TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 212. TAWA DI BALIK TANGIS.


__ADS_3

 Persiapan acara tujuh bulanan di rumah Dara dan Zaki mulai terlihat, tenda tenda yang akan di gunakan untuk menyambut tamu di halaman juga sudah mulai di bangun.


 Para tetangga juga berdatangan, membantu sebisanya apa yang kira kira bisa mereka bantu sembari ngerumpi tentunya.


"Mbak," panggil indi mendekat sembari membaringkan bayinya di dekat Dara yang tengah duduk di sofa ruang tengah mengawasi si kembar yang bermain dengan Elis.


"In? Kamu sudah datang? Ibu mana?" tanya Dara dengan wajah datar.


 Indi duduk, senyuman sungkan dia sunggingkan.


"Ke belakang, Mbak katanya mau bantuin ibu ibu yang lain. Mbak kok melamun aja dari tadi?" tanya Indi pula.


 Dara tersenyum kecil, sembari mengelus pipi bayi Indi yang kini membuka matanya lebar dan menatap ke sana kemari sangat menggemaskan sekali.


"Mau kamu kasih nama siapa anak cantik ini, In?" ucap Dara yang malah mengalihkan pembicaraan.


 Indi tersenyum getir, mencoba maklum dengan perubahan sikap Dara padanya. Mungkin Dara kecewa tapi tak ingin menunjukkannya secara terang terangan.


"Belum tahu, Mbak. Mungkin ... Mbak punya saran nama yang bagus buat dedek?"


 Tanpa mengalihkan pandangannya dari si bayi, Dara mulai mengangkat tubuh mungilnya. Mendekatkan wajah si bayi pada wajahnya dan mengecup pipinya lembut. Kemudian meletakannya dalam gendongan.


"Itu hak kamu buat ngasih bayimu nama yang bagus, In. Coba cari di google pasti ada banyak nama nama bayi yang bagus dan sarat makna buat anak kamu ini," saran Dara masih dengan nada datar.


 Indi mengangguk setuju. "Tapi ... bukankah Papanya juga punya hak yang sama buat ngasih nama anaknya, Mbak?" tanya Indi walau takut takut.


 Dara mendesah, meletakan kembali bayi Indi ke sofa dengan hati hati. Lalu menatap netra adiknya itu lekat.


"Iya, In untuk yang satu itu kamu benar. Tapi, kalau kamu minta tolong Mbak buat bebasin Mas Fatan, maaf Mbak nggak mau, In. Apa kamu lupa bagaimana Mas Fatan sudah mengkhianati kamu? Dan sekarang dia kembali dengan membawa masalah baru lagi, nggak In maaf Mbak nggak bisa bantu kamu dengan permintaan kamu kemarin," tandas Dara dengan tegas dan lugas.


 Indi terdiam menunduk, dia tahu apa yang di lakukan Dara semata karena dia sayang padanya sebagai adik dengan tulus. Tapi di sisi lain, Indi juga memercayai suaminya dia tahu Fatan pasti tak akan melakukan seperti apa yang dituduhkan orang orang padanya jika tidak terpaksa. Tapi Indi tak berani mengutarakannya, sudah cukup dia berharap pada orang lain dan merepotkan Dara. Indi bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dan Fatan sendiri setelah ini.


 Setelah bantu bantu di rumah Dara usai, Indi dan Bu Maryam berpamitan untuk pulang. Dara mengizinkan dan mewanti wanti Indi dan Bu Maryam agar tak datang terlambat esok karna acara akan di mulai pagi hari. Bahkan dekorasi untuk acara tasyakuran bayi Indi pun sudah di buat hanya tinggal menunggu nama yang akan di sematkan Indi pada sang putri dan Indi mengatakan akan mencarinya lebih dulu lalu akan memberi tahu Dara malam nanti.


"Istirahat dulu, In supaya besok nggak capek pas acara. " Bu Maryam memperingati Indi yang kala itu tampak kembali sibuk bersiap di dalam kamarnya.


"Nggak papa, Bu. Oh ya Bu, Indi mau izin ke kantor polisi ya, Bu."


"Mau apa? Jangan bilang kamu mau jenguk si Fatan?" dengus Bu Maryam tak senang.


 Indi mengangguk. "Iya, Bu nggak papa kan, Bu? Mas Fatan juga punya hak atas bayi indi, Bu pasti setidaknya Mas Fatan juga mau kasih nama buat bayi kami. Boleh ya, Bu Indi ke sana buat ngasih kabar mas Fatan kalau besok acara tasyakurannya dedek sekalian minta dia kasih nama buat anaknya." Indi membujuk ibunya dengan nada memelas.


 Bu Maryam tampak berpikir sejenak, setelah menimbang nimbang akhirnya Bu Maryam mengizinkan indi menjenguk Fatan di penjara.


"Tapi tunggu dulu," sela Bu Maryam ketika melihat Indi bersiap dengan gendongan bayi di tubuhnya.


"Kenapa, Bu?" tanya Indi mengurungkan niatnya menggendong putri kecilnya yang kini sudah mulai bisa tertawa itu.


"Kamu mau bawa bayimu?"


 Indi mengangguk. "Iya, Bu. Pasti Mas Fatan juga kangen anaknya kan? Apa salahnya Indi pertemukan mereka, Bu? Sekalian Indi juga pengen tahu perkembangan kasusnya Mas Fatan gimana."


 Bu Maryam mendesah lirih. "Ya sudah, ibu ikut saja kalau begitu. Nanti kamu repot lagi bawa anakmu sendirian begitu. Kalo ada apa apa di jalan gimana? Anakmu itu loh masih bayi."


 Indi mengulum senyum dengan dada di penuhi perasaan senang. Tak menunggu lama akhirnya kini mereka telah berada di dalam taksi online yang di pesan indi untuk membawa mereka menuju kantor polisi.


 Sepanjang jalan, Indi merasa senang sekali karna akan segera bertemu suaminya. Suami yang sudah menduakannya namun masih menempati tahta tertinggi di dalam hatinya hingga kini, entah apa namanya yang jelas Indi ingin selalu memercayai suaminya sesuai yang dia yakini sendiri.


 Sesampainya di sana, Indi dan bu Maryam langsung menyampaikan niat mereka untuk menjenguk Fatan. Mereka di bawa ke sebuah ruangan khusus tempat keluarga bisa menjenguk para napi di penjara.

__ADS_1


"Indi, Ibu?" panggil Fatan dengan nada tak percaya, terlebih kala dia melihat bayinya di dalam gendongan Bu Maryam, tengah menatapnya dengan senyum lebar seolah menyambutnya.


"Mas," sapa indi dengan senyum lebar tersungging di wajahnya, di ulurkannya tangannya untuk mencium tangan Fatan.


 Namun Fatan menarik tangannya dan mundur. "Mas kotor, sebentar ya Mas cuci tangan dulu. Mas pengen gendong anak kita."


 Indi tersenyum dan mengangguk cepat, secepat Fatan yang berlari menuju kamar mandi napi untuk mencuci tangannya.


 Setelah kembali ke tempat Indi menunggu tadi, Fatan dengan cepat meminta bayinya dari tangan Bu Maryam.


 Sebenarnya Bu Maryam enggan memberikan cucunya pada Fatan, namun karna Indi menganggukkan kepalanya dengan tatapan memohon akhirnya Bu Maryam pasrah dan memberikan bayi kesayangannya itu ke dalam gendongan sang ayah.


 Fatan tampak senang sekali menggendong bayinya, di ciuminya bekali kali wajah bayi perempuan yang sangat mirip dengannya itu.


 Setelah beberapa saat membiarkan Fatah meluapkan kerinduan pada buah hatinya barulah Indi menyampaikan niatnya pada Fatan.


"Mas, gimana perkembangan kasus kamu di sini?" tanya Indi membuka percakapan. Sedang Bu Maryam hanya diam menatap tak rela pada cucunya yang kini tengah tertawa di dalam dekapan Fatan.


 Semburat kesedihan perlahan muncul di wajah Fatan yang mulai di tumbuhi cambang tipis. "Entahlah, sepertinya Mas akan menjalani hukuman sampai orang yang menjadi dalang semua ini di tangkap. Polisi sedang menyelidiki kasus ini lebih dalam, semoga saja ada titik terang, doakan saja ya."


 Indi mengangguk dan menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan Mas," tukas Indi untuk mempersingkat waktu, mengingat waktu kunjungan ini sangat terbatas.


 Fatan kembali mengangkat wajahnya dengan cemas. "Apa kamu mau menggugat cerai Mas?"


 Indi tertawa kecil dan menggeleng. "Nggak, Mas bukan itu. Ini mengenai bayi kita, Mas mau kasih nama dia siapa?"


 Perlahan sorot kesedihan itu pudar dari wajah Fatan, berganti raut keceriaan walau hanya sekedar senyuman manis saja yang dia arahkan pada bayinya.


"Kamu yang melahirkannya, Sayang. Itu artinya sebenarnya kamu yang lebih berhak memberi bayi kita nama." Fatan bermonolog, mengusap pipi bayi yang kini tertawa melihatnya dan berusaha meraih wajahnya.


 Fatan menarik nafas dalam, lalu setelah berpikir sejenak dia menjawab.


"I- Inara ... bagaimana dengan Inara?"


 Indi tersenyum lebar dan mengangguk seketika. "Nama yang bagus, Mas. Inara, bagus sekali dan ... indah di dengar."


 Fatan mengangguk dan menciumi lagi wajah anaknya.


"Untuk nama panjangnya kamu bisa cari yang cocok, In. Siapa tahu ibu juga mau memberi nama cucu ibu?" tanya Fatan melempar pertanyaan pada Bu Maryam.


 Indi pun sama menatap ibunya dengan penuh harap, agar ibunya yang sejak tadi diam mau membuka suara sekali saja.


"Maaf, waktu berkunjung sudah habis. Saudara Fatan harus kembali ke sel."


 Seorang petugas polisi mendekati mereka dan membuat diskusi keluarga yang belum selesai itu harus berhenti karenanya.


  Indi mendesah berat, sebenarnya dia masih ingin lebih lama mengobrol dengan suaminya tentang banyak hal. Tapi ada daya kondisinya belum memungkinkan saat ini, jadi dengan berat hati Indi dan Bu Maryam pun pulang setelah berjanji pada Fatan akan sering berkunjung ke sel menjenguknya, Fatan juga menitipkan salam untuk Dara dan anak anaknya juga ucapan terima kasih karna sudah berbaik hati membuatkan acara tasyakuran untuk sang putri, Inara.


****


"Wah, namanya bagus sekali, In. Insyaallah nanti anaknya secantik namanya ya," celetuk Dara saat malam sebelum acara Indi berkunjung untuk membantu apa apa saja yang sekiranya bisa di bantu, tapi Dara melarang dan malah mengajaknya duduk melihat orang orang yang tengah mengerjakan dekorasi untuk tasyakuran anaknya Indi, sembari membuat tulisan nama anaknya untuk di pajang di tengah dekorasi tersebut.


"Inara huzaifah shaki"


 Benar benar nama yang indah sekali, nama yang juga pemberian dari Bu Maryam dan indi di bagian belakang nama utama. Memperindah sebuah nama yang resmi tersemat pada bayi yang mempunyai surai hitam lebat di kepalanya itu.


 "Insyaallah, Mbak semoga nama itu bisa membawa kebaikan untuk Inara sendiri. Menjauhkannya dari sifat tercela seperti kesalahan yang pernah ibunya lakukan di masa lalu," timpal Indi dengan penuh harap.

__ADS_1


****


 Di tempat lain.


Tok


Tok


Tok


"Mbak," panggil Elis dari luar pintu kamar sang kakak, Laila.


 Tampilannya yang rapi dengan parfum yang lumayan semerbak menemani malamnya saat ini. Elis sendiri tampak senyum senyum sendiri sejak tadi sembari melihat ponselnya dan mengetuk pintu kamar Laila tanpa henti.


Tuk


Tuk


Tuk


 Elis mengerutkan keningnya saat bunyi ketukan di pintu menjadi berubah suara, apakah itu tandanya pintu kamar Laila punya nada pribadi saat di ketuk.


Namun tak berlangsung lama pertanyaan itu terjawab, Elis menarik tangannya dengan cengiran kuda di wajahnya.


"Eh, Mas Halim." Elis terkekeh geli saat menyadari rupanya sejak tadi pintu sudah di buka dan tangannya malah mengetuk kening kakak iparnya itu.


 Dengan bibir manyun Halim menatap Elis kesal. "Ada apa? Mbakmu lagi ngambek itu, kamu bujukin sama Mas mau keluar dulu."


 Halim melangkah meninggalkan rumah dan berjalan kaki dengan nyeker, alias tanpa alas kaki berjalan menyusuri halaman.


"Mbak?" panggil Elis sembari melongokkan kepalanya ke dalam kamar Laila.


 Tampak Laila tengah duduk di depan jendela sembari meniup niup balon sabun. Entahlah sejak beberapa hari ini tingkah Laila memang menjadi agak random, mungkin tertular Halim sejak menjadi istrinya .


"Wangi banget kamu, Lis? Mau kemana?" tanya Laila tanpa berbalik sama sekali masih sibuk dengan balon sabun yang di tiupnya menerbangkan balon balon kecil ke udara di luar sana.


"Ke rumah Mbak Dara, Mbak. Oh ya, Mbak Dara juga ngundang Mbak sama Mas Halim besok buat datang ke acara tujuh bulanannya di rumah, datang ya mbak." Elis melirik penampilannya di cermin kamar Laila, memastikan kalau pakaiannya sudah rapi.


"Ooh, oke."


Singkat, padat dan jelas. Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Laila, memang selain menjadi agak aneh tingkahnya Laila juga agak pendiam sekarang juga jarang sekali bicara entah apa yang membuatnya jadi begitu.


"Mbak! Kenapa sih Mbak jadi aneh begini? Jangan begini juga dong, Mbak. Jarang ngomong, tingkahnya aneh sebenernya Mbak itu kenapa sih? Sumpah Elis bisa gila, Mbak kalau Mbak begini terus," omel Elis yang tak tahan lagi sehari saja tak mendengar suara kakaknya itu mengomel, baginya Omelan Laila itu sudah seperti obat yang menbuatnya bersemangat menjalani hari hari, seperti saat masih ada ibunya dulu.


 Diamnya Laila menjadikannya seperti anak yatim-piatu kembali, sunyi tanpa ada yang memperhatikan.


 Laila mendesah, meletakan wadah balon sabun yang dia minta tadi pagi pada Halim dan berbalik menatap Elis.


"Mbak ... cuma ingin merasakan rasanya jadi ibu hamil, Lis. Di sayang, di manja, bertingkah random dan aneh, punya ngidam yang aneh aneh, ya ... pokoknya gitu gitu lah. Mbak cuma berusaha menutupi sakit hati dan kesedihan mbak dengan semua ini, dengan begini Mbak rasanya bisa sedikit terhibur," papar Laila dengan guratan mendung menjelma di wajahnya.


 Elis tercengang, tak dapat mengatakan apa apa. Dia tahu kakaknya itu pasti tengah bersedih, terlebih beberapa waktu ke belakang Elis sempat melihat beberapa strip tespek dengan garis satu menghiasi tempat sampah di kamar kakaknya, sangat kentara sekali kalau Laila sangat menginginkan seorang anak hadir di rahimnya secepatnya. Namun sayang, yang Maha Kuasa belum meridhoi keinginannya itu, padahal entah sudah berapa banyak obat dan buah herbal yang di konsumsi Laila agar bisa hamil. Kasihan sekali Elis melihatnya, tapi ... dia bisa apa?.


 "Ya sudah, Mbak kalau begitu ... Elis berangkat ya, mau bantu bantu. Mbak jangan lupa bilang Mas Halim sama ibu juga, biar besok datang ke rumah Mbak Dara." Elis mengingatkan dan berusaha mengalihkan pembicaraan agar Laila tak lagi bersedih.


 Laila hanya mengangguk, menyambar kembali wadah balon sabunnya dan kembali dengan posisinya tadi saat Elis baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dan tak lama, puluhan balon balon sabun kecil kembali mewarnai udara di sekitar rumah mereka.


 Elis melangkah keluar dari kamar Laila, menutup pintunya dengan perlahan agar tak menimbulkan suara. Biarlah Laila dengan segala tingkahnya saat ini, yang terpenting adalah dia tak berusaha mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menahan cercaaan orang orang terhadapnya. Membiarkan Laila menikmati hidup dengan cara yang di pilihnya menjadi pilihan Elis untuk tetap membuat kakaknya itu merasa nyaman.


Saat Elis baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah, dia terkejut dengan banyaknya pedagang makanan yang tiba-tiba mangkal di halaman rumahnya. Tepatnya dibawah pohon pohon mangga yang rimbun menutupi halamannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah? Ada apa ini?" seru Elis kaget.


__ADS_2