TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 95. MALANG YANG MATANG


__ADS_3

 Sesuai permintaan Pak Jatmika, Zaki menjadi imam sholat Maghrib berjamaah kali ini. Sengaja Pak Jatmika tidak mengajaknya untuk sholat ke masjid sebagai mana kebiasaannya, karna Pak Jatmika ingin mendengar secara langsung bacaan ayat dari calon menantunya itu untuk meyakinkannya kalau Zaki adalah jodoh yang tepat bagi putri kesayangannya, dia tak mau kecolongan lagi seperti sebelumnya.


"Auzubillahiminassyaitonirojiim, bismillahirrahmanirrahim ... Alhamdulillahirabbilalamin ... Arrahmanirahiim ...."


 Zaki memimpin sholat dengan sangat baik, bacaannya fasih dan lantunan ayat yang merdu dan merasuk ke dalam hati. Pak Jatmika sampai menangis meresapi setiap ayat yang keluar dari bibir Zaki, hingga sampai sholat selesai pun Zaki belum beranjak dia melanjutkan dengan zikir utama setelah sholat, membuat Pak Jatmika semakin kagum padanya.


"Walhamdulillahirabbil alamiin ...."


 Zaki mengakhiri doanya setelah sebelumnya juga membaca zikir petang , dia memutar tubuhnya untuk mencium tangan Pak Jatmika dan Bu Ambar yang merupakan mahramnya.


 Dengan Dara, Zaki hanya menoleh sekilas dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Dara melakukan hal yang sama dan tersenyum malu begitu tau mereka juga tengah di perhatikan oleh Pak Jatmika dan Bu Ambar.


"Mama, ayo makan ... Fatur lapar," bisik Fatur yang juga turut ikut serta sholat karna mengetahui yang mengimami adalah Zaki. Farah tak jauh berbeda, gadis kecil dengan mukena yang sama dengan Dara itu juga melendot di pangkuan mamanya.


"Ayo, Mama. Nanti Farah kurus kalo kelamaan nggak di kasih makan," timpal Farah pula, sukses membuat mereka semua yang ada di sana tertawa lepas karenanya.


"Ya sudah, mari kita lanjutkan ke meja makan," tukas Pak Jatmika dan mendahului mereka menuju meja makan setelah sebelumnya membereskan alat sholat masing-masing.


"Mama, Fatur mau makan sama om Zaki ya," pinta Fatur setelah duduk di meja makan, bersebelahan dengan Farah.


"Om Zakinya kan mau makan juga, Sayang. Fatur makan sendiri aja ya, kan Fatur sudah besar," bujuk Dara lembut sambil mengelus rambut anak lelakinya itu.


 Fatur mengerucutkan bibirnya karena kesal, Zaki yang melihat itu langsung berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Fatur.


"Udah, Mbak. Nggak papa, biar saya aja yang nyuapin Fatur kalau dia maunya begitu, takutnya nanti malah ngambek nggak mau makan, kurus lagi," kekeh Zaki sambil mencubit pelan hidung mancung Fatur yang mirip sekali dengan Fatan itu.


"Yeeeyyyy!" sorak Fatur kegirangan.


"Farah mau juga ya, om baik!" timpal Farah tak mau kalah, bahkan kini gadis kecil itu langsung berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Zaki, membuat Zaki berada tepat di tengah tengah antara Farah dan Fatur.


"Iya, tenang saja. Pokoknya Fatur sama Farah boleh makan sama om." Zaki tersenyum senang dan mengusap usap lebih tepatnya mengacak acak rambut ke dua bocah menggemaskan itu.


"Tapi, Mas ...," sela Dara yang mulai terbiasa memanggil Zaki dengan sebutan Mas itu, walau sebenarnya usianya lebih tua di banding Zaki.

__ADS_1


"Udah, nggak papa, Mbak." Zaki menimpali.


"Iya, Dara. Biarin Zaki mendekatkan diri sama si kembar, kan dia emang calon ayah mereka. Iya kan, calon besan?" kekeh Bu Ambar sambil menatap Pak Jatmika penuh arti.


 Pak Jatmika hanya tersenyum dan tak menyahut apapun.


 Dara mengalah dan membiarkan anak anaknya yang biasanya mandiri kini malah minta di suapi oleh Zaki, sampai Zaki sendiri terpaksa makan paling akhir setelah Fatur dan Farah kekenyangan dan berpindah ke ruang TV sambil membawa bantal.


"Dara, kamu temani Zaki ya. Bapak mau ada yang di bicarakan dulu sama ibunya di depan," titah Pak Jatmika setelah dia dan Bu Ambar selesai makan.


"Mau di buatin minuman dulu, Pak?" tanya Dara.


 Pak Jatmika menggeleng. "Nggak usah, di depankan ada minuman kemasan cap kaki empat. Ibu nggak papa tho? Minum itu saja?"


 Pak Jatmika beralih menatap Bu Ambar yang kini wajahnya tampak berbinar senang itu.


"Iya, iya nggak papa kok. Dara santai saja di sini ya, temani Zaki."


"Mbak Dara yang masak semua ini ya?" celetuk Zaki sambil menikmati sepotong ayam yang di goreng krispi dengan cocolan saos yang membuatnya nambah berkali kali saking enaknya.


 Dara masih melamun hingga tak sadar kalau Zaki sejak tadi terus saja bertanya padanya.


"Mbak? Mbak Dara?" panggil Zaki agak keras sampai akhirnya Dara tersadar walau agak terjingkat kaget.


"Ah, eh i- iya? Kenapa, Mas?"


Zaki tersenyum senang. "Haduh, rasanya saya kok meleleh ya di panggil begitu sama Mbak Dara? Duh, kayaknya saya harus ganti panggilan juga nih. Masa saya manggil Mbak terus, manggil nama juga nggak enak. Panggil apa ya, enaknya? Emmm ... gimana kalo dek?"


 Dara membuang pandangannya ke arah lain, dia malu di tanya demikian oleh Zaki.


"Dek Dara ...." Zaki melantunkan panggilan itu dengan kemayu, membuat Dara semakin tersipu malu.


"Udah ah, apaan sih, Mas?" sela Dara yang sudah tak tahan dengan rasa malunya yang membuat seluruh mukanya terasa panas.

__ADS_1


"Loh kenapa? Kan saya eh Mas cuma praktekin panggilan buat Dek Dara, supaya terbiasa." Zaki terkekeh.


 Dara semakin tersipu dan semakin tak berani menatap Zaki. Tapi sebuah suara tangisan malah mengganggu suasana romantis nan ajaib yang baru saja tercipta di antara mereka.


"Huaaa ... huaa ... Mbak Dara! Aku cinta padamu! Jangan tinggalkan aku, Mbak Dara!"


 Suara itu berasal dari dapur kotor yang berada di belakang tempat makan itu, gegas Dara dan Zaki menengok ke sana guna memastikan siapa gerangan yang membuat suara gaduh itu.


 Iya gaduh, karna setelah suara tangisannya terdengar pula suara seperti panci panci yang di banting dan di lempar.


"Dara, Zaki ... ada apa?" tanya Pak Jatmika dan Bu Ambar yang ikut terkejut mendengar suara ribut ribut itu.


"Nggak tahu, Pak. Ini baru mau periksa, jangan jangan ada orang gila masuk rumah," tukas Dara sambil melangkah menuju dapur kotor.


 Zaki membuntuti di belakangnya, di ikuti Pak Jatmika dan Bu Ambar di barisan terakhir.


"Haduh, habis itu panci panci ku bolong," keluh Dara sempat sempatnya mencemaskan panci.


Klek


 Pintu menuju dapur kotor terbuka, dan sebuah pemandangan mengejutkan tampak di sana.


 Pak Jatmika yang terkejut langsung masuk dan menarik telinga Halim, sang penyebab keributan itu.


"Ya ampun, Halimmmmmm! Kamu ngapain banting bantingin barang begini hah? Emangnya ini dapur nenek moyangmu?" geram Pak Jatmika walau semua juga tahu kalau saat ini Pak Jatmika hanya marah pura pura alias tidak serius.


 Halim bukannya takut tapi malah semakin melebarkan tangisnya. "Huaaaaa!!!! Sayaa nggak ikhlas Mbak Dara di lamar, harusnya saya yang menikah sama Mbak Dara, Bos. Kayak di film film itu, kan saya udah lama ikut sama bos! Gimana sih, bos! Masa gitu aja nggak ngerti."


 Pak Jatmika menarik nafas dalam dan mengetatkan tarikan tangannya di telinga Halim.


"Telat! Tanggal pernikahannya Dara dan Zaki sudah saya sepakati, dan kamu sudah saya canangkan untuk jadi tukang parkirnya." Pak Jatmika terkekeh.


 Halim menatap tak percaya. "Aaahhhhh, tidakkkkk!" teriak Halim di iringi tawa dari mereka semua yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2