
Hari hari kini di jalani Dara dengan lebih bahagia, keluarga yang hangat dan harmonis juga usaha yang perlahan semakin merangkak naik hingga kini namanya pun mulai di kenal, sebagai pemilik butik dengan brand ternama yang paling laris di pasaran.
Zaki sendiri selain sibuk dengan perusahaan kontraktornya, dia juga senantiasa membantu sang istri. Tak jarang bahkan Pak Jatmika juga meminta bantuannya untuk mengurus beberapa hal. Sedangkan si kembar kini lebih tampak bahagia dengan hadirnya Zaki di antara mereka.
"Papa, kapan kami punya adik?" tanya Fatur di suatu pagi saat mereka semua tengah sarapan.
"Uhuk, uhuk." Zaki tersedak karna mendengar pertanyaan tiba tiba itu, dengan sigap Dara langsung menyodorkan segelas air putih untuk di minum Zaki.
"Papa kenapa?" tanya Farah bingung, wajah polos dengan poni rata yang menggemaskan itu tampak cemas sambil menatap Zaki yang berada tepat di sebelah kursinya.
Zaki berdehem, mengelus rambut Farah dan menggeleng.
"Papa nggak papa kok," ucap Zaki menenangkan Farah.
"Beneran nggak papa, Mas?" tanya Dara tak kalah cemas sebab wajah Zaki kini tampak merah padam mungkin sebab tersedak tadi.
Sekali lagi Zaki menggeleng untuk menunjukkan keyakinannya.
"Fatur mau punya adik?" Zaki kembali beralih pada anak sambungnya itu.
Fatur mengangguk mantab.
"Iya! Kalau bisa yang kembar juga kayak Fatur sama Farah biar rumahnya rame." Fatur menjawab dengan bersemangat.
Zaki terkekeh melihat tingkah lucu bocah yang beberapa bulan lagi sudah akan masuk ke sekolah dasar itu.
"Coba tanya Mama," pungkas Zaki menunjuk Dara yang tampak pura pura tak peduli sambil tetap menikmati roti dengan selai coklat di tangannya.
"Mama, Fatur sama Farah mau punya adik!" seru Fatur tak gentar sama sekali.
Kali ini Dara hampir saja tersedak, namun untungnya dia sigap untuk langsung meminum air dan membuat tersedaknya gagal. Eh
Mata Dara membeliak menatap tajam pada sang suami yang hanya terkekeh tak berdosa.
"Mama! Buruan, Fatur sama Farah mau adik, Mama!" desak Fatur tampak tak sabar.
Dara memaksakan senyumnya walau hatinya kini terasa dongkol sekali dengan Zaki yang malah melimpahkan semua masalah ini padanya. Padahal kan bikinnya bakalan berdua, eh.
__ADS_1
"Nanti ya, Sayang. Kalau Fatur sama Farah mau punya adik, Mama harus ke dokter dulu supaya di periksa. Kalau oke baru kalian bisa punya adik, dan ... itupun waktunya nggak sebentar sayang." Dara menjelaskan dengan sabar, berharap penjelasannya dapat di terima dengan baik oleh dua buah hatinya itu.
Fatur tampak murung, lalu kembali duduk di kursinya dengan sedikit menghempaskan tubuhnya.
"Tapi Fatur maunya sekarang," desaknya tak mau tahu.
Dara dan Zaki mulai saling tatap, bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada anak mereka yang kritis itu.
"Ah, emmm ... Fatur sayang, kalau Fatur mau punya adik, itu ada prosesnya nggak bisa langsung ada begitu aja kayak Fatur beli mainan atau boneka. Nggak gitu caranya, sayang." Zaki mengelus kepala sang putra sambung dengan lembut.
Fatur masih cemberut, bahkan kini dia tak mau menatap wajah Zaki. Bibirnya maju hingga pipi tembamnya tampak lucu sekali.
Zaki mendesah dan kembali menatap Dara yang juga tampak kebingungan.
"Begini aja, kalau Fatur sama Farah mau adik oke Mama sama Papa bikinin tapi ... kalian harus janji mau sabar ya sampai nanti adiknya lahir, gimana?" tawar Dara memberi pilihan.
Mata Fatur dan Farah tampak berbinar, dan dengan cepat Fatur turun dari kursinya untuk mendekati Dara.
"Janji?" ucap keduanya bersamaan sambil mengacungkan jari kelingking masing-masing.
Dara mengangguk dan menggamit dua kelingking kecil itu dengan dua jari kelingkingnya sendiri.
****
"Assalamu'alaikum," ucap Laila di depan rumah Halim yang pagi ini tampak lengang, padahal sejak bu Hana memutuskan ikut tinggal di sana sampai hari pernikahan Halim dan Laila terlaksana, rumah itu selalu ramai oleh suara pertengkaran dua ibu dan anak itu.
"Assalamu'alaikum," ulang Laila karna tak mendapati jawaban sedikit pun, bahkan suara kentut nyamuk yang biasanya menggigit pantat Halim pun tak terdengar.
Laila mendesah, melirik arloji di tangan kirinya dan menatap sekitar dengan raut wajah kesal. Di tangan kanannya tampak sebuah rantang susun plastik yang berisi sarapan yang dia masak sendiri sejak subuh hari buta, demi mengambil hati calon mertuanya. Begitu cara yang di ajarkan Elis padanya, padahal Elis saja masih jomblo.
Laila hampir saja meninggalkan rantang itu di meja teras dan berlalu untuk berangkat ke TK, mengingat hari yang semakin beranjak siang. Namun baru dua langkah berjalan terdengar suara kunci pintu yang di buka dari dalam.
Ceklek
Ceklek
Kriiieeetttttt
__ADS_1
Pintu yang sudah lama tak di minyaki itu terbuka dengan seraut wajah kesal muncul dari baliknya.
"Wa'alaikumsalam, eh nak Laila. Ayo masuk, ini si Halim kebo belum bangun mana dari kemarin di suruh minyaki pintu aja nggak berangkat. Alasannya nggak enak badan tapi nonton film aja kerjaannya," omel Bu Hana sambil mendahului Laila melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah tampak lebih hidup dan bersih itu.
Laila masuk ke dalam setelah mengambil kembali rantang yang di letakkan ya di atas meja teras tadi.
"Bu, ini ada sarapan buat ibu sama Mas Halim." Laila menyodorkan rantang itu pada calon mertuanya karna merasa tak sopan jika harus membawa makanan tersebut langsung ke dapur untuk di sajikan.
"Ya ampun, Nak Laila ini repot repot sekali. Terima kasih ya, gimana kalau kita sarapan bareng di sini? Kayaknya ini enak pasti ya?" ajak Bu Hana lembut.
"Nggak usah, Bu. Laila udah sarapan di rumah sama Elis, itu buat ibu sama Mas Halim saja," tolak Laila halus.
Bu Hana manggut-manggut, lalu mempersilahkan calon menantunya itu untuk duduk di atas karpet permadani yang sudah dia hamparkan di ruang tamu rumah anaknya agar tampak lebih berisi.
"Duduk dulu ya, ibu panggilkan Halim." Bu Hana tersenyum lalu berlalu menuju ke arah dalam rumah.
Tak lama suara teriakan kembali terdengar, siapa lagi pelakunya kalau bukan Bu Hana yang tengah membangun si anak kebo yang hingga pagi begini masih bergelung di balik selimut dengan suhu AC yang sangat dingin.
"Astaghfirullah, Halim anakonda! Bangun kamu! Bisa bisanya kamu ngompol di atas kasur hah? Malu sama umur Halim! Itu di depan ada calon istri kamu!" seru Bu Hana tanpa rem sedikit pun jadi Laila yang kini tengah menunggu di ruang tamu bisa mendengar dengan jelas perkataannya dan tersenyum malu.
Halim yang mendengar kata calon istri langsung menggeragap bangun dengan wajah syok, menatap ke bawah dia lebih kaget lagi ternyata kasurnya sudah basah dengan bagian bawah tubuhnya yang juga basah. Belum lagi saat melihat ke atas sang ibu sudah siap dengan sapu lidi di tangannya.
"Hwwweeeee .... Tolongggggg ...," ringis Halim mewek dengan wajah persis badut pinggir jalan.
Tidak terpancing, Bu Hana malah mengangkat sapu lidi di tangannya tinggi tinggi dan ....
Srrraaattt
Sssrrraaattttt
"Dasar anak edan!"
"Ampooonnnnn, Bu!"
Gerdubrak
Gubrak
__ADS_1
Gabrukkk
Bbyuuuurrrrrr