
"Mas pamit dulu ya, jaga si dedek baik baik. Mas janji akan secepatnya menyelesaikan masalah ini dan kembali pada kalian," tutur Fatan lembut.
Namun baru saja menyelesaikan ucapannya, mereka di kejutkan oleh suara gaduh yang berasal dari bagian depan pagar rumah.
"Jangan bergerak! Saudara kami tangkap!"
Sedetik setelah suara peringatan itu beberapa orang berseragam preman merangsek masuk ke dalam halaman rumah Indi yang memang belum di kunci pasca berjualan pagi tadi.
"Pak polisi ada apa ini?" sergah Indi dengan wajah khawatir, secara reflek bahkan di berdiri di depan Fatan seakan melindunginya.
Sebenarnya Indi tahu apa yang akan di lakukan oleh para polisi itu, tapi sengaja dia bertanya agar berkesan tak tahu menahu tentang penangkapan itu.
Salah satu dari para polisi itu mengeluarkan sebuah kertas dari balik saku jaket hitamnya dan memberikannya pada Indi.
Indi menerimanya dengan tangan gemetaran, dan membacanya sekilas.
"Astaghfirullah," lirihnya.
Air matanya yang sempat redam kini kembali luruh, dia berbalik menatap Fatan yang kini juga sama sendunya dengannya.
"Tapi kenapa suami saya harus di tangkap, Pak? Dia nggak salah apa apa, saya kenal dia." Indi berusaha membela Fatan.
"Maaf, Bu kami hanya menjalankan tugas jika ibu ingin tahu lebih jelasnya silahkan ikut kami juga ke kantor. Mari saudara Fatan, silahkan bekerja sama dan ikut dengan kami. Nanti anda bisa menjelaskan semuanya di kantor,"titah salah satu anggota polisi itu yang langsung menggiring Fatan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari rumah tersebut.
Indi masih menangis hingga mobil yang membawa Fatan hilang dari padangan. Dia tak beranjak dari tempatnya walau tak terdengar tangisan meraung seperti kebanyakan istri yang suaminya di tangkap polisi, hanya sekedar isakan kecil yang sekuat tenaga berusaha dia tahan.
"Sudahlah, Nduk. Ayo kita masuk, sekarang bukan cuma Fatan tapi ada bayimu ini yang juga membutuhkan mu." Bu Maryam mendekati indi dan menepuk pundaknya.
Indi berbalik, di usapnya kabut yang masih membekas di matanya.
"Bagaimana dengan Mas Fatan, Bu?"
"Kita akan menjenguknya nanti, setelah semua lebih tenang," jawab bu Maryam setelah mengambil nafas panjang.
Indi mengangguk menurut, dan kembali masuk ke dalam rumah bersama ibu dan bayinya.
****
Di kediaman Dara.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang kini tengah berdiri di depan rumah Dara.
Tak menunggu lama ,Dara yang tengah bersantai di ruang keluarga itu pun bangkit dan membukakan pintu untuk tamunya.
"Wa'alaikumsalam, loh bapak? Bapak kapan pulang dari liburannya?" tanya Dara setelah mencium tangan sang bapak yang di ketahuinya tengah berlibur ke negara Tiongkok beberapa waktu lalu.
Pak Jatmika tersenyum lalu menyerahkan beberapa buah paper bag berisi oleh oleh untuk anak dan cucu cucunya pada Dara.
"Sudah beberapa hari yang lalu, cuma bapak baru sempat ke sini soalnya pas pulang langsung ada kerjaan. Maklumlah ambil cutinya kelamaan jadi kerjaan sudah pada numpuk," kekeh Pak Jatmika sembari melangkah masuk dan mengikuti langkah Dara menuju ruang keluarga.
Dara tergelak lalu meletakan oleh oleh dari bapaknya ke atas meja, dan mendudukkan tubuhnya ke atas sofa tepat di samping pak Jatmika.
"Sudah jadi bos pun masih harus mengajukan cuti juga ya kalau mau liburan, hehehe mana ada batasan waktunya lagi. Dara kira jadi bos bisa libur dan kerja sesuka hati," kekeh Dara.
Pak Jatmika mengusap kepala Dara, lebih tepatnya mengacak rambutnya yang kali ini tak tertutup jilbab tersebut. Karna beberapa waktu terakhir ini Dara selalu merasa kegerahan walau AC di rumahnya sudah dalam suhu paling dingin.
"Halo cucu Opa, gimana kabar kamu selama Opa tinggal kemarin? Kakak kakak kamu juga gimana?". ujar Pak Jatmika sembari mengelus lembut perut buncit Dara yang beberapa kali mendapat tendangan dari dalam sana.
Pak Jatmika tersenyum lalu menjatuhkan sebuah kecupan ringan di perut putrinya.
"Alhamdulillah semuanya sehat, Pak. Si kembar juga baik di sekolah barunya. Kata Elis mereka makin aktif dan pinter di SD. Jadi nggak perlu di tungguin lagi cuma perlu di antar jemput saja." Dara menjawab.
Pak Jatmika manggut-manggut lalu mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang menyala, menampilkan sebuah tayangan FTV kesukaan Dara.
"Dara bikinin minum sebentar ya, Pak. Bapak mau minum apa?" tanya Dara sembari berdiri.
__ADS_1
"Apa aja, Nduk. Kalau ada yang dingin dingin, haus sekali rasanya bapak ini."
Dara mengangguk lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk bapaknya, tak butuh waktu lama Dara sudah kembali lagi ke tempat Pak Jatmika berada dengan sebuah jus jeruk dingin di tangannya.
"Ini, Pak di minum dulu."
"Alhamdulillah, terima kasih ya, nduk."
Pak Jatmika menerima gelas tinggi itu dan meminum isinya hingga habis setengahnya.
"Nduk," panggil Pak Jatmika membuat Dara yang tengah asik menonton televisi mengalihkan pandangannya pada sang bapak.
"Ada apa, Pak?"
Pak Jatmika tampak gelisah, tampak dari bahasa tubuhnya yang tiba tiba menjadi gelisah.
"Pak, ada apa? Kok tiba tiba jadi aneh sih bapak?" kekeh Dara sambil menepuk lembut lengan Pak Jatmika.
Keringat dingin jatuh dari kening Pak Jatmika, padahal saat itu suhu udara di dalam rumah Dara sudah lumayan dingin.
"Emmmm, itu ... anu ... ada, ada ... emmmmm".
"Apa, Pak? Jangan bikin penasaran kenapa? Cepetan ngomong." Dara terus mendesak bapaknya sedang yang di desak malah tampak semakin gugup saja.
"Pak," desak Dara lagi, kali ini sengaja memasang wajah kesal agar sang bapak bisa segera bicara. Habisnya dia sudah terlanjur sangat penasaran dengan apa yang hendak di sampaikan bapaknya.
"Ah, iya iya. Begini, Ada yang mau ... hummm ada yang mau bapak bicarakan sama kamu, nduk." Pak Jatmika mulai bicara walau sesekali sambil menyeka keringat yang membulir di keningnya dan menggigit bibir bawahnya sendiri untuk mengurangi rasa gugupnya. Tapi sepertinya tidak berpengaruh banyak, dia tetap saja gugup.
"Ya bicara saja, Pak. Dara juga tahu kok dari tadi bapak mau bicara, buruan ah ini Dara dengerin," pungkas Dara mencoba meluaskan sabarnya, walau sebenarnya kesal juga sih di bikin penasaran.
Pak Jatmika menarik nafas dalam lebih dulu, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Kamu ... kamu ... apa kamu setuju kalau bapak mau menikah lagi?" tanya Pak Jatmika dengan hati hati.
"Apa, Pak? Menikah lagi?" seru Dara saking kagetnya, bahkan tanpa sengaja tubuhnya sampai bergeser ke belakang saking terkejutnya dengan mata membulat dan mulut ternganga lebar.
****
"Assalamu'alaikum," ucap Halim dengan suara lemas di rumah ibunya, Bu Hana.
Bu Hana yang kala itu tengah menyetrika pakaian hanya menjawab salamnya tanpa beranjak dari tempatnya sama sekali.
"Wa'alaikumsalam, ibu di sini."
Halim berjalan gontai, menuju ruang tengah dimana ibunya tengah asik menyetrika sembari menonton film koyeya kesukaannya yang entah sudah berapa kali di putra ulang oleh siaran televisi.
Brugh
Halim menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur lantai yang memang sengaja di letakkan Bu Hana di ruang tengah tersebut.
"Kenapa kamu? Masih pagi muka sudah kusut sekali kaya baju belum di setrika," tanya Bu Hana tanpa menoleh pada anaknya, matanya sejak tadi fokus saja ke setrikaan dan televisi di depannya.
"Huaaaahhhh, Halim capek, Bu." Halim mendesah keras sembari menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku.
Bu Hana mencebik. "Halah capek apa sih kamu itu, kayak yang kerja berat aja. Kerja cuma nempel nempelin stetoskop ke badan orang orang aja udah kayak kerja kuli bangunan kamu tuh."
Tapi Halim hanya memutar tubuhnya dan menghadap ke arah langit langit rumah, netra nya tampak nanar.
"Kenapa kamu? Laper? Sana makan dulu, tapi cuma ada mie instan sama telor onta doang. Ibu lagi males masak," celetuk Bu Hana seakan tak peduli.
Terdengar suara dengusan nafas kasar dari Halim. "Nggak, bu. Bukan itu, Halim cuma capek aja."
"Capek apa? Kayak anak kecil kamu itu, atau jangan jangan kamu berantem ya sama Laila? Awas aja kamu berani nyakitin hatinya, ibu pites jadi perkedel kamu Halim." Bu Hana mengancam dengan tatapan mata nyalang lurus menatap Halim.
Halim ganti mencebik. "Halim nggak begitu, bu. Insyaallah Halim tahu kok buat nggak bikin pertengkaran dalam rumah tangga itu berlangsung berlarut-larut. Tapi ini masalahnya beda, Bu."
"Beda gimana maksudnya?" sela Bu Hana dengan kening berkerut.
Halim bangkit dari posisi berbaringnya, lalu duduk menghadap ibunya yang kini sudah mencabut colokan setrika dari stop kontaknya agar bisa mendengar lebih jelas apa yang akan di sampaikan Halim.
Dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Halim mulai bercerita.
__ADS_1
"Masalahnya ...."
*Flashback.
Beberapa hari yang lalu.
"Mas," panggil Laila dengan nada manja untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu belakangan wanita lembut itu sempat drop karna vonis sulit hamil yang di berikan dokter padanya.
"Kenapa, sayang?"
Halim yang merasa senang dengan perubahan signifikan dalam diri istrinya tentu saja merasa langsung menyambut baik perubahan tersebut.
Dan benar saja, tak lama dari sana Laila mulai menempel pada Halim. Bersandar di dadanya yang saat itu tengah berbaring di atas ranjang mereka. Dengan posisi pintu tertutup tentunya, bisa berabe kalau sampai si jomblo alias Elis melihat adegan mesranya tersebut bisa mendadak minta kawin nanti itu anak.
"Mas, beliin bakso sama miksu dong." Laila merengek pada Halim, entah sudah berapa lama wanitanya itu tak lagi merengek manja saat meminta sesuatu seperti ini. Sudah barang tentu Halim sangat senang, karna mengira sang istri tentu sudah lebih baik kondisinya sekarang.
"Boleh, sayang. Kamu mau Mas yang belikan atau ikut pergi juga?" jawab Halim lembut bahkan mendayu dayu seperti sinden.
"Mau di beliin dong, Mas. Tapi aku maunya Mas pergi belinya jalan kaki, nggak boleh pake mobil atau motor, pokonya harus jalan kaki dan belinya yang di dekat supermarket sana ya, Mas. Sekarang ya, Mas sudah pengen banget soalnya," pinta Laila dengan nada bicara mendadak berubah menjadi secepat kereta api listrik.
Halim sendiri langsung tercengang mendengarnya, apa katanya tadi? Beli bakso dan miksu di depan supermarket jalan kaki pula itu? Sedangkan naik mobil saja butuh waktu hampir lima belas menit untuk sampai ke sana gimana kalo jalan kaki? Yang bener aja ini perempuan satu.
Melihat suaminya hanya diam saja Laila langsung senewen, dan jurus utama perempuan kala di saat begitu ya tak lain dan tak bukan pastilah, ngambek bin merajuk.
"Kok mas mukanya langsung gitu? Mas nggak mau ya nurutin permintaan istri sendiri? Apa perlu Laila minta tolong sama suami tetangga aja?" ancam Laila mulai kesal.
Padahal itu hanya gertak sambel saja, mana mungkin juga Laila bisa minta tolong sama suami tetangganya. Lha wong tetangganya saja janda, hahah.
Tapi karna kaget dengan ngambeknya Laila, Halim sampai tak ingat akan hal itu dan langsung kalang kabut karna tahu akan ada malapetaka yang terjadi jika membiarkan seorang perempuan ngambek. Bisa end hidupnya saat ini juga jika berani membuat masalah dengan perempuan yang notabene adalah istrinya yang walau terkenal dengan kelemah lembutannya tapi tetap saja namanya perempuan ya .... begitu dah pokoknya.
"I- iya sayang, iya Mas beliin sekarang ya. Udah dong jangan ngambek begitu dong.". Halim berusaha mempertahankan hidupnya dengan berbaik baik dengan sang istri yang saat ini masih saja memasang wajah cemberut khas wanita ngambek.
Tapi laila malah mendengus dan membuang muka ke arah lain.
"Nggak! Aku udah nggak pengen lagi!"
Halim mengusap wajah.
"Abis deh," batinnya dalam hati, tentu saja tidak berani mengungkapkannya secara langsung. Mau aja makin di siksa istrinya jika berani membantah.
"Jadi kamu maunya apa, sayang?" tanya Halim berusaha tak terpancing emosi. Menghadapi wanita ngambek harus dengan lembut, tenang dan tanpa emosi. Jika tak ingin berakhir di diamkan selama seminggu dan harus melakukan semuanya sendiri selama itu juga.
Laila tampak berpikir sejenak, lalu berkata ketus pada Halim.
"Soto ayam aja, sama jus alpukat ".
"Maunya beli dimana, sayang?". Halim langsung menutup mulutnya kala menyadari baru saja membuka lubang jebakan baru untuk dirinya sendiri.
Laila melirik ke arahnya dengan seringai miring di bibirnya.
Halim tersenyum pasrah, sadar tak bisa keluar lagi dari lubang jebakan buatannya sendiri.
"Di dekat taman kota boleh? Yang banyak penjual gorengan itu, sekalian beli gorengan ubi manis isi gula merah ya, Mas." Laila tersenyum manis, tapi tidak dengan Halim senyum yang di pamerkannya jelas saja tampak getir dan terpaksa.
'astaga, itu kan malah satu jam pake mobil dari sini,' keluh Halim dalam hati.
Laila bahkan masih mengawasi Halim kala dia berangkat dengan memakai sandal jepit untuk membeli makanan pesanan Laila. Sandal jepit tipis yang juga merupakan permintaan Laila untuk memakainya.
*Flashback end.
"Buahahahahaahaa," tawa Bu Hana berderai setelah Halim selesai dengan ceritanya.
Halim semakin merengut ketika di ketawai oleh ibunya, terlebih tawa ibunya terlihat sangat ikhlas hingga terpingkal-pingkal.
"Terus kamu beneran jalan kaki ke taman kota saja beliin Laila soto ayam?" tanya Bu Hana setelah puas tertawa.
"Ya iyalah, Bu wong Laila mintanya begitu. Ya hampir dua jam Halim jalan kaki ke sana, ini aja baru sampai lagi ke sini."
"Kamu berangkat tadi subuh?"
"Ya nggak lah, Bu. Kemarin."
__ADS_1