
"Assalamu'alaikum," ucap Zaki sambil berlari tergesa menuju ke dalam rumahnya.
Belum lama tadi dia di telpon oleh Elis yang mengatakan kalau Dara tiba tiba muntah dan sekarang terbaring lemah di tempat tidur.
Padahal saat itu dia tengah menbahas pekerjaan penting dengan Pak Jatmika usai Halim pergi begitu saja tanpa pamit. Pun Pak Jatmika yang turut panik memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Dara demi melihat langsung kondisi sang anak.
"Wa'alaikumsalam, Pak Zaki udah pulang? Mbak daranya di kamar, Pak." Elis yang baru keluar dari kamar Dara langsung memberi tahu.
Zaki mengangguk dengan di ikuti Pak Jatmika di belakangnya mereka masuk ke dalam kamar, dan mendapati Dara juga si kembar ada di sana.
"Papa!" seru si kembar lalu langsung berlari masuk ke dalam pelukan Zaki seperti kebiasaan mereka selama ini.
"Dara, kamu baik baik saja, nak? Apa kau bapak panggilkan dokter? Bapak khawatir kamu kenapa kenapa?" tanya Pak Jatmika sembari berjalan mendekat ke arah ranjang dimana Dara terbaring dengan wajah yang pucat pasi.
"Papa, tadi Mama muntah muntah terus langsung nggak bisa bangun, tadi Fatur, Farah sama Mbak Elis yang bawa Mama ke kasur. Mama kasihan ya, Pa. Apa mama kecapean ya bikinin makanan buat kita?" tanya Fatur polos.
Zaki mengelus kepala dua bocah kesayangannya itu.
"Kita lihat kondisi Mama dulu ya," ucapnya.
"Papa, panggil dokter Pa. Supaya Mama cepat di periksa, siapa tahu Mama mau punya adek bayi Pa." Farah tiba tiba menyeletuk.
Zaki terhenyak, begitu pun Pak Jatmika yang langsung keluar dari kamar itu sambil menenteng ponsel di tangannya.
"Mas," panggil Dara lirih, sambil mengangkat tangannya ke arah Zaki.
Zaki sigap mendekat, begitu pula si kembar yang tampak tak ingin jauh jauh dari orang tuanya.
"Kenapa, sayang? Ada yang sakit? Kita panggil dokter ya, kamu pucat sekali Mas takut ada yang gawat," kata Zaki pelan sambil mengelus lembut kepala sang istri dan mengusap lelehan air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Iya, Mas. Tolong panggil dokter ya, badan Dara rasanya nggak enak. Mual, pusing juga, mungkin bener yang di bilang Farah, soalnya dulu pas hamil mereka aku juga begini," pungkas Dara lirih.
Namun kata-kata yang terlontar dari bibir Dara nyatanya mampu membangkitkan senyuman di bibir Zaki, entah benar atau tidak tapi semua itu membuatnya seperti ingin bersujud syukur saat ini --seandainya itu benar --
"Bapak sudah telepon dokter, sebentar lagi beliau datang," sela Pak Jatmika yang baru saja kembali dari luar ruangan.
"Terima kasih ya, Pak." Zaki menyahut dan tersenyum.
"Iya, kamu ini kayak sama siapa aja segala terima kasih, nggak usahlah kan Daraa itu masih anak bapak, wajar kalah Bapak sigap." Pak Jatmika mengibaskan tangannya di depan.
Tiba-tiba Farah berlari menuju ke Pak Jatmika, dengan reflek lelaki paruh baya yang rambutnya sebagian sudah memutih itu menyambut sang cucu dan menggendongnya.
"Eyang, kalau nanti Mama punya adik bayi gimana?" tanya Farah dengan berseri.
Mata Pak Jatmika seketika membulat, menoleh pada Dara dan Zaki seakan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Baru perkiraan, Pak." Dara tersenyum menjawab, walau wajahnya sangat pucat namun sinar harapan tampak sangat kentara dari matanya.
Walau belum pasti, tapi sama seperti Zaki tadi Pak Jatmika sama sekali tak bisa menahan senyumnya dan dengan bersuka hati beliau membawa Farah menari dalam gendongannya.
"Kalau memang benar, Bapak akan kabulkan semua yang kamu minta. Apapun itu," tukas Pak Jatmika.
Dara dan Zaki saling pandang dan tersenyum penuh arti, lalu tak lama datanglah Elis yang membawa beberapa gelas minuman di sebuah nampan perak dan di letakkan di atas meja yang ada di kamar itu.
"Mbak, di depan ada dokter katanya di panggil ke sini ya?" tanya Elis setelah meletakkan minuman itu.
"Ah, sudah datang ya? Tolong kamu suruh masuk ya, Lis. Cepat," titah Pak Jatmika menyela.
Elis mengangguk patuh dan langsung berlalu menuju luar, tak lama dia kembali lagi dengan seorang dokter perempuan berpakaian dinas dengan keringat bercucuran di dahinya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sopan sambil mengelap keringat yang menetes di keningnya hingga membasahi jilbab yang di pakainya.
"Wa'alaikumsalam."
"Akhirnya sampai juga kamu, Ning. Kenapa keringatan begitu?" tanya Pak Jatmika pada dokter yang sepertinya sudah di kenalnya itu.
"Iya, Pak. Tadi naik motor langsung ke sini, wong kata Bapak urgent, padahal tadi di puskesmas ya lagi rame untungnya bisa ganti tugas saya," sahut dokter perempuan itu.
Pak Jatmika menurunkan Farah dari gendongannya, dan bocah cantik itu langsung berlari menuju Elis untuk minta di ambilkan minum di ikuti Fatur di belakangnya.
Setelahnya, Zaki langsung memberi tempat untuk bidan itu memeriksa Dara.
"Haid terakhir kapan ya, Mbak?" tanya bidan Ning, sapaan akrab Kemuning.
Dara tampak mengingat ingat, namun setelah ingat matanya langsung tampak berkabut.
"Bulan lalu, Bu bidan," sahutnya lirih.
Bidan Ning tersenyum lalu membuka tas dan memberikan sebuah plastik kecil ke pada Dara.
"Di coba yuk, siapa tahu memang rejeki," ucapnya dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya yang agak berisi.
Dara menerima plastik kecil itu dan berusaha bangkit menuju kamar mandi dengan di bantu Zaki, kebetulan kamar mandi ada di dalam kamar mereka juga walau masih jarang di pakai.
"Bismillah ya, Sayang." Zaki berbisik sebelum Dara masuk seorang diri ke dalam kamar mandi.
.
Dara mengangguk lalu dengan senyum tipis di bibirnya dia menutup pintu, membiarkan mereka semua menunggu dengan tak sabar di luar sana.
Satu menit
__ADS_1
Dua menit
Tiga menit
Hingga sepuluh menit sudah Dara berada di dalam kamar mandi, Zaki yang tak sabar dan sedikit khawatir juga akhirnya mencoba mengetuk pintu kamar mandi guna memastikan kondisi sang istri.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, kamu baik baik aja kan?" ucapnya agak keras.
Tak ada sahutan dari Dara, tapi dari dalam kamar mandi terdengar suara seperti kunci pintu yang di buka.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan di sana berdiri Dara yang masih dengan wajah pucatnya tersenyum lembut pada semua yang ada di hadapannya.
Dengan sigap, Zaki langsung membantu Dara untuk kembali ke atas tempat tidur dan meletakkan dua buah bantal di belakang punggungnya sebagai sandaran agar nyaman.
"Mas, ini." Dara menyerahkan sebuah stik kecil ke tangan Zaki, tapi Zaki yang belum mengerti malah menerimanya dengan tatapan heran.
"Ini apa, Sayang?" tanyanya polos.
Bidan Ning terkikik geli, begitu pula dengan Dara.
"Coba lihat berapa garis merahnya, Pak Zaki," ucap bidan Ning.
Zaki mengangguk lalu kembali memindai stik kecil di tangannya itu dengan lebih seksama.
"Ada dua, Bu bidan." Zaki berkata apa adanya.
"Alhamdulillah," seru Pak Jatmika lalu tanpa aba aba beliau lekas menjatuhkan diri bersujud di lantai kamar Dara.
Zaki yang masih bingung tak mengerti itu malah planga plongo saja melihatnya.
"Alhamdulillah, selamat Pak Zaki, Bu Dara. Sebentar lagi kalian akan punya anak lagi," ucap bidan Ning menyadarkan Zaki akan apa yang tengah terjadi.
Mata Zaki mendadak berkabut, dengan perasaan tak menentu Zaki reflek memeluk Dara seerat eratnya, hingga membuat Dara sesak.
Dara menepuk nepuk punggung Zaki dengan suara seperti tercekik.
"Ma- mas! Ini ... ini kecekek."
__ADS_1