
"Mama!" panggil Fatur sambil berlarian menuju Dara yang tengah bersiap untuk pergi ke butiknya. Namun tentu saja belum ada satu orang pun dari keluarganya yang tau tentang itu, Dara sangat merahasiakannya karena tak ingin ada yang memanfaatkan dirinya.
"Ada apa, sayang?" sambut Dara sambil membawa bocah lelaki tampan itu ke dalam pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman.
"Mama, kapan kita ketemu om baik lagi?" tanya Fatur polos, mata beningnya bahkan menyiratkan keinginan yang dalam untuk bisa bertemu Zaki kembali.
"Hummm, kenapa memangnya?"
Dara melepas pelukannya dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh tegap putranya itu.
"Fatur kangen, udah lama nggak ada yang anak Fatur main bola. Fatur bosen main sama Farah, di ajak main boneka mulu, apalagi Mbak Elis sama sekali nggak bisa main bola," protes Fatur seakan dia adalah pemain bola paling hebat sampai berani menilai kemampuan Elis.
Yah, walau pun apa yang dia bilang banyak benernya sih.
"Mama juga nggak tau, Sayang. Mungkin nanti kalau sudah waktunya, dan om baik juga nggak sibuk kita bisa ketemu lagi seperti kemarin," papar Dara berusaha memberi pengertian ke bocah yang kritis itu.
"Apa Mama nggak punya nomor telepon om baik?" cecar Fatur tak puas.
Dara menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum terbaiknya yang kini hanya di pamerkan ke pada kedua anaknya saja.
Fatur mendesah dengan kedua bahu yang jatuh melorot, tampak kentara sekali kalau bocah lima tahun itu tengah bersedih.
"Sabar ya, Sayang. Nanti pasti kalian bakalan ketemu lagi kok. Toh kan om baiknya juga punya rumah di komplek belakang rumah kita," hibur Dara pada anaknya yang matanya mulai berkaca-kaca itu.
Melihat bibirnya manyun yang perlahan membentuk sebuah senyuman itu membuat Dara gemas ingin menggigiti nya. Namun karna tak tega membuat anaknya kesakitan akhirnya Dara hanya bisa merapatkan rahang dan membuat seolah-olah ingin menerkam Fatur.
"Janji ya Mama, kita bakal ketemu om baik lagi." Fatur menyodorkan jadi kelingkingnya sebagi tanda perjanjian.
Dan dengan senang hati Dara mengaitkan kelingkingnya ke jari mungil putranya itu.
*
__ADS_1
"Mbak! Mbak Dara!" panggil Elis sambil berkeliling rumah mencari keberadaan Dara.
"Haish, anak satu ini kerjaan ya dah kaya bos aja teriak teriak. Kamu pikir yang tinggal di sini kalian doang? Pikirin orang lain yang juga butuh ketenangan buat istirahat dong!" hardik Bu Maryam yang tengah menyiram tanaman di teras belakang, bersebelahan dengan kamarnya dan juga Indi.
Indi sedang tidur, efek obat membuatnya selalu mengangguk. Itu pula sebabnya Bu Maryam tak ingin ada keributan yang berpotensi membuat Indi terbangun dari tidurnya.
"Kalau nggak mau berisik sana di hutan sekalian! Lagi pula sini juga bukan rumah ibu kok, ngapain ibu yang ngatur-ngatur." Elis menyahut ketus setelahnya kembali sibuk berkeliling rumah untuk mencari Dara.
"Dasar pembantu kurang ajar! Mentang-mentang kerjaannnya cuma ngasuh si kembar aja kok berlagak seperti orang kepercayaan bos besar. Eh, apanya yang Bos? Suami aja sekarang pengangguran," omel Bu Maryam sembari terus menyirami tanaman yang sebenarnya sudah sangat kebanyakan air itu.
"Mbak Dara!" seru Elis lagi, kali ini baru kakinya berayun menuju ke garasi di samping rumah, berharap yang dicarinya ada di sana.
"Mbak?"
Elis membuka pintu garasi yang begitu mudah di buka pertanda sedang ada orang di dalam garasi tersebut.
"Cari saya?" Dara muncul dari sisi kanan Elis yang genap, bajunya yang berwarna maron tampak sangat kontras dengan kondisi garasi itu.
"Heiittt, Mbak Dara! Ngagetin aja sih, kalo sampe jantung Elis pindah ke empedu gimana?" protes Elis dengan wajah bersungut-sungut.
"Mau kemana sih, Mbak? Ada yang mau Elis sampeein loh, mumpung si kembar lagi tidur siang." Elis mengikuti langkah kaki Dara sampai akhirnya mereka sampai di sudut atap rumah yang begitu bersih dan cantik, ada dua Bean bag di sana dengan sebuah meja kecil dan bebatuan juga rumput sintetis yang sengaja di letakan di sana untuk menambah kesan segar.
"Ada apa?" tanya Dara santai sambil membuka bungkusan ciki di tangannya.
Elis tak langsung menjawab karna matanya kini sibuk memindai tempat yang baru dia ketahui rupanya ada di rumah tersebut.
"Heh, Lis! Katanya mau ngasih tau sesuatu ... tapi kamunya malah bengong aja gitu." Dara menyesap minuman kaleng yang juga sudah tersedia di dalam sana. Lengkap layaknya minimarket.
"Ah ,iya Mbak." Elis tergagap dan mengusap wajahnya yang sepertinya tadi bereskpresi terlalu norak.
"Kamu mau bilang apa tadi, cepetan." Dara menatap Elis dengan tatapan tak wajar.
__ADS_1
"Itu, Mbak. Pak Fatan masa dari tadi pagi berdiri di tengah jalan, nggak tau nungguin apa dan siapa. Tapi di sana udah lama banget, Mbak." cecar Elis dengan semangat 45.
Dara meletakkan cikinya dan langsung berdiri menatap Elis.
"Yang benar kamu, Lis." Dara langsung beralih menuju pagar tepian rooftop untuk membuktikan kebenaran ucapan Elis.
Elis membuntuti dengan wajah panik dan turut merengut karna masih menyimpan kekesalan pada Fatan.
Tapi sepertinya apa yang di katakan oleh Elis ada benarnya, ketika melongok dari rooftop tampak oleh mereka tubuh lunglai Fatan yang berdiri menantang teriknya sang mentari di tengah aspal jalan yang panas tertimpa matahari.
"Ngapain Mas Fatan di sana?" gumam Dara pada dirinya sendiri.
Tapi dasarnya Elis kepo dan mempunyai kelebihan bisa mendengar suara sekecil apapun. (Ini bercanda).
Dengan antengnya dia malah menyeletuk. "Mungkin Mas Fatan mau bunuh diri, Mbak. Mungkin capek jadi pengangguran dan dia juga gengsian, nggak mau makan masakan rumah ini. Kali aja dia mah udah kelaparan banget itu kayaknya."
Dara menggeleng pelan, tidak menyetujui ucapan Elis.
"Ngapain juga Mas Fatan pake mau bunuh diri? bukannya bersyukur masih di kasih nafas panjang malah mau di putusin, aneh." Dara beranjak bangkit dan meninggalkan tempat itu, kembali menuruni tangga dan menutupinya dengan poster besar yang ada di garasi. Itulah sebabnya tak ada tau tempat rahasia Dara tersebut, kecuali Elis tentunya dan Elis sendiri sudah pernah berjanji tak akan pernah menyebarkan urusan Dara ke pihak luar, siapapun itu.
"Loh, mau kemana lagi sih, Mbak?" tanya Elis heran ketika melihat Dara kembali keluar dari garasi dengan raut wajah dingin.
"Buang sampah." Dara menyahut dengan singkat, padat, dan sangat jelas maksud dan tujuannya.
Walau artinya yang di maksud Dara dan yang ada di pikiran Elis tentu saja jauh berbeda.
Dara menuju pintu gerbang yang terbuka, tak jauh dari sana tampak Fatan masih belum bergeming dari tempatnya semula.
Dara mencebik dan tertawa sinis, kedua tangannya dia lipat di dada dan bersandar di tepi pagar dengan santai.
"Ngapain kamu di situ, Mas? Bukannya kalo mau bunuh diri lebih cepet di rel kereta sana ya? Di sini mah jarang mobil lewat, Mas paling ada juga mobilnya kita-kita aja. Mendingan di rel kereta sekali tabrak kan auto pindah alam, tapi nggak tau sih sakit atau nggak."
__ADS_1
Fatan masih diam tak bergeming. Jadi Dara kembali melanjutkan ucapannya walau dia tau kini Elis tengah mendengarkan semua tausiyah nya.
"Oh ya, Mas. Ngomong-ngomong ... aku udah nggak bisa lagi masih sama kamu, jadi ... mulai sekarang kamu bisa talak aku, dan aku akan ajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Kamu nggak usah dateng ya, Mas. Biar prosesnya cepat, soalnya aku udah muak sama sampah kayak kamu. Sudah waktunya bersih-bersih dan semua sampah ... harus di buang, di tempat asalnya."