
"Apa, Pak dokter? Pergi bersama?" seru Laila kaget saat Halim datang ke rumahnya dan memintanya datang sebagai pasangannya di acara pernikahan Dara - Zaki nanti.
Hari sudah malam, dan acara sakral itu akan di laksanakan besok. Namun Halim baru mempunyai waktu untuk bertandang ke rumah Laila malam ini, di jam mepet pula itu.
"I- iya, Mbak Laila. Mbak nggak keberatan kan? Terus sama ...." Halim tercekat saat akan melanjutkan kalimatnya.
"Sama apa, Pak dokter?"
Halim mengusap wajahnya sesaat kemudian kembali bicara walau dengan kepala menunduk karena malu.
"Sama ... keluarga Mbak Laila juga kalau boleh," cicitnya pelan sekali, namun masih bisa di dengar oleh Laila.
Laila terkesiap, namun dia tak terlalu menampakkannya. Apalagi kini mereka hanya berdua di teras rumah sederhana itu, karna Elis bertugas mengemong si kembar di rumah Pak Jatmika sejak kemarin.
"Maksudnya gimana ya, Pak dokter? Maaf, saya kurang begitu paham." Laila mencoba mengelak, walau hatinya kini bersorak kegirangan dalam diamnya.
Tersembunyi di balik wajah ayu dan teduhnya.
"Anu ... jadi ... Mbak Laila datang sama saya ke acara pernikahan nya Mbak Dara dan Pak Zaki, sambil ... sambil ya ... ya itu, bawa keluarga Mbak Laila sekalian," sahut Halim kikuk.
Laila sebenarnya paham maksud Halim, hanya saja dia bingung siapa yang harus dia ajak sedangkan keluarganya yang tersisa saja hanya Elis seorang.
"Keluarga saya yang mana ya, Pak?" tanya Laila sengaja menegaskan.
Halim menatap bingung. "Lah, keluarga Mbak. Ya ayah, ibu, kakek, nenek, Kakak, adik, yang begitu itu ...."
Laila tersenyum getir. "Iya, saya tahu itu, Pak. Tapi, masalahnya saya sudah nggak punya mereka lagi."
Tes
Setetes air mata jatuh di pipi Laila, walau sudah menahannya sekuat tenang, namun akhirnya buliran bening itu menemukan jalannya juga untuk keluar mewakili hati Laila yang tiba tiba lara teringat akan ke dua orang tuanya yang sudah berpulang.
__ADS_1
Halim tampak gelagapan, dia sepertinya tidak begitu mengenal latar belakang keluarga Laila dan malah dengan santainya bertanya tanpa tahu kalau hal itu sudah membuat luka lama Laila kembali terbuka.
"Mbak Laila, saya ... saya ... saya benar benar minta maaf, saya ...."
"Iya nggak papa, Pak dokter. Saya paham kok, saya aja yang terlalu cengeng, maaf ya malah bikin salah paham." Laila mencoba tersenyum walau hambar terlihat.
"Ka- kalau begitu ...." Halim mencoba mempertegas jawaban dari Laila akan ajakannya sebelumnya.
Laila mengangguk tegas masih dengan senyum dan air mata yang serentak menghiasi wajahnya.
"Yah, insyaallah saya bersedia, Pak. Tapi kalau Pak dokter minta saya ajak keluarga ... Saya masih punya kok, Elis kan adik sepupu saya," kekeh Laila yang terdengar begitu merdu di telinga Halim.
Sepertinya bawaan jatuh cinta. Semua yang di lakukan orang yang di cinta selalu tampak indah dan memabukkan untuk di perhatikan. Yah, sebutan itu lah cinta.
Halim tersenyum senang, lalu berbalik badan dan menggenggam kedua jarinya erat dengan raut bahagia yang tak bisa di jelaskan. Halim kembali berbalik menatap Laila, namun langsung berbalik lagi karena Laila tengah memperhatikannya membuat wajah Halim memerah seketika.
****
"Duh, cantiknya yang juga calon pengantin," celetuk Elis yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku sang Kakak sepupu yang tak hentinya menatapi cermin.
Elis sendiri sudah rapi dengan pakaian yang warnanya sama dengan Laila, namun dengan model jahitan yang berbeda. Dengan rambut yang terurai lepas, lurus, legam dan indah berhiaskan sebuah pita kecil di sudut telinganya. Membuat penampilan Elis sangat menawan dan bisa menutupi kekurangan di wajahnya, kalian masih ingat? Yah, gigi tonggosnya.
"Haish, kamu ngomong apa sih, dek. Udah ayo buruan ke depan, keburu Pak dokter nunggu lama nanti." Laila melewati Elis dan berjalan lebih dulu ke teras dengan wajah memerah malu.
"Ecie, yang malu malu. Kayaknya habis ini Elis bakalan dapat baju seragaman lagi deh buat jadi Bridesmaids," kekeh Elis sambil membuntuti langkah Laila yang tergesa.
Tin
Tin
Sampai di teras, benar saja Halim sudah menunggu mereka di dalam mobilnya yang terparkir di depan jalan pemisah rumah mereka.
__ADS_1
"Tunggu, Pak." Laila melambai dan cepat cepat memakai sandal satu satunya yang dia punya, sandal karet dengan model seperti pansus yang sudah kusam karena setiap hari di pakai untuk ke sana kemari dan mengajar di TK.
Elis berhenti di depan teras saat melihat kakaknya kembali memakai sandal itu, padahal Elis sudah membelikan sepasang sandal baru untuknya yang senada dengan warna gaun yang dia pakai. Namun Laila malah menyimpannya di lemari dan enggan di pakai, katanya sayang karna itu di beli dengan uang hasil lembur Elis sampai dia sakit tempo hari.
"Elis cepetan!" seru Laila yang ternyata sudah sampai di sebelah mobil Halim, melambai ke arahnya dengan wajah yang sumringah walau tanpa polesan make up yang tebal.
Elis segera berlari menyusul Kakak sepupunya itu dan bergegas masuk untuk segera berangkat, Laila duduk di kursi depan sedangkan Elis di kursi belakang. Agar Halim merasa di hargai dan tidak di anggap supir.
"Kita langsung berangkat ya,"ujar Halim sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Laila dan Elis kompak mengangguk, dan perlahan mobil mulai meluncur menuju ke rumah Pak Jatmika dimana acara akan di langsungkan.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah besar nan megah milik Pak Jatmika. Halim keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Laila. Elis bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan melihat bagaimana romantisnya Halim memperlakukan kakaknya. Dalam hati dia semakin yakin kalau halimlah jodoh kakaknya.
"Terima kasih, Pak dok ...." Laila tak meneruskan kalimatnya, matanya membelalak lebar sambil menatap ke bawah.
Karena penasaran Elis pun melongokkan kepalanya untuk dapat melihat apa yang di lihat Laila.
"Subhanallah," desis Elis saat melihat di luar sana tepatnya di bawah mobil, tampak Halim tengah berjongkok dengan sepasang sepatu kaca yang tampak sangat indah di tangannya.
Laila tampak terpukau, hingga dirinya kehilangan kata kata.
"Mbak, kalau kamu sampai di lamar kamu harus terima, Mbak. Pokoknya harus!" bisik Elis yang sudah sangat gregetan.
Apalagi Laila yang saat ini di sodorkan harapan di depan matanya?.
"Mbak Laila, maaf kalau ini mendadak, tapi ... saya sudah tidak bisa memikirkan momen atau waktu yang lebih tepat lagi, saya ... jujur saja saya susah untuk bisa romantis. Tapi ... tapi dengan ini saya ingin mengatakan kalau saya ... saya ... jatuh cinta sama Mbak Laila, cinta yang tulus sampai rasanya saya bisa mengorbankan diri saya untuk kebahagiaan Mbak Laila. Dengan ini, saya sampaikan ... apa Mbak Laila bersedia memakai sepatu kaca ini dan menjadi istri saya?" ucap Halim tegas namun terdengar penuh kelembutan dan kasih sayang yang begitu dalam.
Laila masih terpaku di tempatnya, dia bahkan tak berani untuk bergerak sedikit pun bahkan untuk menurunkan kembali kakinya yang kini menggantung di udara. Setetes air mata jatuh membasahi lagi pipi mulusnya, dengan mata indah yang menatap tak percaya.
*Kalau pembaca ada di posisi Laila\, kira kira bakalan gimana? Share di kolom komentar yuk\, biar besok tinggal di panjangin sama author.*
__ADS_1