
*Assalamu'alaikum pembaca setia TABIR, di sini author kembali mau mengingatkan kalau novel ini sudah mencapai jumlah kata yang di tentukan. Dan untuk yang masih geregetan sama kisahnya Bu Zaenab dkk, bisa banget kok baca sekuelnya di novel baru author ya.
Masih ingat kan judulnya? Iya, SUAMIKU AJAIB, insyaallah mulai bisa di baca besok ya. Terima kasih sekali lagi author haturkan buat semua yang sudah Sudi meluangkan waktunya bareng author di novel yang masih acak-acakan ini. Semoga di novel selanjutnya kita ketemu lagi ya, author jejak kalian. Lope sekebon binatang.
*Nah, untuk salam perpisahan sama novel ini kita lanjut satu bab lagi ya.
****
Satu bulan berlalu tanpa terasa, hari ini Fatan akhirnya sudah di bebaskan dari penjara. Menghirup udara bebas dengan segala rindu yang bercokol di dalam hatinya akan istri dan sang buah hati yang kini pasti sudah menunggunya di rumah.
Tak sabar, Fatan melangkah menjauh dari pelataran kantor polisi menuju jalan dimana rumah sang istri berada. Panas teriknya matahari tak di pedulikannya di benaknya hanya ingin segera sampai dan melihat wajah bahagia istrinya saat nanti dia sampai ke rumah.
Tak butuh waktu lama hingga Fatan akhirnya sampai di rumah yang selalu dia ingat dan rindukan itu. Suasana tampak lengang, namun suara tawa khas anak kecil bergema dari dalam sana. Dengan langkah pasti Fatan mendekati pintu dan langsung mengucapkan salam dengan bibir melengkung bahagia.
"Assalamu'alaikum," ucapnya hampir bergetar, tak dapat dia bayangkan bagaimana terkejutnya sang istri nanti kala mendapati dirinya yang sudah bebas dari penjara.
"Wa'alaikumsalam."
Fatan menunggu dengan tak sabar, suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat jantungnya seolah berpacu berkali kali lebih cepat.
Greb
Fatan tak dapat menunggu, saat tubuh itu tampak dari balik pintu segera saja Fatan meraihnya dalam pelukan. Di peluknya erat sekali tubuh wangi yang dia kira kira istrinya itu.
"Mas kangen sekali, sayang. Lihatlah, mas menepati janji kan? Mas pulang, mas tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi barang sebentar, mas menyesal atas semua yang sudah terjadi, tolong maafkan Mas ya." Fatan bergumam lirih, sembari menghidu aroma buah yang menguar dari rambut panjang yang ada di depannya.
Tapi tunggu dulu, rambut panjang? Bukankah seingatnya Indi kini memakai jilbab dimanapun berada. Terkejut, Fatan pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap sosok di depannya dengan tatapan horor.
"Intan?" seru Fatan kaget.
Tak lama Indi datang dari arah dalam sambil membawa semangkuk makanan untuk inara, rupanya sejak tadi Indi sibuk berkutat di dapur membuatkan makanan untuk mereka, sedangkan Inara di asuh oleh Intan yang sudah dia perkenalkan sebagai Mamanya.
*
"A- apa maksud perkataan kamu itu, sayang? Kamu ingin Mas kembali menerima Intan sebagai istri ke dua Mas? Apa kamu sudah gi la? Maaf, maksud Mas wanita mana yang akan rela di madu, Indi?" tanya Fatan terkejut mendengar keputusan Indi yang menginginkan Fatan tetap menerima Intan sebagai istri.
Indi mengulas senyum tipis, sedang intan yang duduk di sampingnya a bahkan tak berani mengangkat wajah menatap Fatan. Tapi ada yang berbeda saat Fatan melihat Intan sejak tadi, bukan apa apa, tapi dia melihatnya justru semakin cantik semenjak tinggal dengan Indi. Apa itu artinya Indi sesayang itu dengan Intan? Entahlah, yang Fatan tahu Indi memang tidak pernah sanggup melihat orang lain menderita setelah dia sendiri pernah menghancurkan kehidupan orang lain.
"Iya, Mas. Yang kamu pikirkan benar, aku bersedia menerima Intan menjadi maduku," sahut Indi gamblang.
Sontak jawaban tegas dan lugas itu mencengangkan Fatan yang sama sekali tak menyangka akan ada di situasi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Namun begitulah takdir berjalan, sesuatu yang pada awalnya mungkin tidak baik dan terkesan buruk di mata kita pun, jika di telaah lebih dalam akan menemukan titik temunya masing masing. Kenapa semua itu harus berlaku dan apa akibatnya bagi kehidupan kita.
Setelah bulan bulan tenang yang mereka lewati bersama, di penghujung minggu terakhir setelah Fatan di bebaskan. Intan datang ke dalam kamar mereka dengan sejumlah map di tangannya.
"Apa itu, dik?" tanya Fatan heran, sedangkan Indi yang kebetulan juga tengah berada di dalam kamar yang sama hanya menatap datar saja.
"Ini semua titipan tanah warisan dari almarhum orang tua Mas yang sebelumnya di kelola bapak, Mas. Intan rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk memberikannya kembali pada yang berhak, yaitu Mas Fatan."
Fatan menatap tak percaya pada tumpukan sertifikat tanah yang sebagian ada pula sertifikat berupa lahan sawit dan juga perkebunan karet. Semua itu terjaga tak lepas dari campur tangan Pak Sukri yang sangat ulet menjaga semua amanah dari almarhum Pak Suryo, ayah Fatan.
Dan semenjak itulah, Fatan berjanji akan selalu memperlakukan istri istrinya dengan baik dan adil seadil-adilnya yang dia mampu.
Semua yang terjadi nyatanya membawa hikmah yang sangat mendalam bagi kehidupannya, dan kini dia hanya tinggal memetik hikmahnya saja. Dan menjadikan semua pengalamannya sebagai pelajaran hidup.
****
Sementara itu.
Kemeriahan tengah berlangsung di acara pernikahan antara Pak Jatmika dan Bu Hana yang di selenggarakan secara besar-besaran sekaligus acara aqiqah putri bungsu Dara dan Zaki.
Putri kecil yang pada acara tersebut dh dandani layaknya princess tersebut tampak sangat imut dan mencuri perhatian semua tamu undangan yang hadir.
Tak sedikit tamu yang datang, semua membawa kado yang luar biasa untuk kedua mempelai yang berjodoh di usia senja itu dan juga tak lupa untuk si bayi menggemaskan yang pada malam itu resmi mendapatkan nama barunya.
Setelah pengumuman nama yang akan di sematkan untuk di bayi, tamu undangan mulai berbaur untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
. Kesempatan itu di pergunakan Dara untuk mendekati sang bapak dan ibu tiri barunya yang saat ini tengah asik mashuk di tengah keramaian.
"Ekhem, pengantin baru ini bahagia sekali kelihatannya," seloroh Dara menggoda bapak dan ibu barunya itu.
Bu Hana tersipu sedang pak Jatmika langsung berbalik dan mencium gemas pipi cucu bungsunya itu.
"Sudahlah, jangan iri pada kami toh kamu juga sudah dua kali bukan menjalani hari bahagia seperti ini?" sindir Pak Jatmika telak.
Dara mendesah pelan lalu tertawa. "Bapak ah malah ngungkit yang seperti itu, nggak asik ah. Oh ya, ngomong ngomong ini Dara ada sedikit kado buat bapak sama ibu, di terima ya."
Dara memberikan sebuah kotak kecil ke tangan Bu Hana, dan ibu barunya itu menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih ya, nduk," ucapnya lembut.
"Oh ya , ibu juga punya kado kecil buat si cantik. Tadi ibu titipkan si Halim kadonya, sebentar ya ibu cari dulu anak itu kemana.".
__ADS_1
Bu Hana melangkah ke kerumunan orang dan tak lama kemudian kembali lagi dengan sepasang suami istri yang beberapa waktu terakhir sukses membungkam mulut semua warga yang berani bergunjing tentang mereka yang tak kunjung di karuniai seorang anak.
"Ya ampun, Bu guru? Ini beneran baru lima bulan?" tanya Dara takjub, sebab perut buncit laila tampak seperti ibu hamil yang sudah akan melahirkan dalam waktu dekat.
Laila mengangguk dan tersenyum kecil, seraya tangannya bergerak mengusap usap perutnya yang membusung besar itu. Halim dengan cekatan langsung mengambilkan kursi untuk sang istri duduk, sementara Bu Hana mengambil alih sebuah kado berukuran sedang yang tadi di pegang Halim.
"Iya, nduk. Ibu juga rasanya bersyukur sekali, akhirnya semua doa doa kami dikabulkan . Malah di kasih lebih sama Gusti Allah SWT, mintanya satu aja eh di kasihnya tiga sekaligus, siapa yang nggak senang coba sekali Nerima cucu langsung di kasih tiga, subhanallah.". Bu Hana berkata senang.
"Alhamdulillah, Dara ikut seneng, Bu. Sehat sehat ya, Bu guru. Semoga lancar sampai hari persalinan nanti," ungkap Dara tulus yang langsung di aminkan oleh yang lain.
Dan demikian lah semua seolah berjalan dengan sangat lancar dan bahagia, namun tak semua ending akan selalu berakhir bahagia bukan?.
Sebab setelah semua acara selesai dan para tamu mulai pulang, seorang perempuan tampak mengendap ke belakang tenda pesta yang sebelumnya di gunakan sebagai pelaminan, dan menarik tangan seorang lelaki yang berdiri membelakangi kursi pelaminan sejak tadi.
"Hah? Zulfa? Apa yang kamu lakukan?" bentak Zaki yang kaget karna baru saja hampir jatuh terjengkang akibat ulah Zulfa.
Namun zulfa tak menggubris, justru dengan berani dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Zaki.
"Ssshhh, diamlah Mas. Di sini hanya ada kita, tolong terimalah perasaan ku ini, Mas. Aku rela jadi yang ke dua," gumam Zulfa sedikit mendesah, namun bukannya membuat Zaki bernafsu tapi malah sebaliknya, jijik dan muak.
Dengan kesal Zaki langsung mendorong tubuh Zulfa hingga kini gantian Zulfa yang hampir terjengkang karenanya.
"Jauh jauh kamu dari aku, ji jik aku dekat dekat kamu."
Tapi Zulfa yang tak terima langsung menubruk tubuh Zaki dan memeluknya erat sekali, tepat saat seseorang yang kebetulan lewat di dekat situ menyibak tirai pelaminan yang menutupi mereka.
"Kalian? Apa yang sudah kalian lakukan?"
End
* Dan dengan ini author nyatakan kisah cinta di novel TABIR ini tamat ya pembaca sekalian\, huhuhu. Sekuel untuk kisah Zaki dan Zulfa juga Bu Zaenab tentunya akan di lanjutkan di novel baru dengan judul
SUAMIKU AJAIB'
Insyaallah akan launching besok atau lusa ya, boleh di pantengin atau ketik nama author ya: Lady ArgaLa. Nanti bakalan keluar semua itu karya karyanya jemari author ini. Hehe
Dan dengan ini author juga mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk semua yang sudah mengikuti author hingga sejauh ini, sampai bertemu di SUAMIKU AJAIB, papayyyy
Oh ya buat yang mau terhubung terus sama author dan dapat update terus kalau author up cerita baru, bisa hubungi wa author ya. Sekalian nambah temen heheh.
Ini wa nya :0822 6207 9778
__ADS_1
Babai lop yuuu.