
"Am- ampun! Ampun! Tolong lepaskan ini, sakit sakit tanganku, tolong!" pinta Bu Leha terengah-engah menahan sakit di tangannya, bahkan tubuh gempalnya pun turut ambruk ke lantai saking tak kuatnya menahan sakit.
Bu Hana menyeringai puas, sedangkan Halim yang sejak tadi hanya melihat sudah merasa ngilu melihat cara ibunya menagih hutang. Tapi ya wajar sih, namanya seratus juta loh, bukan nominal yang kecil untuk di maklumi, belum lagi hutang Bu Leha pada Zaki yang sudah bertahun tahun tak di kembalikan. Jika saja Zaki mau mungkin saat ini Bu Leha sudah mendekam di penjara karena tuntunan hutangnya yang menggunung.
"Katakan! Kau akan membayar hutangmu sekarang atau tidak? Atau jangan bermimpi untuk melepas kan tangan mu ini dari cengkraman ku! Dasar edan!" maki Bu Hana lagi.
Bu Leha tampak menganggukkan kepalanya berulang kali, mungkin sudah sangat tak tahan dengan sakit di tangannya.
"Iya iya, aku janji janji. Tapi tolong lepaskan dulu ini, sakit sekali ... sakit," lirih Bu Leha.
"Bu, sudahlah. Kasihan, " ucap Halim yang merasa tak tega dengan kondisi Bu Leha yang mengenaskan.
Bu Hana mendengus lalu dengan sekali sentakan dia menjatuhkan tubuh tambun Bu Leha hingga terjengkang menubruk lantai dengan posisi wajah terlebih dahulu.
"Aku sudah berbaik hati melepaskanmu, sekarang aku tidak mau berlama-lama lagi, kembalikan uangku sekarang juga! Semuanya! Tidak ada kompensasi lagi, kau mengerti!" bentak Bu Hana lagi sama sekali tak menaruh iba pada Bu Leha yang saat ini tengah duduk meringis memegangi hidungnya yang terasa sakit akibat beradu dengan lantai.
Bukan apa apa, selama ini Bu Hana sudah selalu bersabar dan bersabar setiap kali Bu Leha memberinya alasan ini dan itu jika dia menagih hutangnya dengan cara baik baik. Hingga puncaknya setelah hutangnya genap menjadi seratus juta pada Bu Hana, Bu Leha tiba tiba menghilang tanpa kabar, semua kontak Bu Hana di blok hingga Bu Hana kehilangan dia selama bertahun-tahun lamanya. Dan kebetulan sekali baru bertemu di tempat ini, membuat semua kekesalan dan kemarahan Bu Hana karna sudah di permainkan menjadi menumpuk dan meledak di satu waktu.
"Jawab! Kau punya mulut kan, Leha? Atau harus ku minta semua bodyguard yang ku bawa itu untuk membuat mu buka mulut dan menyerahkan uangku yang kau larikan itu hah?" amuk Bu Hana lagi.
Bu Leha menggigil ketakutan di lantai, dia menunduk dalam sama sekali tak berani menjawab ataupun sekedar mengangkat wajahnya untuk menatap Bu Hana.
"Berhenti! Jangan sakiti Mamaku!" seru Hans yang baru saja kembali dari lantai dua, kini dia sudah memakai pakaian yang lebih rapi dengan rambut yang tampak basah. Sepertinya bocah ini sempat sempatnya mandi di saat ibunya sedang berada dalam masalah. CK
Bu Hana mendengus kesal, tau masalah ini tak akan selesai dengan mudahnya. Untung saja di berinisiatif meminta Halim membawa beberapa anak buah Pak Jatmika untuk membantu mereka, jika tidak bisa saja dua pasang ibu dan anak toxic itu akan melarikan diri lagi.
"Hans," lirih Bu Leha sambil memeluk anaknya dengan drama, air mata biawak keluar dari kedua matanya yang di bingkai eyeliner super tebal itu.
Hans pun balas memeluk sang ibu dengan percaya diri karena dia sudah mandi.
__ADS_1
"Mama nggak papa?" tanyanya sok perhatian padahal sebenarnya sudah sangat telat itu.
Bu Leha menunjuk tangan sebelah kanannya yang kini terkulai lemas tak bisa di gerakkan.
"Tangan Mama sakit sekali," lirih Bu Leha ala ala film ikan terbang sebagai pemain utama yang tersakiti.
Wajah Hans tampak merah padam, dia mengangkat wajahnya menatap Bu Hana. Rahangnya bergemeletuk menahan emosi, namun secepat kilat para bodyguard yang dibawanya langsung berbaris di belakang Bu Hana, membuat Hans menciut.
"Apa? Mau marah? Silahkan! Nggak ada yang melarang kok," sindir Bu Hana pada Hans yang kini kembali menundukkan pandangan menatap sang Mama yang masih meringis kesakitan.
"Anda terlalu kejam, jika hanya ingin meminta uang kenapa harus menyakiti Mamaku? Kenapa tidak minta baik baik? Apa anda tidak kasihan padanya? Dia sudah tua, dan dia tulang punggung keluarga kami," ucap Hans mulai memainkan perannya.
Bu Hana melipat kedua tangannya dada, sambil berekspresi layaknya orang mengantuk. Bukan tak tahu, hal seperti ini sudah sangat paham dia lalui sejak berurusan dengan dua cecunguk ini.
"Jika kami punya uangnya kan pasti akan kami bayar, kenapa harus dengan kekerasan? Kami ini bukan hewan," ujar Hans lagi kali ini bahkan sampai meneteskan air matanya berharap akan ada yang simpati padanya.
Dan berhasil, Hans kini mulai berani mengangkat wajahnya untuk menatap tajam Bu Hana, wajah tengilnya kembali muncul dengan sifat aslinya.
"Dasar ibu ibu tua pelit!" umpatnya mulai mengeluarkan sifat aslinya.
Bu Hana berdecak lalu melihat jam tangan berwarna emas yang melingkar di tangan kanannya.
"Ck, sudahlah terserah kau saja. Tapi sekarang tolong jangan buang buang waktuku, silahkan bayar hutang ibumu yang seratus juta itu dan kami akan pergi dari sini. Kau tahu, kami juga punya kesibukan lain.".
Seketika wajah Hans berubah bingung, dia berbalik dan menatap ibunya yang juga tampak kebingungan.
"Ma? Gimana?" tanyanya.
Bu Leha balas menatap anaknya, lalu bahunya serentak terangkat tanda dia pun tengah di landa kebingungan.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya kalian memang tidak pernah berniat membayar hutang itu. Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku akan memakai cara kasar untuk mendapatkan uangku kembali. Apapun itu caranya," dengus Bu Hana mengancam.
"Ah ya, satu lagi," imbuh Bu Hana membuat wajah Bu Leha dan Hans semakin pias. "Jangan lupa kau juga punya hutang pada Elis lima ratus ribu bukan? Kali ini aku akan menagihnya juga, itu haknya dan kau tidak berhak menahannya."
Bu Leha menelan ludah dengan susah payah, belum habis kebingungannya datang pula dari arah dengan Bu Ambar dengan wajah merah padam.
"Jangan lupa uangku juga!" seru Bu Ambar.
"Punyaku juga!" timpal Zaki yang kini turut berdiri di ambang pintu tepat di samping ibunya.
Bu Leha tampak tremor, orang orang tampak berdatangan memenuhi teras rumahnya, semuanya adalah orang yang uangnya pernah di pinjam oleh Bu Leha tapi tak kunjung di kembalikan. Saat ini mereka melihat kesempatan untuk menagihnya maka mereka pun datang beramai ramai dengan harapan uang mereka akan kembali.
"Nah kau lihat kan, Leha? Semua orang yang kau hutangi sekarang datang menagih padamu, aku jadi ragu katanya kamu rentenir tapi kenapa sepertinya kamulah peminjam uangnya dan kami rentenirnya?" tanya Bu Hana sinis.
Bu Leha yang semakin frustasi memegangi kepalanya yang terasa berdenging, dia memegangi tangan Hans saat tubuhnya perlahan terasa semakin lemas dan akhirnya jatuh pingsan.
Hans yang panik mencoba membangunkan ibunya, karna kini orang orang yang menagih hutang itu mulai merangsek masuk dengan tatapan berang.
" Ma! Mama! Jangan pingsan dong, Ma. Hans gimana ini, Ma? Ah udahlah ikutan pingsan aja," tukas Hans lalu berpura pura pingsan dan menjatuhkan diri di atas tubuh ibunya yang serupa kasur itu, soalnya kalau langsung jatuh di lantai kan sakit.
Bu Hana tersenyum miring melihat tingkah absurd dua ibu dan anak itu, lalu menatap handai taulan ramai yang tengah menunggu kepastian uang mereka itu.
"Ayo angkat, kita buang mereka ke jalan lalu kita jual rumahnya untuk bayar hutang sama kita semua!" titah Bu Hana yang langsung di setujui mereka semua.
Namun baru saja hendak di angkat tubuh mereka, sontak Bu Leha dan Hans yang memang hanya pura pura pingsan itu bangkit dan berteriak.
"Kaboooorrrrrr!"
"Kejaaaarrrrrr!"
__ADS_1