TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 11. MISTER RIUS?


__ADS_3

 Sebagai mahasiswi baru Indi langsung di arahkan untuk berkumpul bersama rekan-rekan sesama Maba untuk memulia kegiatan ospek.


 Yah, seperti ospek kebanyakan. Ospek yang di jalani Indi pun penuh dengan drama rumah tangga ala-ala kakak tingkat mereka, dan tangsi air mata buaya para Maba seakan-akan mereka makhluk paling terdzolimi di dunia.


"Hei anak baru, sendirian aja?" celetuk seorang kating (kakak tingkat) sambil mendekati Indi yang tengah menyelonjorkan kakinya di bawah sebuah pohon.


 Berbagai macam hiasan aneh yang di pakaikan para katingnya bergoyang-goyang lucu di kepala dan leher Indi saat dia celingukan kekiri dan kekanan, memastikan kalau yang di ajak bicara adalah dirinya.


"Iya labu air, gue ngomong sama lo," tandas kating lelaki itu sambil duduk tak jauh dari Indi.


"Ooh, Kakak ngomong sama aku?" sahut Indi canggung.


 Jantungnya berdebar kencang saat tak sengaja menangkap gelagat aneh dari kakak tingkatnya itu, tampak dia memperhatikan setiap lekuk tubuh Indi yang saat ini hanya terbalut kaos dalaman agak ketat dengan luaran blazer dan celana kulot panjang.


"K ... kalau nggak ada apa-apa, saya ke sana dulu ya, Kak." Indi beranjak berdiri.


 Namun belum sempat jauh melangkah tangannya sudah di tahan oleh pria tersebut. Jarak mereka yang lumayan jauh dari rombongan yang lain membuat Indi khawatir kalau seniornya itu akan berbuat macam-macam padanya.


"Mau kemana? Kegiatan sudah selesai kok, udahlah di sini aja kita," ucap pria itu memaksa, bahkan dengan beraninya menarik tangan Indi sampai hampir terjungkal menimpanya.


 "Maaf, Kak. Jangan paksa saya, saya mau ke sana aja gabung sama temen-temen. Saya nggak nyaman di sini," pinta Indi memelas, berharap pria dengan jaket jeans dan berkulit gelap itu mau melepaskannya.


"Bandel banget sih! Kalau gue bilang di sini aja ya udah di sini aja!" hardik pria itu sambil menarik tangan Indi lebih keras.


 Mata Indi membulat saat menyadari kalau tarikan kuat itu membuat tubuhnya terhuyung dan akan benar-benar jatuh menimpa pria itu. Yang bahkan dengan tawa lebarnya sudah bersiap hendak menangkap Indi dalam pelukannya.


Brugh


 Tubuh Indi di tangkap seseorang, namun Indi yang masih syok tak mau sedikitpun membuka matanya yang kini terpejam erat.


"Berani macam-macam?" desis suara di dekat telinga Indi.


"Am .... ampun pak, maaf pak. Jangan hukum saya, Pak." pria aneh yang sebelumnya hendak melakukan hal tak senonoh pada Indi kini tampak menunduk takut.


 Indi yang bingung mendengar suara-suara itu akhirnya memilih mengintip sedikit dari balik kelopak matanya.


'Loh? Zaki?' batin Indi saat melihat siluet wajah Zaki dari balik kelopak matanya.

__ADS_1


 Karena penasaran akhirnya Indi membuka matanya dengan sempurna.


"Zaki? kok lo masih di sini sih?" tanya Indi tak mengerti, bahkan dia sampai tak sadar kalau sejak tadi pinggangnya berada dalam pelukan Zaki.


 Zaki menoleh sekilas tanpa menjawab, kemudian kembali menatap tajam ke arah mahasiswa laki-laki yang tadi mengganggu Indi.


"Kamu selamat hari ini, ingat-ingat wajahnya," menunjuk wajah Indi, "Dan jangan pernah mengulangi jika masih ingin menikmati sinar matahari," desis Zaki garang.


"I ... iya Pak, saya janji Pak. Saya permisi Pak," ujar pria itu sambil berlari kencang menjauhi mereka berdua.


 Setelah pria itu tak tampak lagi barulah Indi tersadar kalau sejak tadi pinggangnya ada yang memeluk.


"Kesempatan lo ya?" hardik Indi sambil mengibaskan tangan Zaki dari pinggangnya.


 Zaki melengos sambil mengusap tangannya yang di tepis Indi.


"Bukannya makasih kamu itu," rutuknya sambil melenggang menjauh.


 Indi yang tak tahu harus kemana akhirnya memilih mengikuti Zaki, ketimbang harus kembali bertemu dengan mahasiswa aneh lainnya. Di tambah lagi dia juga masih penasaran kenapa Zaki masih berkeliaran di kampus itu dan bukannya pulang ke kafenya lagi.


 Indi kembali di buat terkejut saat melewati segerombolan mahasiswa mereka semua kompak menunduk dan tersenyum sambil menyapa Zaki.


 Jalannya tegap, dengan kepala lurus ke depan. Kedua tangganya di dalam saku, membuat kharisma Zaki benar-benar terpancar. Walau Indi yang melihatnya dari belakang saja.


"Mister? Mister rius maksudnya?" kikik Indi geli saat mendengar para mahasiswa itu memanggil Zaki dengan sebutan mister.


 Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah tempat yang luas dengan banyak meja dan kursi yang tersusun rapi. Dalam hati Indi sudah menebak kalau inilah kantin kampus tersebut.


"Kamu ngikutin saya?" tanya Zaki saat berbalik ke belakang dan mendapat Indi berada di bawah dagunya.


 Indi yang berjalan sambil terkagum-kagum melihat keindahan kampus tempatnya akan kuliah bahkan sampai tak sadar kalau Zaki sudah berhenti. Alhasil wajah penuh make upnya harus menabrak kemeja hitam yang di pakai Zaki dan meninggalkan bekas di sana.


mata Indi membulat sempurna saat melihat jiplakan wajahnya di kemeja Zaki.


"Aduh, aduh. Maaf ya, maaf nggak sengaja." Indi mengeluarkan sapu tangan dar dalam tasnya dan mulai mengibaskan noda di kemeja Zaki.


 Walau tidak bisa bersih sempurna tapi setidaknya sudah tidak terlalu berbentuk jiplakan wajahnya seperti tadi.

__ADS_1


"Kamu sudah mengotori baju saya, dan kamu harus cuci. Sepulang dari sini nanti kita langsung ke kafe dan pekerjaan pertama kamu, adalah mencuci kemeja saya ini," titah Zaki sambil berbalik dan mendahului Indi duduk di salah satu bangku.


 Indi berdecak kesal, namun tak bisa membantah apa-apa karna itu memang kesalahannya.


****


"Gimana Indi, Mas?" tanya Dara sesaat setelah Fatan berganti pakaian sepulangnya dari kantor.


 Fatan berjalan mendekati Dara yang tengah duduk di tepi ranjang. Aroma maskulin yang memabukkan dari tubuhnya membuat Dara betah berlama-lama berada di balik ketiak suaminya itu.


"Ternyata Zaki sama Indi sudah saling kenal, jadi kayaknya kita nggak perlu terlalu khawatir, Sayang." Fatan mengacak rambut Dara.


"Oh ya? Kenal dimana?"


"Katanya sih, di belakang komplek ini. Ya udahlah nggak penting juga Sayang, yang penting sekarang Mas sudah dapat kabar dari Zaki kalau Indi sudah di terima kerja di tempatnya mulai hari ini. Dan untuk pulangnya nanti Zaki yang akan langsung mengantar, kebetulan dia juga punya rumah di komplek ini katanya," jelas Fatan panjang lebar.


Dara manggut-manggut, setelahnya menghela nafas lega. Dan berpindah posisi menjadi brbaring di atas kasur empuk mereka.


 Dress midi halus yang di pakainya mencetak sempurna bentuk tubuhnya karna tak di tutupi dengan jilbab lebar seperti biasa penampilan Dara sehari-hari. Karena setiap berada di dalam kamar Dara akan membukanya dan menyampirkannya di dekat pintu keluar.


 Melihat pemandangan di depan matanya membuat Fatan gerah, lekas dinaikinya tubuh sang istri setelah memastikan pintu kamar mereka terkunci rapat.


"Mas! Masih sore," seru Dara melotot.


"Salahmu sendiri menantang begitu," desis Fatan sambil mulai menatap istrinya sayu.


 Dara berusaha bangkit dengan mendorong dada suaminya.


"Nggak, nggak, nggak! Masih sore, anak-anak belum pada mandi rumah belum di urusin. Udah ah, Mas. Buruan mandi aja sana," tegas Dara sambil berjalan menuju kursi rias dan mengambil jilbab lebarnya dari sana.


 Tanda bahaya sudah menyala, karena waktunya tak tepat jadi Dara berusaha meredam apa yang sudah di bangunkannya.


"Huh, dasar PHP. Kalau begitu malam ini tiga ronde," gumam Fatan sambil meraih tubuh istrinya dan bergelayut manja di pundaknya.


"Kalau kamu begitu terus bisa-bisa si kembar cepet punya adek, Mas." Dara terkekeh sambil menyentuh pipi suaminya dan menatap pantulan mereka di cermin.


 Namun sebuah teriakan Fatur yang tiba-tiba membuat momen romantis itu seketika ambyar tak bersisa.

__ADS_1


"Mama! Papa! Tolongin Tante, Tante Indi nangis!" seru Fatur sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar orang tuanya dengan telapak tangan.


__ADS_2