
Indi termegap, salah tingkah sendiri karna tatapan wanita yang meneriakinya tadi itu seolah menusuknya lewat sorot mata tajamnya.
Bersusah payah Indi menelan ludahnya sembari menyusun kata kata untuk menjawab.
"Heh, di tanya malah melamun lagi," sentak wanita itu sambil melangkah mendekat dan mengambil paksa piring yang ada di tangan Indi.
Indi terkejut namun tak bisa berbuat banyak ketika wanita berjilbab marun itu malah mengembalikan lagi nasi yang sudah dia ambil tadi ke dalam wadahnya.
"Mau nyuri makanan rupanya, memang ya tetangga di sini itu nggak ada puas puasnya udah di kasih bingkisan yang isinya lumayan sama Mbak Dara, di kasih amplopan sama bapaknya sekarang malah mau numpang makan di sini juga lagi. Dasar nggak modal, " dengusnya sembari mendorong bahu Indi, membuat Indi menjadi terhuyung mundur sembari berpegangan pada tepian wastafel.
Cairan bening perlahan berkumpul di pelupuk mata Indi, namun dia hanya menunduk diam tak berani mengangkat wajah apalagi mengajukan protes pada wanita yang sepertinya adalah pemilik rumah katering dimana Dara memesan makanan konsumsi untuk acara hari ini. Mungkin dia tidak mengetahui kalau Indi adalah adik dari Dara makanya dia bertindak seperti itu, entahlah Indi hanya sedang berusaha berbaik sangka saja.
"Sudah sudah! Keluar saja jangan nangis di sini, kamu kira saya bakalan iba sama kamu? Nggak lah ya! Sudah sana keluar! Jangan berani beraninya ngambil makanan di sini lagi, ini khusus punya tuan rumah, di minta Mbak Dara untuk di pisahkan. Kamu juga kan pasti sudah dapat bingkisan tadi, kemaruk banget sih mau ngambil lagi!" ketusnya sembari mendorong tubuh indi keluar dari ruangan dapur dengan kasar.
Indi terhuyung jatuh tanpa ampun, serta merta orang orang yang tengah memasukkan aneka Snack dan makanan ke dalam kotak kue menoleh ke arah Indi yang masih meringis kesakitan karna lututnya menghantam lantai keramik dengan cukup keras.
"Loh, kenapa itu Mbak?" tanya salah satu orang yang memakai seragam sama dengan si wanita yang mendorong Indi, tebakan Indi tentulah dia salah satu karyawan rumah katering tersebut.
Jadi tanpa banyak kata Indi langsung bangkit sembari menahan sakit dan perih di lututnya. Menjauh dari sana walau masih dapat di dengarnya orang orang itu tengah menggunjingnya dengan kata kata pedas.
Indi berjalan ke depan, tampak bapak bapak di sana sudah mulai menyelesaikan acara makan bersamanya. Hanya tinggal menunggu bingkisan di bagikan maka mereka semua akan pulang.
Indi celingukan mencari ibunya, dan mendapati Bu Maryam rupanya tengah berbincang dengan Bu Hana dan Laila di salah satu sudut teras, tampak Laila menggendong Inara dengan penuh kasih sayang.
"Bu," panggil Indi lembut sembari menyentuh pelan pundak ibunya, tentunya setelah dia memastikan lelehan jejak air mata yang tadi sempat jatuh di pipinya sudah bersih dan tak berbekas.
"Eh, In? Sudah selesai makannya? Cepat sekali?" tanya Bu Maryam sembari membalik tubuhnya menatap Indi.
Indi menarik seulas senyum tipis di bibirny, berusaha tampak baik baik saja walau batinnya sangat sakit mendapat perlakuan seperti tadi di dapur.
"Sudah, Bu." Indi mengangguk. "Gantian ibu yang makan gih," tukas Indi.
Bu Maryam mengangguk lalu berpamitan pada Bu Hana dan Laila untuk ke belakang lebih dulu.
"Ah, iya silahkan Bu. " Bu hana menanggapi dengan senyum manis yang tampak masih berbinar di wajah yang tak lagi muda tapi masih cantik itu.
Setelah Bu Maryam masuk, Indi menggantikan posisi sang ibu duduk di depan Bu Hana dan Laila yang masih sibuk bercengkrama dengan Inara.
"Bu, saya mau mengucapkan selamat ya untuk pertunangan ibu dengan Pak Jatmika. Semoga lancar lancar sampai hari h nya nanti," gumam Indi mencoba mengakrabkan diri dengan Bu Hana.
Bu Hana tersenyum dan mengangguk tipis. "Terima kasih ya , tapi saya sendiri bingung mau di katakan apa ya masa di bilang tunangan tapi kok kayak sudah nggak cocok hehehe. Mau di bilang lamaran tapi kok malu, ya sudah lah terserah kalian saja menyebutkan bagaimana yang penting ibu berterima kasih atas doa doa baiknya ya."
Indi mengangguk sembari mengulum senyum.
"Mbak, anak Mbak ini cantik sekali ya. Kalau di lihat lihat mirip sekali sama Mas Fatan, nggak ada turunan dari ibunya ini malah, muka papanya semua," kekeh Laila sembari menoel pipi Inara yang mulai berisi walau belum terlalu Cubi.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah. Mbak juga merasa begitu," timpal Indi ramah.
Namun tiba-tiba wajah Laila mendadak berubah sendu, Indi yang merasa takut salah bicara langsung memegang lengannya dan meminta maaf.
"Duh, Bu guru kok malah sedih? Saya minta maaf ya kalau kata kata saya nyakitin Bu guru," bujuk Indi cemas.
Laila meliriknya sekilas dan menggeleng. "Bukan, Mbak bukan salah Mbak kok. Mbak gak ada yang salah ngomongnya, cuma ... saya lagi berpikir aja kapan saja juga akan di beri kepercayaan untuk punya bayi juga?"
Bu Hana menarik nafas, lalu mengusap punggung menantunya dengan lembut.
"Sudahlah, Nak. Jangan terlalu di pikirkan. kan kamu juga sedang berusaha dan berikhtiar, insyaallah nanti akan ada hasilnya, yang sabar aja ya."
"Iya, Bu guru benar apa kata Bu Hana. Yang sabar aja, insyaallah kalau memang rejeki Bu guru punya anak pasti nanti di hadirkan oleh Gusti Allah SWT dengan cara yang tidak di sangka sangka." Indi menimpali.
Sekilas tampak senyum tipis tergurat di wajah Laila, lalu dia kembali sibuk menggoda Inara dan tak puas menciumi wajahnya yang putih bersih hingga berubah kemerahan.
Sejenak setelah mereka saling diam, menatap para anak muda yang di mintai tolong oleh Zaki untuk membantu membawa nampan nampan besar tempat hidangan tadi kembali masuk ke dalam untuk di bersihkan.
Bu Maryam tiba-tiba berjalan tergopoh-gopoh mendekati Indi dengan wajah gusar.
"In, beneran kamu tadi sudah makan?" tegurnya dengan nada tak bisa tenang.
Indi menelan ludah tegang, di tatapnya wajah sang ibu yang tampak seperti habis menangis.
****
"Pulang atau bapak akan mencari kalian hingga ke ujung kerak neraka sekalipun ,katakan pada ibumu jika dalam dua hari dia tak kunjung muncul di hadapan bapak jangan salahkan kalau masalah ini akan bapak adukan ke pihak kepolisian biar mereka yang akan mencari dan mengurus kalian. Camkan itu!"
Tut
Sambungan telepon di matikan sepihak oleh Pak Sukri, setelah berhari hari lamanya barulah kali ini intan berani mengangkat telepon bapaknya. Itupun terpaksa karna mereka menjadi korban begal dan sekarang terlunta lunta entah dimana rimbanya.
Barang barang yang tinggal mereka punya hanya satu ponsel milik Intan, dan tas tas berisi pakaian dan beberapa lembar uang yang untungnya di selipkan Bu Sukri di balik kain kain bajunya. Uang yang jumlahnya hanya pas pasan untuk bertahan hidup mereka beberapa hari ke depan saja.
"Bagaimana ini, Bu?" keluh Intan menatap sang ibu yang sejak kejadian pembegalan itu menjadi lebih banyak diam. Bahkan kini pun mereka terpaksa menginap di sebuah mesjid ketimbang harus terlunta-lunta terus di jalanan.
Satu satunya hal yang mereka tahu hanya jika posisi mereka berada saat ini sangatlah jauh dari kampung halamannya.
Geram tak kunjung mendapat jawaban atau respon apapun dari sang ibu, Intan melangkah mendekati ibunya dan menarik tangannya hingga Bu Sukri terjingkat kaget.
"Intan! Apa apaan kamu!" sentak Bu sukri yang terkejut.
Dia menepis tangan Intan yang memegangi tangannya dengan kasar.
"Kita harus gimana, Bu? Bapak sudah mengancam akan melaporkan kita ke polisi kalau kita nggak kunjung pulang dalam dua hari ini. Intan nggak mau, Bu mati konyol di tangan bapak atau malah mendekam di penjara jadi napi!" jerit intan frustasi.
__ADS_1
Suaranya bahkan memenuhi seisi ruang sepetak yang menjadi tempat istirahat mereka beberapa hari terakhir ini sejak kejadian pembegalan yang membuat Bu Sukri kehilangan mobil dan sebagian besar uangnya itu.
"Bicara sesuatu, Bu! Jangan diam saja begini! Kalau sampai kita di tangkap polisi di sini bagaimana? Siapa yang akan membebaskan kita, Bu?" desak intan mengguncang tubuh Bu Sukri yang kembali larut dalam lamunannya
.
"Diamlah!" bentak Bu Sukri kesal, wajahnya tampak memerah dan memegang karna kesal setiap hari hanya mendengar keluhan demi keluhan Intan saja tanpa memberikan solusi yang membantu sama sekali.
Intan diam, namun tatapan matanya tampak tak ikhlas dan kesal.
Dia membuang nafas kasar dan mengalihkan pandangannya dari sang ibu, perlahan emosi mulai menumpuk di ubun ubunnya siap meledak kapan saja.
"Katakan, apa kamu punya solusinya? Sejak kemarin kamu itu hanya tahu mengeluh dan mengeluh. Apa kamu nggak tahu betapa kepala ibu ini mau pecah memikirkan nasib kita ke depannya?" imbuh Bu Sukri menggeram kesal.
Intan kembali membuang nafas kesal, tak di hiraukannya ucapan ibunya yang meminta pendapatnya karena sebenarnya dia pun tak punya solusi atas masalah yang tengah menimpa mereka.
"Kalau tahu akan jadi begini, lebih baik kemarin intan ikut sama Mas Fatan aja. Setidaknya nggak semiris ini nasib Intan jadinya. Kayak gembel ke sana ke sini gara gara ibu!" omel intan tak merasa bersalah sama sekali, padahal sewaktu mereka di begal kemarin Bu Sukri berusaha keras mempertahankan mobil dan uang miliknya, dan meminta Intan untuk berlari keluar dan meminta bantuan warga yang rumahnya hanya sekitar dua ratus meter saja dari posisi mereka saat itu. Namun dengan bodohnya intan malah menarik tangan ibunya untuk turun saja karna lebih takut dengan ancaman begal yang hanya berjumlah dua orang dan badannya kurus kering itu.
"Dasar anak nggak tahu diri, sudah bagus dulu kamu aku selamatkan sewaktu di buang orang tuamu di kebun pisang. Di rawat sampai besar begini ternyata malah begini balasannya. Menyesal dulu aku mengangkat mu jadi anakku kau tahu?" sindir Bu Sukri membuat intan seketika membuka matanya lebar lebar dan menatap tak percaya pada wanita yang selama ini dia panggil ibu itu .
"Ma- maksud ibu apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Bu Sukri ganti membuang muka ke arah lain, menghindari tatapan mata Intan yang mulai berkabut.
Sadar telah bicara terlalu jauh, Bu Sukri memilih diam dan kembali menyibukkan otaknya mencari cara untuk bisa keluar dari semua masalah yang dia buat sendiri sekarang ini.
Intan mulai tergugu, setiap ucapan yang tadi terlontar dari bibir Bu Sukri rupanya masih terekam jelas di benaknya. Hingga dia menganggap semua itu memanglah nyata.
" Jadi selama ini aku bukan anak kandung ibu dan bapak? Pantas aja ibu sering memperlakukan aku berbeda, terlalu membebaskan aku, membiarkan aku dalam pergaulan dan tindakan yang salah dan jahatnya lagi ibu yang mengatur semuanya agar terlihat seperti aku dan Mas Fatan sudah berzi na hingga harus di nikahkan. Ternyata selama ini ibu ...."
Intan tak sanggup menahan air matanya, di tumpahkan semua sesak yang mengungkung dadanya tak peduli sekeras apa ia menangis. Tak peduli akan berpa banyak orang yang akan mendengar tangisannya, intan terus saja menangis entah apa yang dia tangisi tapi intan hanya ingin menumpahkan semua rasa di dadanya agar bisa lebih lega.
Bu Sukri membiarkan saja Intan dalam kondisi demikian selama beberapa saat, dia tak menoleh bahkan juga tak mempedulikan intan sedikit pun. Masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah apa isinya. Namun setelah beberapa saat tampak buliran bening mengalir jua dari netra tua Bu Sukri.
Tanpa aba aba, Bu Sukri menarik tubuh intan. Membawanya ke dalam dekapan dan menciumi puncak kepalanya yang dulu menjadi favoritnya setiap mencium Intan kecil. Bu Sukri ikut menangis, di peluknya erat tubuh Intan seperti saat dia baru menemukan intan di kebun pisang belasan tahun yang lalu. Bayi kecil yang dulu begitu di sayanginya kini untuk pertama kalinya menyatakan untaian kata kebenciannya atas perilakunya.
"Maafkan ibu, maafkan ibu Nak. Ibu tidak bermaksud bicara begitu, tolong maafkan ibu. Jangan di masukkan hati perkataan ibu tadi ya, tolong tetaplah jadi anak ibu. Ibu sayang sekali sama kamu, nduk."
Intan diam, hanya terdengar isakan tangis saja dari bibirnya tanpa ada satu patah kata pun yang terlontar. Hatinya masih sangat sakit mendengar perkataan sang ibu sebelumnya. Tak di sangkanya kalau ternyata selama ini dia hanyalah seorang anak pungut.
Bu Sukri melerai pelukan mereka, di tangkupnya wajah Intan dengan ke dua tangannya dan di tatapnya ke dua netra itu dalam. Mata bening yang sama dengan mata bayi kecilnya bertahun tahun yang lalu. Bayi yang menjadi alasannya masih bertahan bersama Pak Sukri hingga sekarang walau sebenarnya dia tak pernah mencintai lelaki yang menjadi suaminya karena di jodohkan itu.
"Kamu mau kan memaafkan ibumu ini? Maaf karna sudah membawa kamu ke dalam semua masalah ini, maaf karena tidak pernah memberi kamu peluang menjadi diri kamu sendiri dan selalu di paksa menuruti perintah ibu. Ibu minta maaf, Nduk. Ibu salah, ibu yang salah." Bu Sukri mengecup kening intan dalam dan hangat, hingga intan merasakan damai yang selama ini selalu dia rindukan.
Intan memejamkan mata menikmati sesaat kenyamanan dan kehangatan yang di berikan sang ibu untuknya kali ini setelah sekian lama tak lagi di rasakannya.
__ADS_1
Namun momen itu tak berlangsung lama , sejurus kemudian terdengar sorak Sorai orang orang ramai yang terdengar begitu keras dari luar tempat mereka berada.
"Usir mereka dari sini! Mengotori kampung kita saja jika mereka masih disini, ayo usir! Usir!"