TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 211. ENTAH APA.


__ADS_3

 "Assalamu'alaikum," ucap Bu Hana sembari melangkahkan kaki menaiki teras rumah menantunya.


 Susana tampak lengang, mungkin karna hari masih siang dan Elis masih bekerja sekarang.


"Wa'alaikumsalam, eh ibu ayo masuk, Bu." Laila yang menyambut Bu Hana langsung menbukakan pintu rumah lebih lebar dan membiarkan ibu mertua kesayangannya itu masuk.


"Lagi apa, la?" tanya Bu Hana setelah meletakan kue bawaannya di atas meja, dan Laila melanjutkan dengan menyalinnya di piring.


"Nggak lagi ngapa ngapain sih, Bu. Lagi duduk duduk aja, nggak tahu juga rasanya badan lebih gampang capek aja akhir akhir ini." Laila mengulas senyum tipis lalu mengajak ibu mertuanya itu untuk kembali duduk di ruang depan, menghadap televisi dan kipas angin yang menyala, bersantai sejenak menikmati hidup.


"Banyak banyak istirahat saja, La. Toh kamu juga kan udah ambil cuti sementara dari ngajar, manfaatkan untuk lebih santai dan menghibur diri. Ingat kata dokter, hati yang bahagia itu obat paling manjur dari semua obat yang ada," papar Bu Hana panjang lebar.


 Laila tersenyum dan mengangguk paham.


"Kuenya Mbak Indi enak ya, Bu. Kayanya makin enak ketimbang yang pertama kali ibu beli kemarin," timpal Laila mengalihkan pembicaraan.


 Bu Hana mengangguk sembari mengigit sepotong kue lapis warna warni yang rasanya memang enak. Tidak terlalu manis dan nyaman sekali di mulut.


"Tadi ibu ke sana saja dagangannya kaya sudah tinggal sedikit gitu loh, kayaknya langganannya udah makin banyak. Maklumlah, rejeki anaknya ini pasti. Kan denger denger si Fatan masuk penjara sekarang," ujar Bu Hana tak sanggup melawan keinginan untuk mulai bergosip. Toh dia pikir kan hanya dengan Laila, pasti tak akan apa apa menggosip juga.


( Iya deh, Bu iya perempuan mah kaga ada salahnya. Apalagi yang sudah berpengalaman kayak ibu ya, Bu?) --catatan hati author--


"Apa, Bu? Masuk penjara? Kenapaaa?" tanya Laila dengan rasa penasaran tingkat tertinggi, bahkan matanya sampai melotot melotot dengan mulut masih sibuk terus mengunyah kue.


 Bu Hana mengangguk mantab, senang umpan untuk menggosipkan di sambar dengan cepat.


"Iya, kayanya sih kasus narkoba narkoba gitu deh. Ih ngeri, la. Moga moga aja si Halim anakonda itu nggak berani macem macem ya, udah tua soalnya nggak kuat Ibu kalau sampai denger kabar dia narkoba. Hiiiyyyy, denger kabar dia kehilangan ****** aja udah bikin heboh," kekeh Bu Hana mulai membuat aib sang anak pada menantunya sendiri.


 Mereka tertawa besar bersama menanggapi kata kata terakhir Bu Hana.


"Eh, La ada yang mau Ibu tanyain deh sama kamu." Bu Hana menggeser posisi duduknya lebih dekat sembari melambaikan tangan agar Laila bisa mendekat ke arahnya.


"Apa, Bu?"


"Emang benar kemarin kamu nyuruh di Halim anakonda buat beli soto ayam di dekat taman kota?"


"Pppfffttttttt .... bahahahahahahhahaha."


 Belum sempat menjawab Laila sudah tertawa lebih dulu, terlebih kala dia teringat bagaimana berhasilnya dia mengerjai suamianya kemarin.


"Heh, kaget." Bu Hana mengusap dadanya yang terasa berdebar kencang Karna suara tawa Laila yang tidak pakai aba aba. Kan jadinya Bu Hana belum siap siap kalau mau ada serangan dadakan yang bikin spot jantung.


 Setelah tawanya reda Laila mengambil sebotol air dari rak televisi dan meminumnya hingga tandas.


"Ibu tahu nggak kalo itu Mas Halim ternyata beneran jalan kaki? Gi la banget masa kan? Segitu nurutnya ya Allah." Laila terkekeh terkenang betapa baiknya sang suami padanya, bahkan walau dia tak melihat pun Halim tetap setia menuruti keinginannya yang bisa di bilang tak masuk akal tanpa alasan yang jelas pula.


"Alhamdulillah, kamu beruntung kalau begitu punya suami seperti Halim. Jujur dan bisa di percaya, insyaallah dia tidak akan mengkhianati kamu walau pun kamu jauh dari dia," tutur Bu Hana kembali kenikmati kue yang masih tersisa di piringnya.


 Laila mengangguk. " Iya, bu. Alhamdulillah."


"Dan kamu juga harus berterima kasih sama ibu, sebab itu semua kan hasil didikan ibu selama ini," kekeh Bu Hana lagi.


 Seketika Laila merentangkan tangannya dan memeluk Bu Hana dengan erat dari samping. Tak lupa menghidu aroma tubuh wanita paruh baya yang sudah di anggapnya sebagai ibu ke duanya tersebut.


"Ibu tahu nggak?" tanya Laila lagi.

__ADS_1


 Kening Bu Hana tampak berkerut. "Tahu apa?"


"Kemarin waktu pulang Mas Halim bentuknya kayak apa?"


"Memangnya kayak apa?" Bu Hana mulai tertarik.


 Laila mengulum senyum sembari membayangkan bagaimana penampilan suaminya kala pulang dari memberi soto ayam untuknya tempo hari.


 Laila sempat terkekeh saking tak kuat menahan tawanya.


"Buruan ih, orang nungguin juga." Bu Hana menepuk pelan tangan Laila.


"Iya, bu. jadi masa kan Mas Halim itu berangkatnya pake sandal jepitnya Elis yang sudah tipis itu, di suruh sama Laila kan. Dia nurut nih, eh masa pas pulang itu sandal bagian telapak kakinya udah nggak ada ,Bu. Tinggal talinya dong nyangkut di betisnya Mas Halim , hahahahah."


"Huahahahahahahahhah," sambar Bu Hana ikut tertawa mendengar ucapan menantunya. Terbayang di benaknya bagaimana betukkan Halim waktu itu, dengan sandal yang sudah tidak berada di tempat yang semestinya itu.


 Mendengar ibu mertuanya tertawa keras Laila malah semakin bersemangat bercerita, dengan semangat menggebu gebu dia mulai menceritakan bagian lainnya pula.


"Terus kan, Bu. Pas mas Halim masuk rupanya bajunya ada yang sobek, Bu kayanya sih jatuh di selokan gara gara nggak sengaja nginjek ekor anjing terus di kejar. Dan baunya itu, Bu huuuuuhhhh bau got."


"Hahahhahahhah," tawa Bu Hana masih sama seperti tadi, bahkan kini ibu angkat Halim itu sampai memegangi perutnya saking tegangnya karna terlalu banyak tertawa mendengar kisah anaknya yang sejak dulu tak henti bertingkah random.


"Terus terus, Bu.".


"Eh, masih ada lagi?" tanya Bu Hana yang sebenarnya sudah lelah tertawa tapi masih ingin mendengar kelanjutan cerita Laila.


 Lailae mengangguk lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Bu Hana.


"Pas Laila cobain soto sama es jeruk yang di belikan Mas Halim, ibu tahu nggak apa?"


"Soto sama es nya, rasanya beneran sama persis kaya yang di taman kota itu, Bu . Berarti Mas Halim bener bener belinya di sana ya kan, dan waktu pergi sama pulangnya loh lama banget. Salut sih sama anak ibu itu, bisa dia begitu demi istri kayak aku ya," gumam Laila yang tiba-tiba menjadi merasa rendah diri. Terlebih kala terlintas di benaknya kalau dia akan sulit memberi Halim dan Bu Hana impian mereka, seorang bayi yang akan lahir dari rahimnya yang penyakitan.


"Kayak apa maksud kamu?" tanya Bu Hana cepat, tak ingin sang menantu kembali memandang rendah dirinya sendiri sebab vonis yang di jatuhkan dokter padanya.


 " Ah, nggak kok. Nggak papa, Bu?" Jawab Laila yang sudah menangkap gelagat tak menyenangkan dari ibu mertuanya yang memang tak suka setiap kali dia mulai merendahkan dirinya sendiri.


 Setelah beberapa saat diam menikmati siaran televisi, Bu Hana kembali bertanya pada Laila.


"La, memangnya apa sih yang membuat kamu ingin melakukan hal itu pada Halim? Sampai kamu minta dia beli soto ayam jauh jauh jalan kaki ke taman kota, padahal kan kamu bisa pesan gopud?"


 Laila menarik nafas dalam, menghadap Bu Hana lagi dan menatapnya dengan tatapan nanar.


"Karna Laila ... pengen ngerasain rasanya dimanjain suami waktu ngidam, Bu."


****


 Sementara itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara yang siang itu bertamu ke rumah Indi, dengan sebuah payung yang melindungi tubuhnya dari sengatan sinar matahari Dara tak gentar melangkah ke sana dengan perut besarnya itu.


"Wa'alaikumsalam, ya ampun Dara. Lama sekali baru main ke sini lagi?" sambut Bu Maryam hangat, sembari menuntun Dara duduk di sofa ruang tamu dan menghidupkan kipas angin untuknya.


"Nggak usah repot-repot, Bu. Indi kemana?" tanya Dara sembari membenahi posisi duduknya yang kurang nyaman.


"Ah, nggk repotlah. Kamu itu lagi hamil, pasti gerah jalan kaki dari rumah kamu ke sini cuma pakai payung. Kenapa nggak minta antar Zaki saja sih?" tanya Bu Maryam tanpa jeda.

__ADS_1


"Nggak papa, Bu sekalian olah raga. Lagi pula Mas Zaki kan kerja mana bisa antar," kelakar Dara dengan tawa khasnya yang menebar kebahagiaan.


"Oooh , iya iya ya sudah. Indi ada di belakang, lagi nyuci kotak kue bekas jualan tadi, sebentar ya ibu panggil dulu."


 Dara mengangguk, dan Bu Maryam pun berlalu menuju dapur.


 Tak butuh waktu lama akhirnya Bu Maryam kembali ke depan menemui Dara dengan sebuah nampan berisi minuman dingin di tangannya.


"Ya ampun, Mbak Dara?. Lama banget nggak main ke sini, Mbak?" Indi menyambut sang kakak dengan pelukan singkat dan juga ciuman di pipi kanan dan kirinya.


"Iya, belakangan ini agak repot soalnya, In. Kamu sama ibu apa kabar? Si dedek juga gimana? Kapan mau di aqiqahkan?" cecar Dara dengan pertanyaan yang bertubi tubi.


 Memang masalah yang beberapa waktu lalu menimpa Dara termasuk persoalan Bu Zaenab yang kabur dari rumah membawa uangnya sebanyak lima juta benar benar menbuatnya kehabisan tenaga. Bahkan sekarang ini masalah itu belum selesai karena Bu zaenab belum juga di temukan. Padahal Zaki dan Dara sudah sepakat untuk mengikhlaskan uang yang di bawa Bu Zaenab untuknya hanya saja Pak Jamal tak terima dan sekarang malah meminta bantuan pihak kepolisian untuk membantu mencari isttinya dengan membuat laporan orang hilang.


"Kayaknya ... untuk aqiqah nanti saja dulu, Mbak. Indi ... belum punya uangnya, ini aja masih usaha ngumpulin sedikit sedikit dari untung dagang," tukas Indi pelan, sembari melirik ke arah Bu Maryam yang tersenyum getir.


 "Iya, Dara. Nanti saja dulu, lagi pula kondisinya belum pas mau ngadain aqiqahan." Bu Maryam menimpali.


Dara menghirup udara dengan rakus, karna si jabang bayi yang ada di perutnya tiba tiba menendang dengan lumayan kuat hingga rasanya jantung Dara ikut tersundul. Hehe


"Kalau begitu gimana kalau acara aqiqahnya si dedek barengan sama acara tujuh bulanan Dara aja, Bu? Sekalian di Adain di rumah Dara. Nanti ibu dan Indi bantu bantu di sana saja untuk tempat telur aqiqahnya, masalah biaya dan lain lain insyaallah sudah Dara pikirkan."


 Bu Maryam dan Indi tampak saling pandang, dari sorot matanya Dara tahu mereka setuju tapi masih ada yang mengganjal untuk membuat Bu Maryam dan Indi langsung menyetujuinya.


"Bagaimana, Bu? In? Kalau ibu dan Indi setuju persiapannya kita bisa mulai besok, jadi acaranya bisa di langsungkan lusa. Untuk konsumsi kita pesan katering saja yang ringkas jadi nggak buang waktu, bagaimana? Ya mau ya?" Bujuk Dara setengah memaksa sebenarnya..


 Dara kasihan dengan bayi Indi yang tak bersalah yang hingga usia yang hampir tiga bulan belum juga kunjung di aqiqahkan dan di beri nama. Sebagai saudara tentu saja Dara tak tega keponakannya dalam kondisi demikian sedangkan dia saja berlebih dalam segi finansial dan mampu untuk membantu.


"Bagaimana, Bu?" tanya Indi melimpahkan semua pada sang ibu yang kini juga tampak tengah sibuk berpikir.


 Bu Maryam menghela nafas. "Ibu sih sebenernya mau mau saja, Dara ... tapi bagaimana dengan suami dan mertua kamu? Kamu kan tahu mereka kurang suka dengan kami?"


 Dara menggeleng cepat dengan senyum terkulum di bibir tipisnya. "Sudah, ibu dan Indi nggak perlu pikirkan itu. Sekarang intinya ibu dan Indi setuju itu saja ya, urusan Mas Zaki dan bunda itu biar jadi urusan Dara membujuk mereka. Insyaallah Dara yakin mereka juga pasti bolehin kok."


 Indi dan Bu Maryam akhirnya pasrah dengan keputusan Dara, namun juga terselip rasa syukur di hatinya karna mempunyai saudara sebaik Dara. Terlebih indi, rasanya dia tak akan pernah cukup berterima kasih pada Dara atas semua yang sudah di lakukan untuknya. Bahkan jika pun mungkin, ingin Indi menghabiskan seluruh hidupnya untuk meminta maaf pada Dara sebab pernah menjadi sebab hancurnya rumah tangganya.


 Tak lama terdengar suara tangisan bayi Indi dari kamar, Bu Maryam dengan gesit berlari ke kamar dan tak lama kembali dengan bayi cantik itu di gendongannya.


"Kayaknya haus, in. Tadi ibu cek popoknya masih kering kok," ujar Bu Maryam sembari memberikan bayi itu ke dalam pelukan Indi.


 Indi langsung menyusui bayinya, dengan penuh kasih sayang dengan di iringi tatapan penuh haru Dara.


"Oh ya, Dara. Kamu masih lama kan? Itu di belakang tadi ibu lagi mau bikin Puding, kamu tunggu sebentar ya. Ibu selesaikan dulu sekalian buat kamu bawa pulang," tukas Bu Maryam.


 "Eh nggak usah repot-repot, Bu. Dara jadi nggak enak," tolak Dara.


 Tapi Bu Maryam tak menerima penolakan apapun. Dia bersikeras untuk membuatkan puding untuk anak angkatnya yang sangat baik hati itu.


"Pokoknya kamu tunggu disini, kalau sampai kamu tinggal pulang sebelum pudingnya jadi ibu nggak mau ke rumah kamu lagi sampai kapan pun," ancam Bu Maryam membuat Dara mau tak mau akhirnya mengiyakan perintahnya.


Sepeninggalan Bu Maryam, Indi langsung menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat ke arah Dara. Dara yang menyadari perubahan di wajah adik angkatnya itu langsung paham bahwa ada yang ingin di sampaikan oleh indi.


"Kenapa, in?" tembaknya langsung.


 "Mbak," bisik Indi dengan suara lirih. "Sebenarnya ada yang mau Indi katakan sama Mbak. Dan cuma Mbak satu satunya yang bisa nolong Indi sekarang, Mbak."

__ADS_1


__ADS_2