TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 62. BERSIAPLAH!


__ADS_3

 Elis garuk-garuk kepalanya karena merasa bingung dengan ucapan kedua bocah tersebut.


"Hadehhh, om baik juga siapa lagi?" keluh Elis bingung.


 Halim juga sama bingungnya tapi dia enggan untuk bertanya, takut salah alasannya.


"Pokoknya Fatur mau Papa kita itu Om baik!" seru Fatur lantang seakan apa yang dia pilih adalah yang terbaik.


 Farah bangkit dari pangkuan Elis dan langsung menubruk Halim.


"Tapi Farah maunya om ganteng!" seru Farah tak mau kalah.


  Halim sendiri sampai keteteran menahan bobot tubuh bocah kecil itu karena ternyata tubuhnya lumayan berisi juga dan sebenarnya agak sedikit berat.


 Fatur menghentakkan kakinya dan berjalan cepat menuju ke arah jalan depan rumah.


"Fatur mau kemana?" panggil Elis cemas.


"Fatur mau ke tempat om baik, Fatur mau Om baik yang jadi Papanya Fatur. Bukan om aneh itu." tunjuk Fatur pada Halim yang kini tengah berdiri sambil menggendong Farah yang enggan turun dari gendongannya.


"Ini om ganteng, papanya Farah. Bukan om aneh!" Farah membela Halim dan menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Halim sampai sebuah perasaan hangat menyentuh kalbu Halim yang merupakan jomblo abadi itu.


 Karna Fatur tampaknya serius dengan kata-katanya, akhirnya Elis terpaksa mengikutinya menuju sebuah tempat yang dia sendiri tidak tau rumah siapa.


"Fatur mau kemana? Ayo pulang, nanti di cariin Mama loh." Elis berteriak berusaha membujuk Fatur yang sangat keras kepala itu.


 Fatur bergeming, dan tak mengindahkan peringatan Elis.


"Bohong! Bener yang Farah bilang, Mama itu udah lupa sama kami. Mama selalu sibuk, sedangkan Papa malah udah sama Tante Indi. Fatur nggak mau punya Papa yang suka tidur sama tantenya Fatur bukan sama Mama."


Degh


 Elis terkejut mendengar ucapan Fatur yang terdengar tidak masuk akal untuk di ucapkan anak seusianya, namun nyatanya pendengarannya tidak salah memang itulah yang baru saja di ucapkan oleh Fatur bahkan secara gamblang.


"Fatur ayo pulang, memangnya kamu mau kemana?" seru Elis lagi mencoba tidak terlalu memikirkan apa yang tadi di katakan oleh Fatur.


 Saat ini yang paling penting adalah membawa kembali anak itu ke rumah. Sebelum Dara mengetahui dan malah marah dan kecewa padanya karena lalai menjaga Fatur .


"Nggak! Fatur mau ke rumah om baik, Fatur mau Om baik jadi papanya Fatur. Titik!" Fatur mempercepat jalannya sampai kini setengah berlari.


"Iya, tapi emang Fatur tau rumahnya? Di sini luas, Fatur bisa tersesat sayang," bujuk Elis lembut, berharap anak itu mau mendengarkannya dan pulang.


 Fatur masih tak mengindahkannya dan terus saja berjalan sampai berhenti di depan sebuah rumah.


"Nah, Fatur bingung kan? Ya udah ayo kita pulang aja ya, Sayang ya." Elis hendak menarik tangan Fatur namun secepatnya di tepis dan Fatur langsung berlari masuk ke sebuah rumah minimalis yang pagarnya terbuka sedikit.

__ADS_1


"Om baik!" teriak Fatur sambil memasuki rumah tersebut, yang bahkan Elis pun tak tahu siapa pemiliknya.


"Fatur!" seru Elis hendak mencegah Fatur, namun terlambat Fatur sudah terlanjur masuk ke rumah tersebut.


 Elis sudah cemas bukan main namun untung saja tak lama kemudian seorang lelaki yang cukup di kenal Elis keluar dari dalam rumah tersebut sambil membawa Fatur yang bergelayut manja dalam gendongannya.


"Ya ampun, Mas Zaki?"


 Zaki tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mbak."


 Fatur mengangkat tubuhnya menatap Elis. "Iya, ini om baik. Dia yang bakalan jadi Papanya Fatur nanti."


 Sebuah kata yang sederhana namun mampu mengguncang perasaan Elis dn Zaki yang mendengarnya.


"Apa? Papa?"


 Sedangkan di rumah Laila, kini Halim tengah tersiksa karena Farah yang sejak tadi tak mau turun sama sekali dari gendongannya.


"Pokoknya sebelum om ganteng bilang mau jadi Papanya Farah, Farah nggak akan mau turun!"


 Halim mendesah. "Duh Gusti!"


****


Beberapa hari kemudian, di kediaman Dara.


 Pintu rumah terdengar di ketuk, namun Dara yang masih asik memeriksa laporan kerja di butiknya itu enggan sekali untuk beranjak membuka pintu.


"Duh, siapa sih? Siang-siang ganggu orang lagi bersih-bersih aja," gerutu Indi sambil bergegas ke depan untuk membuka pintu.


 Rambutnya yang tergerai itu nampak acak-acakan mungkin saja karena dia belum mandi sedari pagi.


"Loh, Mbak di sini? Kenapa nggak di bukain sih pintunya, Mbak? Kan aku lagi nyuci baju. Mbak juga lagi nggak ngapa-ngapain kan" cecar Indi saat melihat Dara malah duduk santai di depan Tv sambil berbalas pesan dengan Vania tentang kondisi butik utama dan cabang barunya.


 Dara melengos."ngapain aku capek buka pintu? Bukannya ada yang lebih pantes buat ngerjain itu? Buat apa aku punya pembantu tapi bukain pintu aja masih aku sendiri."


 Wajah Indi tampak merah padam dengan tangan terkepal menahan emosi.


"Kenapa kamu? Marah? Silahkan, sekalian silahkan juga enyah dari rumah ini." Dara berucap sinis.


Indi menarik nafas dalam, berusaha mengontrol emosinya agar tidak kelepasan. Karena bisa berabe urusannya kalau sampai membuat nyonya rumah itu marah.


"Ngapain bengong, sana bukain pintunya," titah Dara sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke arah pintu yang sejak tadi tak berhenti di ketuk. Sepertinya tamu itu sangat tidak sabaran.


 Indi menghentakkan kakinya ke lantai, dan dengan terpaksa membuka pintu rumah yang tak terkunci itu.

__ADS_1


Ceklek.


"Cari siapa?" sambar Indi bahkan sebelum tamu itu menyampaikan tujuannya.


"Saya kurir, mau antar surat untuk Fatan," ujar lelaki berjaket hitam tersebut sambil mengulurkan sebuah map coklat dengan logo pengadilan agama di atasnya.


 Indi menerimanya dengan hati masygul, di pandanginya surat dari pengadilan agama itu lekat.


"Ah, udahlah kenapa pake ngerasa bersalah? Toh ini pasti yang terbaik untuk kami semua. Senyum Indi, sekarang mimpimu bakalan makin dekat untuk terwujud." Indi melangkah dengan semangat dan tak sabar untuk segera menunjukkan surat itu pada Fatan.


 Dan tentu saja untuk mempengaruhinya agar tidak usah datang ke sidang demi sidang nantinya agar prosesnya cepat dan mereka bisa segera menikah tentunya.


 Dara sampai terheran heran melihat tingkah Indi yang seperti anak kecil mendapat es krim, berlari berlompatan seperti baru saja mendapat lotre jutaan rupiah.


"Mas," panggil Indi sembari mendekati Fatan yang tampak tengah menepuk kasur lantai tipisnya di belakang rumah.


"Kenapa?" tanya Fatan tak menoleh sedikit pun dari kasur yang tampak sangat berdebu itu. Fatan menepuknya dengan tepukan kasur dan debu-debu segera memenuhi udara di sekitar mereka.


 Indi mengibaskan tangannya dan dengan tak sabar menarik tangan Fatan untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenapa sih, In?" cecar Fatan heran.


 Namun bukannya lekas menjawab, Indi justru memanggil Bu Maryam yang tengah sibuk membersihkan kamar mandi.


"Ada apa, In? Kok teriak-teriak?" Bu Maryam menghampiri sambil mengelap tangannya yang basah di ujung bajunya yang tampak mulai lusuh.


Indi menunjukkan surat dari pengadilan tersebut pada mereka, dan serta merta Bu Maryam berjingkat senang.


"Berarti kamu nggak usah datang, Fatan biar kalian bisa cepat berpisah dan kamu bisa nikah sama Indi secepatnya dan kita bisa keluar dari rumah ini."


 Fatan mengernyit heran. "Apa, Bu? Kenapa kita keluar dari sini setelah kami menikah?"


 Bu Maryam mendengus mendengar pertanyaan Fatan yang baginya konyol tersebut.


"Ya iyalah keluar, ngapain kita lama-lama di sini lagi? Bukannya kamu juga punya rumah peninggalan almarhum orang tua kamu ya?"


"Rumah siapa maksud ibu?" celetuk Dara yang tak sengaja mendengar percakapan mereka saat hendak mengambil air dingin di kulkas dapur.


 Bu Maryam menoleh sinis merasa di atas angin karna merasa akan menang. "Huh, ya rumah peninggalan orang tuanya Fatan toh. Mereka kan orang kaya, harusnya rumahnya nggak cuma satu dong. Pasti orang tuanya dulu juga pasti ninggalin warisan. Iya kan Fatan?"


 Fatan menggaruk kepalanya bingung, sedang Dara kini menatapnyaa dengan tangan terlipat di dada. Menatap jumawa lelaki yang pernah singgah di hatinya dan menoreh luka terdalam itu.


"Mas!" desak Indi yang juga tak sabar mendengar jawaban Fatan.


"Asal kalian tau ya, laki-laki ini bahkan nggak punya apa-apa, semua harta warisan dari orang tuanya sudah dia habiskan dulu sebelum bertemu aku. Dan sekarang itu juga alasan dia masih bertahan di sini walau hanya sebagai pembantu gratis. Lihatlah, lelaki yang kalian begitu dambakan sampai tega memakai cara kotor untuk merebutnya itu nyatanya tak lebih dari seonggok sampah yang tak berguna. Bersiaplah menggelandang kalian semua, akan ada kejutan lainnya yang kalian tak tahu. Dan aku, Dara! Akan membuatnya semakin mengejutkan!"

__ADS_1


__ADS_2