TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 216. TERUSIR.


__ADS_3

 Namun momen itu tak berlangsung lama , sejurus kemudian terdengar sorak Sorai orang orang ramai yang terdengar begitu keras dari luar tempat mereka berada.


"Usir mereka dari sini! Mengotori kampung kita saja jika mereka masih disini, ayo usir! Usir!"


 Intan dan Bu Sukri sontak melerai pelukannya, saling tatap dengan wajah gusar dan lekas beranjak dari tempat duduknya.


 Saat Bu Sukri membuka pintu, rupanya di depan sana sang marbot atau pengurus masjid tempat mereka tinggal sementara sudah menunggu dengan raut wajah tak kalah gusar.


"Pak, ada apa ini? Kenapa warga pada teriak teriak?" tanya Bu Sukri pada sang marbot yang tampak salah tingkah.


 "A- anu, Bu ... maaf, sepertinya warga semua menginginkan ibu dan anak ibu segera pergi dari kampung ini," gumamnya.


 Bu Sukri terhenyak, begitu pula dengan intan yang langsung lemas mendengar perkataan marbot berusia paruh baya yang baik hati tersebut. Karna dia pula lah mereka bisa selamat dari para begal dan masih bisa bertahan hingga hari ini dengan tinggal di masjid.


"Nah itu orangnya! Hei Pak marbot! Jangan melindungi mereka, biarkan saja orang asing itu pergi dari kampung ini! Mereka itu buronan polisi. Kami semua tidak mau kalau sampai kampung kita ini jadi tercemar namanya gara gara menyimpan bangkai seperti mereka!" hardik salah satu warga yang memimpin warga lainnya naik ke teras masjid dan mencari mereka hingga ke tempat peristirahatan di bagian belakang masjid.


 Pak marbot tampak membantu menenangkan warga yang berang, sementara bu Sukri lekas menarik tangan intan untuk segera berkemas.


"Ayo, Nak sudah waktunya kita pergi."


 Intan menurut, dan mengambil beberapa barangnya di sudut kamar lalu memasukkan semuanya ke dalam tas ransel sebelum akhirnya menggendongnya keluar.


"Tenang dulu bapak bapak, ibu ibu jangan main hakim sendiri begini. Lebih baik masalah ini kita bicarakan baik baik dulu dengan yang bersangkutan, jangan main usir usir begini, kasihan." Pak marbot tampak masih berusaha menenangkan warga yang tampaknya sama sekali tak terpengaruh dengan bujukannya itu.


 Malah ketika melihat Bu sukri dan intan keluar dari bilik kecil sambil membawa tas nya mereka semakin menjadi jadi meneriaki mereka dan meminta mereka lekas angkat kaki dari kampung tersebut.


 Pak marbot lekas berlari mendekati Bu Sukri dan intan yang sudah menuruni tangga masjid untuk pergi. Di rogohnya saku gamis tanggungnya a dan menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Bu Sukri.


"Bu, saya minta maaf karna tidak bisa menahan warga mengusir ibu dan anak ibu. Tapi ... ini mohon di terima, Bu untuk bekal ibu pulang ke kampung halaman."


 Bu Sukri tertegun, namun sesaat kemudian dia langsung mengangsurkan lagi lembaran uang itu ke tangan sang marbot.


"Nggak usah repot repot, Pak. Lagipula di perbolehkan menginap di sini saja kami sudah terima kasih, tidak perlu begini. Apalagi itu kan uang hasil kerja keras bapak menjaga masjid ini," tolak Bu Sukri.


 Pak marbot menggeleng cepat.


"Tidak, terima ini saja tidak apa apa, Bu. Ibu dan anak ibu butuh ongkos untuk bisa sampai ke rumah. Sudah lekas lah pergi, Bu sebelum warga kembali marah." marbot itu memaksa Bu Sukri menerima uang pemberiannya, lalu mendorong tubuh Bu Sukri dan intan agar tidak bisa lagi menolak.


"Hei! Sudah cepat sana pergi! Jangan sampai nanti kalian di jemput polisi di kampung ini! Kalau sampai itu terjadi dan nama kampung kami yang tercemar gara gara kalian siap saja menerima balasan dari kami!" bentak warga yang berang melihat Bu Sukri dan intan tak kunjung pergi.


 Beberapa dari mereka bahkan melemparkan batu atau apa saja yang ada di dekat mereka ke arah Bu sukri dan intan. Hingga tanpa sengaja salah satu batu itu tepat mengenai kepala Bu Sukri dan membuatnya berdarah seketika.


"Auh!" erang Bu Sukri, namun sadar waktu yang tak cukup untuk memeriksa keadaan kepalanya Bu Sukri memilih langsung berjalan cepat sembari menarik intan dan memegangi kepalanya yang terus mengeluarkan darah segar.


"Bu, ibu nggak papa?" tanya intan di sela langkah lebarnya.


 Bu Sukri hanya menggeleng sembari terus melangkah cepat menjauh dari kerumunan warga hingga sampai ke batas desa.


 Setelah melewati gapura desa tersebut, barulah Bu Sukri dan Intan mulai melambatkan langkahnya dan mencari tempat untuk duduk dan beristirahat sejenak.


 Sebuah pohon besar menjadi pilihan mereka, di jalanan yang lumayan lengang karna di setiap sisinya adalah persawahan.


"Ya ampun ,Bu darahnya banyak sekali." Intan menjerit kaget saat Bu Sukri melepas pegangannya pada kepalanya dan tangan itu sudah penuh dengan darah.


 Bahkan di rambut Bu Sukri juga sudah tampak darah yang mulai mengering dan menggumpal.


 "Tolong ambilkan minum, In."

__ADS_1


 Suara Bu Sukri terdengar lemah, intan cepat cepat mengambil sebuah botol air dari dalam tasnya dan memberikannya pada sang ibu. Di bantunya Bu Sukri meminum air dari botol lalu kembali membantu Bu Sukri merebahkan sedikit tubuhnya untuk bersandar di pohon.


"Kepala ibu pusing sekali," gumam Bu Sukri kemudian.


 Dengan perlahan intan memeriksa bagian kepala ibunya yang terluka karna lemparan batu warga tadi. Sebuah luka yang tak terlalu besar tampak olehnya namun luka itu masih mengeluarkan darah.


 Dengan sigap intan membuka tas ibunya, mengambil sehelai kain yang agak panjang dari sana seperti syal yang akan dia gunakan untuk membalut luka di kepala sang ibu.


 Setelah itu Intan ikut duduk di dekat ibunya, melamun sembari menatap nanar ke arah persawahan luas yang membentang luas di depannya.


"Bu," panggilnya.


"Hmmm?"


"Kenapa tadi warga bilang kalau polisi akan menangkap kita ya? Bukankah bapak memberi kita waktu dua hari untuk pulang dan tidak akan melaporkan kita ke polisi kecuali dalam waktu dua hari kita tidak pulang?" gumam intan.


 Bu Sukri membuka matanya yang sempat terpejam, lalu menarik nafas perlahan.


"Ibu juga nggak tahu, Nak mungkin saja bapakmu berubah pikirkan dan memilih langsung melaporkan kita ke polisi karna lelah menunggu.".


"Apa bapak Setega itu, Bu?" intan mulai terisak.


"Entahlah, ibu juga belum bisa berpikir. Mungkin sebaiknya kita berusaha untuk bisa pulang lebih dulu, masalah bagaimananya nanti akan kita temui di depan sana," tandas Bu Sukri terdengar pasrah.


 Intan mengangguk, dan kembali diam. Sementara kini benaknya berkecamuk memikirkan segara kemungkinan yanh mungkin saja terjadi, kejutan yang sudah menunggunya di depan sana.


****


 Di tempat lain.


"Maafkan saya, Sur. Saya gagal mendidik istri saya untuk tidak silau dengan harta yang sudah kamu titipkan untuk anakmu si Fatan. Saya salah, dan saya akan membayar semua kesalahan saya, Sur. Saya janji sama kamu," lirih Pak Sukri di depan pusara almarhum sahabatnya, Pak Suryo. Ayah kandung dari Fatan.


Pak Sukri mengelus batu nisan dengan nama sang sahabat dengan lembut, pancaran sinar matanya menampakkan kerinduan yang sangat pada sahabat karibnya yang begitu dia kasihi itu.


"Sur, anakmu sekarang sudah resmi menjadi menantuku. Walau mungkin cara yang di pilih anak dan istriku untuk mendapatkan dia salah, tapi ... kenyataan yang ada sekarang dia sudah resmi menjadi suami Intan, anakku. Dan kamu tahu, Sur? Kamu sudah punya cucu ke dua, anaknya Fatan dan istrinya si Indi. Haha, iya intan bahkan rela jadi istri ke dua, Sur. Mungkin anakmu itu mewarisi ketampananmu di masa lalu, makanya si intan sangat ingin menjadi istrinya, iya kan? "


"Hahah, dunia memang tidak selalu adil , Sur? Terkadang aku sempat berpikir untuk bisa lebih cepat menyusulmu saja, lelah sekali menghadapi semua teka teki dunia ini. Tapi semua sudah ada takarannya, aku tidak bisa apa apa sekarang. Doakan saja dari sana ya, Sur. Semoga keputusan yang sudah ku ambil ini adalah keputusan yang terbaik untuk kami semua," pungkas Pak Sukri mengakhiri ceritanya pada sang sahabat yang sudah berpulang lebih dulu darinya.


"Saya pulang dulu, Sur. Insyaallah nanti saya akan berkunjung kembali, yang tenang di sana ya, sahabatku. Doakan aku bisa menyelesaikan semua yang terjadi di sini saat ini. Saya merindukan mu, Sur. Saya pulang dulu, assalamu'alaikum "


 Teriknya sinar matahari dan hembusan angin yang terasa lembab menemani langkah Pak Sukri menjauh dari makam almarhum sahabatnya, di pandangnya sekali lagi makam yang berdampingan dengan makam almarhum istri sahabatnya itu. Sembari mengusap sudut matanya yang berair Pak Sukri melambai, seakan Pak Suryo bisa melihatnya.


*


"Dari mana kamu, Suk?" sapa Pak RW, yang juga merupakan sahabat dekat Pak Sukri selain almarhum Pak Suryo.


 Pak Sukri naik ke teras rumahnya dimana Pak RW menunggunya dengan sabar sembari duduk di kursi teras.


"Habis nyekar ( berziarah) ke makam si Suryo," sahut Pak Sukri tersenyum kecil.


 Pak Sukri membuka pintu rumahnya, lalu berbalik menatap sahabatnya.


"Minum apa, Kar?" tanyanya ramah.


 "Ah, nggak usah repot-repot aku juga ke sini niatnya bukan mau minta minum kok," kekeh Kardi, sang RW.


"Haish, cuma minum aja kok. Tak bikinin kopi sasetan aja ya," kilah Pak Sukri lalu langsung berlalu masuk ke dalam rumah untuk merebus air guna membuat wedang (minuman hangat) untuk tamu sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sudah lama to di sini, Kar?" tanya Pak Sukri yang keluar membawakan dua gelas minuman kopi saset rasa kapucino, lalu meletakkan satu gelas ke hadapan Pak Kardi.


 "Yah, lumayanlah buat waktu nonton bola tadi itu," selorohnya berkelakar.


 Pak Sukri tertawa.


"Ada ada saja kamu itu, Kar. Wong aku aja di makam cuma satu jam an kok."


"Ya itu, itu. Satu jam kan sudah cukup itu nonton babak pertama aja, walaupun cuma separo." Pak Kardi balas tertawa.


 Lalu beberapa saat di gunakan ke dua sahabat itu untuk bercengkrama ngalor ngidul hingga akhirnya Pak Sukri mulai membahas mengenai tuntutan yang di layangkannya pada si rentenir yang hingga kini masih saja menyangkal kalau dia yang sudah membeli tanah dari istrinya dan juga menja mah istrinya.


"Aku sudah memasukkan laporannya ke kantor polisi, Suk. Tapi kenapa kamu ingin cepat cepat? Bukannya tadi pagi kamu bilang mau kasih waktu dua hari buat anak dan istrimu pulang ke sini?" ujar Pak Kardi sembari menyeruput kopi susunya yang sudah mulai hangat.


 Pak Sukri menghela nafas kasar, di bukanya kopiah hitam yang sejak tadi bertengger di kepalanya saja mengipaskannya di depan dadanya.


"Rasanya terlalu lama untuk menunggu hingga lusa, Kar. Aku sudah gerah ingin semua ini lekas berakhir, aku ingin tenang di masa tuaku."


 Pak Kardi manggut-manggut paham dan tak lagi bertanya lebih lanjut, setelahnya hanya hening yang menemani dua pria paruh baya itu hingga kopi di masing masing gelasnya tandas.


"Aku pulang dulu, Suk. Besok aku ke sini lagi kalau ada kabar baru," pungkas Pak Kardi beranjak dari tempat duduknya.


"Ah, iya iya terima kasih sudah mau membantuku selama ini ya, Kar. Hati hati di jalan."


 Pak Sukri mengantar sahabatnya itu hingga ke muka teras, lalu mengangguk kala Pak Kardi membunyikan klakson motornya untuk berpamitan dengannya.


****


"Kita mau kemana, Bu?" tanya intan yang sudah tampak lelah mengikuti langkah kaki ibunya menyusuri jalanan berdebu yang berada di jalanan lintas desa.


 Di sisi mereka persawahan masih membentang luas sejauh mata memandang, hanya sebuah jalan setapak kecil yang masih tanah itulah satu satunya akses jalan yang bisa mereka lewati.


"Nggak tahu, nduk. Kita jalan saja dulu ya, siapa tahu di depan sana kita bisa dapat tumpangan nanti," timpal Bu sukri dengan nafas tersengal, tampak kentara sekali kalau sebenarnya ia pun sudah sangat kelelahan.


 "Tapi dari tadi kita jalan belum ada Intan lihat ada kendaraan yang lewat sini loh, Bu. Apa iya di depan sana ada yang bisa kita tumpangi?" tanya Intan lagi, bernada keluh.


 Bu Sukri terdiam beberapa saat, menyeka keringat yang turun bercampur dengan darah dari lukanya yang rupanya belum berhenti mengalir.


"Ya sudah, kita lihat nanti saja. Semoga ada yang bisa memberi kita tumpangan di depan sana, berdoa saja yang baik baik."


 Bu Sukri terus saja berjalan dengan nafas memburu, tak peduli sinar terik sang Surya mulai menyengat kepalanya.


Entah sudah berapa tetes keringat yang jatuh membasahi jalanan dan tubuh di bawah kakinya, hingga akhirnya setelah hampir satu jam berjalan dengan langkah yang mulai tertatih mereka pun sampai di tepian jalan besar. Banyak kendaraan yang lalu lalang mulai dari yang kecil hingga yang besar, roda dua hingga roda enam lewat di depan sana.


"Yang mana kira kira yang bisa kita tumpangi ya, Bu?" celoteh Intan sambil menoleh ke sana kemari menatap laju kendaraan itu.


 Angin dari kendaraan yang lewat meniup baju yang mereka kenakan, hingga debu debu dari jalanan itu juga turut mengenai mereka dan menyesakkan pernafasan.


 Tiba tiba tanpa sengaja mata Intan menangkap pemandangan sebuah angkot yang tengah ngetem di pinggir jalan dengan kernet yang tengah berteriak teriak memanggil penumpang.


"Bu, di sana ada angkot. Ayo kita ke sana, Bu siapa tahu bisa mengantar kita ke kampung atau ke terminal yang menuju kampung," seru Intan penuh semangat.


 Bu Sukri mengangguk dan langsung menggandeng tangan Intan untuk mencapai sebrang jalan dimana angkot tersebut berada.


"Ayo cepat, Bu keburu angkotnya berangkat nanti." Intan menarik tangan ibunya agar berjalan lebih cepat.


 Tapi tanpa di sadari intan, sebuah bus dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi dan sang supir tidak menyadari keberadaan mereka yang tengah menyebrang.

__ADS_1


"Awaaassssss!" pekik seseorang dari sebrang jalan membuat Intan dan ibunya terkejut bukan main terlebih kala bus itu ternyata hanya berjarak kurang dari sepuluh meter dari tubuh mereka.


"Aaaaaaaaaa!"


__ADS_2