
Elis duduk di sisi pembaringan Laila, mengelus pundak kakaknya itu pelan seolah menguatkan. Dia tahu apa yang terjadi, sebab bulan sekali dua kali Laila sering bersedih seperti ini jika ada yang membahas mengenai dirinya yang tak kunjung hamil juga.
Padahal bukanlah ingin Laila belum juga hamil, dia sangat ingin tapi bagaimana jika yang Maha Kuasa belum memberi kekuasaan. Masa mau minta sama raksasa kaya timun emas kan nggak mungkin. Ini bukan cerita dongeng soalnya.
"Elis cuma bisa bilang, yang sabar, Mbak. Kalau Mbak nggak kuat lagi, coba ceritakan sama Mas Halim. Siapa tahu Mas Halim bakalan punya jalan keluarnya, toh Mas Halim kan dokter juga. Siapa tahu dia bisa punya cara supaya Mbak bisa lekas hamil," tutur Elia mencoba memberi saran.
Laila mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya, lalu menegakkan punggungnya berhadapan dengan Indi.
"Mbak belum siap, Lis. Buat ngasih tahu Mas Halim. Mbak takut Mas halim malah kecewa nantinya, kamu tahu sendiri kan gimana Mas Halim sama ibunya pengen sekali punya anak dan cucu." Laila menggeleng pelan.
Wajahnya tampak putus asa, walau sebenarnya belumlah terlambat jika belum satu tahun dan mereka belum punya anak. Cuma tetangganya saja yang julidnya kelewatan.
Elis memegang tangan Laila erat, lalu menatap mata indah Laila dengan lekat.
"Kalau Mbak cuma diam saja begini, memangnya Mbak bakalan dapat solusinya?. Nggak kan, Mbak jadi lebih baik diskusikan langsung sama Mas Halim. Lebih baik terus terang ketimbang Mbak yang tersiksa sendiri begini." Elis berkata tegas.
Laila membuang muka ke arah cermin yang berasa di meja riasnya, menatap pantulan wajah yang sembab karna menangis tadi. Wajah yang biasanya ceria itu kini tampak kusut dan sayu.
"Mbak takut, Lis. Takut kalau kenyataannya nggak sesederhana yang kita pikirkan."
Elis memejamkan mata sejenak. "Nggak sesuai gimana sih, Mbak. Memangnya apa yang terlalu berbahaya sampai Mbak harus takut?"
Laila kembali memutar kepalanya menghadap Elis, tatap mata nanarnya menggambarkan sakit yang tak terperi di dalam hatinya.
"Bagaimana kalau seandainya memang benar kata orang, kalau ...."
Laila tak melanjutkan kalimatnya, dia terlalu takut bahkan hanya untuk mengucapkannya.
" Kalau apa ,Mbak? Jangan bikin Elis takut.".Elis menyentuh bahu Laila yang kini menutup wajahnya dengan ke dua tangan.
"Bagaimana kalau benar kalau Mbak sebenernya mandul, Lis." Laila terisak kembali, bahkan kini bahunya sampai terguncang hebat saking kerasnya tangisannya.
__ADS_1
Elis terpana sejenak sebelum akhirnya menangkap tubuh Laila dan memeluknya dengan erat. Tak ingin membiarkan saudari sepupu satu satunya yang dia punya itu untuk bersedih seorang diri .
"Ya Allah, Mbak kenapa mikir kayak gitu sih? Nggak mungkin, Mbak jangan putus asa kayak gitu lah."
" Tapi kenapa, Lis? Kenapa Mbak belum hamil juga? Mbak capek jadi omongan orang terus , setiap mau kemana mana selalu jadi bahan gosipan tetangga. Mbak malu, Lis mbak capek." Laila tergugu semakin hebat di pelukan Elis.
Elis mendesah berat, tak tahu apa yang harus dia katakan lagi untuk bisa menenangkan hati sang kakak.
Jadi Elis memilih diam dan mengeratkan pelukannya di tubuh laila sembari mengelus punggungnya beberapa kali.
Terdengar suara langkah kaki kecil berlarian di dalam rumah, dan tak lama pintu kamar Laila terbuka lebar dengan dua wajah imut berdiri di sana.
"Bu guru kenapa?" tanya Farah dengan raut cemas.
Farah mendekat, lalu berusaha naik ke atas tempat tidur Laila dengan di bantu Fatur.
Fatur juga mendekat pada Elis, memegang tangan Elis dengan tatapan bertanya.
"Bu guru cuma sakit sedikit, kalian jangan khawatir ya." Elis memberi pengertian dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh dua bocah tersebut.
" Bu guru sakit apa, Mbak El? Tapi tadi Fatur dengar Bu guru bilang hamil? Apa Bu guru hamil juga kayak Mama ya?"
Elis gelagapan, dia lupa kalau Fatur tak akan bisa menerima satu jawaban saja sebelum rasa ingin tahunya terpuaskan.
Saat tengah bingung, Laila yang juga mendengar pertanyaan Fatur menghentikan tangisannya, mengambil tisu dan mengusap sisa air mata di wajahnya. Lalu mengulas senyum tipis walau hampa terasa.
"Fatur sayang, Bu guru nggak hamil. Cuma sakit kepala sedikit," tutur Laila pelan.
Fatur memegang tangan Laila dan menempelkannya di pipi gembilnya.
"Apa Bu guru pengen hamil juga kayak Mama?" tanyanya membuat Laila seketika terhenyak.
__ADS_1
Elis dan Laila saling pandang, namun sejurus kemudian Laila mengangguk sembari tersenyum kecil pada Fatur yang membuatnya semakin merindukan seorang anak. Terlebih perhatian yang di berikan Farah dengan mengusap punggungnya sungguh membuatnya terharu.
"Iya, Nak. Bu guru pengen hamil, kayak Mama kamu."
"Farah juga pengen bu guru hamil kayak Mama, jadi nanti banyak bayi di sini. Bayinya Mama, bayinya Bu guru sama bayinya Tante indi juga," celetuk Farah penuh semangat.
Laila menoleh ke belakang dimana Farah tengah memeluk lehernya dari belakang, tersenyum dan mengusap lembut pipi Farah yang tak kalah chubby dengan pipi Fatur. Dua bocah yang wajahnya sangat mirip dengan Fatan , mantan suami Dara.
"Doain Bu guru bisa cepat hamil juga ya, sayang. Bu guru pengen sekali punya bayi kayak yang Farah bilang tadi," ujar Laila lirih.
Elis tersenyum melihat betapa perhatiannya dua anak asuhnya itu dengan sang kakak, terlebih bulan depan mereka akan jarang bertemu di sekolah lantaran si kembar akan mulai masuk sekolah dasar.
"Fatur sama Farah doain Bu guru ya, supaya bisa lekas punya bayi juga." Elis berkata sembari mengelus kepala Fatur yang rambutnya mulai panjang tersebut.
Fatur dan Farah kompak mengangguk, lalu tiba tiba Fatur memanjat naik ke atas ranjang dan duduk bersebelahan dengan Laila.
Tangan mungilnya bergerak menggapai perut Laila yang masih rata, melihat itu Farah yang sejak tadi masih memeluk Laila dari belakang ikut melakukan apa yang di lakukan Fatur. Meletakan tangannya di perut Laila.
Laila yang terkejut hanya bisa pasrah saat dua bocah itu mulai bicara pada perutnya seolah sedang bermain.
"Adik bayi, cepat ada di perutnya Bu guru ya. Supaya Bu guru nggak nangis lagi," ujar Fatur lembut.
Farah mengangguk, lalu ikut berkata seperti Fatur seolah sedang bermain bersama.
"Iya adik bayi, biar Bu guru juga bisa hamil kayak Mama nanti. Cepat datang ya, adik bayi."
Laila benar benar terharu dengan perlakuan Fatur dan Farah yang seolah memberinya semangat baru, di rekuhnya dua tubuh yang padat berisi itu dan menciumi kepala anak didiknya itu dengan penuh cinta.
" Terima kasih ya, sayang. Semoga doa doa kalian segera di ijabah oleh Gusti Allah SWT ya."
Air mata haru merebak dari sudut mata Laila, menikmati harum aroma tubuh si kembar yang dia harapkan akan memiliki anak seperti mereka kelak.
__ADS_1
. Sesaat setelah mengurai pelukannya, mereka di kejutkan oleh suara seseorang yang tiba tiba sudah ada di depan pintu kamar Laila. Wajahnya tampak syok dengan mata menatap Laila tak berkedip.
"Laila, apa benar kalau kamu mandul?"