
Suasana meriah mulai terasa, tamu undangan pun mulai berdatangan memenuhi tenda acara. Cuaca yang cerah dan bersahabat membuat mereka semangat untuk datang ke pesta sekalian menikmati hidangan gratis dengan amplop seikhlasnya dan seadanya. Eh
"Gimana, Mbak? pawang ujan pilihan Elis? topcer kan?" Elis mendekati Dara sambil menaik turunkan alisnya.
Dara tergelak, sekaligus melepas semua beban di dadanya yang sudah menghimpit begitu lama.
"Yaya, bagus juga kamu bawa uwak itu kemari ya, Lis. Cuacanya jadi cerah, soalnya Mbak males kalo rumah Mbak nanti jadi kotor kalo hujan terus tamu-tamunya masuk sradak seruduk."
"Siapa dulu? Elis gitu loh. Hasil ngepoin Mbak Laila juga sih sebenernya," kekeh Elis sambil melirik Laila yang tengah sibuk membantu menjaga prasmanan.
Dara mengacungkan jempol pada Elis dan setelah gadis manis bergigi mancung itu melipir begitu saja untuk mencari si kembar yang nyelip entah dimana.
(Setengah jam lagi)
Sebuah pesan dari nomor pribadi kembali masuk ke ponsel Dara, dengan senyum miring Dara menunggu dengan tak sabar apa yang sudah dia rencanakan selama menunggu saat yang tepat ini untuk membuka semua kebusukan adik dan suaminya yang tidak tau terima kasih itu.
"Mas ... Indi rasanya masih nggak percaya kalo kita udah sah jadi suami istri." Indi bergelayut manja di lengan kokoh Zaki, membuat Zaki semakin salah tingkah dengan sikap agresif Indi.
"Eh, iya iya. Tapi jangan senderan begini dong, In. Mata saya kecolok," protes Zaki saat hiasan kepala Indi menyolok matanya.
Mereka memang sudah berganti kostum dari pakaian akad menjadi baju adat Jawa paes mengikut suku Bu Maryam.
Bu Maryam dan Bu Ambar tampak duduk sendiri-sendiri di sebelah kiri dan kanan kursi pengantin. Soalnya sama-sama janda. Eh
Kameraman julid mulai melaksanakan tugasnya untuk terus membuat pengantin berdiri dan berpose tanpa henti. Dengan alasan untuk dokumentasi mereka sebenarnya sedang mencoba mengerjai pasangan pengantin agar kelelahan dan tidak bisa malam pertama.
Pletak ... (Authornya di geplak soalnya ngelantur mulu)
Banyak dari keluarga Zaki dan juga teman-teman mereka yang berebut untuk bisa berfoto bersama. Sampai mereka lupa kalau sejak tadi Dara sama sekali tak beranjak dari tempatnya untuk turut berpose ria bersama adik dan adik iparnya itu.
__ADS_1
Setengah jam hampir belalu, dengan gaya anggun dan elegan Dara bangkit dari kursi nya dan berjalan menuju panggung pelaminan.
Tak
Tok
Tak
Tok
Bunyi sepatu hak tinggi yang di kenakan Dara menggema. Dan entah bagaimana caranya semua orang di sana tiba-tiba diam di tempat melihat aura keanggunan seorang Dara yang sempat menyihir pandangan banyak orang.
Pesona luar biasa yang sejak tadi bersembunyi, kini bangkit dan menebarkan auranya ke seluruh penjuru tenda pesta.
"Ambil foto kami," titah Dara pada sang fotografer.
Fotografer itu awalnya bingung karna Dara justru mengambil tempat di tengah di antara kedua mempelai, dan bukannya di sisi kiri atau kanan. Agar bagian satunya bisa di isi keluarga lainnya, tentu saja agar jumlah roll film milik di fotografer tidak lekas habis.
Mata semua orang di sana tak ada yang tak melotot mendengar nominal yang disebutkan Dara. Merasa tergiur fotografer tersebut lekas menuruti perintah Dara dan mengambil beberapa foto mereka bertiga. Hanya bertiga.
"Dara! Kamu apa apaan sih? Ngapain juga buang-buang uang buat ngasih orang nggak jelas begitu cuma demi foto. Kan dia juga udah di bayar!" marah Fatan sembari menarik tangan Dara yang baru saja turun dari panggung menuju tempat yang lebih sepi di belakang panggung.
Dara menepis tangannya kasar, merasa begitu jijik di sentuh oleh Fatan mengingat apa yang dia lihat tadi pagi di kamar Indi lewat CCTV.
"Berhenti ngatur-ngatur aku seperti kamu berhenti peduli sama aku, Mas!"
Dara pergi menjauh dari Fatan yang tampak tertegun mendengar ucapannya yang pedas bak sambal ayam geprek sepuluh ribuan di pinggir jalan.
"Tapi ... Dar, Dara!" seru Fatan saat Dara dengan berani meninggalkannya saat dia bahkan belum selesai bicara.
__ADS_1
"Aargghhh!" Fatan meninju udara, kini dia merasa bagai orang bodoh karena sudah di permalukan istrinya sendiri, tapi untungnya tidak ada yang melihat.
****
Iring iringan beberapa pria berjas hitam dan juga kacamata hitam tampak memasuki tenda pesta, setelah salah satunya menemukan sosok Daraa dia berkedip sekali dan Dara menjawabnya dengan mengangguk samar.
Sekali lagi, para tamu undangan yang sedang ramai-ramainya itu kembali di buat terdiam dan penasaran dengan apa yang akan di lakukan orang-orang berjas tersebut.
Indi sendiri tampak kebingungan, tapi dia berasumsi kalau orang-orang itu adalah suruhan suaminya yang sedang menyiapkan kejutan untuknya di hari pernikahan mereka. Memikirkan itu membuat Indi berdebar dan semakin mengeratkan pegangan tangannya yang melingkar di lengan Zaki, padahal Zaki sendiri sama bingungnya dengan dirinya.
"Perhatian semuanya!" seorang pria berjas naik ke panggung, dari postur tubuhnya dan gaya bicaranya Indi merasa seperti pernah bertemu dengannya.
"Silahkan nikmati sejenak hiburan dari kami, tidak ada larangan merekam jadi silahkan membuat konten kalian masing-masing. Tapi tolong jangan berteriak dan membuat keributan atau kami tak akan segan mengambil tindakan."
Setelah mengatakan itu pria itu turun, berganti beberapa pria lain yang naik ke panggung membawa selarik kain putih besar yang dibentangkan sisi sisinya oleh mereka.
Bersamaan itu pula tenda mereka redupkan dengan membuang tangkal hujan yang di letakkan uwak di dekat jendela kamar Dara. Sehingga awan mendung berarak perlahan membuat suasana di bawah tenda pesta yang semula meriah menjadi hening mencekam.
"Mbak Dara," lirih Elis sambil memeluk si kembar yang tampak ketakutan.
"Bawa si kembar ke kamarnya, Lis. Ini akan makan waktu lumayan lama. Buat dulu mereka tidur siang ya," titah Dara yang langsung di turuti Elis.
Kasak kusuk warga dan tamu undangan mulai santer terdengar, banyak pula dari mereka yang membuat vlog dengan diam-diam. Indi mulai resah, perasaannya sudah tak karuan melihat seorang pria menekan tombol play pada alat untuk memperbesar gambar dan suara-suara aneh mulai terdengar.
"Ah, Mas kamu memang luar biasa! Ayo terus, Mas. Katanya kamu suka."
"Yah, tentu saja, Sayang. Tub*h kamu memang candu, gaya kamu juga luar biasa. Sangat berbeda dengan Dara yang permainannya selalu monoton. Ahhhhh, gila ini benar-benar bikin ketagihan."
Indi syok mendengar semuanya dan dengan cepat berdiri untuk melihat sendiri apa yang tengah di pertontonkan para pria berjas itu pada semua hadirin yang datang.
__ADS_1
Tubuh Indi langsung luruh seketika ke tanah ketika melihat rekaman dirinya dan Fatan saat berhubungan di rumah, di kamar Dara, di hotel dan yang terakhir di kamarnya kemarin.
"Selamat menikmati hadiah dari Mbak, Adikku Sayang." Dara menyeringai sambil berbisik di telinga Indi yang terdiam tanpa bisa melakukan apapun untuk menghentikan semuanya.