
Zulfa menunduk dalam. "Masih, Bu tapi ... sekarang hanya di jatah satu juta saja sebulan karna menurut Mas Haris sekarang dia tengah butuh biaya banyak untuk mempersiapkan kelahiran anaknya nanti. Makanya Zulfa sekarang mati matian banting tulang jadi tukang cuci gosok juga kadang jadi buruh karet di perkebunan untuk memenuhi semua kebutuhan Zulfa di sini."
Brakkk!
"Apa yang kamu katakan, Zulfa? Jangan memutar balikkan fakta seolah kamu saja yang benar!" pekik seseorang yang baru saja datang dari arah pintu, matanya tajam menatap zulfa seolah ingin menelannya hidup hidup.
Zulfa mendongak, dan betapa terkejutnya melihat ibu mertuanya yang berdandan ala anak muda itu sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah berang.
Zulfa tergagap, menatap Bu Zaenab seolah meminta pertolongan.
"Hei, besan apa maksud kamu membentak anak saya seperti itu?" hardik Bu Zaenab yang juga tak rela anaknya di bentak orang lain walau itu mertuanya sendiri.
Mertua Zulfa, Bu Tika melotot pada Bu Zaenab. Perempuan yang sejak dulu memang begitu ayu karna rutin perawatan ke salon itu tampak tak terima di kritik oleh Bu Zaenab.
"Memangnya kenapa? Wajar kan kalau saya marah jika menantu saya salah? Bukannya besan juga begitu?" ucap Bu Tika seolah menyindir Bu Zaenab.
Merasa tertampar, Bu Zaenab mendadak diam. Dia ingat jika memang demikian lah sifatnya pada sang menantu yang hingga kini tak pernah mau dia akui sebagai, siapa lagi orangnya kalau bukan Amar, suami dari Ziva. Padahal kalau di pikir pikir Amar sangatlah baik padanya sejak dulu, tak pernah sengaja menyakiti hatinya untuk alasan apapun, namun Bu Zaenab sejak dulu terlalu gengsi untuk mengakuinya hanya Karna Amar bukan anak orang kaya.
"Kenapa diam?" imbuh Bu Tika lagi. "Nah situ sadar diri kan kalau sering memarahi menantu yang tidak bersalah. Yang begitu baru namanya salah, kalau ini kan saya juga punya alasan mengatakan semua ini pada Zulfa. Sebab semua yang terjadi di sini bukan sepenuhnya kesalahan haris."
"Lalu kesalahan siapa kalau bukan si Haris? Jadi maksud besan yang salah di sini anak saya begitu? Padahal sejak dulu saya tahu sekali dia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Haris, tapi apa balasanya? Bukankah anak kamu itu yang tidak tahu di untung dan malah enak enakan menikah lagi lalu anakku di buang di tempat ini tanpa nafkah yang layak?" seru Bu Zaenab pula, tak terima sama sekali dengan penghakiman Bu Tika terhadap putrinya.
Bu Tika mendekat, Bu Zaenab dengan sigap langsung memeluk tubuh Zulfa ke dalam dekapannya, seolah melindunginya dari ancaman mertuanya.
"Kamu tanya sama anak kamu yang tersayang ini, tanya sama kenapa hingga saat ini dia belum juga hamil? Sudah cukup bertahun tahun kami menunggu akan hadirnya seorang pewaris dari dirinya namun apa yang kami dapat selain harapan palsu? Kamu bisa jawab ha? Jangan hanya bekoar koar seolah anak saya yang salah karna menikah kembali. Kami butuh pewaris, dan anak kamu ini tidak bisa memberikannya, dia itu mandul ."
__ADS_1
Plaaaakkkkkkk
Kesal mendengar anaknya di sebut mandul oleh besannya, Bu Zaenab tanpa pikir panjang langsung melayangkan tamparan sekuat tenaga ke muka besannya yang selalu penuh dengan make up itu.
Bu Tika seketika terhuyung mundur lalu jatuh ke atas karpet usang yang terhampar menutupi lantai keramik yang sebagian keramiknya sudah mulai gompal.
"Kamu ...."
"Apa? Kamu pikir cuma kamu saja yang sakit ha? Hati saya dan anak saya ini juga sakit, bisa bisanya kamu menyebut anak saya ini mandul. Bisa saja anak kamu yang sombong itu yang mandul makanya Zulfa tidak bisa hamil sampai sekarang. Bisanya mengatai orang saja, ngaca dong!" Bu zaenab menyela cepat ucapan Bu Tika yang belum sempat di selesaikannya.
Bu tika geram, ingin lekas membalas namun rasanya rahangnya kini seperti rontok akibat tamparan dari Bu Zaenab tadi. Hingga untuk beberapa waktu Bu Tika memilih diam di tempat sembari memulihkan tenaganya.
"Bu, harusnya ibu nggak perlu main kasar. Kasihan Mama Tika, Bu." Zulfa menatap Bu Tika dengan pandangan tak tega.
"Halah sudah biarkan saja, maklum saja namanya orang kaya itu manja kena tampol sedikit saja langsung k.o tapi sok Sokan mau nyerang segala, sekalinya di balas langsung terkapar seperti itu, huh rasakan." Bu Zaenab mengomel sendiri sembari mengusap lengan Zulfa.
"Dasar kampungan, bisa bisanya kamu menampar saya ya. Kurang ajar," gumam Bu Tika seraya bangkit dan hendak menyerang Bu Zaenab.
Namun Bu Zaenab langsung sigap, sebelum bu Tika bisa menyentuh tubuhnya dia langsung mengait kaki Bu Tika dan mendorong tubuhnya hingga terjengkang ke belakang dengan pinggangnya mendarat terlebih dahulu.
"Aduuuuhhhhh," erang Bu Tika kesakitan, tangannya bergerak mengusap usap pinggangnya yang terasa linu.
Bu Zaenab melebarkan senyumnya, namun sesaat kemudian senyum itu pudar seiring dengan datangnya seseorang yang tak pernah mereka sangka.
"Hei, ada apa ini? Kenapa ribut sekali?".
__ADS_1
Zulfa menatap ke arah sumber suara, matanya langsung membelalak lebar setelah melihat siapa gerangan yang tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam menahan marah.
"M- mas Haris ...."
Zulfa menunduk tak berani mengangkat wajahnya menatap Haris yang tampak tengah di kuasai amarah.
"Haris! Tolong Mama, Nak." Bu Tika berteriak mengiba sembari memegangi pinggangnya yang terasa sangat linu.
Haris masuk, mendekat ke arah ibunya dan membantunya berdiri.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Mama ku, Ha?" bentak Haris terdengar sangat marah.
Bu Zaenab sendiri tak mampu berkata kata, untuk pertama kalinya ini dia melihat anak menantu yang selama ini selalu di sayangi dan di banggaknnya Karna berasal dari keluarga kaya malah membentaknya seperti orang asing yang tak perlu di hormati.
"Aku tanya pada kalian, apa yang sudah kalian lakukan pada Mamaku! Apa kalian tidak punya mulut untuk bicara?" bentak Haris lagi, menbuat Bu Zaenab semakin keder di buatnya.
"Ammm, itu itu anu ...."
"Anu apa ha? Kamu yang sudah membuat Mama begini, Zul? Jawab!" seru Haris semakin marah suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan kecil rumah tersebut, membuat Bu Zaenab turut tak berani untuk membuka mulutnya membalas menantunya yang tiba-tiba bertingkah bak raja neraka itu.
Bu Tika yang berdiri di belakang anaknya kini menyeringai puas, Bu Zaenab tahu kalau sebenarnya semua ini sudah di atur sedemikian rupa oleh besannya, namun kini semua sudah terlambat dia tak bisa apa apa lagi selain menerima kemarahan Haris.
"Baiklah, kalian tidak ada yang mau menjawab rupanya. Jangan salahkan kalau aku akan bermain kasar setelah ini, kalian sendiri yang memulai semuanya." Haris mengancam, lalu berlalu cepat dengan wajah merah padam masuk ke dalam rumah
Entah apa yang akan dia lakukan, tapi Bu Zaenab dapat merasakan kalau ini bukanlah hal yang baik.
__ADS_1