TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 44. KARMA ATAU BUKAN?


__ADS_3

 Akhirnya karena Indi justru klenger setelah muntah-muntah di kamar mandi club'. Fatan memilih membawanya pulang ke rumah ketimbang malah jadi masalah kalau dia Fatan biarkan menginap di club' walau kamar itu sudah di bayar lunas untuk satu malam.


"Hah, apes deh." Fatan melajukan mobilnya dengan Indi yang terbaring lemas di sampingnya.


 Dan untuk motor Dara yang tadi di pakai Indi terpaksa di naikkan Fatan ke bagasi belakang agar tidak ribet meminta orang lain untuk mengantar.


"Kamu kenapa sih, In?" tanya Fatan penasaran.


 Karna baru kali ini Indi muntah-muntah sampai lemas dan tidak bisa apa apa. Padahal biasanya saat sakit pun Indi masih mampu mengajaknya berlayar di lautan surga dunia.


"Nggak tau, Mas." Indi membekap mulutnya karena rasa mual itu kini muncul lagi.


 "Eh, eh jangan muntah di dalem mobil, In. Nanti Dara ngamuk!" seru Fatan sambil cepat-cepat menepikan mobilnya.


 Indi keluar dari mobil secepat yang dia bisa, setelahnya membuang semua isi perutnya sampai tak tersisa, dan terjatuh ke tanah saking lemasnya.


"Mas, tolong." Indi mengangkat tangannya karena sepertinya Fatan tidak melihatnya saat terjatuh dan tidak cepat keluar untuk membantunya.


"Kamu ngapain malah gegoleran di situ sih, nanti kalo di sangka korban tabrak lari gimana?" gerutu Fatan sambil bergegas keluar mobil untuk membantu Indi.


 Fatan memapah Indi yang tampak setengah sadar itu dengan susah payah, ternyata walaupun kecil dan ramping tapi berat Indi lumayan menguras tenaga juga.


"Ya ampun, kamu bau banget sih, Mas. Sanaan ih, bikin mual tau nggak!" Indi mendorong tubuh Fatan menjauh setelah berhasil duduk di jok mobil.


 Fatan terhuyung mundur karna tak siap dengan dorongan Indi. "Bau dari mana? Mas aja sebelum pergi tadi mandi dulu kok. Ngigau ya kamu."


"Nggak, Mas. Beneran kamu bau, huekkk duh sana Mas, aku mual kalo deket-deket kamu." lagi Indi mendorong Fatan menjauh.


Fatan mendengus kesal dan menutup pintu mobil di sebelah Indi dengan kasar.


Brakk


 "Dasar aneh, orang udah mandi kok di kata bau. Dia kali tuh yang bau, keringatnya aja bau ketek naga kok." Fatan terus ngedumel sembari berjalan memutari mobil untuk kembali ke kursi kemudi.


 Mobil kembali melaju, dengan posisi Indi yang menghadap ke kaca mobil sembari meringkuk dan menjepit hidungnya dengan jari.

__ADS_1


 Fatan yang sudah telanjur kesal hanya mendengus keras sambil melirik Indi yang seperti sangat jijik padanya, perubahan signifikan yang terjadi hanya dalam hitungan menit.


 Fatan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan sudah lengang jadi mereka bisa sampai di tujuan dengan selamat tanpa ada drama tabrakan seperti di film koyeya.


"Akhirnya sampai juga." Indi buru-buru membuka pintu mobil dan keluar sambil setengah berlari menuju ke dalam rumah.


Ceklek


Ceklek


Ceklek


 Indi menekan handle pintu dan berkali-kali mendorongnya dengan bahu, tapi pintu itu tampaknya terkunci dari dalam.


Fatan tampak masih berusaha menurunkan motor Dara dari bagasi mobilnya, jadi dia sama sekali tidak memperhatikan Indi yang tengah panik karna pintu rumah terkunci dari dalam.


Dog


Dog


Dog


 Fatan menoleh sejenak lalu kembali sibuk dengan kegiatannya menurunkan motor dengan hati-hati agar tidak terjatuh dan malah membuatnya lecet.


Dog


Dog


Dog


"Mbak! Indi udah pulang, Mbak! Pintunya kenapa di kunciin sih,Mbak! Mbak! Mbak Dara! bukain dong!"


 Indi terus saja menggedor pintu depan itu, tapi sama sekali tak ada jawaban dari dalam. Sepertinya semua anggota penghuni rumah sudah tertidur, atau lebih tepatnya tidak ingin tidur lelap mereka terganggu hanya karna Indi.


"Mas! bantuin dong!" marah Indi pada Fatan yang malah tampak santai saja memarkirkan motor yang sudah berhasil dia keluarkan dari bagasi mobilnya.

__ADS_1


 Fatan tampak acuh, dan berjalan menuju pintu sambil merogoh kantongnya.


"Kamu kenapa sih teriak-teriak kayak gitu? kasian tau tetangga yang udah pada tidur kebangun gara-gara suara kamu. Itu tadi kalo si kembar juga ikutan bangun gimana?" cecar Fatan tak suka.


 Indi mencebik sambil memencet hidungnya dengan jari dan bernafas lewat mulut. "Salah sendiri nggak bantuin, kan aku manatau kalo kamu punya kunci serepnya, Mas. Udah buruan buka lah, aku kebelet pipis nih. Mana tadi pake nggak jadi lagi, terpaksa deh pipis di kamar mandi ini ntar?"


 Fatan tak mendengarkan ocehan Indi, tangannya semakin fokus mencari keberadaan kunci yang biasanya sebelum pergi selalu di bawanya untuk jaga-jaga.


"Buruan, Mas. Ketemu nggak kuncinya? keburu ngompol ini loh." Indi menarik baju Fatan sambil merapatkan kedua pahanya karna menahan desakan kantung kemihnya.


 Wajah Fatan yang semula santai kini berubah cemas, bahkan kini semua jantung yang ada di pakaiannya dia rogoh untuk mencari keberadaan kunci tersebut. Indi yang sudah sangat tak tahan pun bahkan turut memegangi semua kantong baju Fatan untuk mencari kunci itu.


 Beberapa menit berlalu sampai mereka benar-benar menyadari kalau kunci itu sebenarnya tidak pernah di bawa oleh Fatan.


"Rasakan kalian, Mas." Dara tersenyum licik dari balik tirai jendelanya, sebelah tangannya memegang kunci kecil berbandul bola hijau yang dia pantulkan di tangannya.


 Tanpa berniat untuk membuka pintunya, Dara yang tengah membuka jilbabnya karna ingin tidur itu memilih melangkah menuju kamar untuk kembali melanjutkan tidurnya. Membiarkan kedua pasangan peselingkuh itu di luar rumah tanpa ada yang bisa membantu.


 Lelah mencari akhir Fatan menyerah, begitu juga Indi yang pada akhirnya terpaksa sekali membuang hajatnya di samping keran taman. Untungnya keran itu menyala sehingga dia tidak perlu merasa kan gatal gatal karena tidak mencuci organ intimnya sehabis buang air.


"Terus kita gimana dong, Mas? masa kita tidur di teras sih?" tanya Indi kebingungan.


"Siapa yang mau tidur di teras, saya mau tidur di mobil kok." Fatan berjalan melewati Indi dan membuka pintu tengah mobilnya.


 Fatan merebahkan jok dan membentang sebuah kasur tiup khusus mobil yang selalu di bawanya kemana mana.


 Namun saat Fatan hendak masuk untuk membaringkan tubuhnya, Indi dengan cepat menarik tangannya sampai Fatan kembali terhuyung.


"Mas, masa kamu tega sih sama aku? kamu mau enak enakan tidur di mobil pake alas kasur begitu, terus masa aku harus tidur di lantai teras sih? kan dingin, Mas."


 Fatan menatap Indi sejenak, ingin menolak karna dia juga butuh tidur tapi mata Indi yang memelas membuatnya tak tega.


"Terus masa aku yang harus tidur di keramik teras?" ketus Fatan.


 Indi menangkup tangannya di depan dada dengan mata semakin memelas. "Plis, Mas. Kamu kan laki-laki harusnya ngalah dong sama perempuan."

__ADS_1


 Fatan menggaruk kepalanya kasar. "Ya udah, tapi ada syaratnya!"


__ADS_2