
"Bwaahhahahh!"
Pada akhirnya Halim dan Laila tak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, mereka terpingkal-pingkal bersama sambil berjalan menuju teras rumah Bu Hana yang kini tampak kotor karna pit bunga yang pecah tadi.
"Astaga!"
"Astaghfirullah!"
seru Bu Hana dan Pak Jatmika berbarengan sambil menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkan di senja itu.
Terlebih suasana sekitar yang mulai gelap membuat keadaan menjadi agak seram dan horor.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana?" bentak Bu hana setelah rasa kagetnya mereda, namun detak jantungnya yang terlanjur tak karuan belum juga membaik. Dasar anak anak durhaka, bikin orang tuanya jantungan.
"Halim, kalau sampai saya kena serangan jantung mendadak kamu akan saya gentayangi tahu!" marah Pak Jatmika pula sambil melotot menatap anak buahnya yang random itu.
Halim masih terkekeh sambil memegangi perutnya yang terasa menegang.
"Ya ampun, pak bos sama ibu ini ngapain sore sore gini malah berantem? Nggak ada kerjaan lain apa? Mancing kek, bersih bersih jalanan kek," kekeh Halim semakin membuat Bu Hana naik pitam.
Dengan perasaan dongkol Bu Hana berjalan tegas mendekati sang anak, dan
Grepp
Satu jeweran telak jatuh di telinga Halim, dan langsung di tarik oleh Bu Hana hingga Halim menukar suara tawanya dengan pekikan tertahan.
"Aaakkkk! Sakit, Bu!"
"Rasain! Makanya jadi anak jangan jahil, sudah bosan punya ibu kamu hah? " sentak Bu Hana kesal.
"Ahhhh! Iya iya, maaf, Bu. Maaf," bujuk Halim menghiba sembari merapatkan tangannya di dada dengan wajah di buat sememelas mungkin.
"Bu, Bu tolong lepasin Mas Halim, Bu. Kasihan dia, Bu lagipula tadi Laila kok yang ngajak Mas Halim nonton dari sana, abisnya kami takut ganggu, Bu kalau langsung masuk," bujuk Laila pula sambil memegangi tangan ibu mertuanya yang kini bertengger tegas di telinga Halim yang tampak sudah memerah saking kuatnya jeweran itu, lagian ibu ibu di lawan ya salah anda, bro.
Akhirnya dengan mendengus keras Bu Hana menyentak telinga Halim untuk menuntaskan kekesalannya, lalu menghujam sang anak dengan tatapan mematikan.
"Kalau bukan karna istrimu yang baik dan Solehah ini, ibu sudah bikin jadi perkedel kamu, Halim!" maki Bu Hana yang entah kenapa hari ini tingkat kegarangannya melebihi singa lapar itu.
__ADS_1
Halim gemetar, dengan berpegangan pada lengan istrinya dia mengangguk berulang kali dengan ekspresi ketakutan.
"Dan kamu!" kali ini Bu Hana kembali menuding Pak Jatmika yang sejak tadi tersenyum senyum saja menyaksikan gantian Halim yang menjadi sasaran kemarahan ibunya.
Pak Jatmika langsung kicep dan menunduk siap mendengarkan perintah dewa, eh Bu Hana maksudnya.
"Jangan lupa pesan tiket ke Tiongkok besok, saya tunggu jadwal penerbangannya."
Pak Jatmika mengangguk cepat dengan wajah pias, benar benar kalau wanita sudah marah lebih baik diam dan mengalah jika tak mau jadi tumbal berikutnya.
Puas dengan jawaban yang di dapat dari pak Jatmika, Bu Hana langsung melengos dan kembali menapaki lantai dalam rumah, dan
.brakkk
Lagi lagi pintu di banting menutup, bertepatan dengan itu suara adzan maghrib menggema di beberapa masjid yang letaknya berdekatan dengan perumahan tersebut.
"Saya permisi dulu," gumam Pak Jatmika sambil berlalu dengan tangan masih menopang pinggangnya yang terasa sangat amat linu, mungkin setelah ini dia akan mampir ke rumah sakit sebentar guna mengobati pinggang tuanya yang bisa saja retak itu.
Namun tak bisa di pungkiri walau pinggang dan tubuhnya terasa remuk kali ini, namun hatinya tengah bersalto ria karna besok akan bepergian dengan Bu Hana, walau harus merogoh kocek yang mungkin tidak sedikit.
Mobil Pak Jatmika bergerak menjauh, rupanya walau tua tua begitu dan dalam kondisi tidak sepenuhnya fit, Pak Jatmika masih bisa mengemudikan mobilnya seorang diri. Mungkin sebab sedang berbunga bunga itu tadi ye kan, ah cinta memang aneh terkadang.
Halim dan Laila yang di tinggal sendiri di teras rumah itu jadi kebingungan apa yang harus mereka lakukan sekarang, soalnya mau bercocok tanam kondisinya masih belum memungkinkan. Habis terik matahari maksudnya, hawanya masih panas.
"Kita pulang aja yuk, yang." Halim mendongak menatap wajah cantik mulus istrinya sebab dia sejak tadi belum berani keluar dari balik ketek sang istri.
Laila tersenyum dan mengangguk.
"Ayo, tapi yang bener dulu dong berdirinya masa mau gelantungan kaya begini sampai rumah sih?" kekeh Laila sambil membantu sang suami berdiri dengan tegak.
Mereka pun berjalan menuju rumah, namun baru saja hendak menyebrang jalan tiba tiba suara Bu Hana kembali menggema memanggil Laila.
"Laila!" serunya tidak terlalu keras juga sih, soalnya kalo keras keras burung tetangga suka bangun, eh ngomong apa sih author?
"Ya, Bu?" sahut Laila sambil berbalik ke arah rumah Bu Hana.
Di sana tampak Bu Hana dengan menggunakan mukena berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Kamu di sini saja, biarin Halim urus dirinya sendiri." Bu Hana berkata ketus tanpa melirik Halim sedikitpun.
Halim terkesiap dan langsung reflek memeluk tangan istrinya posesif.
"Ibu apa apaan sih? Masa Laila mau di ambil emangnya ibu nggak mau cepat punya cucu kembar?" keluh Halim tak rela.
Bu Hana mencebik.
"Ada yang mau ibu bicarakan, la. Lagipula sebentar di rumah ibu nggak akan merusak benih tanaman yang harus kalian garap kok."
Lagi lagi Bu Hana bicara pada Laila, membuat Halim merasa senewen melihatnya.
" Buruan, la."
Usai berkata demikian Bu Hana langsung berbalik dan membiarkan pintu rumahnya terbuka, menunggu Laila untuk memenuhi panggilannya.
Laila memegang tangan sang suami dengan lembut, dan mengelus pipinya yang mulai di tumbuhi cambang halus itu, ada sensasi geli geli enak saat mengelusnya, eh. Jangan di tanggapi, authornya gila.
"Laila ke rumah ibu dulu ya, Mas. Kayanya ibu ada yang mau di sampaikan, cuma sebentar kok."
"Tapi, sayang ...." Halim mencoba menahan.
"Cuma sebentar, habis ini nanti tunggu Laila di kamar ya. Ada yang mau Laila sampein juga sama Mas," ujar Laila dengan senyum mengembang.
Laila mengerling ke arah Halim, dan sedetik kemudian Halim langsung patuh dengan kata katanya...
"Ya sudah, sayang. Mas tunggu ya, jangan lama lama paling lama habis isya harus sudah di rumah ya, Mas ga sabar mau garap ladang lagi sama kamu," sahut Halim tiba tiba menjadi bersemangat 45.
Laila mengangguk dan berbalik menuju rumah sang mertua, sedangkan Halim menuju ke rumah Laila mempersiapkan untuk acara malam mereka malam ini yang di pastikan akan mengukir sejarah dalam biduk rumah tangga mereka.
"Bu?" panggil Laila saat sudah memasuki rumah Bu Hana yang tampak lengang.
Laila memeriksa ruangan demi ruangan hingga akhirnya berhenti di depan kamar Bu Hana, yang pintunya terbuka sedikit itu.
"Bu?" panggil Laila pelan sambil mendorong pintu hingga terbuka.
"Ya Allah, ibu!" seru Laila dengan air mata membanjiri wajah pucatnya.
__ADS_1