
"In, kesini dulu. Mbak mau ngomong," titah Dara sepulangnya mereka dari mengantar kepulangan Bu Maryam.
Si kembar sudah tertidur pulas di kamarnya, sedang Fatan baru saja kembali ke kantor karena hanya izin sebentar untuk mengantar mertuanya.
"Ngomong apa, Mbak?" lirih Indi tanpa berani mengangkat wajah menatap Dara.
Dara menelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki Indi yang tampak mengenakan kutek berwarna marun, tampak cantik dan kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Indi meremas daster karna gelisah, sebab Dara tak kunjung membuka suaranya kembali.
"M ... Mbak, kalau nggak jadi Indi pamit mau ke kamar dulu," ujar Indi dalam gugupnya.
"Kamu kenapa kayak menghindar begitu dari Mbak? Memangnya Mbak ad salah sama kamu? Bukannya kamu ya yang sudah melimpahkan masalah juga sama Mbak?" cecar Dara tanpa basa-basi lagi.
Kepala Indi tertunduk dalam, tak menyahuti barang satu katapun. Karena sekarang satu-satunya harapannya hanya sang kakak, karena ayah mereka di kampung saat ini tengah sakit dan tidak bisa bekerja.
"Dan satu lagi, apa kamu nggak sadar kalau baju kamu itu terlalu tipis dan menerawang, hm?"
Indi serta merta menelisik bajunya yang memang tipis itu.
"M ... masa sih, Mbak? Kayaknya biasa aja kok, nggak sampai nerawang-nerawang banget," kilah Indi sembari menyibak-nyibak ujung dasternya.
Dara memutar bola matanya sambil mendesah pelan.
"Jadi kamu pikir Mbak asal ngomong? Terus bagaimana Mbak bisa tahu kalau sekarang kamu pakai dalaman warna merah, tanpa celana pendek," cecar Dara lagi, walau nada suaranya terdengar pelan dan tenang tapi bagi Indi sungguh menusuk sampai ke jantungnya.
Tubuh Indi menegang, sambil menatap Dara penuh rasa tegang.
"M ... maksud, Mbak?"
"Mbak rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti maksud Mbak, Dek. Mbak cuma mau kasih tahu, di rumah ini ada Mas Fatan, jadi tolong bersikap dan berpakaian yang rapi dan sopan. Bukan apa-apa, Mbak cuma nggak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," papar Dara sedikit melunak.
Tak tega juga rasa hatinya melihat air muka adiknya yang tampak mulai gelisah itu.
__ADS_1
"Maaf, Mbak." Indi menunduk dalam.
Dara mengangguk, kemudian beranjak meninggalkan Indi menuju ke arah dapur.
Indi sendiri memilih segera pergi ke kamarnya dan berganti pakaian sebelum Dara kembali menegurnya.
Akhirnya, satu set atasan oversize dan celana training menjadi pilihannya. Indi tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, dan bergegas keluar untuk sekedar membuat minuman dingin di dapur. Cuaca sedang terik, rasanya meminum segelas jus jeruk akan menyegarkan.
"Bikin apa, Mbak?" tanya Indi yang sudah kembali ke mode cerianya, mendekati Dara yang tampak sibuk berkutat dengan beraneka buah di hadapannya.
"Nah, begini kan lebih enak di lihatnya. Eh, tapi jilbabnya mana?" tanya Dara justru lebih dulu memindai penampilan adiknya ketimbang menjawab pertanyaannya.
Indi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir.
"Kan lagi nggak ada Mas Fatan, Mbak. Lagipula pakai jilbab seharian di dalem rumah rasanya gerah, Mbak," keluh Indi sambil meraih sebuah anggur dan memakannya.
"Hah, ya sudah. Asal nasehat Mbak tadi inget, di laksanakan. Di sini kamu itu tanggung jawab Mbak loh, Dek. Jadi tolong jaga kepercayaan Mbak, ya." Dara terus saja menceramahi adiknya dengan tangan tetap sibuk mengupas mangga.
Indi mengangguk santai, tak terlalu memusingkan perkataan sang kakak. Sebagaimana sifatnya sejak kecil, setiap kali di nasehati apalagi oleh Dara yang hanya selisih beberapa tahun dengannya, bagi Indi hanyalah angin lalu. Dia akan diam saat kakaknya mengoceh dan akan lupa saat Dara tak lagi bersuara.
Wajahnya tampak masih mengantuk, seperti khasnya orang bangun tidur.
"Hei Sayang, ayo sini. Mama lagi mau bikin sop buah, mumpung lagi terik. Hmmm pas banget ya kan?" sahut Dara penuh semangat.
Mata Farah membulat, kemudian dengan cekatan mendekati mamanya dan naik ke tangga plastik yang memang di sediakan untuknya di sebelah meja.
Indi hanya melirik sekilas kemudian kembali sibuk dengan ponsel barunya.
"Farah bantu, Ma?" pinta Farah penuh harap.
"Dek Farah mau bantu? Aduh pinternya anak mama, sini Farah bantu cuci buahnya di wastafel aja ya," ucap Dara lembut sambil membawa buah yang sudah di kupasnya menuju wastafel, dan membantu Farah menaiki tangganya dengan hati-hati.
Mereka mulai meracik sop buah itu dengan semangat, memotong dan menuangkan susu dan sirup di dalam wadah besar. Memasukkan batu es dan mengaduknya sampai tercampur.
__ADS_1
Indi tampak tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Tapi lekas tersadar saat Farah tanpa sengaja menjatuhkan sendok di dekat kakinya.
"Eh keponakan cantik Tante, lagi apa? Kok masuk ke bawah meja?" tanya Indi heran.
"Ambil sendok, Tante. Buat makan sop buah," ucap Farah sambil berlalu menuju mamanya lagi.
"Loh? Udah jadi, Mbak?" tanya Indi sambil menatap Dara yang tengah mengaduk sop buahnya yang tampak sangat segar dengan banyak selasih di dalamnya.
Indi meneguk ludahnya sendiri, hendak meminta namun sungkan.
"Kamu mau?" ujar Dara acuh.
Mata Indi berbinar senang, kemudian dengan semangat dia mengangguk.
"Bangunin Fatur dulu kalau gitu, sudah sore. Waktunya mereka mandi, jangan lupa ambil jilbabmu sebentar lagi Mas Fatan pulang," titah Dara sambil membagi sop buah itu ke dalam beberapa mangkuk.
Indi mengangguk kemudian gegas melaksanakan perintah kakaknya. Namun bukannya mengambil jilbab di kamarnya yang lebih dekat terlebih dahulu, Indi justru melewatinya dan memilih menuju kamar si kembar.
Membuka pintu kamar perlahan, tampak di atas ranjang yang terpisah itu Fatur masih terlelap dalam posisi telungkup memeluk guling. Dari mulutnya terdengar dengkur halus pertanda dia masih terlalu dalam berada dalam mimpinya.
Mengendap-endap, Indi memilih duduk di ranjang milik Farah yang bersebrangan dengan ranjang Fatur. Dan kembali membuka ponselnya, menelusuri sosmed, mencari-cari sesuai yang menarik untuk di tonton.
"Duh, kapan ya punya rumah begini?" desis Indi saat melihat sebuah postingan video yang menampilkan seorang pengusaha online yang sukses hanya dalam beberapa tahun dan bisa membangun rumah impiannya.
"Ya ampun, mau ini," lirih Indi klagi saat melihat video mukbang berbagai macam es krim.
Indi bahkan sampai lupa akan tujuan utamanya datang ke kamar si kembar. Bahkan dengan santainya dia justru berbaring di ranjang Farah dan terus melanjutkan kegiatan unfaedahnya menscroll sosmed tanpa tahu apa yang sebenarnya dia cari.
Beberapa lama berbaring, Indi mulai kedinginan karena AC di kamar si kembar masih menyala. Biasanya setelah anak-anaknya bangun dari tidur siang Dara lah yang akan mematikan AC itu.
Karena dingin, Indi dengan entengnya malah menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut Farah yang sebelumnya sudah di lipat rapi kembali oleh Farah dan di letakkan di ujung ranjangnya. Satu dari banyak kebiasaan baik yang selalu di ajarkan oleh Dara.
Tanpa sadar Indi pun malah tertidur, entah berapa lama. Namun saat sadar dia merasa sebuah lengan sudah menindih perutnya, dia berbalik karena merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"M ... Mas Fatan!" kaget Indi saat melihat di hadapannya adalah wajah kakak iparnya yang tengah memejamkan mata pula.