TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 40. MEMERIKSA.


__ADS_3

Elis mengusap punggung Dara, untungnya posisi mereka berdua saat ini lumayan tertutup dari pandangan tamu tamu yang lain. Jadi Elis tak harus mengajak Dara kemanapun untuk bisa sekedar bercerita.


"Apa Mbak sudah yakin? Bisa jadi kan Pak Fatan begitu karena masih kecapekan habis dinas luar kota kemarin," bisik Elis.


 Dara menghapus air matanya dengan tisu dan berusaha untuk tidak menangis kembali.


"Nggak mungkin, Lis. Mbak kenal Mas Fatan itu bukan baru kemarin sore, dan sejak pulang dari luar kota itu dia betul-betul berubah. Bahkan dia sama sekali seperti bukan Mas Fatan yang sama lagi dengan yang sebelum."


"Lalu apa sebabnya Mas Fatan jadi bersikap dingin gitu sama Mbak? kan nggak mungkin nggak ada sebabnya kan?" ucap Elis lirih.


 Para tamu masih bersenda gurau di tempatnya semula sembari menikmati hidangan yang di sediakan Dara selaku tuan rumah untuk mereka. Tak lupa juga beberapa tetangga termasuk Bu Leha dan Ibu guru Laila juga dia undang sekaligus untuk membantu mengurus barang hantaran pihak pria agar Dara tidak terlalu repot.


"Mbak juga bingung, Lis. Sebenarnya ada apa sama Mas Fatan? kenapa dia bisa berubah sedrastis itu?" gumam Dara lirih.


 Selama ini hanya kepada Elis atau Laila lah Dara bisa dengan leluasa mencurahkan isi hatinya, karna mereka berdua bukanlah orang ember yang senang membicarakan aib orang lain di luaran. Dan Dara sudah membuktikannya sendiri.


 Elis tampak berpikir sejenak. "Ehm, Mbak. Maaf sebelumnya kalau Elis salah ngomong, tapi ... apa Mbak pernah periksa ponselnya Mas Fatan?"


 Dara menggeleng pelan. "Nggak, Mbak selalu menghargai privasi dia. Jadi Mbak nggak pernah kepo buat buka buka ponselnya."


 Elis mendesah lirih. "bagaimana kalau untuk mulai menyelidiki Mbak coba periksa ponselnya Mas Fatan, siapa tau ada jawabannya di situ."


 Dara menatap Elis lekat, namun kemudian kembali menunduk.


"Tapi ... Mbak nggak berani, Lis."


"Mbak harus bisa beraniin diri, dari pada Mbak malah tersiksa terus begini? Mbak pilih mana?" cecar Elis.


 Suara Elis yang sedikit meninggi membuat si kembar yang tengah menikmati kue di depannys menoleh dengan heran.


"Eh, maaf ya anak-anak. Mbak El ganggu ya?" tanya Elis lembut.


 Farah menggeleng lucu sampai kuncir kudanya bergerak lincah di kepalanya. " Suutttt, jangan berisik Mbak El."


 Elis mengangguk dan mengacungkan dia jempol pada dua anak manis yang penurut dan merupakan kesayangannya itu. Dan setelah si kembar kembali sibuk dengan kuenya, Elis bisa kembali fokus pada Dara.

__ADS_1


"Mbak, ayolah! Jangan lemah kayak gini. Ini kayak bukan Mbak Dara yang Elis kenal tau, Mbak Dara yang Elis kenal itu tegas, pandai mengambil keputusan, dan pinter ngatur siasat sekaligus mengatur ruangan."


 Pletak


 Dara menjitak pelan kepala Elis yang bicaranya sudah mulai melantur kemana mana. Sebuah senyuman terbit di bibir Dara karna kekonyolan Elis yang sejak dulu membuatnya senang.


"Ngomong apa sih kamu, Lis?"


 Elis mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Dara, tidak terasa sakit hanya saja dia ingin membuat Dara sedikit terhibur dengan banyolannya.


"Aish, Mbak Dara mainnya kasar ya sekarang. Gini dong, Mbak. Yang kuat, jangan lemah!"


 Dara mengusap kepala Elis sembari mengacak rambutnya yang di kepang dua. Gaya rambut favoritnya yang tak pernah berubah sejak pertama kali Dara bertemu dengannya dulu.


"Makasih banyak ya, Lis. Sudah mau dengerin curhatan Mbak. Insyaallah, setelah Mbak kuatkan tekad nanti, Mbak akan lakukan apa yang kamu bilang tadi. Tapi ... besar harapan Mbak kalau semua ini memang hanya sekedar kebetulan tanpa ada sesuatu yang buruk."


"Siap, Mbak. Kalau nanti Mbak butuh bantuan, Elis selalu siap bantu Mbak. Kapan pun itu saatnya panggil Elis dan Elis akan datang membawa beban." kekeh Elis bergurau.


 Dara kembali tergelak dan berulang kali menepuk pelan lengan Elis.


****


 Malam tiba, semua barang bekas acara tadi siang sudah kembali bersih, rapi dan berada di tempatnya kembali. Serta semua barang seserahan juga sudah berada di dalam kamar Indi si calon pengantin.


 Dara duduk bersandar di atas kasurnya sembari menatap keluar jendela di mana rumput rumput di depan jendelanya tampak berkilau di timpa sinar rembulan malam.


Ceklek


 Pintu kamar terbuka, dan Fatan masuk ke dalam kamar masih dengan pakaian yang dia kenakan saat acara Indi berlangsung tadi siang. Seperti yang di katakan Dara kalau Fatan menjadi lebih dingin padanya.


"Kamu belum mandi, Mas?" tanya Dara basa-basi karna biasanya Fatan adalah pria yang sangat tidak suka jika badannya mulai lengket dan akan bersegera mandi saat itu juga sangat berbanding terbalik dengan sekarang saat tubuh Fatan tampak berkeringat tapi dia malah dengan santainya duduk di atas sofa membelakangi Dara.


"Mas? kamu denger aku nggak?" imbuh Dara saat merasa Fatan tak mengindahkannya.


"Iya, kenapa?" sahut Fatan datar, bahkan dia sama sekali tidak menolehkan kepalanya untuk melihat Dara.

__ADS_1


 Hati Dara tercubit, sangat sakit rasanya saat suami yang biasanya begitu memuja kini berbalik seolah kita tak ada.


"Kamu kenapa sih, Mas? kamu berubah tau nggak?" seru Dara tak mampu lagi menahan air matanya.


 Fatan menggeleng jengah, dan langsung melempar baju kemeja yang baru saja di bukanya ke arah kasur. Awalnya dia ingin melemparkan ke Dara namun di urungkan dan melemparnya ke sembarang arah.


"Aku capek, Ma. Tolong jangan dulu ajak aku ribut." Fatan beranjak menuju kamar mandi dan menutupnya dengan keras.


Brakkk


 Seakan hendak lepas pintu itu bergetar dan tertutup rapat di depan Dara, membuatnya semakin tergugu di tempat duduknya.


"Ada apa dengan suamiku ya Allah? bukankah aku sudah menitipkannya pada- Mu? lalu kenapa sifatnya malah menjadi seperti itu ya Allah? sungguh aku benar-benar tidak bisa mengenalinya lagi."


 Puas dengan tangisnya, Dara menghapus kasar air matanya. Dan matanya mulai bergerak liar mencari sesuatu yang sejak tadi di incarnya.


Sring


 Sebuah sinar kecil memantul mengenai sudut matanya, dan dengan segera Dara menghampiri arah datangnya sinar dan menyibak kain yang menutupinya.


"Alhamdulillah ketemu!" bisik Dara pelan sembari mengangkat ponsel Fatan ke dalam wajahnya dan menyingkirkan kemeja sang suami yang tadi menutupinya.


 Dara memegang erat ponsel itu, jantungnya berdebar kencang karna untuk pertama kalinya dalam perniagaan mereka dia mulai meragukan sang suami.


"Cek nggak ya?" desis Dara sambil melihat ponsel yang dalam keadaan padam itu.


 Mencampuri privasi orang lain bukanlah kebiasaan Dara, jadi perihal memeriksa ponsel suaminya sendiri saja sudah membuatnya gemetar dan takut setengah mati walau sebenarnya hatinya sudah sangat penasaran.


"Ah, nanggung. Udah cek dulu ajalah, bismillahirrahmanirrahim semoga nggak ada apa-apa ya Allah. Semoga semua ini memang cuma kebetulan."


 Dara mulai menghidupkan ponsel itu yang ternyata tidak terkunci. Jadi dengan mudah Dara bisa menjelajahi setiap isi dari ponsel itu di sana.


 Mata Dara membulat sempurna saat membuka satu demi satu aplikasi yang ada di sana.


"Ya Allah ...." bisik Dara dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2