TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 246.


__ADS_3

   Sementara itu, Indi yang saat itu tengah bersiap akan ke kantor polisi guna mengantar Intan bertemu dengan Fatan malah seolah merasa tidak nyaman dengan keputusannya sendiri. Apakah keputusannya mempertemukan Intan dan Fatan adalah keputusan yang tepat atau malah akan semakin membuat rumah tangga yang dia harapkan akan bisa berlanjut ini kembali berada di ambang kehancuran.


 Entahlah, Indi sendiri belum bisa memastikan hal itu. Akhirnya dia menyerah, pasrah akan takdir yang akan membawanya nasib rumah tangganya kemana nanti. Indi yakin Gusti Allah SWT tidak tidur, dan akan memberi jalan hidup yang paling terbaik untuknya dan keluarganya nanti.


Tok


Tok


Tok


"Indi, kamu sudah siap?" suara Bu Maryam memanggil dari luar kamar.


"Iya, sebentar Bu."


 Indi menatap penampilannya sekali lagi di cermin, setelah memastikan semuanya rapi dia pun beranjak keluar dari kamar.


"Inara sudah siap?" tanya Indi dengan nada ceria pada buah hati semata wayangnya yang tampak cantik setelah di dandani neneknya itu.


"Sudah, bunda." Bu Maryam menyahut dengan suara di buat serupa dengan anak kecil.


 Indi mencium gemas pipi anak perempuannya yang lucu dan gembul itu, semakin besar paras cantiknya tampak semakin mirip dengan Fatan. Bahkan Indi tak kebagian tempat sedikit pun di wajah anaknya itu.


"Intan mana, Bu?" tanya Indi setelah beberapa kali celingukan dan tak mendapati Intan di antara mereka, padahal dia mengira Intan pasti sudah siap lebih dulu dari pada dirinya mengingat tadi dia meminta Intan mandi lebih dulu sebelum mereka. Namun nyatanya kini dia malah tak ada di manapun.


"Mungkin masih di kamar, sejak tadi ibu belum lihat dia keluar."


 Indi mengangguk lalu berjalan ke arah kamar yang di tempati Intan.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Intan? Kamu sudah siap?" panggil Indi seraya menempelkan telinganya di daun pintu.


 Tak ada sahutan dari dalam, namun tak lama pintu itu terbuka dan seraut wajah yang sepertinya habis menangis muncul dari dalamnya.


"Loh? Kamu belum siap juga? Katanya kita mau ke tempatnya Mas Fatan? Kok malah belum siap siap?" tanya Indi heran, padahal tadi saat indi mengatakan akan membawanya bertemu Fatan, Intan tampak sangat bersemangat tapi kenapa sekarang ... ah entahlah apa maunya gadis labil ini.


 Intan mengusap matanya yang masih berair, lalu memberanikan diri menatap wajah Indi yang sudah cantik dengan make up tipisnya.


"Aku ... aku nggak punya baju lain, Mbak. Mbak lupa ya kalau aku bahkan nggak bawa apa apa ke sini, bagaimana aku bisa bersiap siap?" ucapnya lirih.


 Indi menepuk jidatnya, namun dia akui untuk yang satu ini dia memang lupa sama sekali. Yang terakhir dia ingat Intan pernah mengaku punya segala hal yang tidak dia punya sehingga indi selalu menganggap Intan tidak pernah kekurangan, dia lupa jika selain pakaian yang melekat di tubuhnya saat datang tadi tak ada apapun lainnya yang di bawa Intan bersamanya.


"Ya sudah, ayo ikut Mbak." Indi berjalan mendahului Intan menuju kamar yang dia tempati.


 Mengambil satu setel bajunya yang agak kecil dan mempersilahkan Intan untuk memakai make up ala kadarnya yang dia miliki, setidaknya itu akan membuatnya tampak lebih rapi ketimbang saat ini.


 Tanpa banyak protes, Intan menuruti semua yang di katakan Indi. Setelah semua siap, mereka pun berangkat ke kantor polisi dengan menggunakan taksi online karna Bu Maryam dan Inara juga turut serta.


*


 Tak lama menunggu, Fatan datang dengan di kawal seorang polisi yang langsung menunggu di luar ruang jenguk setelah mengantar Fatan.


 Dan bisa di tebak, reaksi pertama Fatan mendapati wajah Intan ada di hadapannya tentu saja selain terkejut juga masih ada terselip rasa kesal dan marah karna terkahir mereka bertemu saat itu dia di turunkan di antah berantah oleh Bu Sukri dan Intan hanya diam menurut saja.


"Kamu? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" ketus Fatan yang kemarahannya masih tampak kentara.


Intan langsung menunduk, tak berani menatap wajah marah Fatan. Bahkan buku buku jari kakinya menekan lantai dengan kuat sekali.


"Mas, ini bukan saatnya marah marah," bujuk Indi sambil memegang tangan, mencoba menyadarkannya kalau Intan datang bukan untuk itu.

__ADS_1


Fatan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, di alihkannya tatapannya pada Indi setidaknya dengan begitu dia tak akan terlalu kesal melihat Intan di depannya.


"Dimana Inara, sayang? Dia ikut kan? Mas kangen sekali dengan Inara," tukas Fatan mengalihkan pembicaraan.


 Nyuttt


 Hati Intan berdenyut nyeri ketika mendengar Fatan menanyakan putrinya dengan Indi, dengan begitu lembutnya. Sangat jauh berbeda dengan reaksinya kala melihatnya, dan sampai di sini Intan paham, kalau dia memang sudah di buang dari kehidupan semua orang. Tak ada yang menginginkannya lagi, tidak satu pun dari semua yang tersisa.


"Inara ada, Mas lagi ke depan sama ibu. Tadi dia nangis, jadi Indi minta tolong ibu bawa ke sana, mungkin sebentar lagi datang." Indi menyahut pertanyaan Fatan.


"Tumben hari ini kamu nggak bawakan Mas makanan lagi? Apa uang kamu habis, sayang? Maaf ya, Mas belum bisa menafkahi kalian. Tapi mas janji, setelah Mas bebas dari sini Mas akan bekerja keras untuk membahagiakan kalian," papar Fatan dengan penuh percaya diri.


 Indi menggigit bibir bawahnya dengan gelisah, di liriknya sekilas Intan yang masih menunduk di sisinya. Sekilas tampak bulir bening jatuh membasahi pipi dan sampai ke pangkuannya. Bahunya terguncang pelan, mungkin itu sudah sekuat tenaga dia menahan agar tidak kelepasan menangis di sana dan membuat suasana menjadi tidak nyaman.


"Mas sebenarnya ... ada hal penting yang ingin kami sampaikan di sini" ucap Indi mencoba mengendalikan keadaan.


 Kening Fatan sontak berkerut, perasannya sendiri mendadak menjadi tak nyaman. Dan entah mengapa Fatan justru langsung menyalahkan Intan di balik semua ini walau tak dia sebutkan secara langsung.


"Apa itu, sayang? Katakanlah, jangan buat suamimu ini gelisah," gumam Fatan yang seolah sengaja berkata demikian, sehingga hati Intan rasanya remuk redam mendengar panggilan sayangnya untuk Indi.


"Jadi, begini Mas ." Indi melanjutkan ucapannya. "Intan meminta kepastian akan hubungan kalian."


 Fatan mengusap wajahnya kasar, di liriknya Intan dengan tatapan tajam yang penuh dengan kebencian.


"Maaf, tapi bukankah sudah pernah Mas katakan kalau mas sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan yang tidak sehat dengannya sejak dulu? Kenapa kamu masih menanyakan hal itu lagi, sayang? Bukankah harusnya kamu tahu jawabannya?" ucap Fatan ambigu.


 Intan semakin terisak di tempatnya, sebelah tangan Indi langsung meraihnya dalam dekapan. Kembali lagi, semua itu dia lakukan karna rasa kemanusiaan semata tidak ada alasan lain yang mendasarinya lagi.


"Tapi, Mas. Intan baru saja kehilangan bapaknya. Pak Sukri meninggal beberapa hari yang lalu, dan sekarang Intan sebatang kara. Dia hanya punya kamu sebagai tempat kembalinya, Mas," sahut Indi dengan air mata mulai menggenangi netranya, sementara itu Fatan langsung tampak kehabisan kata kata mendengar ucapan Indi barusan.


*Kira kira bagaimana keputusan yang bakalan di ambil Fatan ya?

__ADS_1


 Oh ya, yang nggak sabar sama novel baru author yang judulnya SUAMIKU AJAIB insyaallah lusa sudah launching ya -- tapi sesuai mood author juga sih, kalo rame yang mau baca author ushakan cepat. kalau nggak, terpaksa up nya nanti nanti aja hehehe, jadi yang mau cepat baca langsung tinggalkan jejak di kolom komentar ya--


Ciao.


__ADS_2