
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Dara sambil berjalan cepat ke arah Fatan yang tengah memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Ada panggilan mendadak, malam ini Mas harus keluar kota. Proyek yang lagi Mas tangani bermasalah." Fatan terus memasukkan barang-barangnya bahkan tanpa menoleh pada Dara.
"Tapi kok mendadak banget sih, Mas? Kamu bahkan baru pulang loh. Mana belum makan juga," desah Dara sambil duduk di tepian tempat tidur menyaksikan semua kegiatan suaminya.
Fatan yang sudah selesai dengan baju-bajunya kemudian berjongkok di hadapan Dara.
"Maaf ya, Mas juga nggak tau kalau harus pergi mendadak gini. Maaf juga tadi Mas udah bentak kamu ya, ini yang Mas takutin soalnya ... proyek bermasalah dan Mas harus pergi tiba-tiba begini. Sepanjang jalan Mas mikirin ini dan ngelampiasinnya sama kamu. Dan sekarang lihat ... kejadian beneran kan?"
Dara menyentuh pipi suaminya lembut. "Iya, nggak papa, Mas. Maafin aku juga ya tadi langsung pergi gitu aja nggak dengerin kamu dulu. Kamu hati-hati ya di jalannya kalo udah sampe jangan lupa telpon aku."
Fatan mengangguk, dan setelah mengecup singkat kening istrinya Fatan bergegas keluar menuju kamar si kembar untuk berpamitan.
"Papa!" seru si kembar bersamaan.
Fatan merentangkan tangan dan si kembar masuk ke pelukannya.
"Papa mau kemana? Kok bawa koper?" tanya Farah menunjuk koper Fatan.
Fatan mencium sayang kedua pipi gembul anak-anaknya. "Papa ada kerjaan sebentar di luar kota, kalian di rumah baik-baik ya. Jangan nakal dan harus nurut sama Mama, sama Tante, sama Mbak Elis juga."
Fatur melepas pelukan Fatan dengan bibir mengerucut.
"Papa bohong! Papa mau pergi sama Tante Indi kayak kemarin itu kan?" seru Fatur kencang.
Fatan terkesiap namun untung saja tidak ada Dara di sana, Dara tengah sibuk menyiapkan bekal untuknya di dapur.
"Fatur ... Sayang, kok Fatur ngomongnya gitu sih? Kapan memangnya Papa pergi sama Tante Indi?"
Fatur bersedekap dada tak mau di dekati Fatan. "Pernah Fatur liat Papa sama Tante Indi pergi berdua, pas Mama nggak ada. Papa sama Tante pelukan dan ciuman di dalem mobil. Fatur tau, Fatur liat dari balik jendela."
Elis yang kebetulan ada di sana turut terkejut, dia menutup mulutnya dengan mata melotot menatap ke arah Fatan.
"Tolong jangan dengarkan, Fatur cuma mengarang. Saya sama Indi nggak mungkin begitu, dia adik ipar saya. Jangan mikir yang aneh-aneh, terutama ... jangan bicara apa-apa sama Dara, saya nggak mau dia jadi kepikiran dengan hal yang nggak bener kayak gini," tegas Fatan memperingati Elis.
Elis menunduk dan mengangguk samar. "Ba- baik, Pak."
Fatan melerai pelukan Farah dan beranjak berdiri. "Bagus! Jangan sampai pikiran anak-anak saya teracuni sama hal-hal seperti ini. Sebagai pengasuh kamu harus bisa mengontrol mereka, kamu paham?"
Lagi Elis mengangguk. "Paham, Pak."
__ADS_1
"Papa jangan pergi lama-lama ya," ucap Farah menarik celana bahan yang di kenakan Fatan.
Fatan tersenyum dan menyentuh dagu putri kecilnya itu. "Tentu saja princess, Papa akan usahakan bisa pulang cepat. Nanti Papa bakal bawain oleh-oleh buat kalian. Kalian mau kan?"
Farah berjingkrak riang. "Mau mau, Papa."
Fatan tersenyum dan mengacak rambut Farah, namun berkebalikan dengan Fatur dia justru segera berlari ke arah ranjangnya dan masuk ke dalam selimut. Membenamkan tubuhnya seluruhnya di dalam selimut.
Fatan mendekati ranjang Fatur dan mengelusnya dari balik selimut. " Maafin Papa ya, tapi apa yang Fatur bilang tadi ... itu nggak bener kok. Fatur jangan khawatir ya, Papa pergi dulu ... kalian jangan nakal ya."
Fatan beranjak dan hendak keluar dari kamar itu.
"Elis, tolong kamu handle Fatur ya."
"Baik, Pak." sahut Elis lirih.
Fatan keluar bersamaan dengan Dara yang datang dengan menenteng sebuah kotak makanan kecil.
"Udah, Mas?" tanyanya dari depan pintu.
Fatan mengangguk dan berjalan mendahului Dara menuju teras, dimana barang-barangnya sudah ada semua di sana.
"Fatur kenapa, Lis?" tanya Dara menunjuk ranjang Fatur, raut wajahnya nampak khawatir.
"Nggak papa, Mbak. Fatur ngambek nggak mau di tinggal Pak Fatan."
Dara mengangguk sambil ber oh ria. "Kalau begitu tolong kamu bujuk dulu ya, Lis. Saya mau anter Bapak ke depan dulu."
****
Sementara itu Indi dan Zaki tampak sedang menikmati udara sore di sebuah cafe ternama di kota J.
"Mas ... tumben banget ngajak nongkrong begini? Nggak sibuk?" tanya Indi setelah beberapa saat mereka saling diam.
Zaki yang tengah menikmati segelas latte dan menatap senja menoleh sekilas pada Indi.
"Saya cuma pengen nikmati senja sama seseorang aja, bosen sendirian terus. Capek di bilang jomblo nggak laku."
Indi tergelak. "Masa sih ada yang bilang Mas kayak begitu?"
Zaki mendesah, meletakkan cangkir lattenya dan mengambil ponselnya dari atas meja.
__ADS_1
"Yah, mau bilang nggak ada nyatanya tiap hari di teror begini." Zaki menyodorkan ponselnya yang sudah berada di sebuah room chat pribadi dengan sebuah kontak dengan nama "Bunda".
Indi menerima ponsel itu dan membaca chat yang tertera di dalamnya.
"Hahahha, ini serius Mas. Ini bunda kamu sendiri yang bilang kamu jomblo karatan?" gelak Indi sambil menyerahkan kembali ponsel Zaki padanya.
Zaki mengangkat ke dua bahunya. "Ya, kamu liat sendiri kan? Makanya itu saya ajak kamu ngopi sekarang. Biar bunda bisa liat kalo saya juga punya ...."
Zaki tidak meneruskan ucapannya Dann membuat Indi menjadi penasaran.
"Punya apa, Mas?"
Zaki tersedak ludahnya sendiri dan tampak salah tingkah di tatap Indi sedemikian rupa.
"Ah, eh ... ng- nggak kok. Nggak punya apa-apa."
Indi ber oh ria sambil menganggukkan kepalanya menatap sang mentari yang semakin tenggelam ke ufuk barat.
Deg
Deg
Deg
Zaki memegangi dadanya yang terasa berdebar, sudah berhari-hari dia merasakan hal yang sama setiap kali melihat atau memikirkan tentang Indi. Dan hari ini barulah dia memberanikan diri untuk mengajak Indi keluar setelah ribuan desakan dari sang Bunda yang sudah tak sabar melihat putranya satu-satunya itu menikah.
"In ...."
Tling
Bersamaan dengan panggilan Zaki, ponsel Indi yang berada di atas meja berbunyi. Sebuah pesan masuk dari aplikasi hijau dengan nama "ipar".
Indi segera mengangkat ponselnya, mencegah Zaki melihat isi pesan Fatan padanya.
"Maaf, sebentar ya Mas." Indi menunjuk ponselnya.
Zaki mendesah dan mempersilahkan Indi membalas chatnya lebih dulu.
'haaahhh ... padahal udah susah susah ngumpulin keberanian. Siapa sih yang wa? Ganggu aja.' Zaki menatap senja dengan tatapan tak suka. Seakan senja lah yang salah karna Indi sekarang malah lebih fokus pada ponselnya.
"Hummmm, Mas Zaki ... maaf tapi kalau boleh aku mau pulang sekarang boleh?" pinta Indi dengan wajah memelas, padahal sebelumnya dia tampak tersenyum senang saat membalas chat di ponselnya.
__ADS_1
Mengabaikan debaran di dadanya Zaki cepat meraih tangan Indi. "Tunggu, In. Ada yang mau saya sampaikan sama kamu."
*Notes: jangan lupa mampir ke cerita author yang lain ya, ada di Noveltoon dengan judul : ~ISTRI UNTUK SUAMIKU ~ dan ~MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU ~ , terima kasih atas dukungannya semua.