua anaknya dalam pelukan.
"Wa'alaikumsalam Mama," sahut mereka kembali berbarengan.
Dengan kompak keduanya mencium pipi kiri dan kanan Dara kemudian bergegas ke wastafel untuk mencuci mukanya.
"Papa lagi mandi, jadi kalian sarapan dulu ya. Habis itu baru gantian mandi, oke." Dara mengacungkan jempolnya di hadapan dua anaknya yang sudah selesai mencuci muka.
"Oke Mama," seru Fatur dan Farah seraya menempelkan jempol mungil mereka ke jempol Dara.
Dara mencubit pipi keduanya dengan gemas. Kemudian membimbing mereka untuk duduk di kursi dan menyiapkan sarapan mereka.
Si kembar mulai makan dengan senang, tapi ketenangan pagi itu terganggu karena suara berisik dari langkah Indi yang melangkah tergesa-gesa dengan sebelah kakinya tampak pincang, hal itu pulalah yang membuatnya sampai menabrak rak sepatu dan membuat isinya berjatuhan.
Handuk yang di kalungkannya di leher memperjelas tujuannya saat ini.
Menyadari itu Dara panik dan dengan segera berteriak melarang Indi.
Ceklek
__ADS_1
"Indi jangan dibuka!" pekik Dara panik.