TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 16. SEMAKIN INTENS


__ADS_3

Fatan yang tengah asik bersemedi sembari membaca tulisan yang ada di botol karbol pewangi kamar mandi sontak terkejut saat pintu kamar mandi tampak di buka sedikit kalau langsung tertutup kembali.


Dia baru ingat kalau lupa mengunci pintu itu dari dalam, untungnya tidak ada yang langsung nyelonong masuk begitu saja.


Terdengar suara ribut-ribut di luar, karena penasaran Fatan gegas menyudahi ritualnya dan memakai kimono handuknya.


"Ada apa?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada kok, Mas. Kamu udah mandinya?" ucap Dara sambil tersenyum manis.


Di meja makan tampak Indi duduk dengan mulut manyun dan terlihat sangat kesal.


"Udah kok, aku siap-siap dulu ya. Anak-anak cepet mandi ya, nanti kita telat ke sekolah," titah Fatan sambil berlalu ke dalam kamarnya.


"Iya Papa," kompak si kembar menyahut dan langsung membawa piring mereka yang sudah kosong untuk langsung di cuci.


Dara berdiri dan membantu si kembar mencuci piring dan gelas mereka, setelah itu memandikan dan menyiapkan anak-anaknya untuk sekolah.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Fatan setelah keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi.


Aroma maskulin menguar dari tubuh Fatan membuat jantung Indi yang berada di dekatnya bagai ditabuh genderang perang.


"Eh, humm nggak kok Mas. Nggak apa-apa," sahut Indi kikuk.


Makanan di piringnya yang sejak tadi hanya di aduk-aduknya saja kini mulai di suapkan ke mulutnya.


'mood booster banget sih kakak ipar satu ini, udah ganteng, baik, tajir lagi. Duh sayang banget udah punyanya Mbak Dara,' batin Indi.


"Gimana kerja sama Zaki? Betah?" tanya Fatan lagi sembari menyendok nasi goreng miliknya yang sudah di siapkan Dara di atas piring lengkap dengan telurĀ  ceplok setengah matang dan suiran ayam kesukaannya.


Indi mengangguk ragu, namun akhirnya menjawab seakan tidak ada apa-apa.


"Alhamdulillah lancar aja kok, Mas. Betah-betah aja, ya namanya kerja kan nggak ada yang langsung enak," sahut Indi tersenyum santai.


Fatan manggut-manggut tanpa menjawab, namun aura ketampanannya yang memancar membuat Indi benar-benar silau sampai hampir lupa kalau yang ada di depannya adalah kakak iparnya.


Kembali dia berusaha mencari perhatian Fatan, karena belum di dapatnya tanda-tanda Dara akan kembali ke meja makan.


Indi mengerakkan kakinya di bawah meja, mengelus punggung kaki Fatan sambil tersenyum nakal.


"Mmmm ... Mas, makasih ya untuk hapenya," desah Indi mulai menatap sayu.


Fatan tercekat, nasi yang baru saja di tekannya terasa tersangkut di tenggorokan. Lekas Fatan meminum segelas air yang sudah dituangkan Dara untuknya dan kembali menatap Indi dengan mata melotot.


Sreett


Fatan menjauhkan kakinya dari jangkauan Indi, menekan dadanya sambil terus beristighfar.


"Astaghfirullah, astaghfirullahaladzim. Hush, hush, pergi kau setan," desis Fatan dengan nafas naik turun.


Bukan dia tak terpancing dengan perilaku Indi, sebagai lelaki normal tentu saja Fatan merasakan pula gejolak aneh di dalam dirinya bila berhadapan dengan Indi yang notabene sering berpakaian lumayan terbuka bahkan jika di dalam rumah.

__ADS_1


"Mmm, maaf In. Tolong jangan kayak gini, ada Dara di rumah. Mas nggak mau dia salah paham," tegas Fatan masih dengan kepala tertunduk.


Indi tersenyum licik.


"Oooh, jadi kalau nggak ada Mbak Dara Mas mau?" goda Indi lebih lanjut, bahkan kini dengan berani dia mulai menyentuh tangan Fatan yang berada di atas meja.


Dahi Fatan berkeringat, dengan raut gugup tampak kentara di wajahnya.


"K ... kalau gitu, Mas berangkat dulu. Udah siang," tukas Fatan sambil menarik tangannya dari genggaman Indi dan berjalan menjauh.


Indi yang di tinggalkan sendiri di meja makan kembali tersenyum sinis.


"Kamu nggak bisa lepas dari aku, Mas Fatan. Kalaupun nggak bisa memiliki setidaknya aku harus bisa merasai kamu," desis Indi pelan.


Setan mulai menguasai pikiran Indi, entah apa yang akan di rencanakannya ke depan.


****


Di pelataran kafe tampak Zaki tengah berjalan mondar-mandir sambil melihat ponselnya. Wajahnya tampak kesal namun dalam waktu bersamaan juga khawatir.


"Astaga, kamu dari mana aja sih? Ini udah jam berapa? Kenapa baru dateng?" omel Zaki saat Indi baru saja memasuki halaman kafe dengan motornya.


Tak mempedulikan omelan Zaki dengan santainya Indi membuka helmnya dan mengibaskan jilbab pashmina yang di pakainya, seperti anggota geng motor seksi.


"Kamu denger nggak sih saya ngomong?" desak Zaki karena kesal dicuekin oleh Indi.


Indi menoleh dengan senyum di paksakan.


"Selamat pagi, Pak Zaki."


Indi mendesah sambil mencebikkan bibirnya.


"Jam delapan pagi, Pak Zaki." Indi kembali memaksakan senyumnya.


"Dan kamu tau kan jam masuk kamu jam berapa untuk hari ini?"


"Tau Pak Zaki, jam 07.59 Pak," sahut Indi masih berusaha tersenyum walau tak ikhlas.


"Kamu telat satu menit kamu tau?" seru Zaki menunjuk kening Indi.


Mata Indi membulat, ingin protes tapi ngomel kan bos. Membuatnya jadi serba salah sekarang.


"Maaf, Pak. Lain kali saya akan berangkat sebelum matahari terbit supaya nggak telat," ujar Indi dengan maksud tersirat.


Zaki tampak tertegun sesaat, kemudian kembali ke mode masa bodoh.


"Sebagi hukuman, hari ini kamu harus ikut saya. Dan lakukan apapun yang saya suruh ke kamu, paham?" Zaki kembali menunjuk kening Indi.


Indi mengangguk patuh, tapi kemudian saat Zaki berbalik dia mulai mengepalkan tangannya dan meninju-ninju udara yang ada di belakang kepala Zaki.


Zaki berbalik dengan tiba-tiba sambil menatap ponselnya, untungnya dia tak melihat Indi yang masih menggantung tangannya di udara. Cepat-cepat Indi menurunkan tangannya dan bersikap seakan tidak ada apa-apa.

__ADS_1


"Sekarang kamu ikut saya, jangan protes dan jangan bertanya apapun," titah Zaki sambil berjalan mendahului Indi menuju mobilnya.


Indi melangkah dengan sebal, tampak jelas dari kakinya yang di hentakkan.


Setelah keduanya masuk, Zaki menyodorkan ponselnya pada Indi. Namun Indi diam saja tak bertanya ataupun mengambil ponsel tersebut.


"Kamu kok nggak bersuara," tanya Zaki heran.


Indi menoleh sambil mendengus keras.


"Tapi tadi katanya nggak boleh protes dan nggak boleh nanya," ketus Indi menyilangkan tangan di dada.


Zaki menepuk jidatnya.


"Ya liat situasi dong, Indira." Zaki meremas jari-jarinya dengan gemas.


"Ya terus gimana?"


Zaki kembali menyodorkan ponselnya ke hadapan Indi, ponsel dengan merk dan warna yang sama dengan milik Indi yang diberikan Fatan beberapa hari lalu.


"Tulis nomor telepon kamu di sini," titah Zaki.


Dengan ragu-ragu Indi mengambil ponselnya dan mulai mengetik nomornya di ponsel Zaki karena dia belum hapal nomor barunya.


"Hape kamu bagus, apa kamu suka? tanya Zaki tiba-tiba, mobil mulai berjalan pelan meninggalkan pelataran kafe berbaur dengan keramaian jalanan kota pagi itu.


Indi tampak tersenyum lebar.


"Iya, suka banget."


Zaki tersenyum sambil menutupi bibirnya dengan telapak tangan, senyum yang tipis setipis kulit bawang.


"Apa kamu nggak mau berterima kasih sama saya?"


Kening Indi berkerut seraya mengembalikan ponsel Zaki pada pemiliknya.


"Berterima kasih? Sama Bapak? Kenapa?"


Zaki mendesah berat.


"Bisa nggak berhenti manggil saya Bapak? Saya belum menikah loh. Apa saya kelihatan setua itu, hm? Lagi pula ini bukan di kafe, jadi stop manggil saya Bapak," protes Zaki.


"Terus mau dipanggil apa?" pancing Indi yang mulai menyukai ekspresi kesal Zaki.


"Panggil Mas, saya lebih tua dari kamu," ketus Zaki malu-malu.


"O ... ke, Mas Zaki." Indi sedikit kaku mengucapkannya, padahal dengan Fatan dia bisa sangat luwes memanggil Mas.


Faktor kebiasaan juga sepertinya.


"Oh iya, tadi maksudnya saya harus berterima kasih ke M ... Mas Zaki buat ponsel ini itu gimana ya? Kan yang ngasih ponsel ini Mas Fatan, masa makasihnya ke M- Mas Zaki sih?"

__ADS_1


Zaki menghela nafas.


"Ya karena ...."


__ADS_2