TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 56. KEKUATAN NETIJEN.


__ADS_3

Dengan tergopoh-gopoh Indi berlari ke depan dan apa yang di lihatnya ternyata sesuai dengan apa yang di pikirkannya.


"Mbak! Kamu apa-apaan sih? Kenapa Mbak malah usir Mas Fatan? Ini kan rumahnya Mbak?" marah Indi sambil mendorong bahu Dara dan berlari mendapatkan Fatan yang tengah berjingkat untuk mengambil kopernya yang hampir terjatuh ke genangan air.


Walau Fatan berusaha menepis tapi Indi tetap kekeh untuk memegangi lengsn Fatan, sebagaimana pasangan suami istri sungguhan.


Dara yang sebelumnya emosi kembali di landa amarah melihat adegan yang tak seharusnya itu.


"Wah, lihatlah pasangan selingkuh ini. Bisa-bisanya kalian begitu bangga menunjukkan hubungan kalian pada dunia ya? Sepertinya urat malu kalian itu sudah di bikin bakso makanya kalian tidak lagi punya rasa malu," cecar Dara dengan suara keras.


Sengaja agar para tetangga kompleks yang memang rata-rata adalah ibu-ibu bisa mendengar dan melihatnya dengan jelas.


"Dara! Apa-apaan kamu teriak begitu? Bikin malu tau nggak?" geram Fatan sambil memelototkan matanya pada Dara.


"Iya, Mbak! Emangnya nggak bisa ya ngomong itu biasa aja? Aku sama Mas Fatan itu nggak budek loh, Mbak." Indi membela Fatan dan bahkan sampai mendukung kalimatnya.


Dara mencebik tak peduli karna kini para ibu-ibu tetangga yang kepo sudah mulai mendekat ke arah pagar rumahnya yang tidak terlalu tinggi itu untuk melihat langsung apa yang sudah terjadi, bahkan ada beberapa dari mereka yang datang sambil merekam kejadian itu di ponselnya.


"Ooh, kalian malu? Ya wajar sih kalo malu. Namanya aja selingkuh terus ketahuan, di depan orang banyak pula. Gila sih kalo nggak malu," cibir Dara sambil mencebikkan bibirnya mengejek.


"Huuu tukang selingkuh aja sok keras! Malu sama burung, Bang! Burung aja setia sama pasangannya nggak kayak situ yang hobinya nyoblos!" teriak salah satu ibu tetangga yang mengintip sejak tadi dan membuat bala tentara ibu-ibu itu berani mendekat dan ikut mengintip.


  Fatan dan Indi terperanjat dan segera melepas pegangan tangan masing-masing. Kemudian saling menjaga jarak meski terlambat.


"Iya, tampang aja ganteng rupanya suka nyosor adik ipar. Huuu malu dong!" sahut ibu yang satu lagi, kini halaman rumah mereka penuh dengan sorak sorai ibu-ibu yang masih merasa geram terhadap Indi.

__ADS_1


"Adeknya lagi malah terima aja di apa-apain kakaknya. Dasar nggak punya otak! Malah ngancurin rumah tangga kakaknya sendiri. Dih, amit-amit sama perempuan begitu mah." sahut yang lain lagi membuat suasana semakin seru dan panas.


Bahkan mendengar ribut-ribut itu, para warga yang lainnya malah ikutan berkumpul dan mengintip.


"Diam kalian semua! Kalo nggak tau apa-apa itu mendingan diem, daripada bunyi tapi cuma bikin suasana tambah runyam aja!" pekik Fatan kesal karna kini para warga mulai meneriakinya dan Indi membuatnya malu bukan main.


"Iya, kalian itu cuma taunya ngatain pelakor pelakor aja! Coba sekali sekali lihat dari sisi kami. Jangan cuma bela istri sah! Kan bisa aja istri sahnya yang bermasalah karena itu suaminya selingkuh. Kan bisa aja begitu, jangan bikin opini sendiri dong!" dukung Indi pula, seperti dua sejoli yang saling melengkapi mereka selalu saling dukung sejak tadi tak peduli ada hatinya yang berdenyut nyeri saat ini menyaksikan itu semua.


"Halah! Pelakor itu ya pelakor! Mana ada benarnya semua pelakor itu ya salah karna sudah merusak rumah tangga orang! Dosa tau gak kamu, apalagi yang kau rusak rumah tangganya itu Kakak kamu sendiri. Otak kamu di gadein ya kayaknya, masa kayak begitu aja nggak bisa mikir?" teriak seorang ibu lainnya yang mengenakan kacamata.


Indi menatap ibu itu berang, dan hendak menghampirinya dengan niat membungkam mulutnya yang sejak tadi tak henti henti menghujat Indi.


Greekkkk


"Dasar netijen sial*n!" tangan Indi sudah terangkat untuk menghajar ibu yang tingginya bahkan tidak lebih dari bahunya tersebut.


Namun saat sebelum tangan itu berhasil menyentuh kulit si ibu, ibu kacamata langsung menarik tangan Indi dan memelintirnya dengan secepat kilat.


"Ahhhh, tolong! Sakit .... Lepas! Lepasin saya ini sakit! Awwww," mohon Indi sambil berusaha menarik tangannya yang terpelintir ke belakang. Namun setiap kali menarik tangannya yang ada malah semakin sakit.


"Ahahah, segitu doang ternyata bisanya si pelakor. Emang ya ibu-ibu dimana-mana namanya pelakor itu cuma gede di mulut doang. Isinya mah kosong." Ibu kacamata mendorong Indi yang kesakitan dan membuatnya tersungkur mencium tanah.


"Aww, ahhhh." Indi mengerang sambil menggerakkan tangannya yang serasa lepas dari sendinya itu.


"Makanya lain kali ngomong itu di pikir, kelakuan itu di jaga. Jangan seenaknya, kena batunya kan?" celetuk seorang ibu berjilbab merah namun memakai daster yang panjangnya tidak sampai menutupi betisnya, hanya sampai bawah lutut dan lengannya pun pendek lebar menampakkan pakaian dalamnya dari sela tangan bajunya.

__ADS_1


"Kalo bukan adiknya Mbak Dara udah gua unyeng-unyeng lu pake ulekan bekas cabe, iya. Sumpah gedek banget liat mukanya yang sok alim ternyata luar biasa miring itu."


"Iya, padahal tinggal aja masih numpang si Dara tapi malah berani banget ngegoda suaminya. Huh, kalo aku udah nggak bakalan ku anggep adek. Ku pulangin aja dia ke tempat asalnya sana."


Suara suara sumbang mulai terdengar membuat Indi dan Fatan semakin malu untuk tetap berada di sana. Indi bangkit perlahan sambil menahan nyeri di tangannya dan kemudian langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Huuu, kabur kan lu. Dasar uler lu!" sorak ibu-ibu itu kembali menyoraki Indi, habis sudah harga dirinya di sana.


Dara hanya diam melihat Indi berlari masuk tak ada niatnya sedikit pun untuk membela ataupun melihat bagaimana kondisinya. Walau Indi adiknya tapi luka yang di torehkannya masih begitu sakit terasa.


"Mbak Dara yang sabar ya, semoga setelah ini nanti Mbak Dara bisa dapet ganti yang lebih baik dan lebih segalanya ya," ujar seorang ibu sambil melirik Fatan yang berdiri tak jauh dari posisinya dan Dara.


Ibu itu sengaja bersuara keras agar Fatan bisa mendengar ucapannya dan tersindir.


"Amiiin, makasih doa baiknya ya, Bu. Dan semoga doanya juga berbalik buat keluarga ibu sendiri ya. Semoga kisah saya ini bisa di ambil contoh supaya bisa di hindari," sahut Dara seperti sengaja memanasi Fatan dengan mengamini ucapan ibu tersebut.


"Neng Dara kalo mau mah jadi menantu saya aja, anak saya pilot loh, Neng. Udah mapan dan pastinya setia orangnya. Semua udah ada, rumah, mobil, apartemen, emas batangan, lengkap semua dah, Neng. Di jamin bahagia kalo mau nikah sama anak saya mah. Bakalan saya sayang juga Neng Dara sama si kembar pastinya." Ibu berjilbab coklat dengan banyaknya emas di tubuhnya itu menyeletuk sambil tersenyum manis namun terlalu lebar.


"Banyak banget hartanya, Mak. Darimana aja itu?" tanya ibu kacamata penasaran.


Ibu-ibu toko emas itu cengengesan dan menjawab. "Hehehe, numbalin suami saya."


Suasana seketika mencair karena banyolan ibu itu, Dara bahkan tanpa sadar malah ikut tertawa dan tidak menyadari kalau Fatan sudah tak ada di tempatnya.


"Loh? Kemana kadal buntung itu?" gumam Dara bingung, ketika hanya mendapati sandal yang tadi di kenakan Fatan di tempatnya berdiri sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2