
"Astaghfirullah, ternyata selama ini ...."
Dara membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, tangisnya luruh. Hatinya sakit bagai tercabik-cabik. Semua chat dan foto-foto tak senonoh suaminya dan Indi terpampang nyata di dalam aplikasi palsu tersebut.
"Ya Allah, tapi kenapa? kenapa harus Indi ya Allah? kenapa harus adikku sendiri?"
Dara terisak, tak ingin ketahuan oleh Fatan gegas Dara beranjak pergi menuju teras belakang rumahnya.
Suasana senyap dan sepi, hanya suara binatang malam yang terkadang berbunyi menemani. Di tengah kesunyian itulah Dara menumpahkan semua tangisnya, rasa sakitnya akan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
"Ternyata ini yang kamu sembunyikan dari aku selama ini, Mas. Ternyata juga kamu tega bohongi aku dan anak-anak, katamu keluar kota tapi ternyata malah ..., Ya Allah kenapa rasanya sakit sekali? sakit ya Allah sakit." Dara menarik jilbabnya bahkan mencakar cakae lengannya guna mengekspresikan rasa sakitnya.
Kepala Dara berputar, pusing menderanya tapi tangisnya masih juga tak mau berhenti. Mengalir deras di kedua sudut pipinya yang putih mulus bak pualam.
"Kurang apa aku sama kamu, Mas? selama ini kita baik-baik aja kan? kenapa kamu tega? apa kamu lupa kau Indi itu adik aku, Mas? kenapa Mas, kenapa?" desis Dara frustasi.
Dara ingin berteriak, membuang semua energi negatif dalam dadanya. Tapi suasana hening dan sepinya malam itu membuatnya memilih hanya merintih di antara kedua lututnya, menutup wajahnya dengan kedua siku menenggelamkan tangisnya agar tidak ada yang mendengar.
"Kamu jahat, Indi. Padahal selama ini Mbak selalu ngalah sama kamu, Mbak selalu lebih ngutamain kamu. Tapi begini balasan kamu sama Mbak, In? kamu keterlaluan!" desis Dara lagi, dia marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Dara sadar dia sedang lemah, dia lemah karna kebingungan harus bagaimana sekarang. Sandaran yang selama ini begitu di percayanya runtuh begitu saja, membuatnya seketika oleng dan hampir rubuh jika saja tak ada ingatan akan kedua anaknya yang masih akan membutuhkannya.
Dara diam terpekur beberapa saat di sana, membiarkan angin malam membawa pergi semua gundah di dalam dadanya. Semua isi chat dan foto tak senonoh yang ada di aplikasi tersembunyi di ponsel Fatan sudah terekam jelas di ingatannya, dan tentu saja Dara sudah sempat mengirimnya ke ponselnya sendiri sebagai bahan bukti untuk menggugat Fatan saat waktunya tiba nanti.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahaladzim." terus Dara melantunkan istighfar sampai hatinya yang semula sesak dan sakit kini mulai longgar dan sedikit lega.
Dara mendongak, menghapus air matanya dan beranjak menuju keran air yang biasa dia gunakan untuk menyiram taman kecil di belakang rumahnya itu.
__ADS_1
Betapa luar biasanya hati Dara, kesabaran yang luas membuatnya tidak serta merta melabrak suaminya dan juga adiknya. Bahkan dengan tenang Dara kini berjalan masuk ke dalam rumah setelah berwudhu terlebih dahulu.
Sakit memang, hati wanita mana yang tak sakit dan hancur kala mendapati bukti nyata akan suami dan adiknya yang diam-diam berhubungan di belakangnya. Tapi Dara berusaha menggunakan akal pikirannya yang sehat untuk bisa membalas semua, tidak sebar bar yang lain tapi setidaknya efeknya lebih menarik ketimbang yang lain.
"Bismillahirrahmanirrahim." Dara menghembuskan nafas panjang sebelum memulai sholat malamnya di ruangan mushola khusus yang tak jauh dari kamarnya.
Dara larut dalam sholat panjangnya, menumpahkan semua sakit dan air matanya di hadapan sang pemilik kehidupan. Bahkan dia sampai tak sadar kalau Fatan berjalan pelan di belakangnya untuk menuju keluar rumah, sangat pelan sampai desah nafasnya pun bisa tak terdengar.
Dara baru menyadarinya setelah Fatan berhasil keluar dan menghidupkan mesin mobilnya sebelum akhirnya melaju entah kemana. Tepat saat Dara mengucapkan salam terakhirnya dalam sholat.
"Astaghfirullah," desis Dara sambil menekan dadanya yang kembali terasa sakit.
Dara tau, sangat tau kalau saat ini Indi dan Fatan pastilah tengah membuat janji temu. Indi yang sejak sore hari berpamitan untuk mengerjakan tugas kuliah dan Fatan yang keluar rumah diam-diam sudah menjelaskan semuanya. Bukan sekali atau dua kali Dara mendapati mereka bertingkah seperti itu, awalnya memang Dara tak curiga tapi setelah semua bukti ada di depan mata mau tak mau instingnya jua lah yang bekerja.
"Tenangkan hamba ya Allah agar hamba tidak gegabah menghadapi kenyataan pahit ini, ini sangat sakit tapi untungnya Bapak sudah memberi wejangan ini terlebih dulu jadi aku tidak terlalu hancur sekarang. Terima kasih, Pak. Bahkan saat Bapak sudah tenang di surga pun, Bapak masih sangat menyayangi Dara," tukas Dara sambil menengadahkan tangannya ke depan dada.
Sesuai berdoa, hati Dara menjadi lebih tenang. Riak riak kemarahan sebagian besar sudah pergi dari hatinya. Hanya hening dan ketenangan yang ada.
"Aku tidak boleh lemah, mereka tidak boleh tau kalau rahasia mereka sudah terbongkar. Bersiaplah Mas, Indi ... tunggu sampai waktu kalian tiba. Alam akan bekerja dan sepertinya aku tidak perlu terlalu mengotori tangan ini untuk membalas kalian. Aku sudah adukan semua pada Tuhanku," gumam Dara menatap lurus ke depan.
Lampu musholah yang sebelumnya hidup dan berkedip dengan cantik, langsung mati begitu saja seperti halnya hati Dara yang sudah tertutup sepenuhnya untuk keberadaan Fatan dan Indi.
****
Di sebuah club malam.
"Mas!" seru Indi sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Fatan yang baru saja keluar dari mobil membalas lambaiannya dan bergegas mendekati Indi.
"Bisa juga keluar kamu, Mas. Kirain bakalan di wawancara dulu sama Mbak." Indi terkekeh sambil bergelayut manja di lengan kokoh Fatan, jilbabnya sudah melayang entah kemana menyisakan rambut ikal sepunggung yang berwarna ash blonde.
"Ya nggak lah, Mas keluar tadi pas Mbak mu lagi sholat. Mas mindik mindik kok, jadi di jamin aman." Fatan mengusap kumisnya sambil memainkan alisnya pada Indi.
Indi tertawa mesra di ceruk leher Fatan memanfaatkan keadaan untuk memancing gairah kakak iparnya itu.
"Ya udah yuk, Mas. Kita nikmati dulu waktu waktu indah kita sebelum nanti aku menikah." Indi menarik tangan Fatan untuk memasuki gedung club' yang tampak berpendar itu sayup terdengar musik berdentum di dalamnya.
Fatan sebenarnya tidak nyaman berada di tempat seperti itu, seumur hidup baru kali ini Fatan menginjakkan kakinya di tempat hiburan malam seperti sekarang. Fatan merasa asing, dia bahkan sampai tidak mengenali dirinya sendiri namun demi hasratnya pada Indi yang sudah terpancing maka semua rasa itu dia tepis sejauh-jauhnya.
"Ayo cepetan, Mas!" seru Indi mengimbangi suara musik yang rupanya terdengar sangat memekakkan telinga saat mereka sudah di dalam.
Indi ternyata sudah memesan sebuah ruangan untuk mereka, jadi tanpa harus menunggu lama kini mereka sudah aman berada di kamar yang sama sekali tidak terganggu suara musik dari lantai di bawahnya.
"Kita udah sampe, Mas. Lihat, bahkan aku udah minta di siapkan makanan buat kita. Abisnya aku laper banget, Mas. Lagi pula kalo kenyangkan bisa lama rondenya," kekeh Indi sambil menarik Fatan menuju meja dimana beberapa makanan siap saji ada di sana.
Bagai kerbau di cucuk hidungnya Fatan menurut saja bahkan saat Indi mendudukkannya di sebuah kursi menghadap makanan junk food tersebut.
"Yuk Mas, makan." Indi membuka sebuah kotak berisi nasi dan ayam juga scramble egg di dalamnya. Namun baru saja hendak menyuapkan ke mulutnya Indi merasakan mual yang luar biasa.
"Huekk"
"Huekk"
Indi berlari ke kamar mandi di ikuti Fatan yang wajahnya mulai khawatir.
__ADS_1