
Tak sampai satu jam kemudian, rumah yang di tuju akhirnya tampak. Rumah bercat kuning pudar itu tampak di kelilingi ilalang, mungkin saking lamanya kosong.
"Bang, bener ini rumahnya?" tanya supir berkacamata sambil menatap heran rumah itu.
Fatan mengangguk. " Iya, Bang. Orang tua saya sudah lama meninggal jadi rumah ini nggak ada yang ngurus karena sebelumnya saya kerja di kota. Makanya jadi begini."
Supir berkacamata itu hanya manggut-manggut saja dan tak berani berkomentar lebih jauh. Setelah menurunkan semua barang bawaan mereka, sang supir pun kembali pergi dengan mobilnya.
"Mas, kamu serius bawa aku sama ibu tinggal di sini?" tunjuk indi pada rumah yang lebih layak di sebut rumah hantu itu.
Tampilannya memang bagus, hanya kondisi di sekitarnya dan catnya yang sudah mengelupas membuat suasananya terlihat menyeramkan. Padahal seingat Fatan dulu rumah itu adalah rumah yang sangat nyaman dan tenang. Dengan pohon mangga di tepi halaman yang selalu berbuah lebat, kini saja masih tampak calon bakal buahnya mulai berkembang.
"Ya, ini rumah masa kecil Mas. Dara juga sudah pernah ke sini sebelum ada si kembar. Dulunya rumah ini bersih dan nyaman sekali, pasti kalau kita bersihkan bisa jadi seperti itu lagi," sahut Fatan yakin.
Bu Maryam sendiri tampak terus memindai tempat itu, terlihat dari raut wajahnya kalau dia mulai tak nyaman.
"Emm, apa nggak ada penginapan atau apa dulu begitu, Fatan? Ibu capek sekali kalau baru sampai langsung harus bersih bersih rumah seluas ini," dalih Bu Maryam sambil memegangi lutut dan pinggulnya yang memang terasa ngilu.
Fatan tampak menggaruk kepalanya dan menggeleng. "Sayangnya, ini bukan di kota, Bu. Jadi tempat seperti itu ya ... nggak ada."
"Apa Mas? Nggak ada?" seru Indi mendelik.
Fatan mengangguk kaku, karna memang benar apa yang dia katakan.
"Mas kita ini baru aja sampe, dan hari sudah mulai gelap dan kamu mau kita nginep di tempat yang mirip sarang hantu begini? Kamu waras kan, Mas?" cecar Indi tanpa henti.
__ADS_1
Fatan hanya mendesah pelan. " Lalu mau gimana lagi, In? Cuma ini satu-satunya tempat kita berteduh sekarang. Mau ke kampung kamu juga ibu bilang tanah dan kebun kalian di jual orang. Dan ibu nggak berani melawan karna nggak punya surat sah tanahnya. Jadi ya ... memang cuma ini satu-satunya tempat yang masih bisa kita tempati. Masa iya kita mau balik ke kota lagi?"
Indi menghentakkan kakinya ke tanah, melihat rumah di depan matanya itu dengan pandangan kesal. Walau pun ketimbang rumah tetangga lainnya rumah itu tampak lebih bagus dan lebih luas. Namun penampakannya yang berantakan dan tak terawat tentu membuat hal itu tentu saja menjadi daya tolak tersendiri bagi orang yang mengerti.
Saat tengah bingung tiba-tiba datang seorang laki-laki berkopiah dan memakai sarung berjalan ke arah mereka.
"Nuhun, Mas dan Mbak ini cari siapa ya?" tanyanya ramah.
"Loh? Ini bukannya Pak Sukri? Pak RT kampung sini kan?" celetuk Fatan senang.
Bapak-bapak yang di panggil Pak Sukri itu mengangguk.
"Iya, itu saya cuma sekarang mah saya sudah bukan RT lagi. Itu mah sudah lima belas tahun yang lalu saya jadi RT," kekeh Pak Sukri yang tampaknya belum mengenali Fatan.
"Emangnya Mas ini siapa ya? Ke sini mau cari siapa? Kok malah bengong berdiri di depan rumah kosong ini?" tunjuk Pak Sukri ke arah rumah Fatan.
Pak Sukri diam sejenak sambil memindai wajah Fatan, dan tak lama wajah tuanya itu mulai nampak sumringah.
"Ya Allah, ini teh Fatan? Duh udah besar aja kamu, Tan. Dulu padahal kerjaannya ngambil mangga sama jambu ke kebun saya. Sekarang udah Segede ini, mana ganteng pisan lagi. Kalo kamu mau, bapak jadiin menantu kamu, Tan. Kebetulan si intan udah tamat sekolah, " kekeh Pak Sukri mencoba bercanda walau memang ada sekelumit niat di hatinya sejak dulu untuk menjodohkan Fatan dengan putri bungsunya.
"Ekhemmm," ujar Indi berdehem, sepertinya dia mulai tak nyaman mendengar ucapan Pak sukri.
Dan untungnya Pak Sukri yang baik hati itu menyadari situasinya dan mengalihkan pembicaraan.
"Ini sudah hampir Maghrib, kalian mau kemana? Dan dari mana? Kalau kalian mau menginap di rumah ini, saran saya mending nggak usah, besok saja. Saya lihat kalian baru sampai lebih baik menginap di rumah saya saja dulu malam ini," ucap Pak Sukri menawarkan bantuan.
__ADS_1
Mata Bu Maryam berbinar, akhirnya kata yang sejak tadi dia tunggu keluar juga. Dengan bersemangat dia dan Indi mengangguk sambil melempar tatapan memelas pada Fatan.
Akhirnya setelah menimbang sana sini baik dan buruknya, akhirnya Fatan mengalah dan memilih menginap di rumah Pak Sukri malam ini. Kebetulan rumah Pak Sukri dan rumah Fatan tidaklah jauh.
*
"Ini, di minum dulu, Tan." Bu Sukri keluar sambil membawa senampan berisi dua gelas teh jahe dan sepiring pisang rebus panas.
Fatan yang sedang duduk duduk di teras rumah Pak Sukri dengan Pak Sukri sendiri tersenyum ramah dan berterima kasih karena di sambut dengan baik oleh Bu Sukri yang saat itu hanya sendiri karna Intan anak bungsunya masih mengajar ngaji di pondok yang ada di desa itu.
"Kamu kok tiba-tiba pulang ke sini, a
Tan? Bukannya katanya kamu sudah kerja di kota dan sudah sukses juga. Malah ibu denger katanya kamu sudah menikah, apa itu tadi istri kamu?" tanya Bu Sukri sambil ikut duduk di dekat suaminya.
Kursi rotan khas pedesaan yang begitu di rindukan Fatan kini bisa kembali di dudukinya. Berseberangan dengan Pak Sukri dan Bu Sukri yang duduk terpisah meja bundar dengannya.
"Saya mau mulai usaha di sini, Bu. Kebetulan sudah terkumpul modalnya. Dan itu tadi, belum menjadi istri saya rencananya mungkin nanti kami akan menikah di sini. Secepatnya saya akan urus semuanya, supaya nggak timbul fitnah." Fatan menyahut dengan penuh kebohongan.
Bu Sukri tampak manggut-manggut, dan perlahan menyesap teh yang sebelumnya dia niatkan untuk suaminya.
"Baguslah kalau kamu mau buka usaha di desa ini, Tan. Kamu lihat sendiri desa ini masih jauh dari kata layak, listrik saja baru masuk desa beberapa tahun belakangan. Bapak dukung kalau kamu mau buka usaha, kira-kira usaha apa itu, Tan?" Pak Sukri menimpali.
Fatan tampak kelimpungan, karna sebenarnya dia sendiri pun hanya asal jawab saja tadi agar tak ada orang kampung yang tau alasan utamanya memilih pulang ke kampung halaman masa kecilnya ini.
Saat tengah berpikir untuk mencari jawaban yang pas, sebuah suara merdu membelai indera pendengaran Fatan. Membawanya bernostalgia sesaat dengan masa lalunya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Abah, Umi. Dedek pulang."