
~DUA JAM MENJADI ISTRIMU~
Setelah peristiwa di mall beberapa waktu lalu, Dara dan Zaki menjadi terlibat kecanggungan luar biasa. Sedangkan Fatur malah semakin lengket ke Zaki setiap kali Zaki datang ke rumahnya untuk menyiapkan segala keperluan untuk acara pernikahannya dan Indi.
Siang itu, suasana rumah sedang ramai karna para tetangga yang datang untuk membantu memasak dan lainnya untuk kelangsungan acara yang akan berlangsung esok hari. Semua orang sibuk, tak terkecuali Dara. Kesempatan itu sama sekali tak di sia-siakan oleh Indi dan Fatan untuk bisa sekedar bermesraan di dalam kamar Indi yang terkunci rapat karena sedang di pingit.
"Mas ... nanti kita bakalan begini terus kan?" tanya Indi sambil terus menggerakkan tangannya di dada dan perut Fatan yang kotak-kotak.
Fatan mengecup kening Indi dalam, sembari menghidu aroma yang menguar dari rambut Indi yang baru saja perawatan di salon.
"Semoga saja kita masih bisa terus begini, kamu bisa minta Zaki buat tinggal di blok belakang itu kan?"
Indi mengangguk. "iya, Mas. Bakal Indi lakuin apapun supaya kita bisa selalu dekat."
Mereka lagi lagi terlarut dalam kubangan dosa itu, nikmat sesaat yang begitu di puja hingga melupakan semua kehidupan sempurna sebelumnya. Mengubah citra baik menjadi sehitam jelaga.
Sedang di kamarnya Dara tampak tersenyum puas sembari menilik ponselnya.
"Teruslah nikmati saat-saat terakhir kalian, setelah itu ... bersiaplah untuk kado dariku esok." senyum di bibir Dara merekah lebar, tapi bukan senyum manis seperti biasanya melainkan senyuman miris yang sarat akan dendam.
****
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, segala hiruk pikuk khas hajatan sudah mulai terdengar bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Indi tersenyum puas menatap riasan wajahnya di cermin, semua sangat sesuai keinginannya, namun mungkin tidak dengan acaranya nanti. Sebuah kejutan sudah menanti.
"Bagaimana? Apa kamu sudah urus semuanya?"
"Sudah, Bos. Dan semua akan berjalan sesuai keinginan Bos. Bos tinggal duduk dan saksikan saja semuanya."
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
Ceklek
"Mama! ayo keluar, ngapain di kamar terus gelap-gelapan?" panggil Farah sambil berlari masuk dan menggandeng tangan Dara menuju keluar kamar.
Dara memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang di bawanya dan menuruti ajakan putri kecilnya itu.
"Mbak El!" seru Farah sambil menaeik Dara menuju tempat dimana Elis dan Fatur duduk menikmati es krim yang merupakan salah satu hidangan acara.
"Woahhh, Mbak Dara cantik banget! Ini sih mau nyaingin pengantinnya kayaknya," celetuk Elis takjub melihat hasil riasan tangan Dara yang selama ini tak pernah di praktekannya.
Dara tersipu malu dan duduk di dekat Elis. Sedang si kembar kini mulai berbagi es krim dengan saling menyuapi.
"Mbak memang sengaja mau nyaingin pengantinnya, biar dia tau dimana letak posisinya kalau di bandingkan sama Mbak," desis Dara di dekat telinga Elis.
Mata Elis membulat, namun dia tak membantah sama sekali dan lebih memilih mendukung Dara akan apapun itu karna dia tau kalau Dara di pihak yang benar.
"Apapun itu, Elis bakalan terus dukung Mbak. Tetep semangat ya, Mbak."
Dara mengangguk dan mengetik sebuah pesan di ponselnya.
Send..
Pesan terkirim dan langsung centang biru, tak lama sebuah stiker jempol membalas pesan Dara.
"Hitung mundur detik-detik terakhirmu, pengkhianat!" desis Dara tersenyum miring.
Di sana di depan sana, sepasang pengantin itu sudah di dudukkan bersampingan. Sesekali saling lirik lalu tersenyum malu seperti layaknya pengantin baru. Fatan sendiri turut duduk di atas pelaminan untuk menjadi saksi dari pernikahan adik iparnya sekaligus teman kencannya itu, sedangkan untuk wali sudah di wakilkan oleh wali hakim karena Indi adalah seorang yatim.
"Saya nikahkan engkau saudara Zaki Abdillah Abbas bin Zubair al-abbas dengan Indira Aulia sari binti almarhum Ahmad Subagyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar seratus juta rupiah di bayar tunai."
Lantunan kalimat ijab sudah menggema, tampak oleh Dara bagaimana Fatan menatap Indi dengan sendu, benar-benar menjijikan di matanya.
"Saya terima nikahnya Indira Aulia Sari binti almarhum Ahmad Subagyo dengan mas kawin yang tersebut tunai." Zaki menjawab tegas dengan sekali tarikan nafas.
__ADS_1
"Bagaimana saksi?"
"Sahh!" lagi, terlihat jelas di mata Dara kalau Fatan begitu berat mengucapkan kata sah saat penghulu itu bertanya, dia menunduk sekilas pandang tampak raut sesal begini kental di air mukanya.
"Tcih, laki-laki brengs*k!" umpat Dara pelan.
Dara membuang pandangan ke arah lain sampai penghulu selesai membacakan doa dan juga serangkaian prosesi yang harus di lewati usai akad nikah.
"Mama, kenapa Om baik di sana sama Tante Indi? Om baik kan papanya Fatur," rengek Fatur saat melihat Zaki berpose berduaa bersama Indi setelah ijab qobul.
Dara tersenyum miris dan mengangkat tubuh gembul anaknya untuk duduk di sisinya.
"Cuma sebentar, Nak. Nanti om baik bakalan jadi punya Fatur kok, Fatur yang sabar ya," ucap Dara lembut menenangkan hati bocah lima tahun yang tengah gelisah itu.
Fatur mengangguk pasrah walau matanya sejak tadi tak lepas memandang Zaki yang tampak tertawa lepas di hadapan sana. Fatur bahkan tak sedikit pun bergeming saat Fatan datang padanya untuk mengajaknya dan Farah berpose dengan pengantin.
" Yakin Fatur nggak mau? Ya udah biar Papa dan Farah aja klo gitu." Fatan berlalu sembari menggendong Farah yang tetap terlihat ceria sebagaimana anak-anak biasanya.
Anehnya, Fatan bahkan tidak mengajak Dara untuk turut serta berpose di depan sana. Entah lupa atau memang sengaja karna di sana terlihat Fatan hanya mau berpose dengan berdiri di sebelah Indi, dan bukan Zaki.
Dara mencebik, dia tidak peduli sama sekali akan hal itu karna tujuannya sekarang bukanlah untuk kembali mendapatkan Fatan, dia sudah ikhlas kalau nantinya akan berpisah dari Fatan.
"Dara nggak ikut foto?" tanya Bu Ambar sambil duduk di sebelah Dara, dirinya baru saja turun dari panggung setelah mengambil beberapa foto dengan anaknya dan menantu barunya.
Dara menggeleng pelan, tak lupa senyum manis dia persembahkan untuk perempuan paruh baya yang lembut itu.
"Dara agak nggak enak badan, Bu."
Bu Ambar menepuk pundak Dara pelan. "Yah, kamu kan pasti capek udah ngurusin semua ini. Apa lagi di adainnya di rumah kamu, ya jelas kamu yang paling capek. Ibu salut sama kamu, padahal ibu denger dari ibumu kalau kamu bukan anak kandungnya dan Indi bukan saudara kandung kamu, tapi ... kamu masih ikhlas rumahmu di jadikan tempat acara bahkan Indi tinggal di sini kan selama ini?"
Lagi, Dara mengangguk membenarkan.
"Ah, sebenarnya andai kamu belum bersuami. Ibu lebih sreg sama kamu buat jadi mantu ibu ketimbang Indi. Cuma ya mau gimana? takdir sudah bicara dan kita sebagai boneka tuhan ini bisa apa?" kekeh Bu Ambar.
__ADS_1
Dara kembali tersenyum, namun getaran di ponselnya membuatnya teralihkan sesaat untuk memeriksanya.
(Bos, semua sudah siap. Satu jam dari sekarang rencana A akan di laksanakan)