TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 87. MEMULAI MISI.


__ADS_3

 Dara tampak tergagap sesaat, namun beberapa detik kemudian sudah bisa menguasai ekspresinya lagi. Dara tersenyum, senyum yang manis sekali di mata Zaki.


"Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan suaranya yang sehalus sutra itu.


 Zaki bahkan sempat berpikir, bodoh sekali Fatan melepaskan calon bidadari surga begini hanya demi batu kerikil.


"Zak?" panggil Dara lagi sambil mengibaskan tangan di depan wajah Zaki yang tertegun.


"Ah, iya." Zaki mengusap wajahnya karena malu ketahuan melamun.


"Kamu ngapain di sini?" ulang Dara.


"Ah, itu ... emmm biasa, pertemuan bisnis. Setelah dari sini aku akan langsung ke rumah bapakmu, akan aku pastikan pria hebat itu juga akan menjadi bapak ku," kekeh Zaki pelan dan penuh percaya diri.


 Dara menutup mulutnya dan tersipu. Gurat merah di pipi yang tampak tirus itu begitu nyata terlihat.


"Baiklah, semoga sukses. Aku harus pergi sekarang, masih ada beberapa urusan," pamit Dara.


"Ah, tentu. Semoga harimu menyenangkan," sahut Zaki mengiringi kepergian Dara.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara sebelum benar benar melangkah pergi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zaki lembut.


 Zaki masih berada di sana hingga punggung Dara hilang di balik banyaknya mobil yang terparkir di pelataran kantor tersebut. Tanpa sadar seulas senyuman terukir di wajahnya.


"Bila tiba waktunya nanti, tak akan pernah ku biarkan wanita bidadari itu selalu berpergian sendiri. Dia terlalu berharga untuk di lihat banyak pasang mata," desis Zaki sebelum akhirnya melangkah menuju arah yang tadi di tunjukkan resepsionis.


****


Tok


Tok


Tok


"Permisi," ucap Zaki di depan sebuah pintu yang hanya ada satu satunya di lantai itu. Kini dia sudah berada di lantai yang di tunjukkan oleh resepsionis tadi sebagai kantor utama tempat pemilik perusahaan berada.


 Ceklek

__ADS_1


 Pintu itu terbuka, tampak wajah seorang pria muda di sana.


"Permisi, saya ingin bertemu Tuan Miko. Saya Zaki dari perusahaan M." Zaki tersenyum hangat.


 Pria muda keluar dari balik pintu dan tersenyum menjabat tangan Zaki.


"Ah, Pak Zaki rupanya. Perkenalkan, saya Halim asisten pribadi Tuan Miko. Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu anda." Halim membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Zaki melangkah masuk, setelah itu dia kembali menutup pintunya.


"Ah, anda sudah sampai rupanya." Pak Jatmika bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Zaki untuk duduk di sofa agar bisa lebih santai.


 "Iya, Tuan. Maaf membuat anda menunggu lama, " jawab Zaki dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


 Setelah berjabat tangan, merekapun duduk dan Halim datang sambil menyuguhkan beberapa minuman kaleng dan membuka tutupnya untuk kemudian isinya di tuang di dua buah gelas.


"Silahkan di minum, Pak Zaki. Maaf di sini hanya ada ini saja," ucapnya.


 Zaki mengangguk. "Ah, iya tidak apa. Terima kasih."


 Halim meninggalkan Zaki dan Pak Jatmika kembali menuju meja kerjanya yang di sediakan khusus baginya di sudut ruangan.


" Jadi tujuan anda ke sini, ingin menyampaikan permintaan kerja sama? Untuk proyek yang saat ini akan kami garap?" tanya Pak Jatmika membuka pembicaraan penting mereka.


 Zaki mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, Tuan. Saya jamin Tuan tidak akan kecewa dengan kinerja perusahaan saya, saya jamin semua yang Tuan inginkan bisa tim kami berikan."


 Zaki berdiri dan menjabat tangan Pak Jatmika.


"Terima kasih atas kepercayaan anda, Tuan. Saya pastikan anda tidak akan kecewa memaksi jasa kami."


"Ya, saya harap pun begitu. Tolong jangan kecewakan saya, sebab saya paling benci di khianati. Apalagi jika hanya bermodalkan tong kosong nyaring bunyinya. Saya bisa pastikan kalau pengkhianat itu akan hancur perlahan-lahan." Pak Jatmika berucap dingin, hingga Zaki merinding di buatnya.


 Aura seorang bos besar sangat terasa selama Zaki masih berada di sana. Pak Jatmika benar benar menguasai keadaan, Zaki saja sampai terkagum kagum pada kharismanya. Berharap suatu saat dia bisa seperti itu.


 Zaki keluar dari ruangan Pak Jatmika dengan perasaan senang, akhirnya proyek yang di incarnya berhasil juga. Kini hanya tinggal mengarahkan perusahaannya untuk memberi yang terbaik bagi Pak Jatmika, agar beliau puas dan akan menaikkan nama perusahaannya pula nanti.


 Zaki tersenyum senyum hanya dengan membayangkannya, berharap semoga semua mimpinya bisa terwujud satu per satu. Dia yakin, semua ini adalah berkat doa ibunya. Dan sebentar lagi, Zaki harap akan bertambah lagi orang yang akan mendoakannya, agar hidupnya semakin berkah barokah.


****


Ting

__ADS_1


Tong


 Zaki menekan sebuah bel di pagar rumah yang alamatnya dia dapatkan dari pesan singkat Dara, menurutnya itu adalah alamat rumah bapaknya. Dan Zaki ada di sana untuk melaksanakan misi selanjutnya, untuk bisa menghalalkan Dara menjadi istrinya.


Ting


Tong


 Kembali Zaki menekan bel karena belum ada juga yang keluar untuk membukakan pintu.


 Zaki berdiri gelisah, sudah hampir setengah jam dia depan sana dan tak ada satu orang pun yang membukakan pintu untuknya.


"Mas, ngapain di situ?" tanya seorang tukang siomay yang kebetulan lewat.


"Ini, mang. Mau bertamu, cuma dari tadi nggak ada yang bukain," jawab Zaki risau.


 Tukang siomay itu menepikan gerobaknya dan mendekati Zaki.


"Rumah ini memang jarang kelihatan yang punyanya, Mas. Sekali keluar pun paling cuma pembantunya, itu aja juga jarang mereka lebih banyak di dalam rumah. Ya wajarlah kan ya, rumahnya gede bagus gini. Pasti dalamnya juga bikin betah," kekeh tukang siomay sambil menatap rumah itu penuh arti. Seperti tersirat di matanya kalau dia harus bisa mempunyai rumah seperti itu.


"Kok mamang bisa tau?" tanya Zaki.


"Saya mah tiap hari juga lewat sini, Mas. Jualan siomay, rumah saya yang persis di belakang rumah ini nih. Cuma rumah saya kecil, Mas. Nggak ada mungkin seukuran kamar mandinya rumah ini," sahut tukang siomay kembali terkekeh.


 Mendengar jawaban tukang siomay, Zaki semakin risau. Bagaimana dia bisa menemui bapaknya Dara jika begini caranya, dengan menyugar rambutnya kasar Zaki berusaha mencari jawabannya.


"Kalau urusannya penting banget, ya di tunggu ajalah, Mas. Biasanya jam jam segini juga yang punya udah pulang dari tempat kerjanya, begitu yang selalu saya tau selama tinggal di sini. Yang punya rumah ini juga ramah orangnya, sering negur saya dan beli dagangan saya kalo kebetulan ketemu," tukas tukang siomay sambil berjalan kembali menuju gerobaknya yang dia parkir di pinggir jalan dengan di ganjal batu agar tidak berjalan sendiri.


"Masih lama nggak ya, mang? Soalnya urusan saya penting sekali sih," tanya Zaki dengan secercah harapan di matanya.


"Nggaklah, paling juga setengah jam lagi kalo lihat jam pas saya berangkat jualan tadi."


 Zaki turun dari depan pagar besar itu dan mendekati gerobak tukang siomay.


"Ya sudah, kalau gitu saya pesan siomaynya deh satu, Mang. Buat temen sembari nunggu," tukas Zaki.


"Wah siap siap, Mas. Saya juga seneng dapet temen ngobrol, abisnya masnya asik di ajak ngobrol," sahut tukang siomay sambil memberikan sebuah kursi plastik pada Zaki.


 Setelah pesanannya siap, Zaki duduk dengan nyaman dan menikmati suasana siang itu dengan menikmati sepiring siomay dan segelas air putih yang di bawa tukang siomay dari rumahnya.

__ADS_1


 Tak berselang lama, sebuah mobil tampak berhenti di dekat mobil Zaki. Mobil mewah dan elegan itu sejenak menyita perhatian Zaki dan tukang siomay.


"Nah, Mas. Apa saya bilang? Itu yang rumah pulang."


__ADS_2