
Semua tamu undangan terdiam, walau ada dari mereka yang mengabadikan momen itu di ponselnya masing-masing namun tak ada satupun yang bersuara, kecuali raungan Indi yang meminta mereka menghentikan semuanya.
"Biad*p kalian semua! Hentikan aku bilang! Hentikan! Siapa yang nyuruh kalian hah? Katakan! Siapa yang suruh!" pekik Indi frustasi bahkan sampai menjambak rambutnya hingga semua hiasan kepalanya terlepas.
Zaki turun dari panggung pelaminan di ikuti sang bunda, wajahnya tampak bingung sekaligus panik begitu juga Bu Ambar yang tampak tak sabar melihat apa yang terjadi di depan sana.
"Mas! Bun! Kalian jangan ke sana, jangan! Itu semua fitnah! Itu fitnah! Jahat sekali yang sudah buat fitnah murahan seperti ini! Biad*p! Nggak lucu asal kalian tau!"
Indi mencekal tangan Zaki menahannya agar tak melihat ke layar putih besar yang masih menampilkan video hijaunya dan Fatan.
Lalu kemana Fatan? Dia kini berada di barisan paling belakang tamu yang berjubel di teras rumahnya ingin melihat apa yang terjadi di halaman tempat pesta. Fatan diam, otaknya kacau, bahkan dia kini tak tau apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan. Semua terlalu cepat, sampai dia bahkan tak sempat untuk sekedar menarik nafas.
"Loh? Ini bukannya laki-laki yang di video itu ya?" celetuk salah satu tamu undangan yang tak sengaja melihat Fatan ada di belakang para tamu.
Sontak mereka semua menyingkir dan membuka jalan untuk yang lain melihat Fatan yang terbengong seperti orang amnesia.
Dara tersenyum sinis, dan beralih berjalan anggun menuju suaminya yang mungkin saja sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Ah, akhir kisah yang miris bukan?
"Nikmati pertunjukkannya, suamiku." Dara berbisik di telinga Fatan.
Setelahnya Dara menjentikkan jarinya dan dua orang pria berjas di tenda sana langsung berjalan tegap menuju ke arahnya. Sepertinya semua alurnya memang sudah di atur oleh Dara sedemikian rapi.
"Rencana B." Dara membuang pandangannya ke arah lain, saat kedua orang berjas itu menarik paksa Fatan ke tengah tenda dimana Indi juga masih ada di sana menahan Zaki agar turun ke bawah.
"Kamu ini kenapa, In? kenapa Mas nggak boleh lihat? Memangnya ada apa? Dan itu video siapa? Kalau kamu nggak bersalah harusnya kamu nggak takut, In. Dengan kamu bersikap begitu itu saja sudah cukup menjelaskan semuanya kamu tau?" sentak Zaki sambil menepis tangan Indi dan berjalan ke arah depan tak jauh dari Fatan di tempatkan oleh ke dua orang berjas hitam tadi.
Zaki berbalik dan langsung menutup mulutnya dengan tatapan syok, Bu Ambar turut mendekat dan responnya tak jauh berbeda dengan Zaki, anaknya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, apa ini Indi?" hardiknya marah.
Tangan Zaki mengepal, urat yang ada di kepala dan lehernya tampak menyembul menandakan betapa marahnya dia sekarang.
Bu Ambar pun sebenarnya sama marahnya, cuma dia enggan membuang tenaga hanya untuk memaki waita murahan seperti Indi. Videonya di depan sana sudah cukup untuk memudarkan rasa simpati Bu Ambar padanya, yang sejak awal memang belum berhasil mengambil hatinya.
Lalu dimana pula Bu Maryam? Sejak awal beliau sudah tak sabar dan langsung melihat apa yang di putar oleh para pria berjas itu. Namun sayangnya dia yang sudah tua langsung syok dan tak sadarkan diri di menit-menit pertama video di mulai, dan saat ini Bu Maryam ada di dalam kamarnya setelah di gotong oleh beberapa tamu undangan yang ada di sana.
"Mas ...."
Tubuh Indi luruh ke tanah, seperti semua harapannya yang hancur lebur seiring dengan tersebarnya video hijau tersebut ke berbagai akun media sosial para tamu undangan yang masih senantiasa merekam semua kejadian langka yang ada.
"Ini apa .... Jawab ini apa!" amuk Zaki sambil menunjuk layar besar yang tak hentinya menayangkan video Indi dan Fatan tersebut.
Bukan video berulang, tapi memang nyatanya Dara mempunyai banyak sekali bukti yang bisa dia tunjukkan pada seluruh dunia kalau dia mau. Dan tentu saja dua orang pengkhianat itu tak akan bisa mengelak sedikit pun.
"Kamu masih diam? Apa aku harus bertindak sendiri supaya kamu mau buka mulut hah?" lagi, Zaki membentak Indi sekuat yang dia bisa.
Sampai suara dari layar itu bahkan kalah oleh suaranya yang menggelegar.
"Ma- maafkan aku, Mas." hanya kalimat itu yang sanggup Indi utarakan, dia kembali menangis, menangisi kebodohannya sendiri tentu saja.
Zaki menyugar rambutnya kasar dan membuang blangkon yang masih bertengger setia di atas kepalanya.
Plaakkk
Blangkon itu jatuh ke tanah tak jauh dari posisi duduk Indi, Indi berjengkit kaget namun tak berani beringsut barang sedikit.
__ADS_1
Zaki mendekati Fatan yang tampak linglung dan mencengkram bajunya erat. Bu Ambar melihatnya dalam diam tak berniat menahan putranya itu sedikit pun, walau dia tau kalau nyawa Fatan bisa saja melayang jika Zaki sudah terlalu emosi.
"Jelaskan apa semua ini, Mas! Selama ini aku menghormatimu seperti Kakak kandungku sendiri. Tapi apa begini balasan mu, Mas? Brengs*k!"
Buaghhh
Zaki melayangkan sebuah pukulan sekuat tenaga rahanh Fatan, dan langsung saja membuatnya roboh ke tanah bermandikan debu dan kotoran di sana.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Datang padaku menghiba untuk membantu mencari pekerjaan, aku ikhlas menolong kalian tapi rupanya ini yang kalian sembuyikan di belakang kamu semua? Hebat sekali hebat! Bahkan mungkin domba pun malu kalau bulunya kamu pakai, Mas!"
Zaki kembali menubruk Fatan dan menyerangnya dengan membabi buta dan tak sedikit pun memberi kan celah pada Fatan untuk membalas. Hatinya sangat sakit, tak akan dia biarkan orang yang sudah berkhianat padanya bisa pergi dengan tenang.
"Zak, ku mohon sudah! Jangan pukul lagi, Zak!" mohon Fatan sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari jangkauan pukulan Zaki yang tak ada jedanya.
Sakit dan perih mendera, bahkan Fatan hampir tak kuat menahan semuanya. Dia terkapar lemah, darah mengalir dari sudut bibirnya yang sobek dan beberapa bagian wajah yang lebam sampai benjol.
"Apa katamu, Mas? Berhenti? Apa pengkhianat sepertimu ini pantas di beri keringanan? Harusnya kalian berdua itu di rajam! Aku masih berbaik hati tidak meminta para warga di sini untuk mengarak kalian dan merajam kalian sampai mati, kau tau? Dan kau masih berani memintaku berhenti, Mas? Dimana otakmu hahaha?" Zaki tertawa dalam keputus asaannya.
Pernikahan yang di harapkannya akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir baginya, nyatanya malah berakhir tragis hanya dalam hitungan dua jam saja. Sakit, pasti, marah jangan di tanya lagi, kalau membunuh itu tidak ada hukumannya maka mungkin saat ini Fatan hanyalah tinggal serpihan daging yang tak ada gunanya di hadapan Zaki.
Buaghhhh
Darah segar menyembur dari mulut Fatan, dan setelahnya dia diam tak bergerak. Namun deru nafasnya yang lemah menandakan kalau dia masih bernyawa.
Dara melangkah mendekat ke tempat kejadian, tetap anggun dan mempesona sampai-sampai Indi yang sedang menjadi pusat perhatian karena skandalnya yang terbuka pun masih sempat merasa iri padanya.
"Zaki." Dara menyentuh pundak Zaki, dan memintanya untuk berdiri. "Sudahi dulu itu, bukankah ada hal yang lebih penting untuk kau urus lebih dulu?"
__ADS_1