
Fatah menghembuskan nafas panjang, menetralkan gemuruh yang menghujam dadanya.
" Jadi ... itulah yang terjadi, In. Mas terpaksa berjalan dari perbatasan kota sana ke rumah ini. Mas nggak punya tempat untuk pulang selain di sini, In tempat dimana istri Mas yang tercinta berada," ujar Fatah usai membeberkan semuanya pada Indi yang sejak tadi hanya diam saja menanggapinya.
Indi tersenyum kecut, tak lagi percaya dengan kata kata Fatan akan dirinya istri tercinta. Karna jika itu benar, tak akan ada istri ke dua di dalam hidup Fatan walau itu artinya a terpaksa.
"Kamu ... percaya kan sama Mas, In?" tanya Fatan lagi, dengan hati hati dan menatap wajah wanita yang masih resmi istrinya itu lekat.
Sorot mata yang menyiratkan pengharapan yang besar agar bisa di terima di rumah tersebut.
Setelah membuang nafas perlahan, Indi menegakkan pandangan yang sejak tadi dia tumpukan pada meja di depannya. Sembari menyimak cerita Fatan yang baginya terlalu di dramatisir.
" Entahlah, Mas. Apa aku masih bisa percaya padamu setelah apa yang terjadi di antara kita?" gumam Indi tenang, walau tak bisa di pungkiri saat ini hatinya tak berhenti berdenyut perih.
Fatah Mende sah. "Mas sudah berusaha untuk jujur akan semuanya sama kamu, In. Semua ini Mas lakukan agar kamu bisa kembali percaya pada Mas. Percayalah, In Mas sangat mencintai kamu. hanya kamu, In."
"Bohong!" Indi berdiri, tanpa sengaja dia menaikkan nada suaranya saat bicara dengan Fatan.
Hatinya sakit, tak akan dia lupakan betapa sakitnya hatinya kini saat dengan mudahnya pria yang sudah berkali-kali menoreh luka di hatinya mengucapkan hanya mencintainya. Omong kosong! Semua itu pastilah hanya omong kosong belaka, karna saat ini dia tengah butuh bantuan. Begitu pikir Indi.
Fatan tampak tercengang mungkin tak menyangka kalau Indi akan bicara keras ke padanya. Mungkin saja dalam benak Fatan Indi masih saja seperti dulu yang akan sangat mudah tunduk dengan bujuk rayunya yang terkadang memuakkan.
"I- Indi ... sayang ...." Fatan mencoba meraih tangan Indi, berusaha sekuat tenaga agar indi kembali mau mendengarkan dirinya dengan semua alasannya.
"Diam kamu, mas!" bentak Indi sembari menjauhkan diri dari jangkauan Fatan yang terus berusaha mendekatinya.
__ADS_1
Fatan terhenyak, lalu diam di tempat saat Indi menuding wajahnya dengan telunjuknya yang bahkan sejak dulu tak pernah sekalipun terangkat di depannya.
"I- Indi ... tenang, Mas mohon jangan begini, sayang." Fatan masih berusaha membujuk walau kini tampak tergugup.
Indi menggeleng, terus mundur hingga mencapai batas pinggiran wastafel. Berhenti di sana dan memandang Fatan dengan tatapan nyalang.
"Sudah cukup, Mas," gumam Indi dengan nada datar dan dingin.
Fatan merasa tenggorakannya tercekat, semua yang pernah dia kenal dari Indi yang dulu kini seolah sirna. Indi yang dulu sangat memuja dan lembut padanya kini sudah tak ada , yang ada hanyalah Indi yang tegas dan keras bahkan kini tatapannya menyiratkan kebencian yang sangat.
"Pergilah dari sini sebelum aku kehabisan kesabaran, Mas." Indi menunjuk arah keluar.
Fatan seketika gelagapan, jika tidak di sana lalu kemana dia akan pergi. Jangankan untuk naik travell hingga k kampungnya, satu lembar uang pun dia tak punya sama sekali. Sebab semenjak menikah dengan Intan semua uangnya di haruskan gadis itu ada di tangannya, katanya sudah tradisinya begitu. Padahal dengan Indi Fatan tak pernah memberinya semua uang yang dia punya, bahkan terkadang cenderung pelit pada istrinya itu.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana, Mas? Cepat pergi sebelum aku teriak supaya semua warga sini keluar dari rumahnya dan menghajar kamu." Indi mengancam, dengan sedikit bumbu kebohongan di ujungnya. Yah, jangankan warga, tetangga di sebelah rumah ini pun Indi tak mengenal namanya. Jadi bagaimana mereka mau datang kalau dia teriak.
"Ta- tapi ,In ... Mas kan ..."
"Apalagi, Mas? Aku sudah memberimu makan dengan baik tanpa mengajak berdebat atau membahas apapun yang bisa membuat aku sakit hati, tapi kan aku sendiri yang ngelunjak dan malah bahas hal yang jelas jelas itu belum bisa aku terima dengan ikhlas, Mas. Kamu masih punya otak nggak sih? Atau sudah kamu gadaikan buat menikahi gadis tengil itu?" Serang Indi dengan wajah kesal.
P
"Indi, Mas hanya ...."
"Sudah! Berhenti bicara!"
__ADS_1
Bu Maryam datang sembari menggendong bayi Indi yang menangis di pelukannya.
Dia melangkah dengan wajah nyalang mendekati Indi yang memberikan bayi itu padanya. Lalu kembali menatap Fatan dengan tatapan tajam.
" Maaf ,Bu tapi Fatan hanya ...."
"Hanya apa? Memaksa anakku untuk bisa memaklumi semua yang sudah kamu lakukan? Tanpa memikirkan perasaanya sedikit pun ha?" sergah Bu Maryam cepat hingga Fatan tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
.
Fatan tercenung, tak dapat menjawab pertanyaan sang ibu mertua yang kini tampak sangat benci padanya.
"Maaf ...."
"Sudah cukup, berhenti minta maaf karna itu tak akan merubah apapun, Fatan. Lebih baik sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, Dara bisa marah pada kami kalau sampai tahu kamu ada di sini. Apa kamu mau Dara mengusir kami dari sini gara gara kamu, dan anak kamu yang masih bayi ini harus hidup terlunta-lunta di jalanan sana? Mikir, Fatan," sela Bu Maryam lagi bahkan sambil menunjuk nunjuk kepalanya sendiri dengan wajah kesal.
"Kenapa kalian ah maksudnya kita, kenapa kita tidak pulang saja ke desa, Bu? Toh di sana kita punya rumah yang nyaman bukan? Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, Fatan janji akan berubah." Fatan memohon sembari menangkup tangannya di dada. Berharap ada sedikit celah di hati Bu Maryam untuk bisa memaafkan dirinya.
Indi tampak mengusap sudut matanya di sana, di atas kursi meja makan dimana dia tengah menyusui bayinya. Fatan sempat melihat wajah bayi itu yang semakin mirip dengannya, hatinya terenyuh, ingin rasanya dia menghambur memeluk bayi itu kalau saja kondisinya tidak seperti ini.
Tuk
Fatan tersadar dari lamunannya, saat jemari Bu Maryam mendorong bahunya cukup keras hingga dia terhuyung ke belakang.
"Kamu dengar ya, Fatan dan ingat ini di otakmu yang entah masih ada atau tidak itu." Bu Maryam berkata dengan dada kembang kempis seperti menahan emosi yang siap meletup kapan saja.
__ADS_1
Lagi lagi Fatan hanya bisa terdiam, bahkan lidahnya terasa kelu untuk sekedar berucap satu patah kata saja. Dia hanya bisa pasrah menatap mata Bu Maryam yang seolah bisa menembus jantungnya itu.
" Kami ... pergi dari rumah mu itu karna ketidak jujuran kamu akan pekerjaan dan hubungan kamu dengan Intan dan keluarganya. Kamu yang tidak tegas sejak awal hingga kami memilih menenangkan diri di sini. Namun belum sempat hati ini tenang berpikir untuk mengambil sikap, kamu datang lagi dengan anak tidak tahu diri itu sebagai istrimu. Kamu tahu betapa terlukanya kami atas kabar itu? Dan sekarang, kami putuskan untuk tak akan pernah lagi kembali ke rumah mu itu, silahkan nikmati semuanya dan ceraikan anakku. Aku tak Sudi anakku di madu."