
Hampir tiga jam lamanya Indi, Fatan dan Bu Maryam duduk di dalam mobil travel yang pengap dan panas tersebut. Di tambah supirhya yang terkesan ugal-ugalan dan tidak peduli akan kenyamanan penumpangnya yang hanya tiga orang itu.
"Bang, bisa nggak sih rokoknya itu di matiin? Bikin sesak tau nggak!" hardik Indi saat tak sudah tak tahan lagi dengan kebar baran supir travel tersebut.
"Ngantuk aku, Mbak. Kalo nggak merokok, dari pada nanti kita semua celaka ... ya udahlah nikmati aja, nggak lama lagi sampai kok," sahut supir travel itu acuh.
Bahkan dia membuka semua kaca mobil lebar-lebar dan menghidupkan musik dengan suara keras.
"Aah, supir edan! Abang matikan nggak musik itu, kalo nggak biar aku yang matiin pake ini," Indi mengangkat tasnya yang tampak besar dan berat itu.
Tas travel bag yang sebagian besar isinya adalah sepatu koleksinya.
"Eh, jangan dong Mbak. Iya iya ini saya kecilin aja ya, kalo di matiin sepi banget hawanya Mbak, ngantuk saya." Lagi supir itu beralasan.
Setelah suara musik mengecil, indi merebahkan tubuhnya ke sandaran jok mobil yang terasa keras itu, sangat tidak nyaman namun hanya ini pilihan satu-satunya.
"Bang, ini kenapa kaca mobilnya di buka semuanya sih? Abang mau buat kami masuk angin semua apa? Biar sekalian muntah di mobil Abang ya," sinis Indi lagi.
Supir itu menarik nafas kasar. "Tadi katanya sesak, di buka semua kaca mobilnya protes pula. Gimana sih maunya Mbak ini."
"Ya kau matikan lah rokokmu itu, bod*h! Bukannya malah kau buka semua kaca mobil ini, yang ada semua debu jalanan ini pun masuk nanti," gerutu indi tak terima.
"Halah, bayar nego aja pun banyak lagak, turunkan di sini kalian nanti." Supir itu ngedumel sendiri namun tetap menuruti permintaan Indi untuk menutup sebagian kaca dan menyisakan separuhnya untuk sirkulasi udara masuk, karna AC mobil tersebut rusak. Maklumlah Fatan hanya mampu menyewa travel yang paling murah untuk menghemat biaya transportasinya.
Fatan dan Bu Maryam tampak tam peduli, karna sejak tadi mereka sudah terbang ke alam mimpinya masing-masing. Entah karena kelelahan atau apa, hingga hanya Indi yang sejak tadi masih terjaga karena merasa tak nyaman.
"Semoga nanti rumahnya bagus dan lebih besar dari rumah ya Mbak Dara, so keluarga almarhum orang tuanya Mas Fatan kan orang kaya, jadi walaupun di kampung kayaknya rumahnya pasti yang paling bagus lah ya. Hihihi," tawa jndi terkikik geli.
Indi mulai membayangkan apa saja yang aja dia lakukan setelah sampai di tempat tujuan mereka dan bisa pamer sepuasnya karena mengira para tetangga Fatan di kampung sama dengan pada tetangga di kota.
Brrruuuuaaakkkkkk.
__ADS_1
Sedang asik asiknya melamun memikirkan masa depan, lamunan jndi ikut rontok bersamasn dengan ban depan mobil masuk ke dalam genangan air yang ternyata dalam. Sang supir yang ugal-ugalan itu ternyata bahkan tidak melihat adanya genangan itu karna sibuk bertelepon ria dengan entah siapa namanya.
"Tolong! Tolong!" seru Bu Maryam kaget, karna di kiranya mereka kecelakaan.
Fatan pun turut terkaget bangun dan melihat sekitar dengan mata memerah sayu.
"Abang supirnya gimana sih?" omel Indi pada di si supir yang kini baru tampak mematikan sambungan teleponnya itu.
"Maaf, maaf semuanya. Ini di luar dugaan saya," ungkapnya sok tidak bersalah.
Padahal kalau mau menyalahkan hanya dialah yang patut di salahkan saat ini. Tapi dia malah pasang wajah tak berdosa yang memuakkan.
Sang supir keluar dan memeriksa bagian depan mobil yang terperosok ke lubang jalanan, cukup sulit untuk mengeluarkan mobil itu karna posisinya yang jomplang masuk ke lubang.
"Bang, maaf. Bisa minta tolong, Bang?" serunya sambil mengetuk kaca di sebelah Fatan.
Fatan menoleh dengan masih terkantuk-kantuk, tak menjawab hanya kepalanya saja yang bergerak seolah bertanya.
Fatan garuk-garuk kepala, dengan wajah enggan. Namun mau tak mau akhirnya dia keluar juga, ketimbang mereka terjebak di tempat sepi itu semalaman. Menunggu ada yang berbaik hati membantu, kalo ada itu juga.
"Indi, kita dimana sih?," tanya Bu Maryam yang sudah bisa lebih menguasai keadaan.
Matanya yang memerah dia kucek-kucek sampai penglihatannya lebih jelas.
"Tau," gerutu Indi dengan wajah di tekuk dan mulut mengerucut.
Dahi Bu Maryam berkerut melihat tingkah anaknya itu, karna tak mendapat jawaban dari Indi. Dia mencoba melongokkan kepalanya keluar dan berapa kagetnya dia melihat tempat mereka berhenti adalah bagian dari hutan akasia milik pemerintah. Tampak dari plang yang berada tak jauh mereka.
"Ya ampun, kita nyasar dalam hutan!" jerit Bu Maryam histeris.
"Ih, ibu kenapa sih?" omel Indi semakin kesal karna Bu Maryam bukannya mencari solusi malah berteriak-teriak tidak jelas sedari tadi.
__ADS_1
Bu Maryam menunjuk plang nama bertuliskan hutan pemerintah itu.
"I- itu ... kamu bisa baca kan? Kita di hutan! Hutan! Gimana kalo ada hari mau?"
"Harimau! Jangan di pisah!" mata Indi sampai ingin melompat keluar saking kesalnya.
Bu Maryam nyengir kuda, dan tak menyahuti lagi ucapan anaknya.
Sedangkan di luar tampak Fatan dan supir travel itu tengah kebingungan mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai pengungkit agar mobil itu bisa naik.
"Gimana ceritanya bisa masuk ke sini sih, Bang? Ini lobang kan gede. Nggak mungkin nggak kelihatan!" oceh Fatan yang mulai tampak kesal karna supir itu bukannya berpikir atau mencari cara untuk mengeluarkan mobil malah asik bermain ponsel saja, ingin menelpon bantuan dalihnya.
"Nggak tenampak ku tadi, Bang. Lubangnya ngumpet tadi ku rasa, tau tau aja udah masuk kok," ungkap supir itu sambil tetap fokus ke layar ponsel sambil tersenyum-senyum.
Fatan berdiri kesal dan menatap tajam pada si supir.
"Jadi gimana kita bisa sampai kalo begini? Udahlah nggak ada mobil lewat, yang harusnya bertanggung jawab malah asik main hape aja!" sentak Fatan membuat supir terkesiap dan hampir saja menjatuhkan ponselnya ke genangan air berlumpur itu.
"Eh, eh, kok ngamookkk? Sabar, Bang. Sabar! Ini juga aku lagi nyari kawan ku yang arah ke sini juga. Jadi dia bisa bantu kita," dalihnya tak kehabisan akal.
Padahal sejak tadi yang di hubungi ya adalah seorang janda beranak dua yang merupakan selingkuhannya.
Fatan mendengus dan berjalan meninggalkan supir tak tahu diri itu.
"Gimana, Mas?" tanya Indi saat Fatan kembali membuka pintu mobil untuk mengambil sebotol air mineral dan meminumnya.
"Tau tuh, supirnya malah sibuk sendiri," sungut Fatan.
"Ah, itumah emang dianya aja yang males. Udah sini biar aku aja yang ngasih pelajaran itu supir ugal-ugalan!" Indi bergegas keluar sambil melipat lengan bajunya ke atas, tampak sangat kesal dan ingin segera mencakar wajah supir travel itu.
Tapi saat di luar, tak di temuinya si supir. Entah kemana menghilangnya dia, bahkan bekas jejaknya pun tidak ada.
__ADS_1