TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 123. KELUARGA TOXIC.


__ADS_3

Setelah membayarkan sejumlah uang yang di minta oleh Bu Zaenab, Bu Ambar langsung kembali melenggang menuju ke rumah menantunya sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


Sebelumnya dia juga sudah meminta ponsel Hans sebagai jaminan agar nanti Bu Leha mengembalikan uangnya, atau jika tidak demikian uang itu hanya akan menjadi sedekah yang tak akan membawa pahala baginya.


"Mbak, tunggu." Bu Leha mencekal tangan Bu Ambar sebelum masuk ke dalam rumah Dara.


 Bu Ambar sontak menoleh dan menatap tajam pada sepupu toxic nya itu.


"Ngapain kamu malah ngikutin saya ke sini? Sana pulang!" serunya kesal, bahkan sedikit mendorong tubuh Bu Leha agar menjauh darinya.


 Mendengar ribut ribut dari depan rumahnya untuk yang kedua kali, Zaki gegas ke depan untuk memastikan apa yang terjadi.


"Loh, bude Leha?" ucapnya terkejut, pasalnya saudara ibunya itu sama sekali tak pernah muncul di depannya atau sekedar menanyakan kabarnya jika tidak ada butuhnya.


 Bu Ambar memasang wajah masam, sedangkan Bu Leha mulai ancang ancang untuk bersandiwara di depan keponakannya itu yang sering sekali menjadi tempatnya meminjam uang namun tak pernah di kembalikan.


"Apa kabar, Zaki? Duh makin ganteng aja sih kamu?" puji Bu Leha setinggi langit, karna sedang ada maunya.


 Untungnya Zaki yang sudah kebal tak akan melayang dan terlena dengan pujian itu.


"Bude mau apa ke sini?" tanyanya tak ingin berlama-lama.


 Bu Leha tampak tak gusar bahkan terus berusaha tampak mengakrabkan diri dengan keponakannya itu.


"Eh, kok panggilnya bude sih? Nggak elit sekali. Kan sudah di ajarin panggil Tante, supaya lebih elit gitu loh, Zaki. Coba sekali lagi panggil Tante," bujuk Bu Leha bertingkah.


 Zaki mendengus, sedang Bu Ambar langsung saja berlalu masuk ke rumah karna dia yakin Zaki pasti bisa mengatasi Leha seorang diri.

__ADS_1


"Haduh, nggak usah banyak tingkah lah, bude. Bilang aja bude mau apa ke sini? Zaki mau pergi loh ini," tegas Zaki dengan raut wajah tak senang.


 Bu Leha tak putus asa, kali ini dia bahkan berani naik ke teras rumah Dara dengan memakai sendal seperti rumahnya sendiri padahal sandalnya itu tapaknya kotor, dan sandal sandal milik yang lain semua ada di bawah teras. Memang Bu Leha ini meresahkan sekali.


"Ah kamu ini, Zaki. Kan Tante jarang jarang main ke sini, mbok ya di tawari masuk dulu, minum dulu gitu lo."


 Zaki makin senewen, rasanya ingin sekali dia lemparkan wanita toxic itu ke mars kalau tak ingat dia orang tua yang harus di hormati. Eh tapi apa kalau modelannya kayak Bu Leha begini masih wajib di hormati ya?.


"Ga ada, gula habis," jawab Zaki sekenanya. Tujuannya agar Bu Leha dan putranya yang menyebalkan itu bisa lekas pulang.


 Bu Leha tampaknya memang tipe tipe ngeyelan, sudah tahu si empunya rumah tidak suka dia bertandang malah masih betah saja di sana.


 "Ya sudah, kalau begitu Tante duduk di sini saja ya. Udah lama loh Tante pengen main ke rumah kamu, masa iya langsung di suruh pulang, jahat banget sih kamu, Zaki." Bu Leha dengan santainya duduk di kursi ruang tamu padahal belum di beri izin masuk oleh Zaki, untungnya saja Pak Jatmika saat ini tak sedang duduk di sana, beliau sudah pindah ke ruang tv untuk bermain dengan si kembar.


 "Hans, sini nak. Masuk dulu, dingin loh di sini," panggil Bu Leha pada sang putra yang masih berdiri di luar seperti satpam.


 Tanpa mengindahkan keberadaan Zaki, Hans langsung saja naik dan masuk tapi untungnya dia tidak membawa serta sandalnya seperti yang di lakukan ibunya.


"Eh Zaki! Itukan sandal Tante!" seru Bu Leha tampak tak terima.


"Lagian, sandal sama orangnya sama aja. Sama sama bobrok dan sudah waktunya di buang." Zaki menjawab santai, lalu mengambil pel dan mengepel bekas tapak sandal Bu leha di terasnya dengan wajah kesal, Zaki tak pernah suka rumahnya kotor dan berantakan. Apalagi di sebabkan oleh orang lain yang tidak dia suka.


 Setelah beres dan lantai kembali mengkilap Zaki masuk dan duduk tepat di hadapan kedua keluarga toxicnya itu.


"Kamu ini Zaki, tidak ada sopan sopannya sama orang tua. Beda sekali sama hans, walaupun pendiam dia ini selalu hormat sama Tante bahkan nggak pernah membantah apapun ucapan dan tingkah laku Tante. Nah ini kamu, baru juga sandal, sudah main buang saja mana dari tadi Tante di sini nggak di tawari minum lagi. Memang nggak ada tata Krama ya kamu ini," oceh Bu Leha tak tahu malu sama sekali.


 Sedangkan Hans yang merasa dirinya di puji malah duduk tegak sambil membusungkan dadanya di hadapan zaki, seakan dia adalah manusia paling bagus hanya karena pujian ibunya.

__ADS_1


 Zaki menggeram rendah lalu mendengus keras sambil membayangkan dalam benaknya untuk memasukkan Bu Leha dan Hans ke dalam karung dan membuangnya ke sungai Amazon , biar di makan anakonda.


"Jadi sekarang mau bude apa? Sudahlah bertamu tanpa izin, segala ngata ngatain lagi." Zaki mendengus kesal.


 Bu Leha kali ini tampak lebih lunak, tersenyum manis lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Jadi begini, Zaki. Emmm ... Tapi sebelumnya apa nggak ada minuman gitu ya? Tenggorokan Tante kering sekali ini rasanya mau ngomong," ucap Bu Leha sambil berakting memegang lehernya.


 Zaki melengos.


"Tadi tenggorokannya di pake ngatain orang kayaknya nggak sampe kering tuh, sekarang kok tiba-tiba langsung kering ya?" sindirnya sambil mengeluarkan dua buah minuman gelas kemasan dan di letakkan di hadapan Bu Leha dan Hans.


 Mata Bu Leha membelalak lebar.


"Loh, ini aja? Air putih? Nggak masalah kamu Zaki? Ngasih kami air putih? Lah ini mah di rumah kami juga banyak."


"Bude ke sini mau apa? Mau minta minuman? Kan tadi saya sudah bilang gulanya habis, kalau kalian nggak mau ini ya sana silahkan pulang, sudah di usir dari tadi juga," sentak Zaki tak tahan lagi untuk menahan kekesalannya.


 Bu Leha tampak menciut mendengar kemarahan Zaki, lalu dengan wajah di manis maniskan dia mengambil gelas plastik kemasan mineral itu dan menusuk sedotannya ke sana.


"Eh, eh mau kok. Siapa bilang Tante nggak mau, iya kan hans?" Bu Leha sengaja menyenggol tangan Hans agar mengikuti perbuatannya.


 Dengan kesal Hans pun terpaksa meminum minuman kemasan yang rasanya yang ubahnya air putih biasa itu.


 "Sekarang cepat bicara keperluan bude dan setelah itu silahkan pulang, saya mau istirahat. Ini sudah siang, bukan lagi waktunya bertamu." Zaki membuang pandangannya ke arah lain, muak sekali melihat wajah sok manis dan sok polos budenya itu.


 Tak menyia-nyiakan kesempatan, Bu Leha segera menyampaikan apa maksud tujuannya datang dengan selembut yang dia bisa.

__ADS_1


"Jadi begini, Zaki. Bisa tidak kalau Hans kamu masukkan kerja di perusahaan kamu? Kan kamu bosnya? Bisalah kan ya kasih Hans pekerjaan yang posisinya bagus dan gajinya besar, soalnya kamu kan tahu Tante ini janda butuh biaya besar untuk kehidupan sehari-hari. Sama satu lagi, Tante boleh ya pinjam uang kamu lagi tiga puluh juta saja, soalnya ada yang mau pake jasa pinjaman Tante cuma modal Tante udah habis," pinta Bu Leha tanpa rasa malu sedikit pun, bahkan sepertinya dia juga sudah lupa kalau orang yang dia minta tolong itu sebelumnya dia kata Katai.


 Zaki sendiri sampai melongo di buatnya, meminta segala sesuatu seenak jidat dan udelnya seakan semua yang di miliki Zaki adalah miliknya juga. Memang sudah benar tindakan Zaki untuk tidak menganggap mereka keluarga sepertinya.


__ADS_2