
Pagi yang lembut kembali menyapa, pasangan muda yang kini tengah berbahagia itu berjalan beriringan di sepanjang jalan setapak komplek perumahan mereka. Bercanda tawa berdua seolah tak ada insan yang akan iri dengan kemesraan dan keberuntungan mereka.
"Alhamdulillah, rasanya Mas senang sekali setiap harinya, dek. Setiap banguj tidur dan saat akan tidur kembali rasanya Mas tak bisa berhenti mengucap syukur," gumam Halim sambil mengelus perut sang istri yang masih tampak rata, pakaian longgar yang di kenakannya sukses menutupi kehamilannya dari semua orang yang selalu menggunjingnya.
"Oh ya? Kenapa memangnya, Mas?" tanya Laila berpura tak tau, padahal dia pun sama merasakan hal yang serupa dengan suaminya.
Tempo hari, setelah mendapatkan tespack bergaris dua itu mereka langsung saja bergegas ke dokter kandungan terbaik yang masih merupakan kenalan Halim. Dan di sana tahulah mereka kalau saat ini Laila tengah mengandung empat minggu, yang mana usia yang sangat rawan membuat Laila enggan membicarakan ini dulu pada siapapun karna khawatir terkena ain'.
"Jangan sok polos deh, nanti Mas bikin polos lagi kamu sepulang dari sini memangnya mau?" kekeh Halim mencolek hidung bangir Laila.
Laila tersipu, namun tanpa malu malu lagi dia malah menganggukkan kepalanya setuju.
Halim yang kini ganti melongo di buatnya. "hah? Apa? Kamu mau, dek? Aduh, hari ini nggak boleh libur lagi. Duh sebentar mana enak," keluh Halim yang malah kelimpungan sendiri sekarang.
Laila tergelak. "Hahah, makanya jangan banyak gaya, Mas."
Setelah itu mereka kembali melanjutkan langkah menuju lapak jualan Indi yang sudah di ketahui hampir oleh semua penghuni komplek, dan hampir semua juga sekarang akan turut membeli sarapan di sana jika malas pergi keluar perumahan.
"Nanti kira kira kita kasih nama siapa ya, dek?" celetuk Halim lagi, sedikit keras hingga beberapa ibu ibu yang tengah bergosip ria di gerobak seorang tukang sayur mendengar ucapannya.
Dan sebelum Laila sempat menyahut ucapan suaminya, merekalah yang terlebih dahulu menjawab dengan sengit.
"Huh, gegayaaan mau kasih nama. Apa juga yang mau di kasih nama itu, bisa punya anak aja nggak kok sok Sokan mau kasih nama."
"Palingan kasih nama kucing kalo, Bu. Kan kita semua juga tahu kalo perempuan udah kena miom mah susah mau punya anaknya."
"Iya, apalagi jaman sekarang ya kan. Kehamilan aja bisa di palsukan demi nggak di kira mandul. Hiiyyy, amit amit ketemu orang begitu."
"Heh sudah sudah, kan bisa saja mereka mau adopsi anak. Kalian ini kenapa berisik sekali sih? Mau beli sayur apa mau ngegosip? Pada layu dah tuh sayuran saya di pegang pegang aja tapi nggak di beli."
Gerutuan dari si tukang sayur lantas menghentikan gunjingan itu saat itu juga, Halim dan Laila yang enggan ikut campur akhirnya memilih mempercepat langkah menuju ke lapak Indi. Dan setelah sampai di di sana, tampak ada beberapa orang pula yang sudah datang dan sedang memilih kue di depan meja lipat yang di gunakan Indi untuk berjualan.
__ADS_1
"Eh, Mbak Laila, Mas Halim. Mau beli apa? Makin mesra aja sih Indi lihat, segala jalan ke sini aja pake gandeng gandengan tangan, kan yang sedang menjomblo ini jadi iri," goda Indi pada pasangan muda itu.
Laila dan Halim terkekeh, ini bukan pertama kalinya mereka saling melempar godaan pada satu sama lain. Dan tentunya dalam batasan yang masing-masing ketahui agar tidak berujung dengan saling menyakiti.
"Iya nih, Mbak indi. Mau beli kue buat sarapan, masih ada kan ya?" sahut Laila lembut sembari mengambil satu kursi plastik dan duduk di sana.
"Ada sih, Mbak cuma yah tinggal ini sudah banyak habis di borong ibu ibu rempong tadi," jawab Indi terkekeh.
Laila tersenyum dan mulai mengambil kue kue yang masih ada di sana.
Tak lama setelah itu Laila tak sengaja melihat seorang wanita yang tampak asing di matanya berjalan keluar dari rumah Indi dan mendekatinya.
"Mbak, Inara rewel. Ibu nggak bisa nenanginnya, katanya minta panggilin Mbak buat ke dalam," ucap wanita itu dengan nada pelan.
Indi lekas mengelap tangannya yang masih berbalut gula donat, wajahnya tampak mengguratkan rona cemas yang kentara. "Iya iya, Mbak masuk dulu ya kamu tolong jaga di sini sebentar bisa?"
"Bisa, Mbak. Mbak masuk aja," pungkas wanita tadi.
Setelah itu Indi beralih pada Laila dan Halim yang masih menikmati kue sembari duduk di kursi plastik yang memang di sediakan Indi.
Laila langsung mengangguk cepat. "iya iya, Mbak nggak papa kok. Masuk aja keburu anaknya makin rewel nanti."
"Iya, maaf ya saya tinggal dulu."
Indi langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah mengatakan itu, sedangkan Intan dengan sigap menggantikan posisi Indi dengan melayani beberapa pembeli yang berdatangan dengan baik.
Setelah merasa cukup kenyang, Laila bangkit hendak membayar semua yang di makannya bersama sang suami. Juga beberapa buah kue yang turut dia bungkus untuk di bawa pulang.
"Jadi berapa semuanya, Mbak?" Tanya Laila yang memang belum mengenal siapa Intan, pikirnya bisa saja Intan adalah salah satu anggota keluarga Indi yang tengah menginap.
Intan mulai menghitung kue yang ada di dalam plastik milik Laila, setelah itu bertanya ramah.
__ADS_1
"Tadi kue yang langsung di makan berapa, Mbak?"
"Saya makan tiga, kamu makan berapa Mas?" tanya Laila pada Halim.
"Sama, tiga juga."
Intan kembali mengulas senyum, wajahnya yang tempo hari tampak lusuh kini terlihat jauh lebih baik dan bersinar.
"Kalau begitu semuanya tiga puluh ribu, Mbak."
Laila mengangguk, memberikan uang sejumlah yang di sebutkan Intan dan taj lupa berterima kasih.
Namun saat hendak beranjak untuk pulang, Laila tak dapat lagi menahan rasa penasarannya hingga memberanikan diri bertanya pada Intan.
"Ummm ... Mbak, maaf sebelumnya saya mau tanya. Sebenarnya Mbak ini siapanya Mbak Indi?"
Sekilas Laila dapat menangkap raut terkejut dari rona wajah Intan yang berupaya dia sembunyikan dengan menundukkan kepalanya.
"Ah, emm ... saya ... saya ...."
Intan hendak menjawab namun suaranya terasa tercekat di tenggorokan, membuatnya tak sanggup untuk jujur pada orang lain terkait posisinya di rumah tersebut.
Hingga akhirnya Indi kembali dari dalam rumah dengan menggendong Inara.
"Intan, tolong bantu ibu di dalam dulu ya. Tadi Inara nggak sengaja nyenggol gelas sampai jatuh dan tumpah, Mbak minta tolong beresin ya.".
Inta berbalik dan mengangguk. "Iya, Mbak."
Setelah intan masuk ke dalam, Laila yang masih saja penasaran memilih untuk bertanya langsung pada Indi.
"Ummm, mbak. Itu sebenarnya siapanya Mbak sih? Kok sepertinya sudah kenal dekat?"
__ADS_1
Indi mengulas senyum tipis seraya membenahi posisi Inara yang agak melorot dari gendongannya.
"Itu Intan, istri ke dua suami saya, atau singkatnya adik madu saya Mbak," sahut Indi seolah tanpa beban.