
"Itu di sana masih kotor, masa nggak keliatan sih? Itu di sana juga jelas banget tau debunya masih nempel," ketus Dara menunjuk ke sana kemari pada Indi yang tengah mengepel lantai ruang keluarga.
Sejak kejadian itu, Dara memang memperlakukan Indi dan Fatan bagaikan pembantu di rumahnya. Kalau kalian bertanya kenapa tidak di usir? Keenakan dong mereka kalo cuma di usir, bisa aja dh luaran sana mereka malah mengulang kekhilafan yang bikin nagih itu lagi. Jadi untuk meminimalisir semua kening itu Dara akhirnya memilih mengurung kedua cecunguk itu di dalam rumahnya termasuk ibunya yang tidak tau malu itu sekaligus. Lumayan kan dapat pembantu gratis.
"Dara, sarapan sudah siap." Bu Maryam muncul dari ambang pintu dapur dan melaksanakan tugas hariannya, yaitu memasak untuk mereka sekeluarga.
"Nasi yang buat aku sama anak-anak udah di pisahkan kan? Jangan di satuin loh, Bu. Sama nasi yang buat kalian makan. Agak gimana gitu soalnya," ucap Dara tanpa sedikitpun lagi peduli akan perasaan ibunya dan Indi apakah akan tersinggung atau tidak.
Mereka saja sejak awal tak pernah peduli pada perasaannya kenapa sekarang dia harus berbaik hati?.
"Udah, kan nasi yang buat kamu sama si kembar kamu sendiri yang masak." Bu Maryam berbalik kembali menuju dapur untuk menghidangkan sajian yang sudah dia masak.
Dara beranjak ke meja makan untuk melihat menu apa yang di siapkan ibunya itu hari ini.
"Mbak, aku sarapan dulu ya. Lemes banget loh aku, Mbak dari pagi di suruh ngepel seluruh rumah begini, mana belum di kasih makan. Mbak mau aku sakit?" celetuk Indi menghiba.
Tapi bukan tatapan lembut dan penuh perhatian lagi yang di dapatnya dari Dara, melainkan tatapan sinis dengan bola mata sedikit melebar.
"Apa kamu bilang? Makan? Kamu pel dulu seluruh lantai ruangan ini sampai ke teras sampe kinclong, baru kamu boleh makan! Nggak ada kerja, nggak ada jatah makan buat kamu! Inget itu!" seru Dara geram.
Hilang sudah semua simpati dan rasa kemanusiaan di hati Dara untuk manusia yang sudah mengkhianati nya itu. Perih hatinya bahkan masih berdarah dan di tambah lagi dengan sikap adik dan suami yang seakan tak kapok juga walau sudah di hujat semua netijen.
__ADS_1
Indi berjalan mendekati Dara dengan memegangi perutnya.
"Tapi, Mbak. Perut Indi sakit banget, Mbak. Boleh ya Mbak, Indi sarapan dulu ... sebentar aja, Mbak. Habis itu Indi bakalan ngepel lagi kok sampe selesai semuanya," rengek Indi lagi, membuat Dara benar-benar jijik melihat tingkah manjanya yang masih saja tidak berubah.
Dara mengatupkan rahangnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Indi, membuat Indi merasa begitu terintimidasi.
"Kamu nggak denger Mbak bilang apa? Kamu mau Mbak bikin kelaparan seharian hm?"
Indi menggeleng cepat dan kembali melakukan tugasnya mengepel lantai.
"Setelah itu selesai langsung kamu keringkan lantainya, jangan sampai lantai basah membuat anak-anak ku jatuh. Atau ...." Dara membuat gerakan melingkar di lehernya membuat Indi serta merta begidik ngeri dibuatnya.
"Ya ampun, Mbak Dara kenapa bisa jadi kayak psikopat kayak begitu sih? Duh, masih aman nggak ya aku sama ibu tinggal di sini? Tapi mau pulang ke kampung juga nggak bisa, duit aja kaga gablek. Duh, nasib ... nasib. Padahal pelakor di luar sana loh bisa hidup bahagia bergelimang harta dari om om simpanannya. Lah ini aku kenapa jadi malah jadi pembantu sih? Mana gratis lagi," gumam Indi sambil terus mengepel lantai dengan gerakan di percepat.
Perutnya tidak bohong, dia benar-benar kelaparan. Sambil memegangi perutnya yang kempes Indi berusaha agar lantai itu semuanya terpel dengan baik agar dia secepatnya bisa makan. Ya, hanya dalam hitungan hari dan hidupnya sudah semiris sekarang. Kasian? Ooh, tidak kecuali kamu malaikat ya mungkin saja kasihan.
Tampak dari luar Fatan masuk ke dalam dengan keringat bercucuran, sejak matahari belum terbit dia sudah di perintah Dara untuk memangkas rumput di halaman dan mencuci sebuah mobil dan motor miliknya sampai bersih. Kenapa Fatan tidak menolak dan tetap bertahan di rumah itu? Jawabannya karna ternyata rumah orang tuanya sudah dia gadaikan untuk menuruti semua kemauan Indi sebelum ini. Agar Dara tidak curiga dengan semua pengeluarannya yang luar biasa banyak saat masih bebas berkencan dengan Indi dulu, tapi kini semua hanya menyisakan penyesalan yang tak akan pernah ada ujungnya.
"Sayang, Mas sudah selesai ngerjain semua yang kamu suruh. Mas boleh makan sekarang?" tanya Fatan dengan wajah lelah dan memelas.
Keringatnya bercucuran bahkan sampai membasahi lantai walau hanya setetes dua tetes.
__ADS_1
Dara menoleh, dan hatinya mencelos. Wajah itu, wajah yang dulu begitu di damba dan di pujanya. Kini menatapnya dalam dengan permohonan kecil akan sepiring makanan di sana. Tampak kentara sekali saat Fatan menelan ludah melihat makanan di piring Dara.
"Makanlah, tapi bersihkan dirimu lebih dulu, Mas." Dara akhirnya mengalah dengan kata hatinya yang memang sebenarnya penuh kasih sayang itu.
Kalau kalian bertanya kenapa Dara bisa berubah sikap menjadi seperti seorang psikopat jika marah, itu karena semua sakit hati yang bertumpuk yang selama ini di pendamnya sendiri meledak keluar dan membuatnya bahkan hampir tidak bisa mengatasinya.
Fatan tersenyum sumringah dan langsung masuk ke kamar mandi, dia menangguhkan dulu niatnya untuk mandi. Dara sedang berbaik hati maka dia tak akan menyiakan kesempatan untuk bisa menikmati sepiring makanan yang belakangan ini sangat sulit dia dapatkan.
"Terima kasih, Sayang." Fatan tersenyum pada Dara walau Dara sama sekali tidak berminat membalasnya.
"Nikmati makanannya, lalu setelah itu pergilah untuk mencari pekerjaan," titah Dara pelan, tapi cukup menohok batin Fatan.
"Yah, setelah ini Mas akan kembali coba cari kerja. Semoga saja akan ada perusahaan yang masih mau menerima Mas. Kamu kan tau sendiri bagaimana image Mas di masyarakat sekarang. Sulit bagai mereka percaya sama Mas, karena ...."
"Apa, Mas? Kamu mau nyalahin aku karena udah bikin kamu dan Indi viral?" sela Dara tak suka.
Fatan menggeleng cepat, ingin rasanya dia mengiyakan namun apa daya dia masih butuh Dara untuk bisa bertahan hidup. Karna saat ini dia tidak mempunyai uang dan apapun lagi, semua miliknya di ambil alih peluh Dara dan di sembunyikan entah dimana.
"Mas, nggak bermaksud begitu, Sayang."
Dara mengangkat sebelah tangannya. "Stop, berhenti memanggil aku Sayang. Aku jijik denger kalimat itu keluar dari mulut kamu asal kamu tau! Apa kamu masih belum sadar juga seberapa besar dosa kamu sama aku hah? Bahkan dengan tidak tahu malunya kamu dan Indi masih ...."
__ADS_1