TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 132. ASA UNTUK LAILA.


__ADS_3

 "Halim! Ayo buruan! Orang toko udh nelpon mulu ini!" seru Bu Hana yang baru muncul dari arah jalan samping rumah sambil membawa sebuah kantong berisi uang hasil menagih hutang pada Bu Leha tadi.


  Halim dan Laila yang sedang bercengkrama tadi langsung menoleh dan menunggu hingga Bu Hana menghampiri rumah Laila.


"Mau kemana, Bu?" tanya Laila kembali lembut setelah tadi berteriak kaget karna emas untuk dekorasi yang di katakan Halim.


 Bu Hana duduk di dekat Laila dan tersenyum.


"Ke toko emas langganan ibu, mau ambil seserahan buat kamu besok," tegas Bu Hana sumringah.


 Mata Laila semakin membulat, menatap Halim dengan tatapan tak percaya.


"Jadi ... beneran mau pake emas buat dekorasi?" cicitnya masih tak percaya.


 Bu Hana tergelak hingga bahunya tampak berguncang.


"Hahahah, apa? Buat dekorasi? Siapa yang bilang begitu sama kamu, Nak?" kekehnya lagi.


"Mas Halim, Bu.". Laila menunjuk Halim yang tampak salah tingkah.


"Hehehe, ya emang bener kan Bu? Emas yang di pesan di toko itu buat dekorasi kan?" ucap Halim.


 Bu Hana menepuk pundak Halim cukup keras hingga membuat putranya itu meringis, Bu Hana biar langsing begitu ternyata tenaganya kuat sekali.


"Itu bukan buat dekorasi, anakonda! Itu buat seserahan, hahahah."


 Laila tampak membentuk bibirnya menjadi huruf o, sedangkan Halim hanya manggut-manggut paham saja.


"Kirain beneran buat dekorasi, bisa habis nanti emasnya di angkutin tamu undangan, hehe." Laila menanggapi dengan tawa ringan, ternyata yang ada di pikirannya tidaklah benar.


"Ada ada aja sih kalian, kalau mau sedekah ya bukan begitu caranya. Itu tekor jatuhnya," gelak Bu Hana lagi.


 Mereka tertawa bersama hingga perut terasa kejang.

__ADS_1


"Ya sudah, Laila ayo kamu juga siap siap ya. Kita ke sana sama sama, sekalian ibu mau belikan hadiah pernikahan buat kamu. Mumpung ada yang bayar hutang ini," ujar Bu Hana menunjukkan kantong yang dia bawa, yang penuh dengan uang.


"Wah, habis ngeped di mana, Bu?" celetuk Halim spontan.


 Bletakkkk


 Sebuah jitakan lagi meluncur mulus ke jidatnya Halim, membuatnya langsung benjol seketika.


"Aduh, Bu! Hobinya kenapa harus nyiksa Halim sih, Bu?" protes Halim bersungut-sungut.


"Ya mulut mu itu makanya di sekolahkan! Sembarangan sekali bilang ibu ngeped! Kamu kan tahu sendiri kalau ibu itu pesugihan!"


 Laila membulatkan matanya lebar, dengan mulut ternganga tak percaya.


"Ap- apa, Bu? Pe- pesugihan?" cicitnya.


 Bu Hana lagi lagi tergelak, mungkin sedang senang karna uang yang di rindukannya sudah kembali jadi bawaannya ingin tertawa mulu.


"Bercanda, sayang! Ya nggak mungkin lah ibu pesugihan, wong calon suami kamu ini juga udah kaya kok," sambungnya lagi.


"Ya sudah, yuk kok malah heboh kemana-mana ceritanya ini loh, udah Laila kamu masuk siap siap, ibu juga mau pulang dulu siap siap." Bu Hana beranjak dari tempat duduknya dan menarik Halim untuk pulang.


 Sejurus kemudian mereka semua sudah rapi dan siap menuju ke toko emas langganan Bu Hana, tentu saja Bu Hana masih membawa uangnya yang di dalam kantong tadi. Rencananya uang itu akaan dia pergunakan untuk melancarkan acara pernikahan anaknya dan Laila beberapa hari lagi.


"Langsung ke tokonya aja, Lim. Pegawainya tadi udah telpon ibu, katanya pesanan mahar kita sudah di buat." Bu Hana duduk di kursi belakang sambil nyemil belalang goreng.


"Oke, berangkat." Halim menghidupkan mesin mobil dan mobil pun meluncur lurus membelah jalanan menuju ke tempat yang di maksud.


"Bu, Mas harusnya nggak usah repot-repot," celetuk Laila yang tiba-tiba merasa sungkan karna lagi lagi di berikan kejutan tak terduga.


 Padahal belum lama sebelumya, ia baru saja di belikan sebuah kalung emas yang sangat indah oleh Halim. Dan ini mau di ajak membeli hadiah lagi untuknya oleh Bu Hana, ah rasanya Laila tak pernah seberuntung ini. Semenjak kedua orang tuanya sana Elis meninggal dunia, mereka bahkan lebih sering kelaparan ketimbang bisa makan makanan yang layak.


Dan kini, entah mimpi apa Laila sebelumnya bisa mendapatkan calon suami dan mertua yang sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Nggak repot sama sekali kok, Dek Laila. Ini memang sudah kewajiban Mas untuk membahagiakan kamu," sahut Halim yang entah belajar kata kata romantis itu dari mana.


"Iya, Halim benar, Nak. Kamu itu kan calon istrinya Halim, calon menantu sekaligus anak ibu juga, jadi apa salahnya kalau kami ingin semua yang terbaik buat kamu, Nak?" papar Bu Hana lembut sambil mengelus lengan Laila dari belakang.


 Mendengar itu, Lailaa malah semakin terisak. Ingatan akan menjadi yatim piatu sejak kecil dan di pandang sebelah mata oleh banyak orang membuatnya kini tidak percaya dengan takdir hidup yang di dapatnya. Rasa syukur berulang kali di lafalkan Laila di dalam hatinya, berharap agar orang orang yang baik padanya bisa mendapat balasan yang setimpal dari yang maha kuasa.


"Loh, kok kamu malah nangis sih, Sayang? Ibu salah ngomong ya?" ucap Bu hana cemas saat melihat Laila menutup wajahnya dengan bahu berguncang.


 Halim refleks menepikan mobilnya karna mendengar ucapan sang ibu, dan saat dia menoleh benar saja wajah Laila sudah basah dan memerah penuh air mata.


"Dek Laila kenapa? Kok nangis? Kenapa, Bu?" tanya Halim turut merasa cemas.


 Bu Hana hanya menggelengkan kepalanya sambil berusaha menenangkan Laila.


 "Dek, ayo cerita. Sekarang kamu juga punya Mas di sini, ada ibu juga yang bakalan jadi ibu kamu juga. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi ya, kami bakalan ada selalu kok buat kamu, Mas janji, Dek ." Halim berinisiatif memegang tangan Laila lembut lalu menggenggamnya erat.


 Laila semakin tergugu, rasa haru yang menyeruak tak bisa di tahannya hingga dengan sengaja dia keluarkan semua tangisnya hingga benar-benar merasa lega.


"Minum dulu, Nak." Bu Hana menyerahkan sebuah botol air mineral yang selalu tersedia di mobil Halim.


 Laila menerimanya dan meminum isinya hingga habis separuh. Setelah itu barulah ia menarik nafas dalam dan mengulas senyum termanisnya dengan mata masih memerah dan sembab.


"Laila nggak papa, Mas, Bu. Terima kasih ya sudah menerima Laila, Laila bersyukur sekali nanti bisa menjadi bagian dari keluarga kalian." Laila berucap tulus.


"Iya, ibu juga terima kasih karna kamu mau bertahan dengan anak ibu yang agak konslet ini. Semoga nantinya rumah tangga kalian akan tenang dan langgeng ya." Bu Hana menjawab tulus.


 Halim mengangguk setuju, dan mengeratkan pegangannya di tangan Laila yang belum di lepaskan.


"Mas juga, terima kasih karna sudah mau menerima dan mencintai Mas dengan tulus walau kadang Mas suka bikin kamu kesel. Terima kasih ya," ucap Halim yang ikut terharu pula.


 Laila mengangguk dan menjatuhkan lagi air matanya, air mata bahagia yang sejak lama di dambakannya.


 Selamat berbahagia, Halim - Laila.

__ADS_1


 Yang mau undangan pernikahan mereka harap ngacung di komen, jangan lupa bawa saweran, biduannya udah di Depe nih.


__ADS_2