
Tok
Tok
Tok
"Fatur, buka pintunya, Nak. Ini Mama," tukas Dara di depan pintu kamar Fatur yang terkunci dari dalam.
. S
Sepertinya anak itu sangat kecewa sekarang, karna biasanya jika hanya ngambek biasa pada Mamanya dia tidak akan mengunci pintu kamarnya.
Tok
Tok
Tok
"Fatur, sayang. Mama mau bicara sebentar, Nak. Buka pintunya ya, sayang."
Dara kembali membujuk setelah beberapa saat tak ada respon dari Fatur.
Hening masih meraja, tak ada suara bahkan sekecil apapun di dalam sana.
Dara mendesah berat dan menatap Indi dengan masygul.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Suara salam mengalihkan perhatian Dara, tak lama dari arah pintu depan yang terbuka masuklah Elis sambil membawa sebuah kantong plastik yang terlihat berisi beberapa kue basah.
"Loh, Mbak kok pintunya Fatur sama Farah di tutup? Kenapa?" tanya Elis sembari berjalan mendekat.
"Biasa, ngambek. Coba kamu bujuk dulu, Lis." Dara menyingkir dari depan pintu dan membiarkan Elis mencoba membujuk sang putra.
Elis mendekat, namun dia baru sadar kalau ada orang lain yang berdiri di sana. Memakai pakaian tidur dengan warna yang sudah luntur, dan jarik panjang yang di pakai menyerupai rok.
"Ini Indi, masa kamu lupa." Dara berkata seolah mengetahui kalau Elis ingin tahu siapa gerangan yang berdiri di samping Dara itu.
Elis terperangah. "Apa? Ini Mbak indi?" serunya kaget.
.
__ADS_1
. Indi menoleh dan tersenyum tipis, wajah pucat dan sayunya memang sangat berbanding terbalik dengan rupa Indi yang masih melekat di ingatan Elis.
"Iya, ini Indi. Memangnya kenapa? Kok kamu kaget nya sampe kayak gitu sih, Lis?" tanya Dara heran.
Elis menelan ludah dan berusaha mengontrol ekspresinya dengan menunduk.
"Ah, tapi ... tapi ...."
"Sudah nanti aja tanya tanyanya, sekarang coba bujuk Fatur supaya mau buka pintunya, Mbak sama Indi mau ketemu dia," tegas Dara memberikan perintah.
.
Elis mengangguk paham namun matanya seolah tak rela meninggalkan sosok Indi yang saat ini terlihat sangat lusuh itu, padahal dulu Elis sangat ingin melihat Indi menderita karna sudah membuat rumah tangga orang yang di sayanginya hancur, tapi kini saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Indi sudah hancur dia sen diri yang tak tega.
"Heh, melamun lagi. Udah buruan, Lis. Nanti saya nggak jadi masak kalau makin lama ah," protes Dara sembari mencolek lengan Elis.
Elis terjingkat saking kagetnya, lalu berusaha memasang tampang baik baik saja padahal jantungnya seakan hendak pindahan dari dadanya.
Tok
Tok
Tok
Tak membuang waktu lama, Elis langsung saja mengetuk pintu kamar Fatur dan Farah yang terdapat gantungan cantik dengan nama mereka di depannya itu.
Namun tak butuh waktu lama, akhirnya terdengar suara kunci pintu yang di putar dari dalam di susul pintu yang terbuka sedikit dan tampak sebuah mata yang mengintip dari celah kecil pintu itu.
"Hei, ganteng. Mau kue nggak?" tawar Elis sambil mengangkat plastik berisi kue itu ke depan wajahnya dan tak lupa menaik turunkan alisnya.
Pintu terbuka lebih lebar, tampak wajah cemberut Fatur di sana.
" Eh mau ya, mbak El boleh masuk nggak nih ke kamarnya fatur? Biar kita makan kuenya sama sama, bareng Farah juga," pinta Elis lagi.
Fatur tampak terpengaruh, dan tanpa banyak kata dia membuka pintu kamarnya dan membiarkan Elis masuk mengikuti langkahnya.
"Udah, Mbak.". Elis berpaling pada Dara dan Indi.
Dara mengacungkan jempolnya. "Bagus bagus, sekarang kamu masuk dan buat Fatur happy dulu. Supaya dia nggak marah marah lagi."
Elis mengangguk paham dan langsung masuk untuk menjalankan tugas dari Dara.
Tak butuh waktu lama, beberapa saat setelah Elis masuk ke dalam kamar anak anak terdengar suara tawa yang terdengar begitu lepas dari sana.
__ADS_1
Dara memberanikan diri untuk mengintip, dan tampak di dalam sana Elis tengah bercanda dengan si kembar sambil memakan kue yang tadi dia bawa.
"Nanti kalau adik Fatur laki laki mau Fatur ajak main bola di halaman belakang, Mbak. Terus nanti juga Fatur ajarin berenang biar bisa berenang bareng Fatur, kan nanti di bikinin kolam renang sama Papa kalau sudah bisa berenang." Fatur berkata penuh semangat dengan mulut penuh kue ongol ongol hingga parutan kelapanya bertebaran di tepi bibirnya.
"Tapi kalau nanti adiknya perempuan, Farah mau ajak main rumah boneka. Main rumah rumahan juga, kan nanti sama Papa Zaki pasti di beliin rumah boneka yang besaaaar sekali yang Farah sama adek bayinya bisa masuk juga ke dalamnya." Farah menimpali dengan wajah penuh dengan gula halus dari donat yang di makannya.
"Kalau Mbak El?" tanya Fatur melempar tanya pada Elis.
Elis yang tengah menggigit sebuah klepon terkejut dan membuat gigitannya terlalu keras hingga cairan gula merah di dalam klepon muncrat ke wajahnya.
Cruttt
"Ahahahahhaah, muka mbak El cemong." tawa anak anak itu menggema dan terdengar begitu ringan dan bahagia.
"Ah, kalian curang ngagetin Mbak El," protes Elis lalu beranjak keluar kamar untuk menuju kamar mandi dengan mata tertutup sebelah karna ikut kecipratan gula merah isian klepon tadi.
Setelah Elis keluar, Dara pun melangkah masuk ke dalam kamar anak anaknya. Di ikuti Indi di belakangnya.
"Anak anak, Mama masuk ya."
Fatur menoleh cepat, namun setelah tahu ada Indi di balik tubuh Dara dia langsung melengos begitu saja.
"Mama, Mbak El bawa kue nya banyak. Enak enak, Farah suka deh." Farah menunjukkan plastik yang ada di hadapannya dan kue donat yang sudah habis separuh di tangannya dengan wajah sumringah sama sekali tidak terpengaruh dengan ngambeknya Fatur.
"Oh, iya. Mama ikut duduk di sini ya, boleh kan?" ucap Dara lagi, dengan senyum di bibirnya.
"Boleh Mama," sahut Farah yang tak mengerti apaa yang tengah di ambekin Fatur itu.
Setelah duduk, Dara mulai bicara dengan sang putra yang masih tampak marah itu.
"Nak, Tante Indi mau ngomong sama kamu. Kamu mau kan dengerin Tante Indi sebentar aja?" tanyanya lembut, sembari mengusap kepala sang putra penuh kasih sayang.
"Nggak, ngapain Fatur harus dengerin omongan orang jahat kayak dia?" ketus Fatur tanpa mau menoleh.
Dara menghembuskan nafas panjang, dia tahu pasti tak mudah untuk membujuk anaknya yang satu ini.
"Sebentar aja ya, Nak. Kalau kamu nggak nyaman kamu boleh bilang, yang penting sekarang biarin Tante Indi ngomong dulu sama kamu ya," bujuk Dara lagi berharap anaknya kali ini mau mengerti.
Fatur terdengar mendengus, tanpa menoleh pada Indi dan sang Mama akhirnya dia mengalah juga.
"Baiklah," gumamnya pelan.
Dara menoleh pada Indi dan mengangguk, sedangkan Farah tampak menatap mereka semua dengan bingung.
__ADS_1
"Fatur, ini Tante. Tante ... Tante mau minta maaf sama kamu, maaf karena dulu Tante sudah jahat sama kalian, sudah ambil Papa kalian. Tapi jujur sekarang Tante menyesal sekali, Tante janji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi selamanya. Tante mohon maafin Tante ya, sayang." Indi berkata dengan sungguh sungguh, berharap Fatur akan mengerti walau dia masih seorang anak kecil. Namun Indi tahu pikiran anak itu sudah menyamai orang dewasa.
Kali ini Fatur mau menoleh, melempar tatapan tajam pada Indi dengan wajah datar yang entah kenapa membuat nyali Indi tiba-tiba menciut. Tatapan itu ... tatapan itu sama dengan .....