TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 242. KISAH INTAN.


__ADS_3

 Perempuan dengan wajah tak asing yang sepertinya di kenali Indi itu mulai melangkah mendekat, menyebrangi jalan yang memisahkan jarak mereka hingga akhirnya sampai di depan lapak kue Indi. Kini Indi bisa dengan jelas melihat wajah sendu yang memang begitu di kenalnya itu tengah menatapnya dengan tatapan memelas.


 "I- intan ... ini ... ini beneran kamu?" cicit Indi pelan, sembari menatap tubuh yang sangat kotor itu dengan seksama dari atas hingga bawah dan yang di dapatinya memang kondisi tubuh layaknya anak anak gelandangan yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan.


 Intan tak menjawab, justru langsung menangis dan tubuh kurusnya melorot ke bawah, tepat di sisi meja lipat tempat Indi berjualan.


 Indi memburunya setelah sebelumnya meletakan kantong plastik berisi kue pesanan Dara di atas meja.


"Intan? Kamu kenapa? Kenapa bisa jadi seperti ini? Kemana bapak kamu? Bukannya katanya kamu pulang ke kampung?" cecar Indi bertubi tubi.


 Intan tak bisa menjawab, seluruh sesak di dadanya memaksa tumpah keluar dan membuatnya tak dapat menyahuti pertanyaan Indi.


 Bu Maryam mendekat dan sama terkejutnya dengan Indi melihat kedatangan intan yang tiba tiba di depan rumah mereka, bagaimana dia bisa sampai di sana?.


*


 Singkatnya Indi memilih membawa masuk intan ke dalam rumahnya, menenangkannya terlebih dulu sebelum akhirnya memintanya mandi dan membersihkan tubuhnya yang kotor di kamar mandi.


 Dara sendiri sudah berpamitan sejak tadi, karna hari semakin siang dan dia harus pulang untuk mengurus bayinya. Kini tinggallah Bu Maryam dan Indi yang menunggu intan di ruang tamu, sementara Inara sudah tertidur di kamarnya.


Ceklek


 Pintu kamar mandi yang terletak di samping dapur akhirnya terbuka. Intan melangkah keluar dengan pakaian yang sedikit kebesaran di tubuhnya yang kurus. Pakaian mliik indi yang di pinjamkan padanya karna selain yang melekat di tubuhnya tadi, intan tak membawa apapun lagi sebagai bekalnya ke kota.

__ADS_1


 Entah apa yang sudah terjadi padanya di kampung, hingga bisa nekat pergi ke kota tanpa membawa apapun jua. Tak ada kah seorang pun yang mengurusnya di sana? Atau malah dia di buang karna bapaknya, Pak Sukri tak ingin lagi mengakuinya anak setelah semua yang dia dan ibunya lakukan dulu? Entahlah, Indi pun sebenarnya sudah sangat penasaran, hanya saja kondisi intan membuatnya tak tega untuk langsung memintanya menjelaskan.


"Kita makan dulu ya, kamu pasti lapar kan?" tawar Indi ramah, mencoba melupakan semua yang sudah intan dan ibunya lakukan padanya dulu. Walau jujur saja rasa sakit akibat penghianatan dan penghinaan atasnya dulu masih sangat membekas dalam ingatannya, dan tak akan mudah untuk di lupakan.


 Namun atas dasar kemanusiaan, Indi maasih mau bersikap baik pada intan.


 Intan mengangguk lalu mengikuti Indi ke arah dapur, di ikuti pula oleh Bu Maryam di belakangnya.


 Mereka duduk bersama di meja makan, lalu Indi mulai menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah dia masak. Hanya masakan sederhana, sop bakso ayam juga telur goreng dan sambal. Namun itu cukup membuat perut Intan berbunyi karna sudah sangat kelaparan.


"Kamu udah laper banget ya? Ini makan duluan saja," pungkas Indi tersenyum kecil sambil menyendokkan nasi dan juga lauk pauknya ke piring Intan.


 Dan satu lagi keanehan yang mereka tangkap, Intan yang biasanya mereka tahu sangat pemilih, kini makan dengan begitu lahapnya bahkan seperti orang yang sudah beberapa hari tak makan.


 Indi dan Bu Maryam bahkan sampai melongo melihatnya.


"Maaf," cicitnya pelan, kata pertama yang terucap dari bibir sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya kembali di rumah tersebut.


 Indi menggeleng lemah. "Tidak apa, lanjutkan saja. Makan pelan pelan, nanti kamu tersedak," ujar Indi sembari menyodorkan segelas air putih ke hadapan Intan.


 Intan menerimanya dan meneguk isi gelas itu hingga tandas, lalu kembali melanjutkan makannya dengan lebih perlahan. Demikian juga dengan Indi dan Bu Maryam yang ikut makan bersama dengannya.


*

__ADS_1


"Sebenarnya ... bapak sudah meninggal sejak sebulan yang lalu." Intan memulai awal mula cerita dia bisa sampai seperti pertama kali bertemu lagi dengan Indi.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun," ucap indi dan Bu Maryam serentak.


Masih jelas teringat di benak mereka bagaiamana seorang Pak Sukri yang baik hati, ramah serta dermawan itu dulu begitu baik menyambut mereka kala sampai di desanya untuk pertama kalinya. Beliau pula yang kadang memberi bantuan berupa makanan atau bahan mentah di kala mereka sedang tidak punya apa apa untuk di makan, dan beliau juga yang meminta Bu Sukri menerima Bu Maryam untuk bekerja di rumah a sebagai buruh cuci gosok dengan gaji yang terbilang lumayan untuk profesi tersebut.


"Bapak sudah menyusul ibu ... sekarang Intan sendirian," Isak intan mulai tergugu, wajahnya memerah menahan tangis yang sudah sejak beberapa waktu terakhir terus di keluarkannya.


 Tak tega, Indi mendekat membawa kepala gadis yang sebenarnya lebih cocok menjadi adiknya itu ke dadanya. Di peluknya tubuh kurus itu erat agar Intan lebih leluasa menumpahkan semua isi hatinya a yang pastinya sangat terpukul saat ini.


"Sshhhh, tenanglah jangan menangis lagi. Kamu tidak sendirian, bukankah kamu masih punya Mas Fatan juga? Kalian belum bercerai bukan?" tukas Indi menahan pedih di hatinya a, mengingat Intan masih lah istri dari sang suami yang kini masih mendekam di dalam sel tahanan.


 Intan mengangkat wajahnya tak percaya, mendengar Indi mengatakan hal itu membuatnya teringat akan satu hal yang sempat dia lupakan. Dia masih istri sah Fatan, walau pernikahan mereka hanya pernikahan siri namun sah di mata agama. Dan hingga kini kata talak belum terucap sama sekali dari Fatan maupun dirinya, yang itu artinya ... Fatan masih suaminya.


"Tapi ... apa mbak indi ikhlas, kalau aku masih menjadi istri Mas Fatan?" gumam Intan polos.


 Indi mendesah pelan, bocah ini memang masih terlalu dini memasuki dunia pernikahan karna kegoisan dan ambisi sang ibu dulu.


"Lalu, apa Mbak punya pilihan lain? Jika bisa ingin rasanya Mbak membuat status itu tidak ada, dan tak pernah ada namun apa daya, Mbak tidak sekuat itu. Mbak bukan super woman," gumam Indi mencoba menjelaskan sesederhana mungkin pada Intan.


 Intan seketika menunduk, jari jarinya bertaut gelisah. "maafkan aku, Mbak . Aku tahu sudah salah, lalu apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku itu? Katakanlah, Mbak."


 Intan kembali mengangkat wajahnya menatap Indi, mata beningnya yang cekung tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu yakin ingin menebus semua itu? Apa kamu tahu kalau semua kesalahan kamu padaku mungkin saja sudah terlalu banyak?" tanya Indi ingin tahu jawaban dari Intan, padahal sebenarnya dia tak sungguh-sungguh ingin Intan menebus semuanya, lebih tepatnya sudah terlambat untuk itu.


"Bapak dan ibuku sudah tiada, Mbak. Itu membuat aku merasa semua yang ada di dunia ini tak lagi memiliki arti, apalah artinya hidup jika hanya sendiri ku jalani? Akan lebih baik jika aku meminta ikhlas dari semua orang yang sudah aku sakiti, siapa yang tahu kapan hidup akan berakhir bukan? Seperti kepergiaan bapak yang mendadak kemarin ...." Intan menggantung ucapannya, air bening tampak kembali siap meluncur turun dari matanya. Sementara bibirnya mulai tampak gemetar.


__ADS_2