TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 108. HALIM BERTINGKAH.


__ADS_3

  Setelah semua kejadian mengocok perut kemarin, Elis akhirnya di perbolehkan pulang karna lukanya juga sudah mengering dan bisa di rawat di rumah saja.


Sementara semua ribut karna si kembar yang bersikeras meminta Elis menginap dan di rawat di rumah mereka, Laila malah melipir pulang duluan karna tak tahan terus menerus di goda oleh Halim tentang punya anak lima.


"Loh, Mbak lailanya mana Mas?" tanya Dara saat melihat Halim berjalan gontai sendirian.


Halim mendesah panjang. "Pulang duluan pake ojol, Mbak. Katanya saya nyebelin."


Dara tergelak. "Ahahah, ya ampun kalian ini, belum juga menikah udah ribut."


Yang lain pun turut tertawa, sedangkan Halim hanya bisa gigit jari saja. Benar kata Dara, belum menikah saja sudah ribut bagaimana nanti sudah menikah.


'ah, liat nanti lah. Pokoknya demi anak lima aku rela jadi pelayan istriku nanti.' Halim bertekad dalam hati.


"Mas Halim! Buruan! Ini siapa yang nyupir?" seru Zaki dari dalam mobil, ternyata sejak tadi mereka sudah naik ke dalam mobil dan tak di sadari Halim yang masih sibuk dengan berbagai impian masa depannya.


"Oh, iya iya." Halim gegas berlari dan masuk ke dalam mobil yang ramai itu, melajukannya menuju ke rumah Dara.


"Mama, Mbak Elis jahat," seru Fatur sembari menangis terisak, entah apa yang terjadi sebelumnya padahal tadi bocah itu hanya terus mengoceh saja tanpa jeda.


Elis tampak panik dan berusaha menenangkan Fatur, sedangkan Farah tampak tak mau lepas dari pegangan gan Elis.


"Ya ampun Fatur, bukan gitu maksudnya," ujar Elis berusaha menjelaskan, namun Fatur menepis tangannya dan berusaha menjauh dari Elis di mobil yang sempit itu.


Fatur merangsek menuju Dara yang duduk di pinggir, di belakang sekali ada Zaki dan Bu Ambar, dan di depan Pak Jatmika dengan Halim. Sangat ngepas sekali.


"Fatur kenapa?" tanya Dara lembut sambil memeluk buah hatinya yang tengah terisak itu.


"Mbak, maksud Elis ...."


Dara memberi kode Elis untuk diam, dan Elis menurutinya.


"Fatur kenapa? Kok nangis? Coba kasih tahu Mama." Dara mengelus lembut kepala Fatur.


Fatur menyedot ingus yang menumpuk di hidungnya, Elis dengan tanggap langsung mengambil tisu dan memberikannya pada Dara.


"Mama ...." Fatur kembali terisak, bahkan kini mata dan hidung a sudah memerah.


"Ya, Sayang?" sahut Dara sabar.


"Mbak Elis ... Mbak Elis jahat ...," ucap Fatur lagi.

__ADS_1


Dahi Dara tampak berkerut, di belakangnya Zaki mulai menyandarkan kepalanya di atas sandaran jok yang di duduki Dara, untuk melihat lebih jelas wajah lucu anak sambungnya itu saat menangis.


"Jahat? Mbak Elis jahat kenapa?" tanya Dara.


"Mbak Elis katanya nggak mau pulang ke rumah kita, Mbak Elis mau menikah kayak Mama sama Papa Zaki ...." Fatur menjelaskan masih sambil menangis.


Dara terhenyak, namun sesaat kemudian tampak menahan tawa. Matanya sontak menoleh pada Elis yang kini juga tampak salah tingkah.


"Kamu mau menikah, Lis?" tanyanya menggoda.


Elis terkesiap. "Eh, eh ng- nggak kok, Mbak. Mungkin Fatur salah sangka."


Dara tersenyum dan kembali beralih pada fatur.


"Nah, Fatur udah denger sendiri kan? Mbak Elis nggak mau menikah, Sayang."


"Eh, saya mau nikah, Mbak." Elis tiba tiba menyela.


Semua mata kini menatap Elis heran, kecuali Halim tentunya, karna kalau dia ikutan melihat Elis bisa bisa mereka semua kembali ke rumah sakit.


"Eh, maksud saya ...  maksud saya ... saya mau nikah juga, tapi ya besok tunggu jodohnya udah ada gitu. Bukan ... bukan kayak yang Mbak sama Mas pikirin, bukan." Elis mencoba membela diri walau dari raut wajahnya tampak dia sangat canggung sekarang.


Elis berbalik setelah mengatakan demikian, dan berpura-pura menatap ke luar jendela mobil padahal dia hanya berusaha menghindari tatapan semua orang padanya.


"Mama, terus Fatur gimana?" ucap Fatur kemudian.


"Mbak Elis nggak bisa nginep di rumah kita, sayang. Kan Mbak Elis mau bantu bantu buat Bu guru Laila yang mau nikah, Bu guru mau nikah sama oom Halim loh," jawab Dara tenang.


"Sama om ganteng ya, Mama?" tanya Fatur lagi sambil mengusap sisa air mata di wajahnya yang kini tak lagi mengalir.


Dara mengangguk.


"Kalo gitu, gimana kalo Fatur yang ikut nginep di rumah Mbak Elis aja, Mama? Fatur juga mau lihat Bu guru menikah sama om ganteng kayak Mama sama Papa. Pasti Bu guru juga nanti cantik kayak Mama kemarin ya Mama?" Fatur mulai aktif kembali bertanya, kesedihannya tadi seolah menguap entah kemana.


"Oh iya dong, Bu guru pasti lebih cantik dari Mamanya Fatur. Kan Bu guru masih muda." Halim menyeletuk.


Pletakk


"Jadi maksud kamu anak saya sudah tua?" omel Pak Jatmika sambil menggetok kepala Halim dengan cincin batu akiknya.


"Aduh, sakit bos." Halim melayangkan protes, sedangkan Fatur kini sudah tampak tertawa tawa karna adegan di depannya.

__ADS_1


Pak Jatmika melotot. "Salah sendiri mulutmu itu nggak pernah di sekolahkan, makanya kalau berangkat sekolah itu mulutnya dibawa biar ikutan belajar!"


Halim bersungut-sungut, namun tak lagi berani menjawab karna takut dengan Pak Jatmika yang kini tampak kembali mengelus elus cincin batu akik besarnya sambil menatapnya mengancam.


Sepanjang jalan Fatur sudah kembali riang bahkan sesekali tampak menggoda Halim yang sama sekali tak mau membuka mulutnya sampai mereka tiba di rumah Dara.


"Saya langsung pulang ya, bos." Halim turun dan hendak langsung melangkah menuju rumahnya yang hanya berada di belakang blok rumah Dara.


"Eh, ngambek ya kamu?" tahan Pak Jatmika.


Halim berhenti, kepalanya menoleh sedikit tapi tubuhnya tetap menghadap depan. Seperti film film India.


"Nggak kok, saya hanya tahu diri."


Pak Jatmika menyeringai.


"Ya sudah sana pulang," pungkasnya pura pura acuh.


Dara membimbing anak-anak dan suami juga mertuanya untuk masuk ke rumah, mereka pun kini berhenti demi melihat adegan antara Pak Jatmika dan Halim yang sepertinya layak masuk FTV itu.


"Loh, kok nggak pulang pulang?" tanya Pak Jatmika saat melihat Halim kini hanya diam mematung.


Tiba tiba Halim berbalik dengan bibir mengerucut sampai lima meter, dan menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


"Bos gimana sih? Ya setidaknya tahan kek, bos! Kan tadi bos udah bikin salah sama saya. Lihat nih kepala saya sampe benjol gara gara bos," omel Halim memegangi jidatnya yang tadi di getok Pak Jatmika.


Tapi Pak Jatmika justru mencebik.


"Dih, ngapain emang kamu siapa saya pake di tahan dan minta maaf segala. Hii geli ," ledek Pak Jatmika sambil berlalu masuk ke dalam halaman rumah Dara.


Halim mendengus kesal, nafasnya tampak naik turun dengan mata berkaca-kaca. Dan tanpa aba-aba tiba tiba dia menjatuhkan tubuhnya ke jalanan dan bertingkah ala anak anak yang tengah tantrum.


"Huaaaa!!!! Bos jahat! Bos nggak adil!" serunya sambil bergulingan di aspal.


Pak Jatmika tak peduli dan menyuruh Dara dan yang lainnya untuk masuk ke rumah dan menutup pintunya.


"Huwaaaaa!" Halim semakin mengeraskan tangisannya saat tahu malah di tinggal.


Byurrrr


Tiba tiba seseorang tetangga mengguyur air ke tubuh Halim dari balik pagar rumahnya.

__ADS_1


"Woy, berisik tahu! Nggak tahu orang lagi sakit gigi lu!" marahnya.


Halim yang kaget langsung mengusap wajahnya yang basah dan lari terbirit-birit sebelum di siram untuk kedua kalinya.


__ADS_2